KONSEP-KONSEP DALAM AQIDAH / BAGIAN-3 (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

KONSEP-KONSEP DALAM AQIDAH (BAGIAN-3)

Oleh: Tim Redaksi HASMI

Ketiga: Konsep-Konsep Umum tentang Syirik kepada Alloh

Konsep Pertama: Definisi Syirik

Syirik adalah beribadah kepada selain Alloh, meskipun bersamaan dengan ibadah kepada Alloh. Oleh karena itu, syirik lebih khusus daripada kufur. Kufur biasanya digunakan untuk penolakan dan pengingkaran, seperti orang yang mengingkari keberadaan Alloh, atau mengingkari sesuatu yang datang dari-Nya, atau mengingkari hak-hak Alloh. Maka, syirik termasuk dalam kufur, tetapi tidak setiap kufur adalah syirik.

Bentuk syirik yang paling tinggi dan paling besar adalah mengklaim bahwa seorang makhluk memiliki sifat ulūhiyah atau rubūbiyah selain Alloh, serta menganggap dirinya memiliki hak-hak khusus yang hanya milik Alloh.

Sebagaimana firman Alloh tentang Namrūd yang mendebat Nabi Ibrāhīm ‘alaihissalām:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ ۖ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ ۖ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Tidakkah engkau memperhatikan orang yang mendebat Ibrāhīm tentang Tuhannya, karena Alloh telah memberinya kerajaan? Ketika Ibrāhīm berkata: ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,’ dia menjawab: ‘Aku juga dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrāhīm berkata: ‘Sesungguhnya Alloh menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.’ Maka terdiamlah orang kafir itu. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. al-Baqarah [2]: 258)

Juga kisah Fir‘aun yang mengaku sebagai tuhan:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي

“Dan Fir‘aun berkata: ‘Wahai para pembesar! Aku tidak mengetahui adanya Tuhan bagimu selain aku.’” (QS. al-Qaṣaṣ [28]: 38)

Dan firman Alloh menceritakan ucapan orang dari keluarga Fir‘aun:

وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِثْلَ يَوْمِ الْأَحْزَابِ

“Dan berkatalah orang yang beriman: ‘Wahai kaumku! Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa (bencana) seperti hari kehancuran golongan-golongan yang dahulu.’” (QS. Ghāfir [40]: 29)

Dan juga pengakuan Fir‘aun secara terang-terangan:

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

“Lalu Fir‘aun berkata: ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi.’” (QS. an-Nāzi‘āt [79]: 24)

Maka jelaslah bahwa ia termasuk di antara orang-orang yang paling besar kesyirikannya kepada Alloh.

Ada pula orang yang mengklaim rubūbiyah dengan perbuatan, meskipun tidak secara lisan, seperti klaim para paus dalam agama Nasrani bahwa mereka memiliki hak untuk menghalalkan dan mengharamkan, memberi surat pengampunan dosa, atau menentukan siapa yang masuk surga.

Demikian juga dengan siapa pun hari ini yang membuat syariat selain syariat Alloh — baik seorang individu, majelis legislatif, atau undang-undang negara — yang menghalalkan apa yang Alloh haramkan, atau mengharamkan apa yang Alloh halalkan, maka semua itu termasuk bentuk syirik dalam rubūbiyah.

Konsep 2: Syirik Terjadi dalam Rukun-Rukun Pokok Ibadah

Syirik terjadi dalam rukun-rukun pokok ibadah dalam makna yang menyeluruh, yaitu:

  • Taqarrub (mendekatkan diri), tawajjuh (menghadap), dan tansasuk (ritual pengabdian).
  • Ketaatan, mengikuti, dan menetapkan hukum.
  • Cinta, loyalitas, dan pertolongan.

1. Syirik dalam Taqarrub dan Ritual Ibadah

Contohnya adalah apa yang dilakukan kaum Nabi Nuh عليه السلام, ketika mereka menyembah patung-patung yang dibuat untuk orang-orang soleh mereka setelah meninggal. Alloh berfirman:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kalian tinggalkan sembahan-sembahan kalian, jangan pula kalian tinggalkan Wadd, Suwā‘, Yaghūts, Ya‘ūq, dan Nasr.”
(QS. Nūḥ: 23)

Dalam Shahih al-Bukhari, dijelaskan bahwa nama-nama ini pada asalnya adalah nama orang-orang soleh dari kaum Nuh. Setelah mereka wafat, setan membisikkan kepada kaumnya agar membuat patung di tempat-tempat mereka duduk, lalu diberi nama sesuai nama mereka. Mereka melakukannya, tetapi pada masa awal tidak disembah. Setelah generasi itu mati dan ilmu agama hilang, patung-patung itu pun mulai disembah. (HR. al-Bukhari, no. 4920).

Peribadatan terhadap patung ini terus berlanjut hingga diwarisi oleh bangsa Arab sebelum Islam. Setiap kabilah memiliki berhala sendiri untuk disembah selain Alloh. Kemudian ‘Amr bin Luhayy al-Khuzā‘ī menambahkan berhala lain seperti al-Lāt, al-‘Uzzā, Manāt, dan Hubal.

Syirik semacam ini masih berlangsung hingga hari ini. Orang-orang Buddha menyembah patung Buddha, kaum Hindu dan Sikh memiliki banyak tuhan, dan sebagian kaum Sufi ekstrem terjatuh dalam bentuk syirik ini dengan menyembah para wali dan orang soleh, thawaf di kubur mereka, menyembelih untuk mereka, serta bentuk pengagungan lainnya. Begitu pula dengan bangsa-bangsa lain yang tersesat.

2. Syirik dalam Ketaatan, Mengikuti, dan Menetapkan Hukum

Syirik jenis ini juga telah menimpa umat manusia sejak dahulu. Dalam hadis qudsi, Alloh berfirman:

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ، وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا

“Aku menciptakan semua hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus), tetapi kemudian datanglah setan-setan yang menyesatkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan, dan memerintahkan mereka agar mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak pernah Aku turunkan keterangan tentangnya.”
(HR. Muslim, no. 2865)

Syirik ini juga dilakukan oleh Ahlul Kitab, ketika mereka mengikuti para pendeta dan rahib mereka dalam hal menghalalkan dan mengharamkan. Alloh berfirman:

ٱتَّخَذُوٓا أَحۡبَٰرَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَۖ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗاۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ سُبۡحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alim (pendeta) dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Alloh, dan juga al-Masih putra Maryam. Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Esa. Tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan.”
(QS. at-Tawbah: 31)

Ketika mendengar ayat ini, ‘Adiy bin Hātim radhiyallāhu ‘anhu (yang sebelumnya seorang Nasrani) berkata kepada Rosululloh ﷺ: “Wahai Rosululloh, mereka tidak menyembah para rahib itu.” Rosululloh ﷺ menjawab:

«أَجَلْ، وَلَكِنَّهُمْ يُحِلُّونَ لَهُمْ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيَسْتَحِلُّونَهُ، وَيُحَرِّمُونَ عَلَيْهِمْ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَيُحَرِّمُونَهُ، فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ لَهُمْ»

“Benar, tetapi mereka menghalalkan apa yang diharamkan Alloh lalu mereka halalkan, dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Alloh lalu mereka haramkan. Itulah bentuk ibadah mereka kepada para rahib tersebut.”
(HR. at-Tirmidzi, no. 3095; dinilai hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah, no. 3293)

Kaum Arab jahiliah juga terjatuh dalam syirik jenis ini, sebagaimana disebut dalam QS. al-Mā’idah: 103, tentang kebiasaan mereka menetapkan aturan hewan seperti bahirah, sā’ibah, washilah, dan hāmī.

Bahkan mereka mendebat kaum muslimin terkait hukum bangkai dengan berkata: “Apa yang Alloh sembelih (mati sendiri) jangan kalian makan, tetapi apa yang kalian sembelih justru kalian makan?” (HR. an-Nasā’ī, no. 4449; Abu Dawud, no. 2818; shahih menurut al-Albani dan Syu‘aib al-Arnauth). Hal ini ditegaskan Alloh dalam firman-Nya:

وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ

“Jika kalian menuruti mereka, sungguh kalian benar-benar menjadi orang-orang musyrik.”
(QS. al-An‘ām: 121)

Di zaman modern, banyak orang yang terjatuh pada syirik jenis ini dengan sengaja berhukum pada selain syariat Alloh, padahal mereka tahu. Alloh berfirman:

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يَزۡعُمُونَ أَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوٓاْ إِلَى ٱلطَّٰغُوتِ وَقَدۡ أُمِرُوٓاْ أَن يَكۡفُرُواْ بِهِۦ وَيُرِيدُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَن يُضِلَّهُمۡ ضَلَٰلَۢا بَعِيدٗا

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang mengaku beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum engkau? Mereka hendak berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkarinya. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka sejauh-jauhnya.”
(QS. an-Nisā’: 60)

Peradaban Barat juga mempraktikkan syirik ini, dengan menjadikan hawa nafsu sebagai “tuhan” yang mereka ikuti atas nama kebebasan, hak asasi manusia, dan semisalnya.

3. Syirik dalam Cinta, Loyalitas, dan Pertolongan

Jenis syirik ini tampak jelas pada zaman sekarang, ketika orang menjadikan fanatisme jahiliah sebagai dasar cinta, loyalitas, dan permusuhan. Ikatan itu dibangun atas dasar tanah air, suku, ras, atau bangsa. Alloh berfirman:

قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيّٗا فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ

“Katakanlah: Apakah aku akan menjadikan selain Alloh sebagai pelindung, padahal Dia adalah Pencipta langit dan bumi?”
(QS. al-An‘ām: 14)

Konsep 3: Syirik Menafikan Pengagungan kepada Alloh ﷻ

Setan memperdaya orang-orang musyrik dengan menampakkan syirik mereka kepada Alloh seakan-akan itu adalah bentuk pengagungan kepada-Nya dan sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mereka beranggapan bahwa Alloh terlalu agung untuk bisa mereka tuju secara langsung dalam ibadah dan doa, sehingga mereka menjadikan perantara-perantara di antara mereka dengan Alloh agar mendekatkan mereka kepada-Nya.

Alloh ﷻ berfirman tentang mereka:

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى ٱلسَّمَـٰوَٟتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ سُبۡحَـٰنَهُۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ [يونس: 18]

“Dan mereka menyembah selain Alloh apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat. Mereka berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Alloh.’ Katakanlah: ‘Apakah kalian memberitahukan kepada Alloh sesuatu yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi?’ Mahasuci Alloh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan itu.”

Alloh ﷻ juga berfirman:

أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِى مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِى مَنۡ هُوَ كَـٰذِبٞ كَفَّارٞ [الزمر: 3]

“Ingatlah, hanya milik Alloh agama yang murni. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Alloh akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta dan sangat kafir.”

Maka Alloh mendustakan mereka dan mencap mereka dengan kekafiran. Barang siapa yang dalam hal pengagungan kepada Alloh hanya mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Alloh, maka ia akan tergelincir dan tersesat sejauh-jauhnya. Padahal Alloh ﷻ telah memerintahkan kita untuk mendekat kepada-Nya secara langsung tanpa perantara.

Alloh ﷻ berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُوا۟ لِي وَلۡيُؤۡمِنُوا۟ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ [البقرة: 186]

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku, dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Dengan demikian, syirik itu membatalkan amal, menafikan pengagungan kepada Alloh Ta‘ala, dan menunjukkan bahwa pelakunya tidak memuliakan Alloh sebagaimana mestinya. Alloh ﷻ berfirman:

وَلَقَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ ۝ بَلِ ٱللَّهَ فَٱعۡبُدۡ وَكُن مِّنَ ٱلشَّـٰكِرِينَ ۝ وَمَا قَدَرُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَٱلسَّمَـٰوَٟتُ مَطۡوِيَّـٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَـٰنَهُۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ [الزمر: 65-67]

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang yang sebelummu: ‘Jika engkau mempersekutukan (Alloh), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang merugi.’ Maka, hanya Alloh-lah yang engkau sembah, dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur. Dan mereka tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

Konsep 4: Syirik adalah Kezaliman yang Paling Besar

Alloh ﷻ berfirman:

يَـٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ [لقمان: 13]

“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Alloh, sesungguhnya mempersekutukan (Alloh) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas‘ud ra, ia berkata:

“Aku bertanya: Wahai Rosululloh, dosa apakah yang paling besar?” Beliau menjawab: «أن تجعل لله ندًّا وهو خلقك» — “Engkau menjadikan sekutu bagi Alloh, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.”
(HR. Bukhari no. 4477, Muslim no. 86)

Syirik adalah kezaliman yang paling besar, karena ia menempatkan ibadah bukan pada tempatnya, serta memalingkan ibadah atau sebagian darinya dari Alloh ﷻ— Sang Pencipta, Pengatur, Robb seluruh alam dan Pemberi rezeki mereka, yang hanya Dia-lah yang berhak atas seluruh bentuk ibadah—kepada makhluk yang lemah, yang tidak memiliki kemampuan memberi manfaat atau mudarat, tidak pula menguasai kematian, kehidupan, dan kebangkitan.

Hakikat syirik adalah merendahkan kedudukan Robb semesta alam, menyerahkan hak murni-Nya kepada selain-Nya, dan menyamakan selain-Nya dengan-Nya. Alloh ﷻ berfirman:

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٟتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَـٰتِ وَٱلنُّورَ ثُمَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمۡ يَعۡدِلُونَ [الأنعام: 1]

“Segala puji bagi Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang. Namun orang-orang kafir mempersekutukan sesuatu dengan Robb mereka.”

Maka syirik adalah lawan dari tujuan penciptaan dan perintah Alloh, ia bertentangan dengan maksud Alloh dari segala sisi. Hal itu merupakan bentuk penentangan yang paling besar kepada Robb semesta alam dan kesombongan untuk tunduk kepada perintah-Nya, padahal tidak ada jalan kebaikan bagi alam kecuali dengan menaati-Nya.

Konsep 5: Fitnah Syirik dan Bahayanya

Karena syirik kepada Alloh merupakan kezaliman yang paling besar, maka darinya muncul akibat-akibat berikut:

1. Menghapus semua amal kebaikan.
Alloh Ta‘ala berfirman:

 وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَاسِرِينَ
(Az-Zumar: 65)

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum engkau: jika engkau mempersekutukan Alloh, niscaya gugurlah amalmu dan sungguh engkau termasuk orang-orang yang merugi.”

Alloh juga berfirman:

 وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَـٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًۭا
(Al-Furqan: 23)

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan.”

2. Menghalangi ampunan kecuali dengan taubat.
Alloh Ta‘ala berfirman:

 إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ
(An-Nisā’: 48)

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”

3. Menetapkan kekekalan di dalam neraka.

Alloh Ta‘ala menyebutkan tentang orang-orang musyrik yang mengambil tandingan-tandingan (sekutu) selain Alloh dan mencintai mereka sebagaimana mencintai Alloh:

 وَقَالَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوا۟ لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةًۭ فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا۟ مِنَّا ۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ أَعْمَـٰلَهُمْ حَسَرَٰتٍ عَلَيْهِمْ ۖ وَمَا هُم بِخَـٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ
(Al-Baqarah: 167)

“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), niscaya kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.’ Demikianlah Alloh memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka menjadi penyesalan bagi mereka. Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.”

Konsep 6: Tawassul

Alloh berfirman:

 يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَـٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
(Al-Mā’idah: 35)

“Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Alloh dan carilah jalan (wasilah) untuk mendekat kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kalian beruntung.”

Wasilah yang diperintahkan dalam ayat ini adalah segala bentuk ibadah dan ketaatan yang disyariatkan, yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Alloh Ta‘ala.

Tawassul terbagi menjadi tiga macam:

1. Tawassul yang disyariatkan (masyru‘).

Yaitu bertawassul kepada Alloh dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia, atau dengan amal soleh yang dilakukan oleh orang yang bertawassul, atau dengan doa dari seorang hamba soleh yang masih hidup.

Contohnya adalah sebagaimana yang dilakukan Umar bin al-Khaththab rodiyallohu ‘anhu ketika terjadi musim kemarau. Beliau meminta al-‘Abbās rodiyallohu ‘anhu (paman Nabi ﷺ) untuk berdoa kepada Alloh agar diturunkan hujan.

Hadis ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari (no. 1010, 3710). Umar berkata:

“Dulu kami bertawassul kepada Alloh dengan doa Nabi ﷺ, lalu Alloh menurunkan hujan kepada kami. Sekarang kami bertawassul kepada Alloh dengan doa paman Nabi ﷺ, maka turunkanlah hujan kepada kami.”

Hal ini menunjukkan bahwa tawassul yang dilakukan adalah dengan doa orang soleh yang hidup, bukan dengan dzat orang tersebut.

2. Tawassul yang bid‘ah (tidak disyariatkan).

Yaitu bertawassul kepada Alloh dengan sesuatu yang tidak ada dalilnya dalam syariat, seperti bertawassul dengan dzat para nabi atau orang-orang soleh, atau dengan kedudukan (jah) dan kemuliaan mereka. Ini tidak disyariatkan karena tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, dan tidak ada perintah dari Nabi ﷺ.

3. Tawassul yang syirik.

Yaitu menjadikan orang-orang mati, atau tandingan-tandingan selain Alloh sebagai perantara dalam ibadah, dengan cara memohon kepada mereka, meminta hajat kepada mereka, berdoa kepada mereka, atau berkurban dan bernazar untuk mereka. Semua ini termasuk syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Konsep 7: At-Thāghūt (الطاغوت)

Secara bahasa, kata at-thāghūt berasal dari kata ṭughyān (الطغيان) yang berarti melampaui batas. Misalnya, dikatakan: ṭaghā al-mā’ (طغى الماء) artinya air itu meluap dan melampaui batas. Ṭaghā al-baḥr (طغى البحر) artinya gelombang laut bergelora. Demikian pula, ṭaghā fulān (طغى فلان) artinya seseorang itu berbuat berlebihan, melampaui batas dalam kedurhakaan, kezaliman, kesombongan, atau kekufuran.

Menurut istilah syariat, at-thāghūt adalah:

“Segala sesuatu yang dengannya seorang hamba melampaui batasnya, baik berupa yang disembah, diikuti, atau ditaati. Maka thāghūt setiap kaum adalah siapa saja yang mereka jadikan hakim selain Alloh dan Rasul-Nya, atau mereka sembah selain Alloh, atau mereka ikuti tanpa dasar ilmu dan petunjuk dari Alloh, atau mereka taati dalam sesuatu yang mereka tidak ketahui apakah itu ketaatan kepada Alloh atau tidak.”

Kata at-thāghūt disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak delapan kali, semuanya dengan makna yang sesuai dengan definisi di atas. Di antaranya adalah firman Alloh Ta‘ālā:

 لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّـٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ [البقرة: 256]

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Maka barangsiapa ingkar kepada thāghūt dan beriman kepada Alloh, sungguh ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Dan juga firman-Nya:

 أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يَزۡعُمُونَ أَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوٓاْ إِلَى ٱلطَّـٰغُوتِ وَقَدۡ أُمِرُوٓاْ أَن يَكۡفُرُواْ بِهِۦۖ وَيُرِيدُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ أَن يُضِلَّهُمۡ ضَلَـٰلَۢا بَعِيدٗا  [النساء: 60]

“Apakah engkau (Muhammad) tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum engkau? Mereka hendak berhukum kepada thāghūt, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thāghūt itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisā’: 60)

Ayat ini menunjukkan bahwa segala bentuk hukum, undang-undang, atau peraturan yang dijadikan pedoman selain syariat Alloh, maka itu termasuk thāghūt.

Thāghūt bisa berupa manusia, seperti Fir‘aun dan siapa saja yang disembah selain Alloh dalam keadaan ridoi terhadap penyembahan itu. Bisa juga berupa kuburan, berhala, atau patung yang disembah selain Alloh. Bahkan bisa juga berupa sesuatu yang bersifat non-fisik, seperti filsafat Yunani kuno, undang-undang buatan manusia yang menyelisihi hukum Alloh, seperti Yāsāq yang dibuat oleh Jengis Khan, serta peraturan-peraturan modern yang bertentangan dengan syariat Alloh.

Termasuk di dalamnya adalah berbagai slogan dan ideologi kontemporer yang dijadikan dasar loyalitas dan permusuhan selain karena Alloh, seperti: nasionalisme, fanatisme kesukuan, feminisme, demokrasi dengan konsep “kedaulatan rakyat”, hukum internasional, dan semisalnya.

Adapun iblis adalah kepala segala thāghūt. Tujuan utamanya hanyalah menyesatkan anak cucu Adam, sebagaimana ia bersumpah:

 قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٢ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٨٣  [ص: 82-83]

“(Iblis) berkata: Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu di antara mereka yang ikhlas.” (QS. Shād: 82–83)

Karena itu, Alloh memperingatkan kita untuk tidak menaati setan dan menamakan hal itu sebagai bentuk ibadah kepada setan. Firman-Nya:

 أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ يَـٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَـٰنَۖ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ [يس: 60]

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, wahai anak cucu Adam, agar kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Yāsīn: 60)

Konsep 8: Syirik Asghar (Syirik Kecil)

Syirik kecil adalah segala sesuatu yang dalam nash-nash syariat dinamakan syirik, namun tidak sampai pada derajat syirik akbar yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam.

Di antara contohnya adalah ṭiyarah (tathayyur / menganggap sial karena sesuatu) dan bersumpah dengan selain nama Alloh. Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ أَشْرَكَ»

“Barangsiapa bersumpah dengan selain nama Alloh, maka sungguh ia telah berbuat syirik.”
(Riwayat Aḥmad no. 5375, Abū Dāwūd no. 3251, dan selainnya. Dishahihkan oleh al-Albānī dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi‘ no. 6204).

Termasuk syirik kecil juga adalah ucapan: “Kalau bukan karena Alloh dan si Fulan, tentu terjadi begini dan begitu”, atau ucapan: “Sesuai kehendak Alloh dan kehendakmu.”

Diriwayatkan bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi ﷺ: “Sesuai kehendak Alloh dan kehendakmu.” Maka beliau bersabda:

«جَعَلْتَنِي لِلَّهِ عَدْلًا، بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ»

“Apakah engkau menjadikan aku sebagai tandingan bagi Alloh? Tetapi katakanlah: ‘Hanya kehendak Alloh semata.’”
(Riwayat Aḥmad no. 2561, dihasankan oleh al-Arnā’ūṭ dalam Takhrīj al-Musnad).

Dalam riwayat lain disebutkan:

«أَجَعَلْتَنِي لِلَّهِ نِدًّا؟»

“Apakah engkau menjadikan aku sebagai sekutu bagi Alloh?”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhārī dalam al-Adab al-Mufrad, dan dishahihkan oleh al-Albānī).

Termasuk syirik kecil juga adalah riya’. Nabi ﷺ menamainya dengan syirik dan memperingatkan umatnya darinya. Beliau bersabda:

«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ»
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ»

“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: “Wahai Rosululloh, apa itu syirik kecil?” Beliau menjawab: “Riya’.”

(Riwayat Aḥmad no. 23636, al-Bayhaqī dalam Syu‘ab al-Īmān no. 6831, al-Baghawī dalam Syarḥ al-Sunnah no. 4135. Dihasankan oleh al-Arnā’ūṭ).

Nabi ﷺ juga menamakannya dengan sebutan syirik khafī (syirik tersembunyi). Beliau bersabda:

«الشِّرْكُ الْخَفِيُّ»

“Itu adalah syirik tersembunyi.”

(Riwayat Aḥmad no. 11270, Ibnu Mājah no. 4204, dan dihasankan oleh al-Albānī dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi‘ no. 3729).

Riya’ disebut syirik tersembunyi karena seseorang dapat terjatuh ke dalamnya tanpa ia sadari. Ia lebih samar daripada langkah seekor semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap gulita. Riya’ termasuk penyakit hati yang berbahaya, yang dapat menggugurkan amal, karena hakikatnya ia menginginkan dunia dengan amal akhirat.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa orang pertama yang akan diseret ke dalam api neraka pada hari kiamat adalah tiga golongan: seorang qāri’ al-Qur’an, seorang mujahid, dan seorang dermawan. Mereka semua mengaku melakukan amal itu karena Alloh, namun Alloh mendustakan mereka dan menyatakan bahwa mereka melakukannya agar dipuji manusia. Maka Alloh berfirman: “Kalian telah mendapatkan pujian yang kalian inginkan di dunia.” Lalu mereka pun menjadi orang-orang yang pertama kali diseret ke dalam neraka.

Hadis ini diriwayatkan dalam Sunan an-Nasā’ī (no. 3137), dan dishahihkan oleh al-Albānī.

Karena itu, tidak sepantasnya seorang muslim meremehkan dosa-dosa yang disebut sebagai syirik kecil. Meskipun disebut “kecil” karena dibandingkan dengan syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, namun pada hakikatnya ia tetap termasuk dosa besar yang dapat menggugurkan amal.

Konsep 9: Kesalahan Anggapan Bahwa Syirik Telah Hilang dan Akidah Sudah Kokoh

Sebagian orang beranggapan bahwa dengan diutusnya Rosululloh ﷺ dan diturunkannya Al-Qur’an, syirik telah lenyap dan akidah tauhid sudah kokoh, sehingga tidak perlu lagi memulai dakwah dengan akidah karena dianggap sudah ada dan stabil.

Jawabannya adalah: yang hilang dengan diutusnya Rosululloh ﷺ dan turunnya Al-Qur’an bukanlah syirik secara total di muka bumi, melainkan hanya lenyapnya dominasi jahiliyah secara mutlak yang sebelumnya meliputi seluruh penjuru dunia dalam ruang dan waktu. Sejak saat itu, akidah yang benar akan senantiasa ada di sebagian wilayah bumi, meskipun bisa saja hilang dari wilayah lain. Namun, hal itu tidak menafikan kenyataan bahwa syirik akan tetap muncul dan tersebar di banyak tempat di muka bumi, bahkan di sebagian negeri kaum muslimin.

Syirik itu muncul dalam berbagai bentuk, seperti:

  • Maraknya thawaf di sekitar kuburan, meminta pertolongan kepada wali, memohon syafaat kepada mereka, serta menyembelih dan bernazar untuk mereka.
  • Keyakinan bahwa para wali dan syaikh itu maksum (terjaga dari dosa), mengetahui perkara gaib, dan bisa memenuhi hajat manusia.
  • Ramainya orang pergi kepada para dukun, tukang sihir, dan ahli perdukunan untuk mengetahui perkara gaib, melepas sihir, atau meminta pertolongan mereka dengan syarat-syarat yang berbau syirik dan berasal dari setan.
  • Disingkirkannya syariat Alloh dari hukum di banyak negeri kaum muslimin, sementara manusia justru berhukum kepada thaghut yang zalim dan jahil, dan semakin tingginya pamor ideologi sekuler dan liberal yang dianggap kebebasan.
  • Ikatan loyalitas (al-walā’) kebanyakan manusia hari ini dibangun bukan di atas akidah, melainkan atas dasar kebangsaan, tanah air, kedaerahan, dan sejenisnya. Bahkan lebih dari itu, loyalitas banyak orang telah tertuju kepada musuh-musuh Alloh dari kalangan Yahudi, Nasrani, serta orang-orang musyrik dan ateis.

Al-Qur’an sendiri menegaskan kenyataan bahwa syirik akan tetap ada dan menyebar di tengah manusia meskipun kebenaran sudah tampak jelas dan pengikutnya banyak. Alloh Ta‘ālā berfirman:

وَمَا أَكْثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

(“Dan sebagian besar manusia, walaupun engkau sangat menginginkannya, tidak akan beriman.”)
(QS. Yūsuf: 103)

Alloh Ta‘ālā juga berfirman:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ

(“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Alloh, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya.”)
(QS. Yūsuf: 106)

Dan Alloh Ta‘ālā berfirman:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ

(“Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh; mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah berdusta.”)
(QS. Al-An‘ām: 116)

Maka, apakah setelah semua penegasan ini masih pantas ada yang berkata: “Akidah umat sudah baik-baik saja, dan membicarakan masalah akidah itu berlebihan”?

Konsep 10: Perhatian terhadap Peninggalan (Artefak) antara I’tibar dan Syirik

Negara-negara pada masa kini memberikan perhatian yang besar terhadap peninggalan-peninggalan bangsa terdahulu. Mereka mengagungkannya, melestarikannya, menjadikannya sebagai objek wisata dan kunjungan, bahkan membuatkan museum khusus untuknya. Badan UNESCO yang berada di bawah PBB pun mengklasifikasikan banyak peninggalan dan kawasan peninggalan sebagai warisan dunia yang dilindungi oleh apa yang disebut hukum internasional. Lalu, bagaimana sikap Islam yang benar terhadap peninggalan-peninggalan ini?

Pertama-tama, perlu diketahui bahwa Alloh Ta‘ala hanya menceritakan kepada kita kisah umat-umat terdahulu dan menyisakan sebagian peninggalan mereka agar kita mengambil pelajaran darinya—agar kita tidak durhaka kepada Alloh, tidak mendustakan para rasul, sebagaimana yang dilakukan oleh umat-umat itu. Alloh berfirman:

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِّن بَعْدِهِمْ إِلَّا قَلِيلًا وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ [القصص: 58]

“Dan betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena penduduknya hidup dalam kemewahan, maka itulah tempat tinggal mereka yang tidak dihuni lagi sesudah mereka kecuali sedikit. Dan Kamilah yang mewarisi (semuanya).” (QS. Al-Qashash: 58)

Tentang kaum Ṣāliḥ, Alloh berfirman setelah mereka melakukan makar dan menyembelih unta:

فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ • فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ [النمل: 51-52]

“Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan makar mereka itu; sesungguhnya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka yang runtuh, disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Alloh) bagi kaum yang mengetahui.” (QS. An-Naml: 51-52)

Tentang Fir‘aun, ketika ia binasa, Alloh berfirman:

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً [يونس: 92]

“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu.” (QS. Yunus: 92)

Adapun menjadikan rumah-rumah, peninggalan, dan situs-situs ini sebagai tempat wisata untuk hiburan dan rekreasi, maka itu adalah sifat orang-orang yang lalai, yang tidak mau mengambil pelajaran dari peristiwa. Rosululloh ﷺ pernah melewati negeri kaum Ṣāliḥ bersama para sahabatnya dalam Perang Tabuk, lalu beliau bersabda:

«لَا تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ»
(Riwayat al-Bukhārī no. 3381, Muslim no. 2980)

“Janganlah kalian memasuki rumah-rumah orang-orang yang telah menzalimi diri mereka, kecuali dalam keadaan menangis, khawatir menimpa kalian apa yang menimpa mereka.”

Dalam riwayat lain, al-Bukhārī meriwayatkan bahwa setelah itu Nabi ﷺ menundukkan kepalanya dan mempercepat langkah hingga melewati lembah tersebut (HR. al-Bukhārī no. 4419).

Adapun peninggalan-peninggalan yang menjadi sarana syirik—seperti banyaknya berhala yang masih tersisa, makam-makam yang diagungkan, kuburan-kuburan yang ditinggikan, serta situs-situs yang dijadikan sarana kesyirikan—maka wajib hukumnya untuk tidak dipelihara, bahkan harus dihancurkan sebagai bentuk menutup jalan menuju syirik. Kita meneladani Nabi Alloh Ibrahim ‘alaihissalām yang dijadikan Alloh sebagai teladan bagi umat manusia. Alloh berfirman:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ • شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ [النحل: 120-121]

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (teladan) yang patuh kepada Alloh, hanif, dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik. (Dia adalah) orang yang bersyukur atas nikmat-nikmat Alloh, Alloh memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus.” (QS. An-Naḥl: 120-121)

Kemudian Alloh berfirman:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [النحل: 123]

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia sekali-kali tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. An-Naḥl: 123)

Ibrahim ‘alaihissalām menghancurkan berhala-berhala kaumnya:

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمْ [الأنبياء: 58]

“Maka Ibrahim menjadikannya (berhala-berhala itu) hancur luluh berkeping-keping, kecuali yang terbesar agar mereka kembali kepadanya.” (QS. Al-Anbiyā’: 58)

Demikian pula Rosululloh ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk meratakan kuburan yang ditinggikan dan menghancurkan patung-patung. Ali bin Abi Ṭālib radhiyallāhu ‘anhu berkata kepada Abu al-Hayyāj al-Asadi:

«أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ الله ﷺ؟ أَلَّا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ»
(Riwayat Muslim no. 969, Abū Dāwūd no. 3218, Ahmad no. 741, dan lainnya)

“Tidakkah aku mengutusmu sebagaimana Rosululloh ﷺ mengutusku? Jangan biarkan ada patung kecuali engkau hancurkan, dan jangan ada kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan.”

Maka wajib bagi para dai Islam untuk mengingkari pemeliharaan berhala-berhala dan peninggalan-peninggalan itu, serta mengingatkan kaum Muslimin akan bahayanya. Meski mendapat penolakan dan kemarahan dari apa yang disebut masyarakat internasional, tidak boleh ada sikap diam atau kompromi dalam masalah syirik.

Telah terjadi di awal abad ini, ketika Taliban pertama kali berkuasa di Afghanistan, mereka meledakkan patung-patung besar yang dipahat di gunung. Dunia pun heboh, PBB mengecam keras. Namun, ketika para ulama yang datang meneliti melihat kenyataan bahwa sebagian orang benar-benar menyembah patung-patung itu, meminta hajat kepadanya, bahkan menggantungkan jimat di pohon-pohon dekatnya, para ulama pun tidak lagi mengingkari Taliban, bahkan mendukung tindakan mereka.

Kita mengingkari pengagungan terhadap patung dan peninggalan bukan hanya karena menjadi sarana syirik, tetapi juga karena beberapa alasan lain:

  1. Ibadah tidak terbatas pada rukuk, sujud, dan doa. Mengagungkan sesuatu yang seharusnya direndahkan termasuk bentuk ibadah. Bukankah menempatkan patung-patung di museum itu sebuah bentuk pengagungan terhadapnya?
  2. Kalaupun dianggap sebagai warisan budaya manusia, tidak semua warisan pantas dihormati. Kaum kafir dahulu pun menyembah berhala hanya karena itu adalah warisan dari leluhur mereka.
  3. Mengagungkan sarana syirik dan peninggalan umat yang dibinasakan justru mendorong orang untuk mengunjunginya sebagai wisata. Padahal kita dilarang memasuki tempat kaum yang diazab, kecuali dalam keadaan menangis dan melewati dengan cepat.
  4. Bagi mereka yang menganggap bahwa pelestarian peninggalan itu suatu tindakan beradab, kita katakan: apakah kalian lebih tahu daripada Rosululloh ﷺ yang mengutus Ali untuk menghancurkan semua itu? Jika ada yang menuduh bahwa menolak mengagungkan peninggalan adalah tindakan mundur dan jumud, maka kita kembalikan kepada fakta bahwa Austria sendiri menghancurkan rumah Hitler pada Juli 2016 karena dijadikan tempat inspirasi kaum ekstremis. Begitu pula Italia menghancurkan rumah Mussolini karena dikhawatirkan menjadi simbol ekstremisme. Apakah Austria dan Italia dianggap Wahabi atau teroris?

Maka kaum Muslimin lebih utama untuk berpegang pada syariat agamanya, menghancurkan sarana kesyirikan, dan melaksanakan perintah Nabi mereka.

Ya Alloh, tunjukilah umat Islam, hilangkanlah darinya keterasingan yang membuat sebagian orang justru berbangga dengan jahiliyah nenek moyangnya—sebagaimana sebagian orang Mesir menamai diri mereka “Fir‘aun” dan berbangga dengan peradaban Fir‘aun padahal ia termasuk thāghūt terbesar, dan sebagian orang Palestina berbangga menyebut diri mereka keturunan ‘Amāliqah, sisa kaum ‘Ād, seraya berkata: “Kami adalah bangsa yang perkasa” sebagaimana ucapan Bani Israil kepada Musa ‘alaihissalām ketika diperintahkan memasuki Baitul Maqdis:

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا حَتَّىٰ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِن يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ [المائدة: 22]

“Mereka berkata: ‘Hai Musa, sesungguhnya di negeri itu ada kaum yang sangat perkasa, dan kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari negeri itu. Jika mereka keluar darinya, niscaya kami akan memasukinya’.” (QS. Al-Mā’idah: 22)

Check Also

PENISTAAN KEMURNIAN DALAM REVOLUSI IRAN, MENYIBAK KEKAFIRAN KHOMEINI (Oleh: Dr. Rahendra Maya, S.Th.I., M.Pd.I.)

PENISTAAN KEMURNIAN DALAM REVOLUSI IRAN, MENYIBAK KEKAFIRAN KHOMEINI Oleh: Dr. Rahendra Maya, S.Th.I., M.Pd.I.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot
situs slot