POTRET BURAM PENDIDIKAN INDONESIA
Oleh: Abu Jundi Syaefudin, S.Pd.I.
Banyak peristiwa yang mendera masyarakat kita pasca pengumuman hasil ujian nasional (UN) tanggal 26 April yang lalu. Bagi siswa yang lulus, banyak di antara mereka yang menyambutnya dengan hura-hura, berteriak-teriak sambil tertawa, berjoget-jingkrak dan mencorat-coret baju seragam mereka. Selain itu, banyak pula yang meluapkan kegembiraannya melalui pesta miras. Bagi yang tidak lulus UN, mereka menanggapinya dengan berbagai tingkah yang sama sekali tidak mencerminkan kematangan kepribadian sebagai hasil didikan keimanan selama bertahun-tahun sekolah. Banyak sekali yang berteriak-teriak histeris seakan nasib dan masa depan mereka hancur dan musnah. Ada pula yang merusak sekolah dan bertingkah tidak terpuji lainnya. Yang memprihatinkan lagi ialah ada yang bunuh diri seperti yang terjadi di Jambi.
Kegaduhan UN ini telah terjadi beberapa tahun belakangan, khususnya sejak pemerintah menetapkan sistem nilai kelulusan ujian akhir secara nasional. Sesungguhnya inti persoalannya bukan pada standar yang ditetapkan Dinas. Menurut beberapa pakar pendidikan, bahwa standar tersebut sebenarnya biasa-biasa saja; bukan hal yang mustahil dicapai oleh para siswa. Yang aneh dan perlu mendapat perhatian ialah tentang cara pandang siswa terhadap ijazah dan terhadap dunia pendidikan itu sendiri. Dari berbagai sikap yang muncul dalam menghadapi UN, baik yang lulus maupun yang tidak lulus, tercermin dengan jelas bahwa anak didik kita saat ini sudah kehilangan orientasi hidup yang sebenarnya.
Timbul pertanyaan mendasar: Siapa yang salah dan berkontribusi terhadap hilangnya orientasi hidup anak-anak didik kita saat ini? Bukankah mereka itu generasi masa depan yang akan menentukan baik buruknya negeri ini? Perlu kita sadari bahwa sesuai sunnatullah, bahwa kita akan menuai apa yang kita tanam.
Artinya, kondisi mental dan prilaku sebagian besar anak didik kita yang memprihatinkan itu adalah hasil apa yang kita tanamkan ke dalam diri mereka selama bertahun-tahun dan bahkan sejak mereka lahir. Kita telah gagal menanamkan iman dan taqwa ke dalam diri mereka, dan juga ilmu pengetahuan, baik dalam rumah tangga, institusi pendidikan dan juga dalam masyarakat. Pemerintah telah gagal menjadikan pendidikan sebagai lembaga character building (pembentukan karakter) iman dan taqwa. Akan tetapi yang dibentuk adalah karakter sekulerisme dan materialisme yang amat membahayakan kehidupan generasi kita di dunia dan apalagi di akhirat kelak. Sebab itu, tidaklah mengherankan bahwa generasi kita sekarang sedang kehilangan orientasi hidup yang benar sesuai dengan nilai islami.
Konsep pendidikan yang ada sekarang harus direformasi. Lebih dari 60 tahun merdeka, pemerintah hanya melahirkan generasi sekuler dan materialis. Kondisi seperti ini akan mengancam kehidupan umat Islam di negeri ini. Berbagai kejahatan yang sudah mengakar saat ini, seperti korupsi, prilaku hedonis, gaya hidup konsumtif dan sebagainya adalah hasil apa yang ditanamkan dalam pendidikan masa lalu. Kalau kita serius untuk merubah dan mereformasi kondisi semrawut seperti sekarang ini, kita harus memulainya dari dunia pendidikan. Jika kita gagal mewujudkan pendidikan sebagai wadah dan institusi pembentukan karakter iman dan taqwa kepada anak didik kita sekarang, maka masa depan negeri ini akan tetap seperti apa yang kita saksikan hari ini, dan tidak mustahil lebih parah lagi.
(Sumber: eramuslim.com )
Sumber : Materi Majalah INTISARI HASMI Vol. 0007 Rubrik Komentar Islami
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami