AL-MUTASYÂBIH AL-LAFZHÎ DALAM AL-QUR’AN (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

AL-MUTASYÂBIH AL-LAFZHÎ DALAM AL-QUR’AN

Oleh: Tim Redaksi HASMI

Ilmu ini telah dibahas oleh Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Itqân, beliau berkata:

“Tujuannya adalah menyebutkan satu kisah dalam beberapa bentuk, dengan susunan kalimat yang berbeda-beda; terkadang sesuatu didahulukan dalam satu tempat dan diakhirkan dalam tempat lain.”

Meskipun cabang-cabang ilmu Al-Qur’an sangat banyak, dengan topik yang beraneka ragam, namun ilmu mutasyâbih lafzhî dapat dikatakan sebagai permata paling berharga di antara cabang-cabangnya, sekaligus ilmu yang sangat halus dan mendalam. Melalui ilmu ini seseorang dapat menangkap rahasia Al-Qur’an dalam pengulangan sejumlah ayat dengan kata-kata yang sama atau berbeda, atau huruf-huruf yang mirip, di mana suatu ayat yang membahas satu tema disebutkan di beberapa tempat dengan perbedaan dalam sisi penyajian: kadang berupa pendahuluan atau pengakhiran, kadang dengan bentuk definitif atau indefinitif, kadang dengan bentuk jamak atau tunggal, kadang mengganti satu kata dengan kata lain, atau satu huruf dengan huruf lain, dan sebagainya. Sering kali perbedaan ini terkait erat dengan konteks penyampaian ayat, serta peristiwa yang sedang digambarkan.

Keragaman gaya bahasa Al-Qur’an ini adalah salah satu bentuk besar dari keajaiban dan mukjizatnya, serta salah satu wajah indah dari balaghah (keindahan retorika) Al-Qur’an. Sebab, pengulangan ayat-ayat Al-Qur’an dengan lafaz yang sama atau berbeda bukanlah pengulangan sia-sia tanpa manfaat, sebagaimana disangka oleh orang-orang yang dangkal pemahamannya.

Dalam hal ini, Al-Khathîb Al-Iskâfî berkata: “Apabila Sang Hakim – Mahasuci Nama-Nya – menyebutkan suatu ayat dengan redaksi tertentu, lalu mengulanginya di tempat lain dalam Al-Qur’an dengan perubahan lafaz dari yang pertama, pasti ada hikmah yang perlu dicari. Jika kalian menemukannya, berarti kalian telah memperoleh kebaikan; jika tidak menemukannya, bukan berarti tidak ada hikmah, melainkan kalian yang belum mengetahuinya.”

Di sinilah letak pentingnya ilmu ini: ia membantu menolak kesan adanya pertentangan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, menyingkap makna-makna yang tersembunyi di balik ayat-ayat yang mirip dan berulang, serta menjadi jawaban telak terhadap orang-orang yang berusaha meragukan Al-Qur’an.

Adapun istilah mutasyâbih berarti sesuatu yang sulit dipahami, yang memerlukan pemikiran dan perenungan. Bisa jadi lafaznya mirip secara lahiriah, namun maknanya berbeda. Sebagaimana firman Allah tentang buah-buahan surga:

وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا﴾ [البقرة: ٢٥]﴿

“Dan mereka dibawakan buah-buahan yang serupa (mutasyâbih)” – maksudnya, serupa dari segi rupa, namun berbeda dari segi rasa.

Dari sini kita tahu bahwa mutasyâbih adalah sesuatu yang rujukannya harus kepada hal lain, dan butuh penjelasan, karena ia mengandung kemungkinan makna yang beragam – sebagaimana dikatakan Imam Asy-Syafi‘i. Begitu pula kisah-kisah Al-Qur’an: sebuah kisah bisa disebutkan di beberapa tempat dengan makna yang serupa, sehingga pembaca terkadang keliru antara satu lafaz dengan yang lain. Hal ini, tanpa penjelasan, dapat menutupi pemahaman makna yang sebenarnya. Abu Darda’ RA berkata: “Engkau tidak akan memahami seluruh pemahaman hingga engkau melihat bahwa Al-Qur’an memiliki banyak sisi (makna).”

Lahirnya Ilmu Mutasyâbih Lafzhî

Ilmu ini lahir dan berkembang di tangan para jenius ahli tafsir dan imam qira’at, yang mendedikasikan hidup mereka untuk menyingkap permata dan khazanah Al-Qur’an, meneliti rahasia-rahasianya, serta menggali pesan-pesannya. Tampaknya, mula-mula ilmu ini muncul untuk memudahkan para penghafal dalam menjaga lafaz-lafaz Al-Qur’an yang mirip, agar terhindar dari kesalahan. Kemudian mulailah disusun kitab-kitab untuk membantu para huffâzh, yang kadang kebingungan atau tersalah dalam berpindah dari satu ayat ke ayat lain, atau dari satu surah ke surah lain.

Karya paling awal yang sampai kepada kita adalah kitab Mutasyâbih al-Qur’ân karya salah seorang imam qira’at sab‘ah, Abu Al-Hasan Ali bin Hamzah Al-Kisâ’î (w. 189 H). Kitab ini ia susun dengan metode kompilasi, yakni mengumpulkan ayat-ayat yang mirip secara lafaz.

Ibnu Al-Munâdî (w. 336 H) dalam muqaddimah kitabnya Mutasyâbih al-Qur’ân berkata:
“Yang tersisa hanyalah cabang yang diadakan oleh sebagian qari’, dan mereka menamainya mutasyâbih. Mereka terdorong menyusunnya untuk mengatasi kelemahan hafalan, karena Al-Qur’an berisi banyak kisah, pengulangan berita, nasihat, dan sejarah kaum terdahulu yang binasa, dengan gaya yang terkadang mirip dalam struktur lafaz dan makna, namun tersebar di banyak surah. Kadang perbedaan hanya pada huruf: sekali dengan wâw, sekali dengan fâ’, sekali dengan idghâm, sekali dengan izh-hâr; kadang pula nama-nama yang serupa.”

Lalu ia menambahkan: “Karena itu mereka merasa perlu mengumpulkan huruf-huruf mutasyâbih dalam Al-Qur’an agar bila dihafal, bisa mencegah kesalahan.”

Kemudian, muncul metode lain dalam klasifikasi ayat-ayat mutasyâbih, yang merupakan perkembangan lebih maju: yaitu mengelompokkan mutasyâbih berdasarkan tiap surah sesuai urutan mushaf. Ibnu Al-Munâdî menyebutkan hal ini, dan bahkan menjadikan separuh kedua kitabnya khusus untuk metode ini. Ia berkata: “Kami sebutkan apa yang ada dalam jenis surah dari perbedaan struktur kalimat dan kisah, perbedaan urutan dalam pendahuluan dan pengakhiran, ringkasan dan penegasan.”

Selanjutnya, klasifikasi ini berkembang ke arah lain: sebagian ulama berusaha menjelaskan alasan dan hikmah di balik perbedaan redaksi pada ayat-ayat yang mirip, untuk menjawab tuduhan para zindiq dan mulhid yang mencoba meragukan Al-Qur’an dengan alasan adanya perbedaan lafaz, pengulangan yang dianggap tanpa manfaat, atau kesamaan lafaz yang menimbulkan kerancuan.

Karya-Karya Penting tentang Mutasyâbih

Banyak ulama menulis tentang mutasyâbih lafzhî dengan istilah yang beragam. Di antaranya:

    • Abu Abdillah Al-Khathîb Al-Iskâfî, dengan kitab Durrah at-Tanzîl wa Ghurrat at-Ta’wîl.
  • Ibnu Az-Zubair Al-Gharnâthî, dengan kitab Mâlâk at-Ta’wîl, yang membahas ayat-ayat yang berulang dan mirip, serta memberikan penjelasan tentang perbedaannya. Kitab ini dianggap paling luas dan lengkap dalam bidangnya, karena beliau meringkas karya Al-Iskâfî dan menambahkannya dengan analisis baru.
  • Mahmud bin Hamzah Al-Kirmânî, dengan kitab Al-Burhân fî Mutasyâbih al-Qur’ân. Dalam muqaddimahnya ia menulis:

    “Ini adalah kitab di mana aku sebutkan ayat-ayat mutasyâbih yang berulang dalam Al-Qur’an. Lafaznya mirip, namun ada tambahan atau pengurangan, pendahuluan atau pengakhiran, pergantian huruf dengan huruf lain, dan sebagainya. Aku jelaskan sebab pengulangannya, manfaat pengulangannya, alasan adanya tambahan, pengurangan, pendahuluan, pengakhiran, penggantian, serta hikmah mengapa satu ayat di satu surah berbeda dari yang serupa di surah lain. Apakah mungkin ayat dari satu surah dipindahkan ke surah lain yang mirip, atau tidak? Semua ini agar menjadi penanda yang menghilangkan kerancuan, sehingga pembaca bisa membedakan ayat-ayat yang mirip, tanpa perlu terlibat dalam tafsirnya.”

Ilmu ini juga dibahas oleh Imam As-Suyuthi dalam Al-Itqân, beliau berkata:

“Tujuannya adalah menyebutkan satu kisah dalam beberapa bentuk dan susunan berbeda: kadang di satu tempat dengan susunan tertentu, di tempat lain dengan susunan berbeda. Misalnya firman Allah: ﴿وادْخُلُوا البَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حطَّة﴾ [Al-Baqarah: 58], dan dalam Surah Al-A‘râf: ﴿وقولوا حِطَّة وادْخُلُوا البَابَ سُجَّدًا﴾ [Al-A‘râf: 161]. Terkadang dengan tambahan atau tanpa tambahan, terkadang dalam bentuk definitif atau indefinitif, tunggal atau jamak, dengan huruf tertentu atau huruf lain, dengan idghâm atau tanpa idghâm.”

Demikian pula Az-Zarkasyî dalam Al-Burhân membahas ilmu ini. Ia berkata:
“Ilmu mutasyâbih adalah menyebutkan satu kisah dalam beberapa bentuk dan dengan susunan kalimat yang berbeda.”

Beliau lalu menjelaskan secara panjang lebar dalam 15 bab. Bab pertama diberi judul Mutasyâbih dari Segi Ifrâd, dan beliau membaginya menjadi 8 jenis:

  1. Perbedaan susunan: misalnya ﴿قل إن هُدى الله هو الهدى﴾ [Al-Baqarah: 120; Al-An‘âm: 71], dan ﴿قل إن الهُدى هُدى الله﴾ [Âl ‘Imrân: 73].
  2. Perbedaan tambahan atau pengurangan: misalnya ﴿فمن تبع هُداي﴾ [Al-Baqarah: 38], dan ﴿فمن اتبع هُداي﴾ [Thâhâ: 123].
  3. Pendahuluan dan pengakhiran: misalnya ﴿يتلو عليهم آياتك ويعلمهم الكتاب والحكمة ويزكيهم﴾ [Al-Baqarah: 129] dengan kata yuzakkîhim diakhirkan, sedangkan di [Âl ‘Imrân: 164; Al-Jumu‘ah: 2] disebutkan ﴿ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحكمة﴾ dengan yuzakkîhim didahulukan.
  4. Definitif dan indefinitif: misalnya ﴿هذا بلداً آمناً﴾ [Al-Baqarah: 126], dan ﴿هذا البلد آمناً﴾ [Ibrâhîm: 35].
  5. Tunggal dan jamak: misalnya ﴿لن تمسنا النار إلا أياماً معدودة﴾ [Al-Baqarah: 80], dan ﴿لن تمسنا النار إلا أياماً معدودات﴾ [Âl ‘Imrân: 24].
  6. Pergantian huruf dengan huruf lain: misalnya ﴿فكلوا﴾ dengan fâ’ [Al-Baqarah: 58], dan ﴿وكلوا﴾ dengan wâw [Al-A‘râf: 161].
  7. Pergantian kata dengan kata lain: misalnya ﴿ما ألفينا عليه آباءنا﴾ [Al-Baqarah: 170], dan ﴿ما وجدنا عليه آباءنا﴾ [Luqmân: 21].
  8. Idghâm dan tanpa idghâm: misalnya ﴿ومن يشاقق الرسول﴾ [An-Nisâ’: 115], dan ﴿ومن يشاقّ الله فإن الله شديد العقاب﴾ [Al-Hasyr: 4].

Kedelapan jenis inilah yang dijelaskan Az-Zarkasyî sebagai rangkuman dari seluruh jenis mutasyâbih yang dijelaskan dalam kitab-kitab yang mengkaji ayat-ayat berulang dan mirip dalam Al-Qur’an.

Manfaat Ilmu Mutasyâbih Lafzhî

Di antara manfaat mempelajari mutasyâbih lafzhî dalam Al-Qur’an adalah: adanya keluwesan dalam susunan bahasa, penyampaian satu masalah dalam berbagai bentuk, dengan variasi redaksi dan penutup ayat yang beragam. Hal ini ditampilkan dalam berbagai cara agar manusia menyadari keterbatasannya untuk menandingi Al-Qur’an, baik dalam penyampaian pertama maupun pengulangan.

Segala sesuatu yang tampak berulang dalam Al-Qur’an, hakikatnya bukan sekadar pengulangan, melainkan mengandung tambahan makna, penyempurnaan maksud, atau berfungsi sebagai dasar bagi rangkaian ayat setelahnya. Karena itu, bagi orang yang mendalami dan mengambil pelajaran, tidak akan ditemukan “pengulangan sia-sia” dalam Al-Qur’an. Benarlah firman Allah Ta’ala:

كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ﴾ [هود: 1]﴿

“Kitab (Al-Qur’an) yang ayat-ayatnya disusun dengan kokoh (penuh hikmah).”

Artinya: ayat-ayat Al-Qur’an ditegakkan dengan hujjah dan dalil, disusun secara teratur dengan kesempurnaan yang tidak mengandung kelemahan, baik dari sisi lafaz, makna, maupun tujuan dan sasaran.

Pentingnya ilmu ini terlihat pada kontribusinya dalam pengembangan kajian Al-Qur’an. Mutasyâbih lafzhî merupakan cabang tersendiri dalam ilmu Al-Qur’an. Ia menjadi bukti bahwa Al-Qur’an benar-benar wahyu, bukan karya manusia, karena ragam penggunaannya begitu luas: berupa pendahuluan dan pengakhiran, penambahan dan penghapusan, penggunaan bentuk ma‘rifah dan nakirah, atau pergantian kata tertentu dengan kata lain dalam satu tema yang sama.

Selain itu, ilmu ini juga lahir untuk menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an agar tidak salah ucap, serta memudahkan para penghafalnya. Dengan demikian, ia termasuk ilmu yang berfungsi menjaga Al-Qur’an, menampakkan sisi-sisi kemukjizatannya, dan membuka rahasia keindahan yang tak ada habisnya.

Melalui kajian ilmu ini, kita bisa mengetahui bahwa Al-Qur’an memiliki gaya bahasa yang khas dalam pemilihan kata dan susunannya. Karena itu, ilmu ini menjadi dasar penting bagi kajian linguistik Al-Qur’an.

Ilmu ini juga memperlihatkan bahwa ayat-ayat yang mirip di dalam Al-Qur’an saling terkait, meski disajikan dengan gaya berbeda: berupa pengulangan, ringkasan atau perluasan, pendahuluan atau pengakhiran, penghapusan atau penambahan, penggunaan bentuk tertentu, serta variasi lainnya dalam satu tema.

Lebih dari itu, ilmu ini membantah tuduhan para penolak Al-Qur’an yang mengira bahwa kemiripan lafaz atau pengulangan ayat hanyalah pengulangan sia-sia dan tanpa makna.

agi para penghafal, ilmu ini merupakan sarana utama dalam menjaga hafalan Al-Qur’an agar setiap lafaz dibaca sesuai tempatnya, tanpa tertukar dengan ayat lain yang mirip.

Ilmu ini juga menambah keimanan dan kekaguman pada keagungan Al-Qur’an. Saat seorang penuntut ilmu mendalami ayat-ayat mutasyâbih, ia akan menemukan kehalusan gaya bahasa Al-Qur’an, yang membantu memahami kandungannya dan memperlihatkan keluasan makna serta kedalaman rahasianya.

Sebagai contoh, perhatikan firman Allah Ta’ala:

يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ﴾ [البقرة: 49]﴿

“(Mereka) menyembelih anak-anak laki-laki kalian.”

dan firman-Nya:

وَيُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ﴾ [إبراهيم: 6]﴿

“Dan mereka menyembelih anak-anak laki-laki kalian.”

Pada ayat pertama tidak ada huruf “wâw”, sedangkan pada ayat kedua ada tambahan “wâw”. Mengapa demikian? Karena yang pertama merupakan firman Allah secara langsung kepada Bani Israil, sehingga tidak disebutkan rincian penderitaan mereka sebagai bentuk penghormatan dalam penyampaian. Sementara yang kedua adalah ucapan Nabi Musa ‘alaihissalâm, sehingga beliau menyebutkannya dengan terperinci. Inilah salah satu bentuk keindahan redaksi yang disebut tafunun lafzhî (variasi kata).

Kesimpulan

Mutasyâbih lafzhî dalam Al-Qur’an adalah adanya ayat-ayat yang diulang pada kisah atau tema tertentu, dengan redaksi yang mirip namun dalam bentuk yang beragam: berbeda susunan, tambahan atau penghapusan, penggunaan bentuk ma‘rifah atau nakirah, tunggal atau jamak, ringkas atau panjang, pergantian huruf atau kata, dan seterusnya—meski maknanya tetap sama.

Tujuan variasi ini bisa berupa penegasan makna, keindahan retorika, atau maksud mendalam yang hanya dapat dipahami oleh para ulama dan ahli bahasa. Dengan demikian, mutasyâbih lafzhî menunjukkan keajaiban Al-Qur’an yang tiada tandingannya, yaitu pengulangan yang sarat makna dan keindahan, bukan sekadar pengulangan biasa.

________________________________________

Catatan Sumber:

[1] Durrah al-Tanzīl wa Ghurrat al-Ta’wīl, jilid 1, hlm. 11.
[2] Muṣannaf karya ‘Abd al-Razzāq, cetakan kedua (taḥqīq: Ta’sīl), jilid 10, hlm. 289.
[3] Durrah al-Tanzīl wa Ghurrat al-Ta’wīl karya al-Khaṭīb al-Iskāfī, jilid 1, hlm. 65.
[4] Asrār al-Takrār fī al-Qur’ān (juga dikenal dengan judul al-Burhān fī Tawjīh Mutashābih al-Qur’ān), jilid 1, hlm. 64.
[5] Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī, al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, Maktabah Miṣr, Kairo, 2011 M.
[6] Badr al-Dīn al-Zarkashī, al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, Dār al-Ma‘rifah, Beirut, 1391 H.
[7] Muḥammad al-Qūṣī, Gharā’ib al-Qur’ān, Dār al-Ma‘ārif, Kairo, 2023 M.

Check Also

KUMPUL KEBO DALAM TIMBANGAN (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

KUMPUL KEBO DALAM TIMBANGAN Oleh: Tim Redaksi HASMI Kerugian besar jika suatu sistem dibangun tanpa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot
situs slot