Ketika Sang Da’i Tak Lagi Layak Diteladani

20 Mar 2014Redaksi Pemuda Juang

KETIKA SANG DA’I Tak Layak Lagi Diteladani

Belakangan ini semakin banyak masyarakat yang mengkritisi fenomena maraknya aksi juru dakwah yang dinilai tak pantas dalam norma Islam. Sebut saja salah satunya adalah masalah ‘tarif’ yang dipatok oleh sebagian da’i kondang atau ustadz seleb. Masyarakat yang ingin mengundang mereka menjadi pemberi tausiyah dalam sebuah acara, harus menyediakan sejumlah dana yang tentunya tidak sedikit. Bagi para pengurus majlis ta’lim atau DKM masjid tentu sudah lebih tahu, berapa tarif para da’i kondang tersebut. Mulai dari beberapa juta perjam hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah untuk sekian menit. Tidak jarang tarif tadi dilengkapi dengan embel-embel fasilitas pelayanan yang tak malu-malu diminta oleh sang ustadz seleb.

Kebiasaan yang sudah menjadi rahasia umum ini rupanya telah menjadi prosedur standar bagi mereka. Kini nyaris tak bisa dibedakan lagi antara –misalnya- mengundang sebuah grup musik untuk manggung, dengan ‘meminta waktu’ sang ustadz tadi memberi ceramah.

Bagi panitia penyelenggara yang koceknya kurang tebal tapi jama’ahnya sudah kadung gandrung dengan tokoh idola mereka, seringkali harus menghadapi problem dilematis. Ada yang harus sibuk cari pinjaman, atau terpaksa menawar tarif selangit yang sudah dipatok sang ustadz tadi.

Fenomena di atas hanya salah satu problem yang ada. Belum lagi terkait masalah kompetensi sang ustadz dan materi dakwahnya. Budaya bangsa Indonesia –yang katanya- paling suka berguyon, tertawa, dan sulit berpikir serius, rupanya bukan hanya tampak jelas dalam interaksi sosial, tetapi juga terbawa sampai ke dalam medan dakwah. Da’i yang memang niatnya mencari popularitas dan sanjungan manusia, tak akan segan memenuhi materi ceramahnya dengan bumbu lawakan yang mengundang tawa para hadirin. Ibarat membuat masakan, tak jarang sang da’i sibuk meracik dan memasak bumbu-bumbu, tanpa peduli lagi ada atau tidak bahan pokoknya. Repotnya lagi, memang seperti itulah maunya kebanyakan masyarakat kita. Selalu mencari hiburan. Materi ceramah yang dinilai berat, kaku, terlalu serius dan tidak populer, seringkali tersingkir dan tak laku di negeri berpenduduk mayoritas Muslim ini. Salah satu materi ceramah yang termasuk dijauhi dan tak populis adalah yang mengandung muatan nahi munkar, atau upaya meluruskan berbagai kekeliruan yang ada di masyarakat.

Pihak yang paling berperan dalam menciptakan budaya ngaji dengan orientasi hiburan seperti ini adalah para pebisnis media, khususnya televisi, yang berlatar kapitalis. Kaca mata bisnis menjadi standar mereka memilih penceramah. Hanya ustadz yang memiliki kriteria marketable saja yang akan diundang mengisi acara ‘siraman ruhani’ di tv mereka.

Tak peduli apakah materi dan gaya ceramah sang ustadz tadi membawa hidayah atau sebaliknya menyesatkan, yang penting acaranya digemari pemirsa, mendongkrak rating, dan pada ujungnya menambah pundi-pundi keuntungan dari para pemasang iklan. Maka tak heran, jika ingin jadi ustadz seleb dan ngetop di televisi tak perlu dengan modal ilmu, tapi cukup dengan wajah ganteng, atau unik dan lucu, plus sedikit gaya retorika yang fleksibel dan bisa dibuat-buat.

Tak kurang, MUI (Majelis Ulama Indonesia) pun telah sering mengungkapkan keprihatinan, khususnya ketika memasuki bulan Romadhon, saat dimana banyak stasiun televisi yang membuat acara siraman ruhani dengan konsep layaknya sebuah entertainment. Praktis, acara seperti ini lebih dekat untuk dikatakan sebuah dagelan, dan jauh dari nuansa sebuah kajian. Celakanya lagi, ketika ‘ustadz’ yang ditampilkan adalah sosok yang memiliki latar belakang artis, komedian, atau selebritis, yang masih enggan menanggalkan masa lalu mereka dengan taubatan nasuha. Bahkan tak jarang dengan tanpa sungkan mereka berakting dengan gaya lama. Layaknya sebuah film sinetron, mereka hanya bergonta-ganti peran. Ada yang asyik mempertontonkan kemewahannya, lengkap dengan hobby dan berbagai koleksi kendaraan high class. Ada juga yang dengan bangga menampilkan kehidupan pribadinya yang masih sangat banyak dicemari tingkah tak layak dipandang mata, dan lagi-lagi tanpa risih diliput (dengan sengaja?) oleh media sebagai berita hangat yang banyak dicari dan dinanti.

Bagi masyarakat yang telah memiliki kesadaran keislaman, tentunya hal seperti ini membuat miris. Dakwah sebagai amal shalih yang begitu mulia, tercoreng dengan ulah sebagian peniti jalannya.   

Sungguh, tampaknya semakin jauh jarak antara para ustadz seleb tadi dengan para tokoh teladan dan pejuang dakwah, yaitu para Nabi dan Rosul serta orang-orang yang meniti jalan mulia ini. Mereka para murobbi sejati ini menunaikan amanah dakwah dengan penuh keikhlasan, tak minta dipuji, tak minta harta dan tahta, memberi dengan tak harap kembali. Mereka adalah para pahlawan yang tak butuh tanda jasa. Mereka juga tampil menjadi tokoh-tokoh teladan dalam semua aspek kehidupan. Akhlak mulia menghiasi kehidupan mereka. Rasa takut kepada Alloh  dan berharap atas keluasan rahmat-Nya yang terwujud dengan kesungguhan dalam bertaqorrub kepada-Nya senantiasa meliputi jiwa mereka.

Keteladanan memang sudah menjadi barang langka di negeri ini.  Imam Ibnul Qayyim  mengecam keras para da’i yang tidak menerapkan isi dakwahnya dalam kehidupan mereka, dimana beliau mengatakan: Ulama suu’ (ulama yang buruk) mereka itu duduk di depan pintu-pintu surga sambil menyeru manusia dengan ucapan mereka untuk masuk ke surga, namun sebaliknya dengan perbuatannya mereka mengajak manusia ke neraka. Ketika lisan mereka berkata: “Kemarilah..!, seketika itu perbuatan mereka berkata: “Jangan kalian dengar ucapannya..!. Kalaulah apa yang mereka serukan itu benar, niscaya mereka sendiri yang pertama melakukannya. Secara zhohir mereka tampak bak sang pemberi petunjuk, namun hakikatnya mereka adalah para penyamun.

 (Red-HASMI/IH/Ali Maulida, S.S, M.Pd.I)