Menggapai Kemuliaan Lailatul Qadar

17 Jun 2017Redaksi Fiqih dan Muamalah

Menggapai Kemuliaan Lailatul Qadar – Di antara sebab kemuliaan bulan Romadhon adalah karena di bulan Romadhon ini terdapat Lailatul Qadar. Lailatul Qadar adalah malam yang diberkahi di antara malam-malam Romadhon. Disebut seperti itu karena kemuliaannya. Sebagian mangatakan karena ketaatan-ketaatan yang dilakukan pada malam itu memiliki kemuliaan. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.”
(QS. al-Qadar [97]: 1-5)

Dalam kitab Tarsir al-Qurthubi dijelaskan bahwa Ibnu Abbas rodhiyallohu’anhu berkata, “al-Qur’an diturunkan pada bulan Romadhon, pada lailatul qadar, pada malam yang penuh keberkahan, dari sisi Alloh sekaligus yang dibawa dari Lauhul Mahfuzh kepada para malaikat penulis di langit dunia, lalu malaikat penulis itu menyerahkan kepada malaikat Jibril secara berangsur-angsur selama dua puluh tahun, dan malaikat Jibril menyerahkan kepada Nabi sholallohu’alaihi wasallam juga secara berangsur-angsur selama dua puluh tahun.”

Alloh subhanahu wata’ala berfirman, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” Imam Muhammad Ali asy-Syaukani menjelaskan sebagaimana dalam kitab tafsir Fathul Qadir bahwa para ahli tafsir berkata yakni amal perbuatan yang dilakukan pada malam itu lebih baik daripada yang dilakukan selama seribu bulan tanpa lailatul Qadar. Karena waktu-waktu itu berbeda nilainya antara yang satu dengan yang lain sesuai kebaikan dan manfaat yang di dalamnya.

Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya mengutip riwayat bahwa Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam pernah diberitahukan tentang umur-umur yang dimiliki oleh umatnya nanti tidak mampu melakukan perbuatan baik seperti yang telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu karena umur mereka yang lebih panjang. Namun akhirnya beliau merasa tidak khawatir lagi, karena Alloh subhanahu wata’ala memeberika ummatnya Laitalul Qador yang dapat menggandakan perbuatan baik hingga seribu bulan lamanya.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman, “Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.” Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa banyak para malaikat yang turun pada Lailatul Qadar karena demikian tinggi barakahnya. Para malaikat akan turun bersamaan dengan turunnya barakah dan rahmat. Termasuk Malaikat Jibril. Malam itu kesejahteraan sampai terbit fajar. Yaitu suatu kesejahteraan di mana setan tidak mampu melakukan perbuatan yang buruk, atau melakukan gangguan. Di malam itu pula segala malam perkara diputuskan dan segala umur serta rezeki ditentukan. Adapula yang mengatakan bahwa para malaikat turun dan lewat di hadapan orang yang sedang shalat pada Lailatul Qadar, lalu mengucapkan salam kepada mereka sampai terbit fajar.

Dikarenakan keistimewaan Lailatul Qadar, maka sudah sepatutnya ummat Islam antusias meraih kemuliaan yang sangat agung tersebut. Bahkan Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam telah memerintahkan agar kita menggapai Lailatul Qadar.

رَوَى اْلبُخَارِيُّ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits dari Aisyah rodhiyallohu’anha bahwa Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda,
“Carilah oleh kalian lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.”
(HR. Al-Bukhari No.2017)

Ibadah yang bisa dilakukan oleh seorang hamba dalam mencari kemuliaan Lailatul Qadar adalah melaksanakan sholat malam penuh keimanan dan pengharapan pahala di sisi Alloh, beritikaf, membaca Qur’an, berdzikir, dan beragam ibadah lainnya. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits dari jalur Abu Hurairah rodhiyallohu’anhu bahwa Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena keimanan dan penuh pengharapan pahala dari Allah, makan akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِه.

Aisyah rodhiyallohu’anha, isteri Nabi sholallohu’alaihi wasallam mengatakan bahwa,
“Nabi sholallohu’alaihi wasallam beritikaf di sepuluh hari terakhir bulan Romadhon hingga Alloh mewafatkan beliau. Kemudian ister-isteri beliau beritikaf sepeninggal beliau.”

Imam Ahmad meriwayatkan hadits bahwa Aisyah rodhiyallohu’anha berkata, “Wahai Rasulullah! Jika aku mendapatkan lailatul qadar, maka doa apa yang aku panjatkan?” Baliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, katakanlah:

اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ، فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sungguh Engkat Pemberi Maaf, Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku.”

Lailatul Qadar memiliki ciri-ciri yang dapat diketahui.

Berkaitan dengan hal ini, Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda,
“Lailatul Qadar adalah malam yang tenang, cerah, tidak panas dan tidak dingin. Ketika pagi hari pada esoknya matahari terbit dengan cahaya yang redup berwarna merah.”
(HR. At-Thayaliisi, Ibnu Huzaimah, dan al-Bazzar)

Dalam hadits Shahih riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa:

صَبِيحَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ تَطْلُعُ الشَّمْسُ لاَ شُعَاعَ لَهَا ، كَأَنَّهَا طَسْتٌ حَتَّى تَرْتَفِعَ

“Pagi hari setelah Lailatul Qadar matahari terbit tanpa sinar.
Dia seolah-olah seperti piring besar hingga meninggi.”

 

Disusun oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc, M.E.I.

Baca juga Meraih Lailatul Qodar Dengan I’tikaf

Be Sociable, Share!