SIAPAKAH HASMI?

5 Apr 2017Redaksi Headline

SIAPAKAH HASMI?

HASMI adalah organisasi Islam yang murni kelahiran Indonesia, berpusat di Indonesia dan bukan sekali-kali organisasi lintas negara.

Dasar keseluruhan HASMI adalah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, manhaj kebenaran sesuai dengan kemurnian Islam. Manhaj wahyu Ilahi, al-Qur’an dan Sunnah serta mengikuti pemahaman dan penerapan Salafussoleh. Hal ini tidak berarti sama sekali bahwa HASMI mengklaim tidak pernah atau tidak akan mempunyai kesalahan. Sebagai manusia, kesalahan adalah sekutu yang permanen. Hal ini hanya sebatas kebulatan tekad penitian Sirotulmustaqim. HASMI mengusung dan mendakwahkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah serta memandang tidak adanya pencanangan yang jelas tentang hal ini pada suatu gerakan, merupakan keaiban pada gerakan tersebut apalagi jika gerakan tersebut memang benar-benar tidak mendakwakan manhaj ini, maka hal itu merupakan bencana untuk umat.

Siapakah Hasmi?
Tujuan HASMI adalah terwujudnya kebangkitan total melalui usaha perwujudan ruhani yang bermahkotakan “Berdirinya masyarakat Islami di Indonesia” sebagai perwujudan dari kebangkitan peran yaitu masyarakat yang secara kolektif atau perorangan dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Islam yang suci.

HASMI memilih strategi dakwah dalam meniti jalan perjuangan menuju tujuan. Dasar-dasar pemilihan “strategi dakwah” HASMI sebagai berikut:

  1. Dakwah pada dasarnya merupakan strategi para nabi dalam misi penyelamatan mereka terhadap umat manusia. Sedangkan jihad bersenjata adalah salah satu jalan dari jalan-jalan dakwah yang dilakukan hanya pada kondisi-kondisi tertentu.
  2. Al-Qur’an telah menyatakan dengan tegas bahwa Alloh subhanahu wata’ala tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah apa-apa yang ada pada jiwa-jiwa mereka. Maka kita harus merubah keterpurukan ruhani menjadi kebangkitan ruhani dengan mendakwahi umat.
  3. Keyakinan yang kuat, seperti telah dipaparkan sebelumnya, bahwa keterpurukan ruhani adalah ibu dari semua keterpurukan khususnya keterpurukan ukhrawi yang maha dahsyat. Tidak ada jalan untuk melenyapkan keterpurukan ruhani selain jalan dakwah.
  4. Kita berada di tengah-tengah umat Islam yang sangat membutuhkan penerangan dan di waktu yang sama kesempatan serta pintu-pintu dakwah sangat terbuka lebar di negeri ini.
  5. Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam telah memulai misinya dengan strategi dakwah sampai berhasil mendirikan negara Islam pertama di Madinah tanpa kekerasan sedikit pun juga dan itulah manhaj Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam di periode pra-negara (periode harokah). Kita wajib mengikutinya! Bahkan dakwah adalah jalan inti yang dititi oleh beliau dan menjadi ukuran standar untuk membedakan antara pengikut beliau dan mereka yang tidak mengikuti beliau.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, mengajak (kalian) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf [12]: 108)

Siapakah HASMI?
HASMI tidak memilih strategi “tampuk kekuasaan” bukan karena berpendapat bahwa kekuasaan tidak diperlukan untuk menyelamatkan umat dari keterpurukan. HASMI menyadari bahwa tampuk kekuasaan adalah sarana yang sangat kuat untuk mencapai kebangkitan tetapi ia bukanlah kebangkitan itu sendiri. Di waktu yang sama terpegangnya tampuk kekuasaan berpotensi mengundang ancaman atas dakwah kalau tidak sanggup dipertahankan dan untuk mempertahankannya membutuhkan basis dan perangkat Islami yang sangat kuat.

Baca juga artikel berikut ini: Siapakah HASMI?? Membongkar Jatidiri HASMI yang sebenarnya

Benar bahwa tampuk kekuasaan bukan hanya sekedar sarana yang kuat untuk kebangkitan tapi juga berarti berdirinya kedaulatan hukum Alloh subhanahu wata’ala. Tetapi kedaulatan itu sendiri hanya akan berdiri di atas suatu kebangkitan ruhani yang sejati. Jadi tampuk kekuasaan harus dilahirkan oleh kebangkitan yang dihasilkan oleh dakwah untuk kemudian menjadi alat yang ampuh untuk meningkatkan, memperluas dan mengawal kebangkitan itu sendiri.

HASMI tidak memilih strategi tampuk kekuasaan di dua jalurnya berdasarkan pertimbangan analisa sebagai berikut:

  1. Banyak sekali hal-hal syar’i yang terlanggar bila kita masuk ke gelanggang parlemen, sebab sistem ini bukanlah sistem Islam. Sistem ini adalah sistem yang mengedepankan suara terbanyak daripada syari’at Alloh subhanahu wata’ala serta mendaulat manusia bukan mendaulat Alloh subhanahu wata’ala.
  2. Fakta telah menunjukkan bahwa para aktifis partai Islam terpacu untuk mengejar suara sebanyak-banyaknya yang mana hal ini mengakibatkan tertinggalnya dakwah kepada agama Alloh subhanahu wata’ala, karena sibuk dengan “dakwah mencari suara”. Akibatnya banyak sekali orang yang mati dalam kesesatan karena kekosongan dakwah. Dan tertinggalnya pengawalan terhadap kemurnian Islam, karena harus memperbesar toleransi dan tutup mulut terhadap banyak pihak penoda kemurnian. Jika kemurnian agama dikorbankan demi mendapatkan kemenangan, apakah arti sebuah kemenangan?! Itupun kalau menang…!
  3. Fakta sejarah kontemporer di banyak negeri juga dengan gamblang menunjukkan kepada kita kegagalan jalan ini dalam mewujudkan cita-cita umat.

HASMI juga menolak jalur kekerasan dengan segala bentuknya dalam mengadakan perubahan masyarakat muslim menuju masyarakat Islami. Hal itu didasarkan atas hal-hal berikut:

  1. Kekerasan seharusnya hanya digunakan untuk para penghalang dakwah, sedangkan negeri ini masih memberi peluang dakwah yang sangat luas. Kalau alasan kekerasan adalah amar ma’ruf nahi munkar karena negara tidak melakukannya, maka hal ini harus sesuai dengan kaidah amar ma’ruf nahi munkar yaitu hasilnya diprediksikan dengan kuat tidak akan melahirkan munkar yang lebih besar lagi.
  2. Umat berada di marhalah tarbiyah dan ta’lim sedangkan kekerasan tidak bisa membuka hati manusia.
  3. Mayoritas orang di negeri ini adalah umat Islam dan tidak terjadi agresi dari negara kaum kafir.
  4. Menempuh jalan kekerasan di kondisi zaman dan tempat yang tidak tepat akan menimbulkan banyak kerusakan dan pertumpahan darah yang tidak dibenarkan oleh Islam.
  5. Yang terpenting dan sangat jauh lebih penting adalah strategi yang dijalankan oleh Rosululloh pada periode sebelum hijrah (periode harokah/periode sebelum negara) adalah strategi dakwah dan kita wajib mengikuti strategi beliau .

Tetapi perlu diingat dengan jelas, kami sama sekali tidak anti jihad yang benar!! Bahkan kami percaya barangsiapa yang anti syari’at jihad, berarti dia telah keluar dari Islam! Kami juga percaya barangsiapa yang membenci mujahidin, maka orang itu sudah terjangkiti penyakit nifaq! Barangsiapa yang membantu kaum kafir dalam memerangi umat ini, maka dia pun telah kafir! Kami mendukung sepenuhnya jihad di banyak negeri Islam dalam mengusir para agressor Yahudi, Salibis, Hindu dan Komunis.

Yang kami maksudkan dalam penolakan cara kekerasan adalah penggunaannya di negeri seperti Indonesia ini di mana dakwah masih mendapat kebebasan mutlak, tidak ada agressor dan umat sangat membutuhkan pembelajaran dan dakwah demi terwujudnya kebangkitan ruhani.

HASMI merangkul seluruh personel umat yang siap meniti sirotul mustaqim, dan menerima mereka baik pria atau wanita, tua atau muda, sebagai anggota tanpa mensyaratkan tingkatan minimal pendidikan atau persyaratan lainnya. Islam untuk kita semua.

Keanggotaan HASMI berarti ikut dalam usaha penyelamatan umat dari makar-makar musuh Islam dan dari jebakan-jebakan kesesatan dalam satu barisan yang berjalan di jalan yang lurus menuju terbentuknya masyarakat Islami,  mengikuti program-program ta’lim dan tarbiyyah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mendapat bimbingan-bimbingan Islami yang benar dalam menyikapi fenomena-fenomena yang membingungkan di masyarakat, dan sudah mendapatkan pendukung yang terpercaya dalam mendidik keluarga baik selagi hidup maupun setelah kematian.

(Red-HASMI)