Aisyah Bunda Tercinta

15 Sep 2014Redaksi Kisah Muslimah

AISYAH

Berkorban dengan Jiwa dan Harta..!!

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman: “Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang Mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Alloh lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Alloh di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari pada Alloh? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”  (QS. at-Taubah [9]: 111)

Aisyah raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) merupakan istri terbaik, wanita yang paling dicintai oleh Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dan puteri dari seorang lelaki yang paling dicintai oleh beliau. Jiwa dan tangannya mulia karena kederma-wanannya. Ia seorang yang sabar, hidup bersama Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dalam menghadapi kefakiran dan kelaparan, sehingga seringkali ia melalui hari-harinya tanpa sedikitpun tampak ada asap mengepul dari rumahnya, karena tidak ada sesuatu yang bisa dimasak. Dengan kefakiran tidak sedikitpun ia gelisah, dan ketika mendapatkan rizki yang tiba-tiba datangtak terduga, ia pun tidak sombong. Justru ia khawatir jika di rumahnya terdapat emas, perak atau harta berharga lainnya, sehingga dengan lekas ia menginfaqkannya. Sungguh, ia telah meneladani Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), panutan sekaligus suaminya dalam hal kedermawanan.

Sekali waktu, didatangkan uang seratus dirham kepada ibunda yang dermawan ini, maka dengan segera ia membagi-bagikan semuanya dan tidak menyisakan sedikitpun di dalam rumahnya, sampai ia lupa jika saat itu sedang berpuasa dan membutuhkan sesuatu untuk berbuka. Lalu bekas budaknya berkata: “Apakah engkau tidak mau membeli sedikit daging dengan dirham untuk berbuka puasa?” Ia menjawab: ”Jika engkau tadi mengingatkan saya, tentu akan kulakukan.

Subhanalloh… Kehidupan Aisyah raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her) penuh dengan kemuliaan, kezuhudan, ketawadhuan, pengabdian sepenuhnya untuk da’wah bersama suaminya, Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Ia seorang yang teguh dalam memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, apa yang ia perintahkan di dalamnya mengandung kebaikan dan apa yang ia larang di dalamnya mengandung keburukan, karena ucapan yang keluar dari lisannya merupakan ucapan yang berasal dari lisan Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Kehidupannya pun penuh dengan kedermawanan, karena semua hartanya diinfaqkan di jalan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), menjadikan tempat berpijak sebagai ladang amal dan pahala, karena ia menyadari bahwa harta yang ia miliki akan diminta pertanggung jawabannya oleh Alloh , sehingga di dalam rumahnya yang sederhana tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu dinar pun, kecuali segera ia infaqkan untuk da’wah fi sabilillah. Ia tidak mengira bahwa perjuangan cukup dengan pengorbanan jiwa semata, dan mengabaikan peran harta..!! Juga tidak merasa cukup hanya berda’wah semata tanpa berinfaq..!! Ia yakin.., bahwa sekecil apapun harta yang ia infaqkan untuk da’wah akan datang pengembaliannya yang lebih banyak lagi hingga tak terhingga di hari yang tidak lagi bermanfaat harta dan anak keturunan..!! Begitulah ibunda kita ini merefleksikan sabda Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) yang pernah disampaikannya: ”Berjagalah engkau dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma.” (HR. Ahmad)

Saudaraku..!! Sekarang.., siapa yang akan menolong dien yang sempurna ini..?? Kapan kita akan berinfaq..?? Harta dan jiwa adalah satu paket yang tidak dapat dipisahkan…, keduanya adalah kehidupan…, maka marilah.., marilah berkorban dengan harta..!!

Marilah berinfaq di da’wah ”Kemurnian”..!!

(Red-HASMI)