Setangguh Nabi Ayyub

12 Apr 2018Redaksi Kisah Inspiratif

Setangguh Nabi Ayyub

Nabi Ayyub ‘alaihissalam adalah salah seorang nabi Alloh subhanahu wata’ala yang diutus ke muka bumi dengan berbagai ujian dan cobaan. Akan tetapi karena sifat sabarnya yang agung, sehingga rasa berat karena ujian dan cobaan tidaklah membuat beliau menjadi hamba yang mengeluh dan berputus asa. Dengan sebab itulah para malaikat senantiasa memuji atas sikap beliau Ayyub ‘alaihissalam khususnya tentang kesabarannya.

Percakapan para malaikat yang memuji-muji Ayyub ‘alaihissalam itu didengar oleh Iblis yang sedang berada tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. Iblis merasa panas hati dan jengkel mendengar kata-kata pujian yang dilontarkan oleh para malaikat kepada Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Ia tidak rela melihat seorang dari anak cucu Adam menjadi seorang mukmin yang baik, ahli ibadah yang tekun dan melakukan amal soleh sesuai dengan perintah dan petunjuk Alloh subhanahu wata’ala.

Pergilah Iblis mendatangi Ayyub ‘alaihissalam untuk melihat sendiri sampai sejauh mana kebenaran kata-kata pujian para malaikat itu kepada diri Ayyub ‘alaihissalam sekaligus juga hendak menggoda dan merayu Ayyub ‘alaihissalam untuk menjadi kafir kepada Alloh subhanahu wata’ala. Ternyata memang benar, Ayyub ‘alaihissalam patut mendapat segala pujian itu. Ia mendapati Ayyub ‘alaihissalam adalah seorang yang bergelimpangan dalam kenikmatan duniawi, tenggelam dalam kekayaan yang tidak ternilai besarnya, mengepalai keluarga yang besar yang hidup rukun, damai dan bakti. Ia mendapati Ayyub ‘alaihissalam tidak tersilau matanya oleh kekayaan yang ia miliki dan tidak tergoyahkan imannya oleh kenikmatan duniawi. Siang dan malam ia senantiasa menemui Ayyub ‘alaihissalam berada di mihrabnya melakukan sholat, sujud dan tasyakur kepada Alloh atas segala pemberian-Nya.

Akhirnya Iblis gagal dalam usahanya membujuk Ayyub ‘alaihissalam. Cinta dan taatnya kepada Alloh subhanahu wata’ala merupakan benteng yang ampuh dari serangan Iblis berupa peluru kebohongan dan pemutar-balikan kebe-naran yang semuanya mental tidak men-dapatkan sasaran pada diri Ayyub ‘alaihissalam.

Akan tetapi, bukanlah Iblis namanya jika ia berputus asa atas kegagalannya merayu Ayyub ‘alaihissalam secara langsung. Ia lantas pergi menghadap Alloh subhanahu wata’ala untuk menghasut. Intinya Iblis mengatakan kepada Alloh subhanahu wata’ala bahwa sikap Ayyub ‘alaihissalam selama ini yaitu rajin beribadah, dermawan dan selalu beramal sholeh adalah karena keluasan harta yang Alloh subhanahu wata’ala berikan kepadanya. Jika saja Alloh subhanahu wata’ala berikan ke-padanya kehidupan yang miskin, belum tentu ia mau beribadah dengan tekun ke-pada-Nya.

Akan tetapi Alloh subhanahu wata’ala berfirman kepada Iblis yang intinya adalah bahwa Ayyub ‘alaihissalam adalah seorang hamba yang mukhlis. Bahkan Alloh subhanahu wata’ala menantang Iblis dan bala tentaranya untuk menggoda dan merayu Ayyub ‘alaihissalam jika mampu.

Dikumpulkanlah oleh Iblis setan-setan, pembantunya, diberitahukan bahwa ia telah mendapatkan “izin” dari Alloh subhanahu wata’ala untuk mengganyang Ayyub ‘alaihissalam, merusak aqidah dan imannya dan memalingkannya dari Tuhannya yang ia sembah dengan sepenuh hati dan keyakinan. Jalannya ialah dengan memusnahkan harta kekayaannya sehingga ia menjadi seorang yang papa dan miskin, mencerai-beraikan keluarganya sehingga ia menjadi sebatang kara tidak berkeluarga, Iblis menyeru kepada pembantu-pembantunya agar melaksanakan tugas penyesatan Ayyub ‘alaihissalam sebaik-baiknya dengan segala daya upaya dan siasat keji apa saja yang dapat dilakukan.

Dengan berbagai cara yang digunakan, akhirnya berhasillah kawanan setan itu menghancurkan kekayaan Ayyub ‘alaihissalam. Dimulai dengan hewan-hewan ternaknya yang bergelimpangan mati satu persatu sehingga habis sama sekali. Kemudian disusul ladang-ladang dan kebun-kebun tanamannya yang rusak menjadi kering, dan gedung-gedungnya yang hangus terbakar dimakan api, sehingga dalam waktu yang sangat singkat sekali Ayyub ‘alaihissalam yang kaya raya tiba-tiba menjadi seorang papa miskin tidak memiliki sesuatu, selain hatinya yang penuh iman dan takwa kepada Alloh subhanahu wata’ala.

Setelah berhasil melenyapkan kekayaan dan harta milik Ayyub ‘alaihissalam datanglah Iblis kepadanya menyerupai orang tua yang tampak bijaksana dan berpengalaman lalu berkata: “Sesungguhnya musibah yang menimpa dirimu sangat dahsyat sekali sehingga dalam waktu yang tampak singkat telah habis semua kekayaanmu dan hilang semua harta kekayaan milikmu. Kawan-kawanmu merasa sedih sedang musuh-musuhmu bersenang hati dan gembira melihat penderitaan yang engkau alami akibat musibah yang susul-menyusul melanda kekayaan dan harta milikmu. Mereka bertanya-tanya, gerangan apakah yang menyebabkan Ayyub ‘alaihissalam tertimpa musibah yang hebat itu yang menjadikannya dalam sekejap mata kehilangan semua harta miliknya? Sementara sebagian dari mereka berkata bahwa mungkin karena Ayyub ‘alaihissalam tidak ikhlas dalam beribadah.

Selain itu ada yang berkata bahwa andaikan Alloh subhanahu wata’ala, Tuhan Ayyub ‘alaihissalam, benar-benar berkuasa, niscaya Dia dapat menyelamatkan Ayyub ‘alaihissalam dari malapetaka, mengingat bahwa ia telah menggunakan seluruh waktunya beribadah dan berzikir, tidak pernah melanggar perintah-Nya .

Iblis yang menyerupai sebagai orang tua itu mengakhiri kata-kata hasutannya seraya memperhatikan wajah Ayyub ‘alaihissalam yang tetap tenang berseri-seri tidak menampakkan tanda-tanda kesedihan dan kecemasan yang ditimbulkan oleh Iblis dengan kata-kata racunnya tersebut. Ayyub ‘alaihissalam berkata kepadanya: “Ketahuilah bahwa apa yang aku telah miliki berupa harta benda, gedung-gedung, tanah ladang dan hewan ternak serta lain-lainnya, semuanya itu adalah titipan Alloh subhanahu wata’ala yang diminta-Nya kembali setelah aku cukup menikmatinya dan memanfaatkannya sepanjang masa atau ibarat barang pinjaman yang diminta kembali oleh tuannya jika saatnya telah tiba. Maka segala syukur dan puji bagi Alloh subhanahu wata’ala yang telah memberikan karunia-Nya kepadaku dan mencabutnya kembali pula dari siapa yang Dia kehendaki dan mencabutnya pula dari siapa saja yang Dia suka. Dia adalah yang Maha Kuasa mengangkat derajat seseorang atau menurunkannya menurut kehendak-Nya. Kami sebagai hamba-hamba makhluk-Nya yang lemah patut berserah diri kepada-Nya dan menerima segala qadha’ dan takdir-Nya yang kadang kala kami belum dapat mengerti dan menangkap hikmah yang terkandung dalam qadha’ dan takdir-Nya itu.”

Selesai mengucapkan kepada Iblis yang sedang duduk tercengang di depannya, menyungkurlah Ayyub ‘alaihissalam bersujud kepada Alloh subhanahu wata’ala memohon ampun atas segala dosa dan keteguhan iman serta kesabaran atas segala cobaan dan ujian-Nya. Iblis segera meninggalkan rumah Ayyub ‘alaihissalam dengan rasa kecewa bahwa racun hasutannya tidak termakan oleh hati hamba Alloh subhanahu wata’ala yang bernama Ayyub ‘alaihissalam itu.

Melihat hasil usahanya yang tidak membuahkan hasil, selanjutnya Iblis dan bala tentaranya menggunakan cara yang kedua yaitu menghancurkan harta benda yang dimiliki anak-anaknya, sekaligus juga membuat kerusakan pada bangunan-bangunan tempat tinggal mereka sehingga tertimbunlah putra-putri tercinta dari nabi Ayyub ‘alaihissalam. Selain itu, Iblis pun membuat Ayyub ‘alaihissalam menderita suatu penyakit kulit yang luar biasa, sehingga tidak ada satu orangpun yang mau mendekat dan menjenguk bahkan mengurusi kecuali hanya istrinya saja.

Tidak hanya sampai di situ, Iblis belum sepenuhnya puas atas apa yang telah diperbuatnya. Dikeluarkanlah senjata terakhirnya dengan merayu dan menggoda istri Nabi Ayyub ‘alaihissalam sehingga ia mengeluh atas apa yang terjadi pada suaminya. Nabi Ayyub ‘alaihissalam mengingatkan istrinya agar tetap bersabar atas semua cobaan yang menimpa diri Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Ayyub ‘alaihissalam mengatakan bahwa rasa sakit yang diterimanya selama ini hanyalah sebagian kecil dari ujian Alloh subhanahu wata’ala atas keimanan dan kesabaran beliau. Jika dihitung dengan kenikmatan yang diterima Ayyub ‘alaihissalam dan keluarga berupa kekayaan dan kemakmuran, maka tidak sebanding. Karena ujian itu hanya selama 7 tahun saja, sedangkan kenikmatan yang diterima Ayyub ‘alaihissalam dan keluarga jauh lebih lama yaitu sampai 80 tahun lamanya. Oleh karena itu rasa syukur dan sabar harus terus tertancap pada jiwa ini.

Begitulah seterusnya hingga nabi Ayyub ‘alaihissalam benar-benar sudah berada dipuncak kesabaran yang sangat luar biasa. Akhirnya sebagai balasan atas kesabaran luar biasa yang ditujukannya, Alloh subhanahu wata’ala mengangkat penyakit beliau dan mengembalikan kekayaan beliau dengan seketika. Subhanalloh..

Nabi Ayyub dipilih oleh Alloh subhanahu wata’ala sebagai nabi dan teladan yang baik bagi hamba-hamba-Nya dalam hal kesabaran dan keteguhan iman, sehingga kini nama Ayyub ‘alaihissalam disebut orang sebagai simbol kesabaran. Orang menyatakan, si Fulan memiliki kesabaran Ayyub dan sebagainya. Dan Alloh telah membalas kesabaran dan keteguhan iman Ayyub bukan saja dengan memulihkan kembali kesehatan badan-nya dan kekuatan fisiknya kepada keadaan seperti masa mudanya, bahkan dikembalikan pula kebesaran duniawinya dan kekayaan harta-bendanya dengan berlipat ganda. Inilah kekuasan Alloh subhanahu wata’ala atas hamba-hamba-Nya yang sabar.

Dari Berbagai Sumber