RENUNGAN FIRMAN ALLAH ﷻ QS. AL-ISRĀ’ [17]: 74 (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

RENUNGAN FIRMAN ALLAH ﷻ QS. AL-ISRĀ’ [17]: 74

Oleh: Tim Redaksi HASMI

وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا

Artinya:

“Dan kalau bukan karena Kami telah meneguhkanmu (wahai Muhammad), niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka.”

Sesungguhnya salah satu bentuk fitnah terbesar adalah ketika ukuran kemenangan kebenaran di dalam jiwa seseorang menjadi kacau. Hal ini seperti yang terjadi—dan terus terjadi—pada sebagian jiwa yang lemah dan putus asa. Kadang mereka mengaitkan kebenaran dengan banyaknya jumlah pengikut, kadang dengan kekuasaan yang berkuasa, kadang dengan tampaknya kebesaran pihak yang batil, dan kadang dengan ukuran-ukuran lain. Semua itu sama sekali tidak bermanfaat bagi pemiliknya.

Nabi ﷺ sendiri tidak selamat dari berbagai upaya makar dan tipu daya kaum musyrikin untuk menyesatkannya dan memalingkannya dari kebenaran dengan beragam cara. Allah ﷻ berfirman (al-Isrā’: 73):

{وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا}

Namun Allah ﷻ meneguhkan Nabi-Nya, melindunginya dari fitnah mereka, dan menjaganya dari kecenderungan kepada mereka. Allah pun mengingatkan Rasul-Nya akan nikmat besar ini. Sebab, andai beliau condong sedikit saja kepada mereka, sungguh azab yang pedih telah menimpanya, baik di dunia maupun di akhirat. Allah ﷻ berfirman (al-Isrā’: 74–75):

{وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا}

Bentuk peneguhan Allah ﷻ kepada Nabi ﷺ datang dengan berbagai cara: menguatkan hatinya, mengilhamkan keteguhan dalam jiwanya, dan menampakkan bukti nyata kebenaran. Di antara bentuk terbesar peneguhan itu adalah turunnya al-Qur’an, yang dengannya dada Nabi menjadi lapang dan jalan orang-orang berdosa menjadi jelas. Allah ﷻ berfirman:

{وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا وَلَا (al-(Furqān: 32–33) يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا}

   {قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ}

(an-Naḥl: 102)

{وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ}

(Hūd: 120)

Maka, keteguhan di atas kebenaran bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh Nabi ﷺ atau para dai semata-mata karena kekuatan diri mereka, kapan pun mereka menghadapi bujukan atau ancaman dari orang-orang batil. Keteguhan itu semata-mata anugerah dan taufik dari Allah ﷻ, yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan mengambil sebab-sebabnya. Allah ﷻ berfirman:

{يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ}

(Ibrāhīm: 27)

(Muḥammad: 7) {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ}

Kalau Nabi ﷺ saja hampir saja terfitnah oleh makar orang kafir, bagaimana dengan orang lain selain beliau?!

Karena itu, salah satu faktor terbesar yang membantu keteguhan di jalan yang benar adalah seorang dai benar-benar mengarahkan dirinya kepada Allah, bertawakal hanya kepada-Nya, berdoa dan memohon pertolongan serta keteguhan, terutama saat pertarungan antara kebenaran dan kebatilan semakin sengit. Allah ﷻ berfirman:

{وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ}

(al-Baqarah: 250)

{وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ ﯤ وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ}

(Āli ‘Imrān: 146–147)

Setelah ayat-ayat yang menunjukkan nikmat Allah berupa peneguhan kepada Nabi-Nya, Allah memerintahkannya untuk mendirikan shalat, shalat malam, membaca al-Qur’an, dan berdoa. Allah ﷻ berfirman:

{أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا}

(al-Isrā’: 78–79)

{وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا}

(al-Isrā’: 80)

{وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا ﮣ وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا}

(al-Isrā’: 81–82)

Nabi ﷺ pun sering berdoa:

Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”[1]

Faktor yang Membantu Keteguhan

Imam adz-Dzahabi meriwayatkan bahwa Imam Ahmad pernah ditanya di masa fitnah:

“Wahai Abā ‘Abdillāh! Tidakkah engkau melihat bahwa kebenaran telah dikalahkan oleh kebatilan?”

Beliau menjawab: “Tidak. Hakikat kalahnya kebenaran oleh kebatilan adalah ketika hati berpindah dari petunjuk menuju kesesatan. Adapun hati kita, masih tetap teguh bersama kebenaran.”[2]

Betapa butuhnya kita untuk menghadirkan standar yang jernih ini dalam memahami hakikat munculnya kebatilan atas kebenaran.

Terutama di zaman ini, ketika banyak hati diguncang oleh fitnah syubhat maupun syahwat. Semoga Allah melindungi kita darinya.

Di antara sebab-sebab yang sangat membantu keteguhan adalah:

1. Merenungi nash-nash yang menjelaskan hakikat pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, serta bagaimana kesudahannya.

Seperti firman Allah ﷻ:

    • {لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ} (al-Anfāl: 8)
    • {وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا} (al-Isrā’: 81)
    • {بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ} (al-Anbiyā’: 18)

Siapa yang merenungi ayat-ayat ini, tidak mungkin ragu bahwa kebenaran pasti unggul atas kebatilan.

Juga sabda Nabi ﷺ:

Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tetap tegak di atas kebenaran. Mereka tidak akan dirugikan oleh orang-orang yang mengabaikan mereka, hingga datang keputusan Allah dan mereka tetap seperti itu.”[3]

Imam Ibn Rajab berkata:

“Tidak diragukan lagi bahwa Allah menjaga agama umat ini dengan penjagaan yang tidak diberikan pada agama lain. Karena setelah Nabi ﷺ, tidak ada lagi nabi yang akan memperbarui agama bila ia pudar, sebagaimana pada umat-umat sebelumnya. Maka Allah berjanji menjaga agama ini, mendirikan para pengembannya di setiap zaman, yang membersihkan agama dari penyimpangan orang yang melampaui batas, klaim orang batil, dan tafsir orang jahil. Allah berfirman: {إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ} (al-Ḥijr: 9).”[4]

2. Keyakinan bahwa kebaikan akan terus ada dalam umat ini sampai kiamat.

Nabi ﷺ bersabda:

Umatku seperti hujan, tidak diketahui mana yang lebih baik, awalnya atau akhirnya.”[5]

Ibn Taymiyyah menjelaskan: meski hadis ini ada kelemahan, maknanya benar. Dalam umat yang datang belakangan ada yang menyerupai pendahulu mereka dalam kebaikan. Sehingga siapa yang melihat mereka, tidak tahu siapa yang lebih utama.

Ini memberi kabar gembira bagi generasi belakangan, bahwa di antara mereka akan selalu ada orang-orang yang meneladani generasi awal.

Nabi ﷺ juga bersabda:

Allah senantiasa menanamkan dalam agama ini orang-orang yang dipakai-Nya untuk taat kepada-Nya.”[7]

3. Membaca sejarah umat Islam kontemporer.

Baik melalui biografi, karya sastra, atau penelitian ilmiah, kita bisa melihat betapa banyak penyimpangan yang ada, tetapi di saat yang sama muncul pula usaha-usaha yang diberkahi: dalam dakwah, pengajaran al-Qur’an dan sunnah, media, pendidikan, ekonomi, politik, dan perjuangan melawan sekularisme dan aliran sesat.

Bahkan kita bisa menyaksikan tanda-tanda kebangkitan Islam di negeri-negeri yang dulu sangat terpengaruh sekularisme, seperti menyebarnya dakwah salafiyah dan kembalinya kaum muslimah pada hijab syar’i.

4. Meyakini bahwa orang yang meninggalkan kebenaran demi menyenangkan manusia, kelak tidak akan ditanggung dosanya oleh mereka.

Sebaliknya, pada hari kiamat mereka justru berlepas diri. Allah ﷻ berfirman:

{إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا}

(al-Baqarah: 166–167)

Ayat-ayat semacam ini banyak sekali, semuanya memperingatkan agar tidak meninggalkan kebenaran demi manusia.

Akhirnya, ada satu ayat menakjubkan yang menjelaskan jalan keteguhan, dari awal hingga akhir. Allah ﷻ berfirman:

(al-A‘rāf: 170) {وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ إِنَّا لاَ نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ}

Pegang teguh al-Kitab terlebih dahulu, lalu dirikan shalat dengan sebaik-baiknya, kemudian bergerak dalam perbaikan (islah) dan dakwah. Maka janji Allah jelas: “Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang melakukan perbaikan.”

Itulah tahapan awal bagi para penempuh jalan kebenaran.[8]

________________________________________

Catatan Rujukan:

[1] Diriwayatkan oleh Ahmad (26679) dan at-Tirmiżi (3522), dinilai sahih oleh al-Albani.
[2] Siyar A‘lam an-Nubalā’ 11/238.
[3] Shahih Muslim (1920).
[4] Majmū‘ Rasā’il Ibn Rajab (2/619).
[5] Diriwayatkan oleh at-Tirmiżi; hadis ini dinilai hasan oleh Ibn ‘Abd al-Barr dan Ibn Katsir, dan al-Albani berkata: hasan sahih (Shahih al-Jāmi‘: 5854).
[6] Majmū‘ al-Fatāwā (11/371).
[7] Diriwayatkan oleh Ibn Mājah (8) dan Ahmad (17822), dinilai hasan oleh al-Albani.
[8] Balāgh ar-Risālah al-Qur’āniyyah, karya Farid al-Anshari, hlm. 54.

Check Also

KUMPUL KEBO DALAM TIMBANGAN (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

KUMPUL KEBO DALAM TIMBANGAN Oleh: Tim Redaksi HASMI Kerugian besar jika suatu sistem dibangun tanpa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot
situs slot