KETEGUHAN MUJAHIDIN HUNAIN
Oleh: Nurdin Syahid, S.Pd.I.
“Sungguh Alloh telah menolong kalian (Mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang besar itu membanggakan kalian, tetapi (jumlah) yang banyak itu, sama sekali tidak berguna bagi kalian, dan bumi yang luas ini terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dan lari tunggang langgang. Kemudian Alloh menurunkan ketenangan kepada Rosul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Dia menurunkan bala tentara (para malaikat) yang tidak terlihat oleh kalian, dan Dia memimpakan azab kepada orang-orang kafir, itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. at-Taubah: 25-26)
Setelah pasukan kaum Muslimin mendapat serangan secara tiba-tiba dari pihak musuh, maka yang terjadi saat itu adalah bagaimana menyelamatkan diri dengan semaksimal mungkin. Mereka tidak lagi memperdulikan satu sama lainnya, yang terbesit dalam pikiran mereka adalah sebisa mungkin menghindar sejauh-jauhnya dari medan pertempuran untuk menyelamatkan jiwa mereka. Begitulah kondisi kaum Muslimin ketika itu, sampai-sampai suara lantang Rosululloh ﷺ yang sengaja memanggil para sahabatnya tidak sempat terdengar oleh mereka.
Pada saat itulah tampak betapa hebatnya keberanian Rosululloh ﷺ yang tiada tandingnya. Beliau siap-siap memacu tunggangannya ke arah orang-orang kafir sambil berteriak lantang, “Akulah sang Nabi, dan ini bukan dusta. Akulah keturunan Abdul Muththoib.”
Hanya saja Abu Sufyan bin al-Harits segera memegang tali kekang baghal beliau dan al-Abbas memegang pelananya, berusaha untuk menahannya agar baghal beliau tidak lari. Beliau turun dari punggung baghal lalu berdo’a, “Ya Alloh, turunkanlah pertolongan-Mu.”
Kondisi yang sangat dahsyat dan mencekam, seolah kematian sudah di depan mata. Tidak tahu harus berbuat apa kecuali menunggu pertolongan Alloh ﷻ saja. Di sinilah pentingnya figur seorang pemimpin dan jenderal lapangan yang tangguh. Dan posisi itu diperankan oleh sang maestro Islam yaitu Rosululloh ﷺ. Pecahnya konsentrasi dan mental para pejuang Muslim, berhasil dibangkitkan lagi oleh Rosululloh ﷺ. Beliau memerintahkan paman beliau, al-Abbas, orang yang suaranya paling lantang untuk menyeru para sahabat.
Al-Abbas menuturkan, “Aku pun berteriak dengan suara sekeras-kerasnya, ‘Manakah orang yang berikrar di bawah pohon?”
“Demi Alloh” kata Al-Abbas selanjutnya, “seakan-akan perasaan mereka saat mendengar teriakanku ini seperti seekor induk sapi terhadap anaknya.” Mereka menyahut, “Kami mendengar suaramu. Kami mendengar suaramu.”
Seruan ini sungguh membuat para “perindu surga” bergegas untuk merapatkan barisan. Ada seseorang yang memerintahkan ontanya untuk membungkuk, namun ontanya itu tidak menurut. Maka dia hanya mengambil baju besinya, lalu mengenakannya, juga mengambil pedang dan tamengnya serta melepaskan ontanya. Dia segera pergi menuju arah seruan hingga tiba di dekat Rosululloh ﷺ. Seketika sudah terkumpul seratus orang yang berada di sisi beliau, dan mereka bersiaga menghadapi gem-puran musuh dan siap bertempur kembali.
Seruan juga ditujukan kepada orang-orang Anshar… “Bahkan seruan juga ditujukan kepada Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Kini sudah berhimpun pasukan Muslimin yang cukup banyak. Kedua pasukan saling melancarkan serangan. Beliau memandang ke arah kancah peperangan yang semakin seru dan gencar, sambil bersabda, “Di sinilah peperangan berkobar.” Lalu beliau memungut segenggam pasir dan melontarkannya ke arah musuh. Tak seorang pun di antara mereka yang terkena semburan pasir melainkan matanya penuh dengan butir-butir pasir, sehingga mereka sulit melihat.
Tak seberapa lama setelah beliau melontarkan genggaman pasir, musuh mengalami kekalahan secara telak. Dari bani Tsaqif saja, tidak kurang 70 orang dari anggotanya yang terbunuh. Dengan kekalahan mereka itu, orang-orang Muslim bisa mendapatkan harta yang banyak, senjata dan menawan para wanita.
Alloh ﷻ sekali lagi menunjukkan kekuasaan-Nya atas kita semua. Jika Alloh sudah berkehendak, maka tidak ada yang sanggup untuk menghalanginya termasuk kemenangan kaum Muslimin dalam peperangan Hunain, sekalipun kekalahan sudah di depan mata.
Dari peristiwa ini banyak sekali hikmah yang terkandung, diantaranya:
- Jika seseorang bertaqwa, niscaya pertolongan Alloh ﷻ pasti datang untuk menyelamatkannya dalam situasi segenting apapun.
- Sosok teladan Rosululloh ﷺ sebagai sentral kekuatan kaum Muslimin dalam menggalang kekuatan telah terbukti dan menjadi bukti akan kecerdasan dan kepemimpinan beliau yang luar biasa dibandingkan dengan komandan-komandan perang manapun yang ada di muka bumi ini.
- Setiap Muslimin dituntut secara total dalam perjuangan menegakkan kemurnian, tidak lemah dan mundur ke belakang ketika menghadapi kekuatan musuh yang mungkin kita anggap dapat menghancurkan dan membawa kita pada penderitaan.
Sumber : Materi Majalah INTISARI HASMI Vol. 0008 Rubrik Kisah Ghozuwah
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami