Lailatul Qodar

15 Jun 2017Redaksi Fiqih dan Muamalah

Lailatul Qodar – Dari Abdullah bin Umar Rodhiyallohu’anhu, beberapa sahabat Nabi sholallohu’alaihi wasallam bermimpi melihat lailatul qadar pada tujuh malam terakhir, lalu Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda: “Menurutku, mimpi kalian sama, (yaitu) pada tujuh malam terakhir. Maka siapa diantara kalian hendak mencarinya, maka hendaklah dia mencari pada tujuh malam terakhir.” (HR. al-Bukhari No.2015 dan Muslim No. 165.)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Dari Aisyah radhiallahu anha, Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda, “Carilah oleh kalian lailatul qodar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.” (HR. Al-Bukhari No.2017)

Malam qadar adalah malam mulia dan agung, pada malam itu kebaikan-kebaikan dilipatgandakan, kesalahan-kesalahan dihapus, dan segala urusan ditakdirkan. Karena para sahabat mengetahui keutamaan dan kedudukan malam ini yang amat besar, mereka ingin mengetahui waktunya. Namun karena kebijaksanaan Alloh subhanahu wata’ala dan rahmat-Nya, Dia tidak memberitahukan kapan waktunya agar mereka selalu mencar-cari setiap malam, sehingga ibadah mereka semakin banyak dan mendatangkan manfaat.

Suatu ketika, para sahabat bermimpi melihat lailatul qadar, mimpi mereka semua sama, yaitu pada sepuluh hari terakhir di bulan Romadhon. Nabi sholallohu’alaihi wasallam kemudian bersabda, “Menurutku, mimpi kalian sama, yaitu pada tujuh malam terakhir. Maka siapa diantara kalian hendak mencari lailatul qadar, maka carilah dia pada sepuluh malam terakhir, khususnya pada malam-malam ganjil, karena besar kemungkinan malam qadar ada saat pada saat itu.”

Malam-malam ganjil yang paling diharapkan dan paling banyak tanda-tandanya adalah malam ke-27 bulan ramadhan. Untuk itu, hendaklah bersemangat pada bulan Romadhon dengan memperbanyak ibadah, terlebih pada sepuluh malam terakhir, khususnya malam ke-27. Semoga Alloh subhanahu wata’ala berkenaan memberi kita taufiq untuk meraih hembusan-hembusan rahmat-Nya.

Perbedaan Pendapat Ulama

Ulama berbeda pendapat tentang penentuan lailatul qadar. Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan 47 pendapat dalam masalah ini. (Fathul Baari: 4/227-260)

Dia menyebutkan persekutuan pendapat antara yang samar-samar dan yang mendalam. Tetapi dia menguatkan sepuluh malam terakhir bulan ramadhan.  Imam Ahmad menyatakan, “Yang paling diharapkan adalah malam ke-27.” Pendapat inilah yang dalilnya paling kuat.

Sumber: Syekh Abdullah Alu Bassam, Fikih Hadits Bukhari Muslim/ Taisirul Alam Syarah Umdahtil Ahkam, (Jakarta: Ummul Qura, 2013), 526-527.

Disusun Oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc., M.E.I.

Baca juga HASMI Bagi-Bagi THR

Be Sociable, Share!