Dakwah Islam (Way Of Life)

14 Mar 2014Redaksi Materi

Dakwah Islam (way of life)

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) adalah Robbul ‘alamin, Pencipta alam semesta dan segala isinya, tidak mungkin perintah-perintah-Nya mencelakakan makhluk-Nya. Islam yang Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) turunkan selaras lagi senada dengan fitrah. Semua syari’at-Nya adalah rahmat. Terpisah-nya Islam dari ruh dan jiwa manusia adalah malapetaka. Memperjuangkan agama-Nya adalah kelestarian bagi semesta. Sudah sepatutnya seorang muslim menjadi seorang da’i.

Dalam tafsirnya Zadul Masiir, Imam Ibnul Jauzi mengatakan bahwa kata ar-Robb mengandung tiga makna:

(a) Pemilik, seperti dikatakan Robbud dar (pemilik rumah)
(b) Pemelihara seperti dikatakan Robbusy syai’ (pemelihara sesuatu)
(c) Tuan yang ditaati. Semua arti ini menun-jukkan betapa Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) akan menjaga ciptaan-Nya. Dan sebagai perwu-judannya, Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)  telah meletakkan hukum atau sistem yang mengatur perjalanan segala makhluk di alam semesta, dan jalan hidup manusia. Lantas Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) memilih di antara manusia-manusia itu sebagai pejuang-Nya. Semua Alloh  perintahkan untuk menyeru kepada Islam.

Islam adalah “way of life”, sistem yang mengatur jalan hidup manusia. Alloh sendiri yang menyebut dengan nama al-Islam. Alloh  subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Alloh hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imron [3]: 19)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imron [3]: 85)

Hanya Islam yang Alloh  akui sebagai jalan hidup manusia. Tanpa Islam semua manusia akan celaka. Otak manusia yang Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) cipta-kan, bukan untuk mengarang dalam permasalahan agama. Agama apapun karangan otak manusia tidak mungkin bisa menjadi solusi atas segala permasalahan yang ada. Perjuangan yang tidak berada dalam rel Islam adalah sia-sia atau bahkan hakikat-nya menambah rusak dunia.

Islam agama fitroh. Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menciptakan manusia dengan bekal fitroh yang sesuai dengan Islam. Manusia sepanjang zaman tidak bisa lari dari seruan fitrohnya. Bila ia menjauh dari seruan fitroh itu, jiwanya pasti meronta-ronta. Kege-lisahan demi kegelisahan akan terus mencekam jiwa manusi. Begitu banyak manusia yang bunuh diri hanya karena kekeringan jiwa, padahal secara materi mereka tidak kekurangan. Ribuan manusia melakukan bunuh diri di dunia setiap tahunnya. Sebab utama tindakan bunuh diri ini rata-rata karena kekosongan jiwa dari ajaran Islam. Kenyataan ini semua adalah dalil bahwa manusia benar-benar diambang kehancuran ketika tidak mengikuti Islam. Mereka tidak akan pernah bahagia di dunia apalagi di akhirat tanpa kembali kepada Islam. Sebab hanya Islam yang Alloh  jadikan paling sesuai dengan panggilan fitrohnya. Hanya Islam yang layak diperjuangkan demi penyelamatan seluruh manusia.

Sekalipun manusia berusaha menghancurkan Islam dan pejuang pemusnah Islam ada sepanjang sejarah, Islam tidak akan pernah musnah, pejuang Islam tak pernah habis. Dibanding agama-agama lain, Islam adalah agama yang paling banyak dimusuhi. Alloh  berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Alloh. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.” (QS. al-Anfal [8]: 36)

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Alloh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Alloh tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (QS. ash-Shof  [61]: 8)

Tetapi Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berjanji bahwa sampai kapanpun, musuh-musuh Islam tidak akan pernah berhasil melakukan tindakan makarnya. Alloh  berfirman:

“Dialah yang telah mengutus Rosul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. at-Taubah [9]: 33)

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) sendiri yang menjamin untuk menjaga agama ini. Segala upaya yang ditempuh para musuh, Alloh mentahkan. Lebih dari itu, jumlah pemeluk Islam justru se-makin bertambah dari masa ke masa. Ini adalah fakta yang mem-buktikan bahwa manusia cerdas masa depan pasti akan kembali dan memperjuangkan Islam. Mereka tidak akan pernah menerima agama yang tidak otentik, tidak murni dan tidak sesuai dengan fitrohnya. Mereka pasti akan segera mengkritisi berbagai pe-nyimpangan yang terdapat pada ajaran agama selain Islam.

Syeikh Abul Hasan An-Nadwi [rohimahu], menulis sebuah buku judulnya “maadzaa khasiral aalam bin kht-haathil muslimiin”  (kerugian yang menimpa manusia karena keterpu-rukan umat Islam). Ini menunjuk-kan bahwa manusia tidak akan pernah menemukan kemanusiaannya selama tidak kembali kepada Islam. Terbukti memang bahwa manusia tanpa Islam, benar-benar hidup dalam kebingungan. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa pada zaman jahiliyah -sebelum datangnya Islam- kaum wanita di-zholimi. Mereka tidak mendapatkan hak-hak kemanusiaannya sama sekali. Tidak sedikit dari putri-putri mereka yang dibunuh hidup-hidup. Jauh sebelum itu di Romawi pada abad ke VI masehi manusia sungguh terpuruk dalam kebinatangan. Tontonan yang paling menyenangkan pada waktu itu adalah pertarungan yang berdarah-darah dan bahkan tidak sedikit yang harus melayangkan nyawanya. Para gladiator diadu dengan sesama mereka, atau mereka dipaksa harus bertarung melawan binatang buas seperti singa dan lain sebagainya. Suatu pertarungan yang menunjuk-kan tingkat kejamnya manusia ter-hadap kemanusiaannya sendiri. Dengan kata lain di sana nampak bahwa manusia benar-benar tidak ada harga-nya sama sekali.

Akan tetapi Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) telah mem-beri kabar gembira dengan firman-Nya:

“Musa berkata kepada kaumnya, ‘Minta tolonglah kalian kepada Alloh dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Alloh; di-pusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-A’rof  [7]: 128)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yaitu Islam dan umatnya. Dan ini pasti terjadi cepat atau lambat, sebab Alloh  tidak pernah mengingkari janji. Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Sesungguhnya Alloh tidak pernah menyalahi janji.”  (QS. Ali Imron [3]:  9)

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dalam banyak kesempatan seringkali memberikan kabar gembira. Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda:

“Sesungguhnya Alloh telah me-ngumpulkan untukku dunia, maka aku menyaksikannya dari ujung timur dan barat, dan kerajaan umatku akan melampaui timur dan barat seperti yang dikumpulkan untukku, dan aku diberi dua kekayaan (emas dan perak atau kekayaan dua kerajaan Romawi dan Persia).”  (HR. Muslim)

“Berilah kabar gembira kepada umatku dengan kemenangan, ketenangan di negerinya, pertolongan Alloh, dan kemuliaan agamanya. Siapa yang menjadikan amal akhiratnya untuk dunia, maka di akhirat ia tidak akan mendapatkan apa-apa.” (HR. Ahmad no. 20273)

Masa depan adalah milik Islam dan umatnya. Sampai kapanpun manusia tetap akan membutuhkan-nya. Sebab ia adalah way of life, dan suara fitroh insaniyah. Dengan Islam manusia akan memperlakukan dirinya sebagai manusia. Ia akan bisa menjalani hidupnya secara seimbang di muka bumi. Alloh  dan Rosul-Nya  telah menjanjikan bahwa Islam dan umatnya pasti akan menang. Dan Alloh  tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Tetapi semua ini tidak bisa di-capai dengan hanya membaca tulisan ini lalu mengkhayal. Islam adalah pedoman hidup, yang harus diamalkan dan diperjuangkan. Umat Islam harus bergerak penuh gelora untuk mem-perjuangkannya. Tidak hanya “menyendiri” dipojok-pojok masjid “melupakan” umat, melainkan harus merambah ke kehidupan nyata. Semua dalil al-Qur’an dan as-Sunnah yang global, harus diwujudkan dalam program dakwah yang nyata. Segala aspek politik, sosial, budaya, ekonomi dan lain sebagainya harus diatur Islam. Inilah Islam yang diyakini Rosululloh  dan sahabat-sahabatnya. Mereka tidak hanya duduk ber-ibadah di masjid, melainkan terus bergerak menyebarkannya dan merealisasikannya dalam kehidupan nyata, secara total. Dan dengan upaya semacam itulah, dulu Islam dan umatnya yang dianggap kaum pinggiran, benar-benar pernah mampu menaklukkan dua kekuatan super power pada masanya: Romawi dan Persia.

Wallohu a’lam bishshowab

(Red-HASMI/IH/Ustadz Yanuar Arianto)