KONSEP-KONSEP DALAM AQIDAH (BAGIAN-5)
Oleh: Tim Redaksi HASMI
Konsep tentang Tauhid Al-Uluhiyah (Ke-Esa-an dalam Ibadah)
Konsep 1: Makna Uluhiyah dan Nama “Alloh”
Huruf-huruf hamzah, lam, dan ha (أله) memiliki akar kata yang sama yang menunjukkan makna penyembahan atau pengabdian ([معجم مقاييس اللغة, kata “أله”]).
Al-ilah (الإله) berarti “yang disembah”, yakni yang disembah oleh makhluk dan dijadikan objek pengabdian.
Nama “Alloh” menurut pendapat mayoritas ulama berasal dari kata “Ilah”. Ketika al- (artikel definit) ditambahkan, huruf hamzah dihilangkan, seperti halnya kata “Anas” yang menjadi “Al-Nas”. Dengan demikian, Alloh berarti “yang disembah” atau “yang layak disembah hanya Dia sendiri”.
Beberapa orang berpendapat bahwa nama Alloh bersifat jamid (tidak memiliki asal kata), tetapi yang lebih kuat adalah pendapat bahwa nama Alloh berasal dari kata “Ilah”, karena menunjukkan sifat-sifat keilahian, yaitu sifat yang menjadikan-Nya satu-satunya yang berhak disembah.
Nama Alloh merupakan pengumpul dari semua makna asma’ul husna (nama-nama indah Alloh). Oleh karena itu, semua nama-nama lain yang mulia dialamatkan kepada-Nya, seperti firman Alloh:
وَكُلُّ اسْمٍ هُوَ لَهُ سَمَّيْنَاهُ … (الأعراف: 180)
“Dan setiap nama yang indah bagi-Nya telah Kami namakan…” (Al-A’raf: 180)
Nama Alloh tidak ditambahkan kepada nama lain, misalnya kita tidak mengatakan “Alloh dari Ar-Rahman” atau “Alloh dari Al-Aziz”. Nama-nama seperti “Ar-Rahman”, “Ar-Rahim”, “Al-Quddus” adalah bagian dari asma’ul husna Alloh, dan bukan nama Alloh itu sendiri. Dengan demikian, nama Alloh mengandung seluruh makna dan sifat dari asma’ul husna, sedangkan nama-nama lain merinci dan menjelaskan sifat-sifat keilahian yang terkandung dalam nama Alloh.
Konsep 2: Perbedaan antara Nama “Alloh”, “Ar-Robb”, dan “Ar-Rahman”
Nama-nama Alloh, Ar-Robb, dan Ar-Rahman semuanya menunjuk kepada satu Alloh yang berhak disembah dan ditaati secara mutlak. Nama-nama ini mengikuti kaidah:
“Jika terpisah, mereka bersatu; jika bersatu, mereka berbeda.”
Artinya, jika nama-nama ini disebut secara terpisah, setiap nama mencakup makna nama lain. Namun, jika disebut bersamaan dalam satu tempat, maka masing-masing nama menempati makna khususnya sendiri:
-
Nama Alloh khusus untuk Ilah yang disembah (al-ilah al-ma’luuh), yang harus disembah oleh hamba melalui perbuatan mereka. Sifat-sifat keagungan dan keindahan paling khusus dialamatkan kepada nama ini.
-
Nama Ar-Robb menunjuk kepada Yang Maha Pemilik, Maha Mengatur, Maha Kuasa, Pencipta, Pengatur, Pemberi kehidupan dan kematian. Maka sifat-sifat tindakan yang terkait dengan Robb paling tepat dialamatkan kepada nama ini.
-
Nama Ar-Rahman paling erat dengan sifat-sifat: kebaikan, kemurahan, kasih sayang, anugerah, dan belas kasih. Segala hal yang menunjukkan rahmat paling terkait dengan nama ini.
48 – Konsep 3: Nama “Alloh” yang Agung (Asma’ul ‘Azham)
Dalam hadis disebutkan bahwa Nama Alloh yang Agung, jika dipanggil dengannya, akan dijawab, dan jika diminta dengannya, akan diberikan.
(رواه أبو داود 1493، والترمذي 3475)
Dalam penentuan nama ini terdapat beberapa pendapat, dan yang paling kuat ada dua:
- Pendapat pertama:
Nama Agung itu adalah “Alloh” sendiri; karena ia merupakan nama terbesar dan paling menyeluruh, dan tidak digunakan oleh makhluk selain-Nya U. Oleh sebab itu, nama ini tidak mendapat tambahan atau pengulangan. Hal ini sesuai dengan penafsiran ayat:
«وَمَا أَدْرَاكَ مَا اسْمُهُ» [مريم: 65]
“Dan tahukah kamu apa nama-Nya?”
Maksudnya: Tidak ada yang lebih utama dinamai dengan nama “Alloh”; karena ia adalah nama Tuhan yang hakiki, yang mencakup sifat-sifat keilahian, disifati dengan sifat-sifat Rububiyah, Maha Tunggal dan tidak ada Tuhan selain Dia.
(Tafsir Al-Qurtubi 1/102)
Beberapa alasan yang menguatkan pendapat ini antara lain:
-
Disebutkan dalam hadis yang menunjuk pada Nama Agung yang akan dikabulkan jika dipanggil. Rosululloh r mendengar seorang sahabat berkata:
«اللهم إني أسألك بأني أشهد أنك أنت الله، لا إله إلا أنت، الأحد الصمد، الذي لم يلد ولم يولد، ولم يكن له كفوا أحد»
“Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu dengan menyatakan bahwa aku bersaksi Engkaulah Alloh, tidak ada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, Yang Maha Kekal, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya.”
Rosululloh bersabda:
«لقد سأل الله باسمه الأعظم، الذي إذا سئل به أعطى، وإذا دُعي به أجاب»
“Sesungguhnya dia memohon kepada Alloh dengan Nama-Nya yang Agung, yang jika diminta dengannya akan diberikan, dan jika dipanggil dengannya akan dijawab.” (رواه أبو داود 1493، والترمذي 3475)
-
Nama “Alloh” sering muncul dalam Al-Qur’an; disebut sebanyak 2724 kali.
-
Semua nama-nama indah (Asma’ul Husna) lain disandarkan kepada nama Alloh, bukan sebaliknya. Misalnya, kita mengatakan: “Dari sifat Alloh: Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Perkasa …” dan bukan “Dari sifat Maha Mengetahui: Alloh.”
-
Alloh memperkenalkan diri kepada Nabi Musa u dengan nama ini:
«وَقَالَ إِنِّي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا» [طه: 13-14]
“Dan Dia berfirman: ‘Sesungguhnya Aku adalah Alloh, tidak ada Tuhan selain Aku’.”
Selain itu, Alloh memperkenalkan diri dalam ayat yang paling agung dalam kitab-Nya (Ayat Kursi), dimulai dengan nama ini:
«اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ» [البقرة: 255]
“Alloh, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).”
-
Sering dipanggil dengan lafaz “Allohumma”, yang artinya “Ya Alloh”; oleh karena itu, lafaz ini hanya digunakan dalam doa. Misalnya, tidak dikatakan: “Allohumma Maha Pengampun, Maha Penyayang,” tetapi dikatakan: “Allohumma, ampunilah aku dan rahmatilah aku.” Ini menunjukkan bahwa nama ini banyak digunakan untuk berdoa, sehingga cocok dengan sabda Rosululloh :
«إذا سئل به أعطى، وإذا دُعي به أجاب»
“Jika diminta dengannya, diberikan; jika dipanggil dengannya, dijawab.”
- Pendapat kedua:
Semua nama Alloh adalah indah dan mulia, namun Nama Agung adalah setiap nama yang tunggal atau digabungkan dengan nama lain yang menunjukkan seluruh sifat-sifat Alloh baik yang dzatiyah maupun fi’liyah, atau menunjukkan makna semua sifat keilahian, contohnya:
-
“Alloh”, karena mencakup seluruh makna keilahian.
-
“Al-Hamid Al-Majid”, karena “Al-Hamid” menunjukkan semua pujian dan kesempurnaan bagi Alloh, dan “Al-Majid” menunjukkan kemuliaan dan keagungan.
-
Nama lain yang serupa: “Al-Jalil, Al-Jamil, Al-Ghani, Al-Karim”, atau “Al-Ghani, Al-Hamid”.
-
“Al-Hayy Al-Qayyum”, karena “Al-Hayy” menunjukkan kehidupan sempurna yang mencakup seluruh sifat dzatiyah, dan “Al-Qayyum” menunjukkan kemandirian-Nya, kesempurnaan-Nya, dan bahwa seluruh makhluk bergantung pada-Nya.
-
Contoh lain: “Ya Dzal Jalali wal Ikram”, di mana “Al-Jalal” menunjukkan keagungan dan kesempurnaan, dan “Al-Ikram” menunjukkan hak-Nya atas cinta dan pengagungan dari hamba-Nya.
Kesimpulan dari pendapat kedua:
Nama Agung adalah setiap nama yang mencakup seluruh sifat-sifat Alloh, baik dzatiyah maupun fi’liyah, yang menyatukan seluruh makna keilahian.
4: Dari Dampak Tauhid Uluhiyah (Tunggalnya Alloh dalam Ibadah)
Tauhid Uluhiyah memiliki dampak yang agung bagi hamba mukmin dan hatinya. Beberapa di antaranya adalah:
- Cinta kepada Alloh yang Agung
Cinta kepada Alloh menjadi cinta yang terbesar, melebihi cinta kepada diri sendiri, keluarga, anak, dan semua yang dicintai di dunia maupun akhirat. Karena Alloh, yang Maha Disembah dan Layak Diibadahi, adalah satu-satunya yang memberikan semua kasih sayang dan nikmat tersebut. Dia adalah sumber dan pencipta segala cinta. Oleh karena itu, seorang hamba akan mencintai Alloh dengan cinta yang utama, mencintai orang yang dicintai-Nya dan apa yang dicintai-Nya, serta membenci orang yang dibenci-Nya dan apa yang dibenci-Nya. Hubungan persahabatan dan permusuhan akan tertuju pada-Nya. Dengan demikian, seseorang merasakan manisnya iman, seperti sabda Nabi ﷺ:
«ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار»
(HR. Bukhari 16; Muslim 43)
Artinya: “Ada tiga perkara yang bila ada dalam diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Alloh dan Rasul-Nya lebih dicintai daripadanya dibanding selain keduanya; ia mencintai seseorang hanya karena Alloh; dan ia membenci untuk kembali dalam kekufuran sebagaimana membenci dilempar ke neraka.”
-
Mengagungkan Alloh dan Mengikhlaskan Ibadah hanya untuk-Nya. Segala bentuk ibadah—shalat, puasa, penyembelihan, nazar, doa, dan ibadah hati lainnya—harus diserahkan sepenuhnya hanya untuk Alloh. Tidak sah menyekutukan-Nya dalam ibadah apapun.
-
Kebanggaan karena Berhubungan dengan Alloh dan Bertawakal kepada-Nya. Hamba mukmin tidak takut atau gentar terhadap makhluk, melainkan hanya kepada Alloh Yang Maha Agung. Ia hanya bergantung (tawakal) kepada-Nya. Alloh berfirman:
«وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ»
(Al-Furqan: 58)
Artinya: “Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakal hanya kepada Alloh.”
- Ketenteraman Hati dan Kedekatan dengan Alloh
Tauhid membuat hati tenang dan merasa nyaman dengan Alloh. Alloh berfirman:
«الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ»
(Ar-Ra’d: 28)
Artinya: “Orang-orang yang beriman, hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh.”
- Menyadari Keluasan Nama Alloh
Karena nama Alloh mencakup semua Asma dan Sifat-Nya, maka setiap dampak dari Asma’ dan Sifat Alloh juga merupakan dampak dari nama-Nya yang agung ini dan termasuk kewajiban yang timbul darinya.
-
Menjadikan Alloh sebagai Hakim Tunggal dan Sumber Hukum
Seorang mukmin menyerahkan urusan hukum dan perselisihan hanya kepada Alloh. Alloh berfirman:
«فَاحْكُم بَيْنَهُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ»
(Al-An’am: 114)
Artinya: “Maka putuskanlah perkara di antara mereka menurut apa yang telah Alloh turunkan.”
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami