Menggapai Pertolongan Dengan Kesabaran

1 Mar 2018Redaksi Aqidah

Menggapai Pertolongan Dengan Kesabaran

Dunia yang fana ini merupakan kampung cobaan bagi umat manusia seluruhnya. Ya, karena memang demikianlah Alloh subhanahu wata’ala menciptakan manusia di alam persinggahan sementara ini. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

“Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya….”
(QS. al-Mulk [67]: 2)

“Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan….”
(QS. al-Baqarah [2]: 155)

Gumpalan awan mendung ujian terkadang tiba-tiba muncul ketika kita sedang asyik menikmati cerahnya sinar kehidupan yang melenakan. Ujian tersebut datang tanpa peringatan terlebih dahulu. Keperihan serta kepedihan yang ditimbulkannya tak jarang memaksa akal untuk berkata bahwa kematian lebih baik daripada harus menanggung derita ujian.

Ketika bencana menimpa, ujian menerpa, musibah datang bertubi-tubi, ingatlah akan sebuah nasihat agung yang turun dari langit dengan firman-Nya:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian….”
(QS. al-Baqarah [2]: 45)

Alloh subhanahu wata’ala telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk meminta pertolongan dalam menyelesaikan setiap urusan dengan kesabaran dalam segala bentuknya. Ketika datang kepada Anda takdir Alloh subhanahu wata’ala yang menyakitkan hati dan melelahkan jiwa, maka ketuk serta bukalah pintu kesabaran agar lisan dan hati tidak mengecam takdir apalagi mengecam-Nya –na’udzubillahi min dzalik–.

Bagaimana mungkin seorang akan mengecam atau bahkan mengusir ujian yang bertamu ke dalam rumah kehidupannya? Padahal, pada hakikatnya ujian adalah tamu yang membawa bingkisan cinta dari Alloh subhanahu wata’ala kepadanya.

Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

“…Dan sesungguhnya jika Alloh mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Maka barangsiapa yang ridho, maka ia mendapat keridhoan, dan barangsiapa yang murka, maka ia pun mendapat kemurkaan.”
(HR. at-Tirmidzi, hasan shahih)

Kemampuan diri untuk bersabar terhadap segala ketentuan yang telah Alloh subhanahu wata’ala tetapkan adalah sebuah pertolongan yang besar dalam setiap perkara dari perkara-perkara yang ada. Pertolongan dalam kesabaran tersebut bahkan jauh lebih tinggi dan berharga nilainya daripada pertolongan manusia yang bersifat materi.

Apalah artinya pertolongan materi dan simpati dari manusia, jika ia tetap mencela takdir yang telah ditetapkan Alloh subhanahu wata’ala atas dirinya. Lisan dan hatinya tidak mampu bersabar dari ujian yang menderanya. Seolah-olah ia berkata kepada tamu ujian pembaca cinta Alloh ini, “Pergilah dari rumah kehidupanku, aku tidak memiliki hidangan sabar untuk menjamumu.”

Yakinlah, barangsiapa yang berusaha untuk bersabar, niscaya Alloh subhanahu wata’ala akan membuatnya menjadi sabar.
Insya Alloh.

Wallahu a’lam.

Be Sociable, Share!