Biarlah, Hanya Alloh yang Mengenalku

10 Mar 2014Redaksi Kisah Inspiratif

Biarlah, hanya Alloh yang mengenalku

Ada sebuah pesan menarik dari seorang ulama salaf. Tu’faruna fi as-sama’ wa tuhfuna fi al ardhi. Berusalah agar kalian lebih dikenal oleh para penghuni langit, walau tak seorang pun penduduk bumi yang mengenal kalian. Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) menyebut tipe manusia seperti ini dengan sebutan al-akhfiya’; manusia-manusia tersembunyi.

Beliau juga mengatakan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) sangat mencintai manusia tipe ini. mereka tidak pernah peduli apa kata manusia tentang mereka, sebab –bagi mereka- yang penting adalah apa kata Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) tentang mereka. Itulah sebabnya, mereka tidak pernah mengalami kegilaan akan kemasyhuran.

Dan ini adalah kisah salah satu dari mereka. Ia hidup di masa tabi’in. namun hingga hari ini tak satu buku sejarahpun yang dapat menyingkap identitas pria ini. salah-satunya informasi tentangnya hanyalah bahwa ia seorang berkulit hitam dan bekerja sebagai tukang sepatu! Shohibul hikayat adalah seorang tabi’in bernama Muhammad bin Al-Munkadir raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him).

Malam itu sudah terlalu malam dan gelap. Namun walaupun malam, udara terasa lebih panas dari biasanya. Tidak aneh memang, sebab hari-hari itu adalah hari-hari kemarau panjang di kota itu. Sudah setahun ini kota Madinah tidak pernah mendapatkan curahan air dari langit. Entah telah berapa kali penduduk kota itu berkumpul untuk melakukan sholat istisqo’ demi meminta hujan. Namun hingga malam itu, tak setetes air hujan pun yang turun menemui mereka.

Dan malam itu, seperti kebiasaannya bila sepertiga akhir malam menjelang, Muhammad bin Al-Munkadir meninggalkan rumahnya dan bergegas ke Masjid Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Usai mengerjakan sholatnya malam itu, Ibnu Al-Munkadir bersandar ke salah satu tiang masjid. Tiba-tiba ia melihat sebuah sosok bergerak tidak jauh dari tempatnya bersandar. Ia mencoba untuk mengetahui siapa sosok itu. Agak sulit sebab malam telah begitu gelap. Dengan agak susah payah ia melihat seorang pria berkulit hitam agak kecoklatan. Tapi ia sama sekali tidak mengenalnya. Pria itu membentangkan sebuah kain di lantai masjid itu. Dan pria itu sepertinya benar-benar merasa hanya ia sendiri dalam masjid. Ia tidak menyadari kehadiran Ibnu AL-Munkadir yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Ia berdiri mengerjakan sholat dua rokaat. Usai itu, ia duduk bersimpuh. Begitu khusu’ ia bermunajat. Dan dalam munjat itu, ia mengatakan,

“Duhai Tuhanku, penduduk negeri Harom-Mu ini telah bermunajat dan memohon hujan pada-Mu, namun Engkau tidak kunjung mengaruniakannya pada mereka. Duhai Tuhanku, sungguh aku mohon pada-Mu curahkanlah hujan itu untuk mereka.”

Ibnu Al-Mundakir yang mendengar munajat itu agak sedikit mencibir. “Dia pikir dirinya siapa mengatakan seperti itu,” katanya dalam hati. “Orang-orang sholih seantero Madinah telah keluar untuk berdoa meminta hujan, namun tak kunjung dikabulkan, lalu tiba-tiba, orang ini ingin berdoa pula.” gumamnya.

Namun sungguh di luar dugaan, belum lagi pria hitam itu menurunkan kedua tangannya, tiba-tiba saja suara Guntur bergemuruh dari langit. Tetesan-tetesan air hujan menciumi ke bumi. Sudah lama tidak begitu. Tak terkira betapa gembiranya pria itu. Segala pujian dan sanjungan ia ucapkan kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Namun tidak lama kemudian ia berkata dengan penuh ketawadhuan, “Duhai Tuhanku, siapaku aku ini? Siapakah gerangan aku ini hingga Engkau berkenan mengabulkan doaku?”

Ibnu Al-Munkadir hanya tertegun di tempatnya memandang pria itu. Tidak lama sesudah itu, pria tersebut bangkit kembali dan melanjutkan raka’at-raka’atnya. Hingga ketika saat shubuh menjelang, sebelum kaum muslimin lainnya berdatangan, ia segera menyelesaikan witirnya. Dan ketika sholat shubuh ditegakkan, ia masuk ke dalam shof seolah-olah ia baru saja tiba di masjid itu.

Usai mengerjakan sholat subuh, pria itu bergegas keluar meninggalkan masjid Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Jalan-jalan kota Madinah shubuh itu digenangi air. Pria itu berjalan cepat sambil mengangkat kain bajunya. Menghilang. Ibnu Al-Munkadir yang berusaha mengikutinya kehilangan jejak. Ia benar-benar tidak tahu ke mana pria hitam itu pergi.

Dan malam kembali merangkak semakin jauh. Malam ini, Muhammad bin Al-Munkadir kembali mendatangi masjid Nabawi. Dan seperti malam kemarin, ia kembali melihat pria hitam itu. Persis seperti kemarin. Ia mengerjakan sholat malamnya hingga shubuh menjelang. Dan ketika sholat ditegakkan, ia masuk ke dalam shof seperti orang yang baru saja tiba di masjid itu. Dan saat sang imam mengucapkan salam, pria itu tidak menunggu lama.

Persis seperti kemarin, ia bergegas meninggalkan masjid itu. Dan Ibnu Al-Munkadir mengikutinya dari belakang. Ia ingin tahu siapa sebenarnya pria itu. Pria itu menuju ke sebuah lorong, dan setibanya di depan sebuah rumah ia masuk ke dalamnya. “Hmm, rupanya di situ pria ini tinggal. Baiklah sebentar aku akan mengunjunginya.”

Matahari telah naik sepenggalah. Usai menyelesaikan sholat Dhuhanya, Ibnu Al-Munkadir pun bergegas mendatangi rumah pria itu. Ternyata dia sedang sibuk mengerjakan sebuah sepatu. Begitu ia melihat Ibnu Al-Munkadir, dia segera mengenalinya.

“Marhaban wahai Abu ‘Abdulloh –begitulah Ibnu Al-Munkadir dipanggil! Adakah yang bisa kubantu? Mungkin engkau ingin memesan sebuah alas kaki?” ujar pria itu menyambut kedatangan Ibnu Al-Munkadir.

Namun Ibnu Al-Munkadir justru menanyakan hal yang lain. “Bukankah engkau yang bersamaku di masjid kemarin malam?

Dan tanpa diduga, wajah pria itu Nampak sangat marah. Dengan nada suara yang tinggi dia berkata, “Apa urusanmu dengan itu semua, wahai Ibnu Al-Munkadir??!

“Nampaknya dia sangat marah. Aku harus segera pergi dari sini,” ujar Ibnu Al-Munkadir dalam hati. Dan ia pun segera pamit meninggalkan rumah tukang sepatu itu.

Ini adalah malam ketiga sejak peristiwa itu. Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu Ibnu Al-Munkadir berjalan menuju masjid Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Satu hal yang agak berbeda malam itu. Di hatinya ada harapan yang kuat untuk melihat pria tukang sepatu itu. Setibanya di masjid dan mengerjakan sholat seperti biasanya, ia bersandar sambil berharap pria itu kembali terlihat di depan matanya.

Malam semakin malam, namun pria yang ditunggu-tunggu tidak kunjung kelihatan. Ibnu Al-Munkadir tersadar. Ia telah melakukan suatu kesalahan. “Inna lillahi! Apakah yang telah kulakukan??” itulah gumamnya saat menyadari kesalahan itu.

Dan usai sholat shubuh, ia segera meninggalkan masjid itu dan mendatangi rumah sang tukang sepatu. Namun yang ia temukan hanya pintu rumah yang terbuka dan tidak ada lagi pria itu. Penghuni rumah itu berkata, “Wahai Abu ‘Abdillah! Apa yang terjadi antara engkau dengan dia?”

“Apa yang telah terjadi?” Tanya Ibnu Al-Munkadir.

Ketika engkau keluar dari sini kemarin itu, dia segera mengumpulkan semua barangnya hingga tidak satu pun yang tersisa. Lalu dia pergi dan kami tidak tahu kemana dia pergi hingga kini,” jelas penghuni rumah itu.

Dan sejak hari itu, Ibnu Al-Munkadir mengelilingi semua rumah yang ia ketahui di kota Madinah. Namun sia-sia belaka. Pencariannya tidak pernah membuahkan hasil.

Dan hingga kini abad 14 Hijriyah ini, kita pun tidak pernah tahu siapa pria tukang sepatu itu. Jejak-jejaknya yang terhapus oleh hembusan angin sejarah seolah bergumam, “Biarlah, hanya Alloh yang mengenalku..”
(Red-HASMI)