Berangkat Menyongsong Musuh

22 Mar 2014Redaksi Sejarah Islam

Berangkat Menyongsong Musuh

Pasukan kafir Quroisy Mekah mulai bergerak menuju Madinah dalam rangka menyerang pasukan Muslimin dengan kekuatan 3000 prajurit. Hati mereka bergolak karena dendam kesumat dan kebencian yang ditahan-tahan sekian lama siap diledakkan dalam peperangan yang dahsyat.

Lantas bagaimanakah reaksi pasukan Muslimin dalam menghadapi rencana serangan dari kafir Quroisy tersebut? Berikut ini kisahnya…

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) Melakukan Musyawarah dengan Sahabatnya.

Berita kedatangan pasukan kafir Quroisy itu pun sampai kepada pasukan kaum Muslimin, maka para Sahabat Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) pun mulai berjaga-jaga di sekitar masjid Nabawi, karena khawatir adanya serangan mendadak. Kemudian Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) mengadakan musyawarah dengan pasukannya, dan berkata, “Bagaimana menurut kalian, apakah menetap di Madinah dan kita tempatkan wanita dan anak-anak di atom. Apabila musuh tetap bertahan, maka mereka bertahan dalam suasana buruk. Jika mereka masuk Madinah untuk menyerang kita, maka kita perangi mereka melalui lorong-lorong jalan yang kita kuasai dan kita serang mereka dengan panah dari atap-atap rumah.”

Pendapat ini didukung oleh para tokoh Muhajirin dan Anshor serta pendapat Abdullah bin Ubay. Akan tetapi para pemuda dari kalangan kaum Muslimin tidak setuju dengan usulan tersebut. Mereka lebih memilih untuk menyongsong musuh. Mereka berkata, “Ya Rosululloh, marilah kita sambut musuh kita agar mereka tidak menganggap kita pengecut”. Para pemuda itu terus mendesak Rosululloh  untuk keluar dari Madinah dan melaksanakan peperangan di luar Madinah. Dan akhirnya setelah sholat Ashar, beliaupun masuk ke rumah untuk mempersiapkan perlengkapan perang. Para pemuda itupun dinasihati oleh dua orang Sahabat yang bernama Sa’ad bin Musa dan Usaid bin Hudhoir raḍyAllāhu 'anhum (may Allāh be pleased with them) seraya berkata, “Kalian telah memaksa Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), kembalikanlah keputusannya kepada beliau !” Tiba-tiba Rosululloh  muncul dengan pakaian perangnya lengkap dengan topi baja beserta sebilah pedang yang terhunus. Para pemuda itupun menyesal atas sikap mereka yang memaksa Rosululloh , sehingga mereka berkata, “Kami tidak ingin menentang keputusanmu, ambilah keputusanmu wahai Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).”  Kemudian beliau menjawab, “Tidak pantas bagi seorang Nabi yang telah mengenakan topi bajanya untuk melepas kembali sampai Alloh  memutuskan antara dirinya dengan musuhnya.”  (HR. Ahmad, an-Nasa’i, Hakim dan Bukhori)

Pasukan Islam Berangkat Menyongsong Musuh

Setelah melakukan musyawarah, akhirnya berangkatlah Rosululloh  dengan kekuatan kurang lebih 1.000 pasukan. Namun ketika sampai di wilayah Syaut (wilayah yang terletak antara Madinah dan Uhud), Abdulloh bin Ubay beserta 300 pasukannya menarik diri dan tidak mau ikut berperang bersama pasukan Rosululloh  karena dianggapnya pasukan Muslim pasti kalah, ia berkata “untuk apa kita membunuh diri sendiri..?”. Kemudian Abdulloh bin Ubay pun kembali pulang bersama 300 pengikutnya. Akhirnya pasukan Muslimin pun hanya tersisa 700 orang.

Inspeksi Pasukan

Di tengah perjalanan, Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) pun menginpeksi pasukan, ternyata terdapat beberapa anak kecil yang hanya mengandalkan semangat dan ingin menjadi syuhada namun tidak memiliki kemampuan berperang. Mereka adalah Samuroh bin Jundab dan Rafi’ bin Khudair  yang masing-masing berusia sekitar 15 tahun. Akan tetapi dua orang anak itu tetap ingin ikut berperang, sehingga dikatakan kepada Rosululloh  bahwa Rofi’ raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) memiliki keahlian memanah, kemudian Rosul  pun mengizinkannya, kemudian dikatakan pula kepada beliau, “Samuroh  dapat mengalahkan Rofi raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) dalam bergulat’’ Maka Rosul  pun mengizinkan Samuroh dan Rofi’ raḍyAllāhu 'anhum (may Allāh be pleased with them) untuk ikut berperang.

Strategi Perang Rosululloh

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) beserta pasukannya melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah lembah di Uhud dengan posisi membelakangi gunung Uhud, dan beliau melarang para Sahabat untuk menyerang sebelum ada perintah. Ketika itu.. Hari sabtu pagi beliau telah siap berperang dengan kekuatan 700 Sahabat. Beliau menugaskan para pemanah sebanyak 50 orang di atas bukit Uhud yang dikomandoi oleh Abdulloh bin Jubair raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) untuk tetap di posisinya dan tidak meninggalkan posnya. Posisi para pemanah ini berada di belakang pasukan utama, dan Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) memerintahkan kepada para pemanah untuk mengusir musuh dengan hujan panah agar tidak menyerang kaum Muslimin dari arah belakang. Sementara itu Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) pun siap tampil dengan dua baju perangnya.

Pertempuran pun dimulai

Pasukan pun akhirnya saling berhadapan, perang diawali dengan duel satu lawan satu. Tholhah bin Abi Tholhah dari pasukan kafir menantang untuk bertanding, tantangan inipun segera disambut dengan gagah berani oleh Zubair bin Awam raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him). Lantas bagaimanakah kelanjutannya? Nantikan postingan berikutnya.

Faidah Siroh

  1. Rosul senantiasa melakukan musyawarah dalam mengambil keputusan, dan ternyata suara mayoritas tidak lantas dipilih oleh beliau, dimana Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) justru memilih pendapat minoritas yang mengajak untuk berperang di luar Madinah.
  2. Perkataan Rosul  “…tidak pantas bagi seorang Nabi..” dijelaskan oleh Ibnu al-Qoyim raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) bahwa Jihad harus dilakukan jika telah direncanakan… dan tidak boleh pulang sebelum bertemu dengan musuh. (Ibnu al-Qoyyim , Zadul Ma’ad, Juz 3, hlm. 211)
  3. Tindakan desersi Abdulloh bin Ubay beserta 300 pengikutnya me-nunjukan perbedaan sikap yang nyata antara orang beriman dengan orang munafik. Di sinilah Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) membuka topeng kemunafikan Abdulloh bin Ubay.
  4. Persiapan Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dengan menggunakan dua pasang baju besi secara berlapis menunjukan pentingnya bertawakkal disertai dengan ikhtiar secara maksimal. Sebab yang dicari dari peperangan adalah kemenangan, bukan berperang untuk kalah.

 (Red-HASMI)