Dengan ilmunya ia mulia

13 Feb 2014Redaksi Pemuda Juang

Mulia Karena Ilmu

Bukan suatu yang mustahil bila seorang budak (hamba sahaya) yang sangat hitam kulitnya, pesek hidungnya, yang jika berdiri ia bagaikan gagak hitam, cacat kaki dan tangannya, serba memiliki kekurangan pada fisiknya dapat berubah menjadi seseorang yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh raja sekaligus para rakyatnya, masyarakat sangat kagum dengan ilmu dan rajapun tunduk hina jika berada dihadapannya, hal inilah yang terjadi pada diri seorang tabi’in (generasi setelah sahabat Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him)) yang mulia, sang habasyi (bangsa berkulit hitam) yang luas ilmunya, para ulama yang hidup semasa dengannya, murid-muridnya dan bahkan gurunya sepakat akan ke-imamahannya dan keluasan ilmu yang ia miliki.

Dia adalah abu Muhammad ‘Atho bin abi Robah Aslam, Al-Imam, Syaikhul Islam (seorang yang sangat berpengalaman dalam masalah agama Islam), Sayyid Fuqoha ahlil Hijaz (penghulu para pakar fiqih dari kalangan penduduk Hijaz), Mufti Al-Harom (pemberi fatwa di tanah mulia Mekkah). Beliau lahir di Al-Janad, sebuah kota terkenal di Yaman. Beliau dilahirkan dua tahun setelah Utsman bin Affan menjadi khalifah. Beliau tumbuh dewasa di Mekkah pada masa pemerintahan bani Umayah, beliau belajar ilmu-ilmu dasar seperti membaca dan menulis disana, bapaknya bernama Aslam Nuwaibi sedangkan ibunya imroatun sauda (wanita berkulit hitam) bernama Barokah.

Ketika kecil ‘Atho adalah seorang budak salah satu wanita Mekkah yang bernama Habibah binti Maisaroh, walaupun demikian Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)  memuliakan beliau dengan memberikan semangat yang membara untuk senantiasa menuntut ilmu agama.

Diriwayatkan bahwa beliau membagikan waktunya menjadi tiga bagian, yang pertama adalah waktu untuk memberikan pelayanan kepada sang majikan, beliau memenuhi segala kebutuhan dan hak-hak majikannya dengan penunaian yang sangat baik dan sempurna. Bagian kedua dari waktunya adalah untuk melepaskan kepenatan hidupnya sejenak dengan mengosongkan diri dari perkara dunia guna beribadah dan bermunajat kepada Robb-Nya yang Maha Kuasa, adapun bagian waktu yang ketiga beliau gunakan untuk hal yang menjadikan martabatnya melesat naik dihadapan manusia, menjadikannya terhormat dan mulia di dunia maupun akhirat yaitu waktu untuk menuntut ilmu, tidak ada kata menyerah dalam jiwa beliau untuk menuntut ilmu, walaupun dengan segala keterbatasan yang beliau miliki, baik itu masalah fisik, materi, waktu, dan lain-lain. Ketika sang majikan yaitu Habibah melihat bahwa budaknya itu telah menjual dirinya untuk berkhidmat kepada Islam dan melihat semangatnya dalam menuntut ilmu yang sangat luar biasa, maka sang majikan pun memerdekakan beliau dalam rangka ber-taqorrub (mendekatkan diri) kepada Alloh , mudah-mudahan manusia dapat mendapatkan manfaat dari ilmu beliau.

Terbebasnya ia dari belenggu perbudakan menjadikannya menghabiskan seluruh waktu yang ia miliki hanya untuk berkhidmat kepada agama Alloh  dengan menuntut ilmu-ilmu syar’i, beliau menjadikan masjid al-harom sebagai rumah sekaligus madrasah untuk meng-asah keilmuannya hal itu berlangsung lebih dari 20 tahun lamanya.

Beliau ber-talaqqi (mengambil ilmu) dari para sahabat yang masih hidup ketika itu seperti, ‘Abdulloh bin ‘Abbas, Ibn ‘Umar, Ibn Zubair, Abu Huroiroh, Ummul mu’miniin ‘Aisyah  dan banyak lagi sahabat lain yang menjadi guru beliau.

Dikarenakan keluasan ilmu yang beliau miliki sampai-sampai sahabat Rosululloh sekaligus guru beliau yaitu ‘Abdulloh Ibn ‘Umar  yang ketika itu sedang melaksanakan ‘umroh dan pada saat itu pula banyak sekali manusia yang  bertanya kepadanya tentang masalah agama, lantas ibn ‘Umar  pun berkata: “aku sungguh heran kepada kalian wahai penduduk Mekkah, kalian bertanya kepadaku tentang banyak permasalahan agama sedangkan ‘Atho bin abi Robah  ada di antara kalian.”

Salamah bin Kuhail t yang merupakan salah satu murid ‘Atho pernah berkata mensifati guru yang sangat ia hormati itu: “tidaklah saya melihat orang yang menuntut ilmu demi mengharapkan ridho Alloh  kecuali, ‘Atho bin Abi Robah, Thowus dan Mujahid  .”

(Red-HASMI)