Keikhlasan yang Mampu Menggeserkan Batu

24 Mar 2014Redaksi Kisah Inspiratif

Kali ini kita akan mengangkat sebuah kisah menarik dan penuh ibroh yang disebutkan dalam untaian hadits Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Dimana salah seorang shahabat Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) yang dikenal dengan sebutan Ibnu Umar raḍyAllāhu 'anhum (may Allāh be pleased with them) menceritakan, bahwa beliau pernah mendengar Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) mengisahkan tentang tiga orang yang sedang melakukan perjalanan yang akhirnya terpaksa bermalam di sebuah goa. Bagaimana kisah selengkapnya? Mari kita simak sabda Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) berikut ini;

“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian yang melakukan perjalanan, sehingga mereka terpaksa bermalam di sebuah gua, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung dan menutup mulut gua itu. Merekapun berkata bahwa tidak ada yang mampu menyelamatkan kalian dari batu besar ini melainkan jika kalian berdoa kepada Alloh dengan menyebutkan amalan shaleh kalian.

Maka salah seorang dari merekapun berkata, ‘Ya Alloh, saya mempunyai orang tua yang sudah lanjut usia dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum memberikannya kepada keduanya, baik kepada keluarga maupun budakku. Suatu hari, saya terlambat pulang karena mencari kayu, lalu saya memerah susu untuk persediaan minum keduanya, namun saya mendapati keduanya sudah tidur. Meskipun demikian saya tidak memberikan susu itu kepada keluarga atau budakku sebelum orang tuaku minum. Aku tetap menunggunya (keduanya bangun)- sementara wadahnya (tempat susu) masih berada di tanganku- dan saya tetap menunggunya hingga terbit fajar sementara putri saya yang masih kecil menangis minta susu sambil memegangi kakiku ketika keduanya bangun, kuberikan susu itu untuk diminum’ Ya Alloh, jika perbuatan itu saya lakukan karena mengharapkan ridho-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.’ Kemudian bergeserlah sedikit batu tersebut tetapi mereka belum bisa keluar dari gua itu.

Orang kedua pun berkata: ‘Ya Alloh, sesungguhnya saya mempunyai saudara sepupu yang sangat saya cintai. Dalam riwayat lain disebutkan, ‘saya sangat mencintainya sebagaimana seorang laki-laki mencintai seorang perempuan.’ Saya selalu berhasrat terhadap dirinya (menlakukan zina), tetapi ia selalu menolaknya.

Beberapa tahun kemudian, ia tertimpa kesulitan (paceklik). Iapun datang untuk meminta bantuanku, dan saya berikan kepadanya seratus dua puluh dinar (120 dinar) dengan syarat menyerahkan dirinya kapan saja saya menginginkannya.’ Dalam riwayat lain, ‘ketika saya berada di antara kedua kakinya, ia berkata, ‘Takutlah kamu kepada Alloh. Janganlah kamu melepaskan cincin ini melainkan dengan haknya. Maka sayapun berpaling darinya, padahal dia orang yang sangat saya cintai, dan saya juga telah merelakan emas yang kuberikan kepadanya. Ya Alloh, jika perbuatan itu saya lakukan karena mengharapkan ridho-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.’ Kemudian bergeserlah batu itu, tetapi mereka masih belum bisa keluar dari gua itu.

Orang yang ketigapun berkata, ‘Ya Alloh, saya mempekerjakan beberapa karyawan dan saya gaji mereka dengan sempurna, kecuali ada seorang yang meninggalkan saya dan belum mengambil gajinya terlebih dahulu. Kemudian gaji itu saya kembangkan sehingga menjadi banyak. Selang beberapa tahun, dia datang dan berkata, ‘Wahai hamba Alloh, berikan gajiku,’ Saya berkata, ‘Semua yang kamu lihat baik unta, sapi, kambing, maupun budak yang mengembalakannya, semua adalah gajimu.’ Ia berkata, ‘Wahai hamba Alloh, jangan engkau mempermainkan aku.’ Saya menjawab, ‘Saya tidak mempermainkanmu.’

Kemudian dia mengambil semua itu dan tidak meniggalkan sedikitpun. Ya Alloh, jika perbuatan itu saya lakukan karena mengharap ridho-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.’ Kemudian bergeserlah batu itu dan mereka pun bisa keluar dari gua.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Dari kisah di atas bisa kita petik beberapa mutiara faidah antara lain;

Pertama, keutamaan dan kehebatan amal shaleh.

Kedua, bolehnya bertawassul dengan amal shaleh.

Ketiga, berbakti kepada orang tua merupakan sebaik-baik amal shaleh.

Keempat, rasa takut kepada Alloh termasuk amalan hati yang agung.

Kelima, Allohlah yang mampu mengabulkan doa-doa mereka.

Keenam, keutamaan sikap jujur dan amanah.

Ketujuh, benda mati akan bergerak dengan izin dan perintah dari Allohl. Semoga bermanfaat bagi kita semua. WAllohu A’lam

Sumber: Buku“Riyadhus Shalihin” Karya, Imam An-Nawawi .

(Red-HASMI/grms/Ummu Umair)