Jerat Sekulerisme di Nusantara

2 Apr 2014Redaksi Konspirasi

Penjajah tak hanya membawa malapetaka dalam bidang ekonomi dan politik saja. Tidak hanya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang dirampas, lebih dari itu, aqidah dan pemahaman yang benar pun terkoyak-koyak karenanya. Itulah yang dialami oleh bangsa Indonesia pasca penjajahan Belanda utamanya, dan bangsa lain umumnya. Sistem sekuler yang diwariskan oleh para penjajah ternyata masih dipertahankan dan dilestarikan oleh sebagian besar puteri-puteri Nusantara.

Sekularisme di Indonesia ibarat gurita yang kaki-kakinya menjerat erat semua sisi kehidupan. Hampir tidak ada satu pun yang selamat dari jeratan sekularisme, mulai dari sisi-sisi kehidupan pribadi sampai kehidupan bermasyarakat dan bernegara, semua terwarnai oleh ajaran sekuler. Berikut beberapa contoh dari kenyataan pahit tersebut:

Dalam Bidang Politik

Dalam bidang politik, sekularisme sangat menentang konsep negara Islam atau negara yang diatur oleh hukum-hukum Islam. Faham seperti inilah yang diserukan oleh JIL. Dalam manifestonya, JIL menegaskan; “Kami yakin, kekuasaan politik dan agama harus dipisahkan. Kami menentang negara agama (teokrasi). Kami yakin, bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus (kesepakatan masyarakat).”

Kesimpulannya, mereka ingin memisahkan secara tegas antara agama dan negara, antara syari’at dan kehidupan masyarakat. Mereka hendak mengucilkan agama di masjid-masjid dan surau-surau saja. Bagi mereka, agama hanyalah seperangkat hukum-hukum yang mengatur hu-bungan antara seorang hamba dengan Kholiq-Nya semata.

Dalam Bidang Media Massa

Siapa saja yang mengamati media massa Indonesia akan dengan mudah menyimpulkan bahwa ia berada dalam genggman sekularisme. Itu ditandai oleh kebebasan yang tanpa batas dalam menyatakan pendapat. Dengan dalih kebebasan berekspresi  atau menyatakan pendapat, semua pemikir-pemikir sesat seperti JIL, kaum sekuler dan lain-lainnya bebas berbicara apa saja. Dan lebih parah lagi, sebagian besar yang disesatkan oleh media massa tersebut adalah umat Islam. Tidak jarang kita dapati di koran-koran nasional kita, tulisan tentang kecaman terhadap penerapan syari’at Islam, dukungan terhadap pornografi dan porno aksi, pengolok-olokan terhadap sebagian hukum Islam dan sebagainya.

Media massa kita tidak mengenal batas-batas syari’at,  baik dalam pemi-kiran maupun dalam akhlak. Tidak sedikit pemikiran-pemikirannya yang menyimpang dari aqidah Islam bahkan telah keluar dari Islam, nampang di televisi atau muncul di koran-koran dan majalah. Penyimpa-ngan dari sisi akhlak juga terlihat sangat jelas. Wanita-wanita yang mengumbar aurat semakin membanjiri pertelevisian dan media massa kita. Bahkan majalah paling porno sedunia telah mengan-tongi izin terbit dari pemerintah. Pada-hal para ulama dan masyarakat telah lantang berteriak menolaknya, di sini kita semua patut bertanya-tanya, hen-dak dibawa kemana rakyat Indonesia?

Sedang stasiun-stasiun televisi swasta berlomba-lomba menampil-kan para penyanyi wanita dan artis-artis erotis dalam rangka menyedot iklan dan untungan materi. Lalu, hendak dikema-nakan generasi muda kita?

Dalam Bidang Akhlak (Moral)

Sekularisme dalam bidang akhlak artinya membebaskan tersebar luas-nya pornografi; prilaku seksual yang menyimpang seperti homoseks, lesbian, kumpul kebo; meremehkan norma-norma agama dan nilai-nilai kesucian. Kaum sekuler menyenangi tersebarnya kemaksiatan dengan dalih kebebasan dan hak-hak individu. Mereka mengagumi para artis dan selebritis, sebaliknya antipati ter-hadap nilai-nilai kesucian. Tidak heran jika Ulil Abshor mengatakan bahwa jilbab adalah budaya Arab yang diserap oleh kaum Muslimin non Arab. Sebenarnya tidak wajib seorang wanita Muslimah berjilbab, katanya.

Dalam Hal Loyalitas

Islam mengajarkan bahwa loyalitas (ikatan) haruslah didasarkan atas landasan aqidah dan iman. Artinya, siapa pun yang seaqidah dengan kita, maka ia saudara kita, baik satu bangsa dengan kita atau tidak. Islam tidak tidak mengenala faktor pemersatu selain ikatan iman dan islam.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Alloh supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. al-Hujurot [49]: 10)

Sedangkan paham sekuler meng-ajarkan bahwa loyalitas didasarkan pada kebangasaan. Artinya, aqidah apapun yang dianut oleh seseorang, baik Yahudi, Nasroni, Hindu, atau Budha, jika ia satu bangsa dengan kita maka ia saudara kita, satu rumpun dengan kita, memiliki hak-hak yang sama dengan kita, berhak untuk memimpin dan dipimpin. Inilah paham kebangsaan sekuler yang sangat ditentang oleh Islam. Tetapi paham seperti inilah yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan kita sejak SD sampai perguruan tinggi.

Apa Yang Dikehendaki Kaum Sekuler Dengan Sekularisme?

Tujuan sekulerisme menjadikan sekularisme sebagai slogan propaganda mereka adalah agar undang-undang suatu negara, media massanya, pendidikannya dan semua sistemnya terlepas dari campur tangan dan pengaruh agama.

Mereka berupaya meyakinkan umat bahwa sistem hukum dan perundang-undangan negara harus ditegakkan diatas prinsip realitas sosial dan tuntutan kekinian.

Terkadang, untuk membuat puas kaum Muslimin, mereka mengelabui umat dengan kata-kata, “sesungguh-nya agama itu suci, maka tidak tepat kalau kita menyeretnya ke dalam kancah perpolitikan dan pergolakan hukum. Itu akan menodai kesuciannya.”

Diantara syubhat kaum sekuler ialah “sesungguhnya agama Islam memiliki peranan yang besar dalam perbaikan moral, pensucian jiwa dan pembersihan hati. Oleh karena itu biarkanlah Islam mejalankan peranannya dalam melakukan perbaikan dan pengajaran; dan biarkan hukum dan undang-undang menjalankan misinya dalam penataan, pengendalian dan peradilan, tanpa daling intervensi terhadap masing-masing peranan dan tanpa saling melanggar tanpa batas.”

Tak perlu diragukan lagi, bahwa kata-kata seperti itu hanyalah dalih atau kedok untuk menampakkan bahwa mereka bukanlah kaum atheis, atau minimal menunjukkan sikap lunak dan mencari simpati agar gagasan-gagasan bathil mereka tidak sampai berbenturan atau melukai perasaan umat Islam.

Disis lain, sekularisme hanya menerima aqidah Islam secara teori atau dalam kata-kata semata, namun dalam prakteknya mereka menolak sikap yang wajib dimiliki oleh seorang Muslim berkaitan dengan tuntutan aqidahnya.

Bagaimana Cara Penjajah Menanamkan Sekularisme di Indonesia?

Di antara cara-cara utama yang dilakukan oleh penjajah dalam mena-namkan sekularisme di Indosesia adalah merubah siasat dari bentuk penjajahan militer kepada penjajahan pemikiran. Caranya ialah dengan mendidik dan mengkader putera-putera pribumi yang kelihatan berbakat untuk kemudian mereka jadikan kaki tangan mereka dalam mempertahankan kondisi yang non Islami. Dengan cara seperti ini, pemikiran-pemikiran sekuler yang mereka lontarkan lebih mudah diterima oleh masyarakat, karena mereka berbicara dengan bahasa kita sendiri, satu bangsa dengan kita bahkan mengaku satu agama dengan kita. Kenyataan menunjukkan, bahwa mereka (para kaki tangan penjajah itu) lebih berhasil dalam menanamkan paham sekuler dan melestarikan undang-undang warisan penjajah dibandingkan melalui jalan pemak-saan secara militer.

Ini adalah suatu strategi musuh-musuh Islam dalam menjauhkan umat dari syari’at Islam. Metode seperti ini ternyata masih terus mereka terapkan sampai saat ini.

Akibat Dari Penerapan Sekularisme

Akibat dari diterapkannya paham yang merusak ini sangat banyak. Di antaranya ialah:

  1. Gaya hidup generasai Islam ter-lepas dari ikatan akhlak dan nilai-nilai Islam. Pola hidup mereka mulai mengarah kebarat-baratan, baik dalam suluk ((perilaku), adat istiadat dan budaya.
  2. Bebasnya kelompok-keompok sesat menyerukan paham-paham mereka.
  3. Tersebarnya berbagai macam kemungkaran dan kerusakan moral disetiap tempat. Mulai dari kota sampai ke desa-desa terpencil.
  4. Turunnya laknat Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) akibat dari menjamurnya dosa-dosa dan kemaksiatan. Sebagian dari hu-kuman-Nya berupa datangnya berbagai bencana alam yang merenggut banyak korban, seperti gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor dan sebagainya.

(Red-HASMI)