Memindai Ukhuwah Yang Tercerai Berai

22 Dec 2017Redaksi Aqidah

Memindai Ukhuwah Yang Tercerai Berai

Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan islam) atau yang sering diungkapkan dengan kata ukhuwah adalah pilar agama Islam yang sangat agung. Jika kita cermati sejarah Islam, keberhasilan dakwah, jihad dan penegakkan khilafah islamiyah di awal Islam sangat ditopang oleh ukhuwah Islamiyah. Bukan sekedar itu, ketika Nabi shollallohu’alaihi wasallam hijrah ke Madinah, di antara amal utama yang beliau shollallohu’alaihi wasallam lakukan adalah ta’akhi bainal muhajirin wal anshor (mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshor). Inilah sebenarnya starting point terbentuknya masyarakat Madani; sebuah masyarakat yang dinaungi dengan syariat Islam. Dari situlah kekuatan kaum muslimin membesar dan menjadi raksasa yang mampu menumbangkan singgasana Persia dan Romawi saat itu.

Di dalam al-Qur’an sendiri, secara tegas Alloh subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa setiap mukmin adalah saudara. Itulah ukhuwah sejati yang akan bermanfaat di dunia dan akhirat nanti. Gambaran tentang kuatnya tali persaudaraan tersebut dijelaskan Nabi shollallohu’alaihi wasallam dalam hadis berikut ini.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Permisalan dalam kecintaan, kasih sayang, dan kelembutan antara orang-orang beriman adalah ibarat satu anggota tubuh. Apabila satu bagian merasakan sakit, maka seluruh bagian yang lain akan ikut begadang dan meriang.”
(HR. Muslim)

Inilah ukhuwah islamiyah yang lebih kuat dari pada ikatan darah, daerah, kesukuan, pekerjaan dan segala ikatan di dunia ini. Namun, ironisnya hari ini banyak sekali peretas ukhuwah islamiyah. Jalinan ukhuwah mulai diserang beragam virus yang menghancurkannya. Akhirnya, tali ukhuwah yang terjalin kuat menjadi rusak dan tercerai-berai.


Virus Ukhuwah Islamiah

Jika kita memindai kelesuan ukhuwah islamiyah ini, tentu banyak sekali kita dapati virus jahat yang meretas ukhuwah islamiah hingga mencerai-beraikannya. Di antara virus-virus tersebut adalah:

1. Saling merendahkan dan memanggil dengan julukan jahiliyah.

Seringkali ukhuwah islamiyah memudar disebabkan saling merendahkan sesama muslim. Hanya gara-gara berbeda guru, tempat belajar, organisasi dan ijtihad fiqih, banyak kaum muslimin saling merendahkan dan menghina. Masing-masing golongan menganggap kelompokkanya paling hebat dan golongan selainnya kelompok gadungan. Akhirnya, mereka disibukkan dengan perdebatan dan mencari-cari kelemahan serta kekurangan yang tidak berfaedah. Tidak jarang di antara mereka saling menuduh, bahkan saling mengkafirkan secara serampangan.

Inilah realita yang menjadikan ukhuwah islamiyah memudar. Padahal, seharusnya mereka saling bersinergi dan melengkapi. Jangan sampai permasalahan sepele atau yang masih bisa ditolerir menjadikan suatu kaum menghina kaum lainnya.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum lainnya, boleh jadi kaum yang direndahkan itu lebih baik dari yang merendahkan. Jangan pula sekumpulan wanita merendahkan kumpulan wanita lainnya, boleh jadi wanita yang direndahkan itu lebih baik dari yang merendahkan. Janganlah kalian mencela seorang mukmin secara sembunyi-sembunyi. Jangan pula kalian menggunakan kata-kata panggilan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan kepada orang yang telah beriman adalah panggilan-panggilan Jahiliyah. Barangsiapa yang tidak mau bertaubat dari dosanya, mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.”
(QS.al-Hujurot[49]: 11)

2. Su’uzhon (prasangka buruk), tajassus (memata-matai), ghibah (menggunjing), dan namimah (adu domba).

Virus ini adalah virus berbahaya yang meretas dan menghancurkan jalinan ukhuwah Islamiyah. Banyak didapati sesama muslim bertikai disebabkab prasangka buruk. Tak terhitung juga perang mulut hingga baku hantam terjadi karena berawal dari ghibah dan tajassus sesama muslim.

Tajassus adalah memata-matai aurat, kekurangan, dan rahasia seorang muslim ketika dalam sendirian baik dengan melihat tanpa sepengetahuannya, mencuri dengar, membaca tulisan, file, serta dokumen tanpa seizin orang tersebut.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Janganlah kalian mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Alloh! Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. al-Hujurot [49]: 11)

Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam juga bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Hendaknya kalian senantiasa menjauhi prasangka buruk karena prasangka buruk merupakan seburuk-buruk perkataan.”
(HR. Bukhori)

3. Hasad

Hasad adalah rasa tidak senang terhadap karunia Alloh subhanahu wata’ala kepada orang lain, berharap nikmat tersebut hilang atau pindah dalam dirinya. Hasad seringkali muncul dari orang yang terlihat dekat dan akrab dengan orang yang sedang mendapatkan nikmat. Boleh jadi ia saudara, tetangga, kolega, sahabat karib, atau para pelaku profesi yang sejenis. Seperti seorang pedagang, biasanya ia akan hasad dengan pedagang lain karena dirasa lebih laris dan maju. Jarang sekali seorang pedagang hasad dengan tukang becak atau tukang ojek kecuali ada sebab tertentu. Begitu juga semisalnya.

Fenomena yang sangat menyedihkan tentang hasad adalah ketika ada seorang dai atau ustadz berbuat hasad dengan dai lainnya hanya gara-gara banyak atau sedikitnya pengikut. Jika demikian adanya, seringkali majelis ilmu yang seharusnya dipenuhi hikmah dan faidah justru menjadi ajang memakan bangkai secara beramai-ramai. Allohul Musta’an.

Nabi shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

“دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ اْلأَمَمَ قَبْلَكُمْ اْلحَسَدُ وَ اْلبَغْضَاءُ، وَ اْلبَغْضَاءُ هِيَ اْلحَالِقَةُ، لاَ أَقُوْلُ تَحْلُقُ الشَّعْرَ، وَ لَكِنْ تَحْلُقُ الدِّيْنَ”

“Sungguh telah menjalar kepada kalian penyakit umat-umat terdahulu sebelum kalian yaitu hasad dan kebencian. Adapun kebencian itu mencukur. Aku tidak mengatakan ia mencukur rambut. Akan tetapi mencukur ia agama.” 
(HR. Bahaiqi dan Bazar)

Nabi shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak masuk surga orang yang suka mengadu domba.”

Adapun Adu domba merupakan perkara yang merusak ukhuwwah Islamiyah. Alloh subhanahu wata’ala melarang hamba-Nya untuk mengikuti orang yang senantiasa berbuat namimah.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari mengadu domba menghambur fitnah.”
(QS. al-Qolam [68]: 10-11)

Harga Mahal Sebuah Ukhuwah

Pada zaman kholifah al-Mu’tashim, ada seorang wanita Muslimah yang diperlakukan tidak senonoh di sebuah pasar Zabthoroh, Amuriah (Eropa). Muslimah tersebut jilbabnya ditarik hingga auratnya tersingkap. Sontak dia berteriak, “ Wa Mu’tashimah!? Di manakah Engkau wahai kholifah al Mu’tashim!?” Jeritan seorang muslimah itu akhirnya menembus benteng istana Abbasiyah. Tidak menunggu waktu lama, kholifah al Mu’tashim pun mengirim ribuan pasukan demi menyelamatkan seorang muslimah yang terzholimi dan membebaskan kota Amuriah dari kekuasaan orang kafir yang semena-mena.

Begitulah jika ukhuwah islamiah tertancap kuat dalam diri muslim apalagi pemimpin umat. Sayangnya, hari ini betapa banyak darah tertumpah, kehormatan muslimah terenggut, jasad terkoyak, dan negeri terjajah sementara umat milyaran ini terlihat tidak berdaya bagaikan buih yang terombang-ambing di tengah samudra. Pertanyaannya, sampai kapankah harga mahal ukhuwah ini terus tergadaikan?  Wallohu ta’ala a’lam…