Ummu Aiman -Rodhiyallohu ‘anha-

3 Feb 2014Redaksi Kisah Muslimah

Ummu Aiman

Seorang shahabiyah yang kehidupannya penuh berkah, Beliau adalah Barakah bintu Tsa’labah. Yang hidup sepanjang Kenabian, yang menyaksikan setiap kejadian.

“Ummu Aiman” adalah Kun-yahnya dan sekaligus panggilannya. Ia dahulu mengasuh Rosululloh, Kemudian wafat setelah kewafatan Rosulloh.

Zaid bin Haritsah merupakan suami Ummu Aiman raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her), yang juga adalah anak angkat Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Dari Zaid, ia dapatkan seorang anak yang menjadi mujahid sangat hebat, sangat disayangi oleh Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), yaitu Usamah bin Zaid. Sedangkan dari suaminya pertamanya, ia memiliki seorang anak yang gugur sebagai syuhada yaitu Aiman bin Ubaid Al-Khazraji.

Merawat Rosul saat masih kecil

Ummu Aiman raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) sudah mengenal Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) sejak beliau kecil hingga diutus menjadi seorang nabi. Dia turut menemani Aminah binti Wahab, ibunda Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), bahkan setelah kewafatan Aminah, Ummu Aiman menjadi satu-satunya pendamping Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) – yang ketika itu masih anak-anak –.

Meskipun sang kakek, Abdul Muthalib juga menjadi pengasuh Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) yang mencintai sang cucu sepenuh hati, Ummu Aiman tetap berada di sisi Rasulullah, yang juga mengurusnya dengan penuh cinta dan kasih, yang menjaganya dengan seluruh kemampuan diri, seakan ia menjadi penganti sang ibu yang telah pergi, sebagaimana Abdul Muthalib hadir sebagai kakek yang sekaligus berperan sebagai ayahnya. Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) kecil pun tumbuh di antara orang-orang yang selalu mencurahkan kehangatan cinta dan kelembutan kasih sayang.

Bentuk wujud sayang Abdul Muthalib kepada sang cucu, membuatnya begitu banyak berwasiat kepada Ummu Aiman. Salah satu wasiatnya ia berkata, “Wahai Barakah, janganlah engkau melalaikan anakku. Aku mendapatkannya bersama anak-anak kecil dekat dengan pohon bidara. Ketahuilah bahwa orang-orang dari Ahlul Kitab menyangka bahwa anakku ini akan menjadi nabi umat ini.”

Ketika Abdul Muthalib meninggal dunia, Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Sebagaimana yang diceritakan Ummu Aiman tetang hal itu; ia berkata, “Aku melihat Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) hari itu menangis di belakang tempat tidur Abdul Muthalib.” (Ath-Thabaqatul Kubra, 8:224)

Dua pernikahan

Tatkala Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) tumbuh dewasa, beliau sangat menghargai dan menghormati Ummu Aiman; Disebabkan Ummu Aiman raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) adalah sosok yang telah mengurus perkara dan urusan Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), serta menjaganya dengan sebaik-baik penjagaan.

Setelah menikahnya Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him)  dengan Khadijah raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her), beliau ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) memerdekakan Ummu Aiman. Kemudian beliau menikahkannya dengan Ubaid bin Zaid Al-Khazraji. Dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang putra yang diberi nama “Aiman”. Aiman raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) adalah seorang sahabat yang berhijrah dan berjihad, serta mati syahid pada perang Hunain.

Disamping itu Khadijah Ummul Mukminin juga memiliki seorang budak yang bernama Zaid bin Haritsah. Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) meminta kepada Khadijah agar Zaid dihadiahkan baginya. Sehingga Khadijah pun memenuhi permintaan sang suami tercinta.

Dan akhirnya Zaid menjadi anak angkat serta orang yang dicintai Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), Kemudian setelah suamin pertama Ummu Aiman meninggal dunia, Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) memerdekakan Zaid lalu menikahkannya dengan Ummu Aiman. Seorang mujahid Islam pun terlahir dari pernikahan itu. Namanya adalah Usamah. Selanjutnya Zaid pun berkun-yah dengan nama “Abu Usamah”.

Turut berjihad di barisan kaum muslimin

Ketika usia Ummu Aiman semakin bertambah, beliau sangat senang untuk turut serta berjihad bersama Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Pada perang Uhud, Ummu Aiman berangkat bersama para wanita yang berperan untuk mengobati orang-orang yang terluka dan memperhatikan mereka, serta memberi minum para mujahidin yang kehausan.

Pada perang Khaibar, Ummu Aiman bersama dua puluh orang wanita berangkat menuju medan perang bersama Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) serta pasukan kaum muslimin. Yang pada saat itu anaknya, Aiman, tidak ikut dalam perang, dengan alasan kudanya sakit. Meski memiliki alasan, ibunya menyifatinya sebagai pengecut.

Pada perang Mu’tah, suaminya (Zaid bin Haritsah raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him)) wafat sebagai syuhada. Ummu Aiman menerima berita tersebut dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Selanjutnya pada perang Hunain, anaknya (Aiman) juga mati sebagai syuhada. Beliau pun kembali bersabar dan mengharap pahala dari Allah atas kematian anaknya. Beliau hanya mengharapkan keridhaan Allah dan keridhaan Rasul-Nya ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).

Sulitnya Beliau Dalam Mengucapkan Makhroj Dengan Benar

Seperti yang telah diketahui, Ummu Aiman adalah seseorang yang dihormati oleh Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Namun, hal itu tidak menghalangi Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) untuk menegurnya saat ia salah. Sebab terkadang Ummu Aiman salah dalam mengucapkan kata. Oleh karena hal itu, Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) mengajarkannya atau memerintahkannya untuk banyak diam.

Diriwayatkan bahwa Ummu Aiman pernah bertemu dengan Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dan berkata,

سلام لا عليكم

“Keselamatan dan kesejahteraan tidaklah untukmu.”

Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada beliau untuk sekedar mengucapkan “السلام” saja. (Ath-Thabaqatul Kubra, 8:224)

Dan dari Abu Huwairits, bahwasanya Ummu Aiman berkata saat perang Hunain,

سبت الله أقدامكم

Namun yang benar seharusnya ialah:

ثبت الله أقدامكم

[semoga Allah mengokohkan kaki kalian], pent.).

Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) lalu berkata kepadanya, “Diamlah, karena engkau sulit mengucapkan makhraj (huruf) dengan benar.” (Ath-Thabaqatul Kubra, 8:225)

Wafatnya Ummu Aiman

Hari pun berlalu dengan cepat; tibalah kewafatan Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Berita kewafatan pun tersebar, kota Madinah serasa menjadi gelap gulita dari barat maupun timur. Setiap hati manusia diliputi duka. Dan Ummu Aiman menangis sedih atas perpisahannya dengan Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) .

Diriwayatkan dari Anas raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him); ia berkata,

“Abu Bakar raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) berkata kepada Umar raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) setelah wafatnya Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), ‘Mari kita pergi mengunjungi Ummu Aiman sebagaimana Rasullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) senantiasa mengunjungi beliau semasa hidupnya.’

Tatkala kami menemuinya, beliau menangis. Kami pun bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis? Apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya.’

Ummu Aiman berkata, ‘Aku bukan menangisi beliau, karena aku tahu apa yang di sisi Allah itu lebih baik baginya ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Akan tetapi aku menangis karena telah terputusnya wahyu dari langit.’

Maka mereka berdua pun ikut menangis.” (Ath-Thabaqatul Kubra, 2:332–333)

Akhirnya seorang shahabiyah raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her), yang senantiasa mengasuh Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) semenjak kecil dan menyaksikan masa nubuwwah Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), kembali ke sisi Rabb-Nya. Setelah mencurahkan kebaikan bagi Nabi-Nya dan bagi agamanya, Ummu Aiman raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) wafat lima bulan – atau dalam riwayat lain: enam bulan – setelah wafatnya Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). (HR. Muslim, no. 2454)

*) Diterjemahkan dari kitab “Shuwar min Hayah Ash-Shahabiyat” karya Abdul Hamid bin Abdurrahman As-Saibani; dengan beberapa perubahan.

(Red-HASMI/muslimah/Annisa Ummu Abdillah)