AGAR DAKWAH BERDAYAGUNA (Oleh: Yanuar Arianto)

AGAR DAKWAH BERDAYAGUNA

Oleh: Yanuar Arianto

Ikhwah fillah, dakwah dan umat tidak hanya membutuhkan pribadi-pribadi sholih saja, melainkan juga pribadi sholih yang berdayaguna. Alloh pun memerintahkan kita untuk menjadi orang sholih dan berdayaguna dalam al-Qur’an surat al-Hajj ayat 77:

“Wahai orang-orang yang beriman, rukuulah kalian, sujudlah kalian, sembahlah Tuhan-kalian dan berbuatlah kebajikan, supaya kalian mendapat kemenangan.” (QS. al-Hajj [22]: 77)

Kebajikan terbesar adalah ketika umat bisa selamat dari api neraka. Umat berjalan di atas jalan yang lurus. Jalan yang telah Alloh ﷻ nyatakan agar ditempuh oleh Rosululloh ﷺ dan pengikutnya.

“Katakanlah:” ~
“Inilah jalan (agama) Ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf [12]: 108)

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku…’ Menunjukkan bahwa jalan dakwah ini jelas, terang-terangan, blak-blakan, tidak basa-basi, tidak tertutup dan tidak eksklusif, untuk semua kalangan.

Ketika dakwah adalah jalan hidup, manhajul hayah, maka semua aktivitas hidup tak pernah lepas dari unsur dakwah. Dakwah akan meminta semuanya dari diri kita. Sampai pikiran kita. Sampai perhatian kita. Berjalan, duduk, dan tidur kita. Bahkan di tengah tidur kita, isi mimpi kita pun tentang dakwah. Tentang umat yang kita cintai. Memang seperti itulah dakwah.

Dakwah menyedot seluruh saripati energi kita. Sampai tulang belulang kita. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh renta kita. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret… Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Nabi Nuh ﷺ, berdakwah selama seribu tahun kurang lima puluh. Memanfaatkan siang malam. Menggunakan strategi rahasia maupun terang-terangan. Menjelang wafat, Beliau masih berdakwah. Nabi Ibrahim ﷺ, berkelana kesana-kemari demi tegaknya dakwah.

Nabi Yusuf ﷺ, sampai dihimpit penjara pun masih menyempatkan berdakwah. Orang-orang sholih di masa lalu tak kalah semangatnya menjadikan dakwah sebagai jalan hidupnya.

Apalagi Rosululloh ﷺ. Semua kerabat dekat menjadi sasaran dakwah Beliau. Orang arab pun merasakan. Di pasar, di jalan, di tempat-tempat umum, semua menjadi lahan dakwah Beliau ﷺ.

Di hadapan seorang pembesar suatu kaum, maupun di depan orang biasa. Di rumah sakit, Beliau ﷺ mengunjungi orang sakit, Beliau ﷺ tetap berdakwah. Dalam keadaan sehat, Beliau ﷺ tetap berdakwah. Di rumah Abu Tholib, Beliau ﷺ tetap berdakwah. Di rumah Abu Lahab, Beliau ﷺ tetap berdakwah. Di rumah Walid bin Mughiroh, Beliau ﷺ tetap berdakwah. Bahkan ketika mengirim risalah dakwah kepada raja-raja yang berkuasa ketika itu.

Tidak ada sekulerisme dalam dakwah. Dakwah bukan sekedar ceramah di mimbar-mimbar, bukan sekedar khutbah jum’at, bukan sekedar coretan pena, bukan sekedar nasehat semata. Tapi meliputi segala upaya menjadikan kalimatullohi hiyal ‘ulya. Dakwah meliputi segala lini, tidak hanya di majelis ta’lim, tidak hanya di pesantren, tidak hanya di satu tempat. Tapi meliputi segala ruang.

“aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Alloh.”

kita mengajak orang kepada ajaran Islam. Islam yang murni, Islam sebagaimana yang Alloh turunkan ke bumi. Islam yang tidak terkontaminasi atau tersusupi ajaran-ajaran yang bukan dari Islam. Islam yang berdiri kokoh di atas tauhidulloh.

Mengikhlaskan agama hanya untuk Alloh (Tauhid) merupakan pokok ajaran agama Islam. Karena hal inilah Alloh menurunkan kitab-kitab-Nya serta mengutus para rosul-Nya. Tujuannya untuk menyerukan dan mendakwahkan hal ini serta beribadah di jalan-Nya.

Alloh ﷻ menyatakan dalam firman-Nya:

“Maka sembahlah Alloh dengan memurnikan (kemu¬dikan) agama untuk-Nya.” (QS. Az-Zumar: 2).

Mentauhidkan Alloh adalah konsekuensi agama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh mengatakan: “Orang yang mau mentadabburi keadaan alam akan mendapati bahwa sumber kebaikan di muka bumi ini adalah bertauhid dan beribadah kepada Alloh ﷻ serta taat kepada Rosululloh ﷺ. Sebaliknya semua kejelekan di muka bumi ini; fitnah, musibah, paceklik, dikuasai musuh dan lain-lain, penyebabnya adalah menyelisihi Rosululloh ﷺ dan berdakwah (mengajak) kepada selain Alloh ﷻ. Orang yang merenungi hal ini dengan sebenar-benarnya akan mendapati kenyataan seperti ini baik dalam dirinya maupun di luar dirinya.” (Majmu’ Fatawa 15/25).

Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Qar’awi ﷾ berkata, “Barangsiapa yang mentauhidkan-Nya dan tidak mencampuri tauhid-Nya dengan syirik maka Alloh menjanjikan atasnya keselamatan dari masuk ke dalam neraka di akhirat serta Alloh akan membimbingnya menuju jalan yang lurus di dunia.” (al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 35).

~ “dengan hujjah yang nyata”,
Dakwah ini harus berdasarkan hujjah yang sampai pada derajat yakin, berdiri di atas ilmu berupa wahyu yang datang dari Alloh. Harus bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah as-Shohihah. Sang da’i pun harus ma’rifah dengan Alloh ﷻ.

Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata:

“al-Bashiroh ada tiga tingkatan. Barangsiapa yang menyempurnakan ketiganya, semakin sempurna bashirohnya. Bashiroh tentang nama-nama dan sifat-sifat Alloh ﷻ, bashiroh tentang hal-hal yang diperintahkan dan yang dilarang, bashiroh tentang janji-janji dan ancaman.”

Sang da’i juga harus mendalami keadaan ma’dū, tingkat keilmuannya, keluasan wawasannya. Sebab da’i adalah sang pembawa obat untuk umat.

Da’i harus memahami tujuan-tujuan da’wah, tujuan global maupun rinci, tujuan jangka panjang maupun jangka pendek. Da’i juga harus tahu strategi dan wasilah (sarana) yang diperbolehkan demi tercapainya tujuan yang ditetapkan. Sebab da’wah adalah ibadah. Da’i harus memahami resiko dan tabiat di setiap marhalah.

~ “aku dan orang-orang yang mengikutiku…”

Selain para Rosul, da’wah juga dibebankan kepada para pengikut atau umatnya. Dengan demikian, da’wah tidak hanya menjadi tugas para Rosul melainkan juga untuk para pengikutnya. Tidak hanya pengikut saat Rosul hidup, tetapi hingga masa dunia berakhir. Sekaligus da’wah adalah ciri utama pengikut Rosululloh ﷺ.

Ayat ini menunjukkan bahwa manhaj yang dipakai adalah manhaj pengikut Rosululloh ﷺ (yaitu para sahabat dan pengikutnya), juga menganjurkan untuk saling kerja sama, berjama’ah untuk menegakkan da’wah.

~ “Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”

Prioritas dakwah adalah pembinaan aqidah dahulu. Hakikat kemenangan adalah kemenangan aqidah di atas hawa nafsu, tercapainya peribadatan hanya kepada Alloh ﷻ semata.

Sumber : Materi Majalah INTISARI HASMI Vol. 0007 Rubrik Panji Dakwah

Check Also

ISLAM AGAMA SEMPURNA (Oleh: Supendi, S.Sy.)

ISLAM AGAMA SEMPURNA (Oleh: Supendi, S.Sy.) KHUTBAH PERTAMA إن الحمد لله نحمده نستعينه ونستغفره ونعوذ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot
situs slot