JANJI KEMENANGAN (Oleh: Hanif Abu Fayyadh, S.Th.I.)

JANJI KEMENANGAN

Oleh: Hanif Abu Fayyadh, S.Th.I.

“Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang ber- iman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyem- bah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. an-Nur[24]: 55)

Demikianlah janji Alloh kepada orang-orang beriman dan beramal sholih dari umat Nabi Muhammad ﷺ ini, bahwa Alloh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi ini dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka. Dan Dia benar benar akan menukar keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Itulah janji Alloh, dan janji Alloh adalah benar serta pasti terwujud. Alloh ﷻ sekali-kali tidak akan mengingkari janji-Nya. Akan tetapi iman yang seperti apakah yang menjadikan kaum muslimin mendapatkan kemenangan terhadap orang-orang kafir? Bukankah kita pun memiliki iman?

Kita akan tahu jawaban pertanyaan tersebut ketika pasukan kaum muslimin pada masa kekhalifahan Abu Bakr berhadapan dengan pasukan Romawi. Ketika Heraklius tiba di Anthakia setelah pasukan Romawi dikalahkan pasukan Muslimin, dia bertanya, “Beritahukan kepadaku tentang orang-orang yang menjadi lawan dalam medan peperangan. Bukankah mereka manusia seperti kalian?”. Mereka menjawab, “Ya”. “Apakah kalian yang lebih banyak jumlahnya ataukah mereka?

Tanya Heraklius kembali. “Kamillah yang lebih banyak jumlahnya dimana pun kami saling berhadapan”. Jawab mereka. Heraklius semakin penasaran dan bertanya kembali, “Lalu mengapa kalian bisa dikalahkan?”. Maka, seseorang yang dianggap paling tua menjawab yang membuat seisi istana terdiam membeku, “Karena” kata orang tua itu memulai jawabannya, “mereka biasa sholat di malam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, menyuruh kepada kebaikan, mencegah dari kemungkaran dan saling berbuat adil di antara sesamanya. Sementara kami suka minum arak, berzina, melakukan hal-hal yang haram, melanggar janji, suka marah, berbuat semena-mena, menyuruh kepada kebencian, melarang hal-hal yang diridhoi Alloh dan berbuat kerusakan di bumi”.

Ya begitulah, hakikat iman yang janji Alloh pasti akan terwujud adalah meleburkan seluruh aktifitas kemanusiaannya ke dalam iman dan mengarahkan aktifitas tersebut seluruhnya dalam iman. Keimanan tersebut bukan hanya dalam hati saja tapi tertuangkan dalam dirinya yang tergambar dalam amal perbuatan. Keimanan yang senantiasa taat kepada Alloh dan tunduk patuh terhadap perintah-Nya, baik dalam masalah besar maupun kecil. (Lihat Fi Dzilalil Qur’an karya Sayyid Qutub)

Semoga Alloh menjadikan kita orang yang jujur dalam keimanan sehingga kita bisa menapaki jejak orang-orang terdahulu yang meraih kejayaan dan kegemilangan … Aamiin..

Sumber : Materi Majalah INTISARI HASMI Vol. 0007 Rubrik Renungan

Check Also

ABDURRAHMAN BIN ‘AUF RODHIYALLOHU’ANHU (Oleh: Yusuf Supriadi, S.Pd.I., Lc., M.A.)

ABDURRAHMAN BIN ‘AUF RODHIYALLOHU’ANHU Oleh: Yusuf Supriadi, S.Pd.I., Lc., M.A.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot
situs slot