Terkaman Setan

6 Mar 2014Redaksi Khutbah Jumat

Terkaman Setan

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ

Jama’ah jum’at rohimakumulloh…

Imam Ahmad dan Tirmidzi raḥimahum Allāh (may Allāh have mercy upon them) meriwayatkan:

Sesungguhnya setan itu serigala bagi manusia, seperti serigala bagi kambing, ia akan menerkam kambing yang keluar dan menyendiri dari kawanannya. Karena itu, jauhilah perpecahan, dan hendaklah kamu bersama jama’ah dan umat umumnya

Meski dapat dipertegas bahwa hadits di atas mengacu pada makna jama’atul Muslimin, yaitu kekhilafahan seperti yang dijelaskan oleh Imam Syatibi raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him), namun pada asasiyahnya, yaitu pada dasarnya yang telah ditunjukkan oleh sunah kauniyah maupun syari’iyah lainnya, dan bahkan secara logikanya pun, keberadaan jama’ah bagi seorang Muslim adalah keharusan yang tak akan tertemukan bantahannya.

Nah, mengacu pada keumuman hadits di atas, maka kita diingatkan oleh Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) tentang pentingnya hidup berjama’ah, dan tentu saja, juga diwanti-wanti mengenai bahayanya posisi seseorang yang jauh dari jama’ah. Bila tak ingin diterkam setan, maka seorang Muslim sejatinya harus menjauhi kebiasaan menyendiri. Sendiri dalam bekerja, sendiri dalam beramal dan sendiri dalam mengarungi samudra kehidupan. Sebaliknya, ia harus berusaha mencari kawan seiman, seaqidah, seperjuangan, yang akan saling menjaga dan mengingatkan.

Betapa seorang abid atau bahkan ahli ilmu sekali pun tidak dapat menjamin hidupnya terbebas dari sergapan setan ketika dalam suatu jama’ah, apatah lagi seorang rombeng ilmu yang hidup menyempil sendiri di tengah kehidupan yang disesaki maksiat dan gemerlap fitnah yang beraneka ragam?

Sekali lagi, kita sepakat bahwa seseorang yang hidup dalam jama’ah juga tidak terbebas dari terkaman setan, tetapi, kondisi terkamannya bisa kita jamin lebih minimalis dibandingkan dengan seseorang yang enjoy dalam kesendirian.

Nah yang menjadi persoalan, banyak di antara kita yang hidup dalam kesendirian, merasa cukup dengan ibadah-ibadahnya, nikmat dengan amal kebaikan yang ditampungnya, ditambah, terkadang dengan kepala mata sendiri, ia saksikan personal-personal suatu jama’ah banyak yang melakukan tindakan yang berseberangan dengan syari’at. Lantas mereka pun berkomentar, “lihatlah si fulan dari jama’ah A, si fulan dari jama’ah B terjatuh dalam pelanggaran Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)…” Alhasil, mereka pun semakin asyik tenggelam dalam “jama’ah”nya sendiri, yaitu jama’ah nafsi-nafsi…

Sejujurnya, bisa jadi benar apa yang mereka saksikan, bahwa seorang yang bergabung  dalam jama’ah tampak terjatuh dalam pelanggaran syari’at, namun boleh jadi, pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh person jama’ah tersebut bersifat pribadi, bukan keputusan jama’ah yang harus disamaratakan posisinya. Sehingga sepatutnya, ia memandang itu sebagai persoalan pribadi yang diharapkan pertaubatan dan ampunannya dari Allohsubḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Atau, boleh jadi, sebuah jama’ah membuat keputusan yang memaklumkan tindakan yang dianggap pelanggaran syariah dalam koridor pribadi, yang padahal, dalam koridor syariah bukanlah pelanggaran serius yang masih bisa dimaafkan karena kebutuhan ummat yang lebih besar, atau bahkan bisa jadi itu bukanlah pelanggaran karena masih dalam wilayah ijtihad, dan masih banyak situasi lainnya. Nah, di sinilah banyak di antara jama’ah nafsi-nafsi yang terkecoh memahami situasi keberjama’ahan karena senantiasa menghukumi jama’ah tersebut dengan ukuran dirinya yang seakan-akan setiap manusia harus menjadi malaikat tanpa dosa.

Ikhwati fillah,.. dibandingkan itu semua, sejujurnya, terpisahnya seseorang dari jama’ah sudah layak dikatakan sebagai kesalahan itu sendiri. Karena ia sudah salah dari startnya. Jika sudah salah dari startnya, maka posisi selanjutnya bisa dipastikan melenceng dari tujuan utama..!!??

Pernahkah terpikirkan? Bahwa, ilmu itu ibarat air. Jika air dibiarkan tergenang dan mengendap akan bersarang nyamuk. Begitu pula ilmu, jika kita biarkan mengendap di otak, maka tak ada manfaatnya. Namun, jika kita transfer ilmu kepada saudara kita, kita sharingkan, kita jadikan nasehat, tentu akan lebih banyak manfaatnya. Maka, kesendirian hanya menyebabkan situasi menjadi keruh, dan, situasi selanjutnya bisa bertambah keruh, dimana setan membuatnya merasa kesendiriannya tanpa jama’ah adalah bentuk jama’ah itu sendiri. Yaitu, mengacu pada jama’ah umat Islam secara umum di dunia. Itulah mengapa di awal tulisan kita sebut mereka dengan jama’ah nafsi-nafsi, karena pada hakikatnya mereka pun berjama’ah, berkelompok, tetapi hanya kelompok yang mengutamakan amal individual, maka yang kemudian muncul adalah terbentuknya buah perkumpulan di sekeliling para ahli ilmu yang dipanggil ustadz atau syaikh, tanpa memiliki tatanan usaha, serta visi dan misi yang jelas dalam menyempurnakan amal Islami dan untuk merealisasikan beragam kewajiban yang bersifat fardhu kifayah, selain ikatan yang terjalin antara ustadz atau syaikh dengan muridnya, sehingga mereka lebih condong merasa puas hanya dengan sebagian amal kebaikan. Kepuasan tersebut, pada akhirnya mampu mengeringkan kecemburuan mereka pada maksiat-maksiat, serta kekufuran yang bertebaran di sekelilingnya, setan telah menghembuskan bisikan, bahwa amal-amal kebaikan yang telah dia tumpuk sudah cukup untuk memasukkannya ke dalam jannah Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He).

Ya, bagaimana ia akan cemburu terhadap segala jenis pelanggaran yang dilakukan manusia sekitarnya, sementara ia sendiri, tidak mencemburui dirinya yang sedang dalam posisi mempersilahkan dengan bebas para setan untuk menguasai dirinya. Wal’iyadzubillah.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ

Khutbah ke-2

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْأَرْبَابِ، وَمُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْعَزِيْزُ الْوَهَّابُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَفْضَلُ مَنْ قَامَ بِالدَّعْوَةِ وَالْاِحْتِسَابِ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي الْبَصَائِرِ وَالْأَلْبَابِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الْمَآبِ.

Semoga kita senantiasa dikumpulkan dalam kesatuan manhaj, amal dan gerak sehingga terikutsertakan dalam barisan kafilah Ibrahim 'alayhi'l-salām (peace be upon him) yang ribuan tahun lalu telah lantang menyatakan: sebagaimana dalam QS. Yusuf ayat 108, Allah [swt[ berfirman:

“Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata.”

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.
ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين
ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة

 

(Red-HASMI/IH/Ganjar Wijaya)