‘IFFAH (MENJAGA KEHORMATAN) DALAM KHAZANAH SASTRA ARAB (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

‘IFFAH (MENJAGA KEHORMATAN) DALAM KHAZANAH SASTRA ARAB

Oleh: Tim Redaksi HASMI

Banyak dari para bijak Arab, baik di masa jahiliah maupun Islam, menyinggung soal ‘iffah (menjaga kehormatan diri) dan memujinya. Abu ‘Amr bin al-‘Ala’ berkata: “Orang-orang jahiliah tidak mengangkat seorang pemimpin kecuali orang yang memiliki enam sifat, dan di dalam Islam ditambahkan satu lagi sebagai penyempurna: dermawan, pemberani, sabar, penyabar (tidak mudah marah), fasih berbicara, memiliki keturunan terhormat, dan dalam Islam ditambah dengan sifat ‘iffah (menjaga kehormatan).”

Makna Bahasa

Kata dasar (ع ف ف) dalam bahasa Arab menunjukkan makna menahan diri dari sesuatu yang buruk. Dikatakan: ‘affa ‘an al-harām (ia menahan diri dari yang haram), dengan bentuk kata ya‘iffu, ‘iffan, ‘iffatan, ‘afāfan, ‘afāfah; artinya menahan diri.

Asal makna ‘iffah adalah mencukupkan diri dengan sesuatu yang sedikit, yang biasa disebut ‘afāfah (sisa dari sesuatu), atau ‘af‘af yaitu buah pohon arak. Isti‘fāf artinya mencari jalan untuk menjaga kehormatan diri. ‘Iffah juga berarti menjaga diri dari sesuatu yang tidak halal dan tidak pantas, serta bermakna kesucian/nazahah.

Kata ‘iffah dalam bahasa Arab tidak memiliki padanan yang tepat dalam bahasa-bahasa lain di dunia. Kata ‘afāfah dipakai untuk menyebut sisa susu yang masih ada di dalam wadah kulit (syakwah), atau sisa yang tertinggal di ambing setelah diperah. Jumlahnya sedikit. Siapa yang rela dengan sedikit itu, berarti ia memiliki akhlak mulia. Orang Arab sepakat menyebut hal itu dengan istilah ‘iffah. Dari sini lahir makna ‘afāf (menjaga kehormatan diri), yaitu kerelaan dengan apa yang ada sebagai bentuk menjaga martabat dan memelihara diri.

Orang yang berperangai demikian disebut ‘afīf (orang yang menjaga kehormatan). Dari kata ini juga muncul nama ‘Affān (seperti Abu ‘Utsmān al-Khalifah ar-Rāsyid), berbentuk fa‘lān dari kata ‘affa, sebagaimana ‘athshān (haus) dari ‘athisha (merasa haus).

‘Iffah adalah kemampuan mengendalikan diri dari syahwat, membatasi diri hanya pada yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup dan kesehatan jasmani, menjauhi sikap berlebihan dalam kenikmatan, serta menempuh jalan tengah. Yang diambil dari syahwat adalah yang sesuai dengan aturan syar‘i, di waktu yang memang dibutuhkan, dalam kadar yang cukup—tidak berlebihan dan tidak kurang. Inilah puncak dari ‘iffah.

Landasan Al-Qur’an

Allah Ta‘ala berfirman:

  • “Dan barang siapa yang mampu (mengurus anak yatim) hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta mereka), dan barang siapa yang miskin maka bolehlah ia makan dengan cara yang patut. Apabila kamu menyerahkan kepada mereka harta mereka maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi atas mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas.” (QS. an-Nisā’: 6)
  • “Dan hendaklah orang-orang yang tidak mampu menikah menjaga kesucian dirinya, hingga Allah memberi mereka kecukupan dengan karunia-Nya.” (QS. an-Nūr: 33)
  • “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Kamu mengenal mereka dari tanda-tandanya. Mereka tidak meminta-minta kepada manusia secara mendesak. Dan apa saja kebaikan yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 273)
  • Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalām: “Wanita yang (tinggal) di rumahnya menggoda dirinya. Ia menutup pintu-pintu dan berkata: ‘Marilah ke sini!’ Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sungguh, orang-orang zalim tidak akan beruntung.’” (QS. Yūsuf: 23)

Dalam Sunnah Nabi

Rasulullah ﷺ bersabda:

  1. “Barang siapa berusaha menjaga kehormatan dirinya, Allah akan menjaganya. Barang siapa berusaha merasa cukup, Allah akan mencukupkannya. Barang siapa bersabar, Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidaklah seseorang diberi anugerah yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”

  2. “Barang siapa bersabar, Allah akan membuatnya sabar. Barang siapa berusaha mencukupkan diri, Allah akan mencukupkannya. Barang siapa berusaha menjaga kehormatan dirinya, Allah akan menjaganya. Dan tidaklah aku dapati rezeki yang lebih luas bagi kalian daripada kesabaran.”

  3. “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.”

  4. “Empat hal, jika ada pada dirimu maka tidak mengapa jika engkau kehilangan (kenikmatan) dunia: menjaga amanah, berkata jujur, berakhlak baik, dan menjaga kehormatan dalam mencari rezeki.”

  5. “Berbaktilah kalian kepada orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian. Jagalah kehormatan, niscaya istri-istri kalian akan menjaga kehormatan.”

  6. “Tiga golongan yang menjadi hak Allah untuk ditolong: orang yang berjihad di jalan Allah, budak mukatab yang ingin melunasi tebusannya, dan orang yang menikah demi menjaga kehormatan.”

  7. “Ditampakkan kepadaku tiga golongan yang pertama kali masuk surga: seorang syahid, seorang yang menjaga kehormatan dirinya, dan seorang hamba sahaya yang beribadah dengan baik kepada Allah serta menunaikan nasihat kepada tuannya.”

  8. “Tangan di atas (yang memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (yang meminta). Mulailah (nafkah) dengan orang yang menjadi tanggunganmu. Sedekah yang terbaik adalah dari kelebihan (kebutuhan diri). Dan barang siapa menjaga kehormatan dirinya, Allah akan menjaganya; barang siapa merasa cukup, Allah akan mencukupkannya.”

  9. Rasulullah ﷺ berkata kepada seseorang yang menuntut haknya: “Ambillah hakmu dengan cara yang baik, entah penuh atau kurang.”

Pandangan Para Hikmah dan Ulama

  • Abu ‘Amr bin al-‘Ala’: “Orang-orang jahiliah tidak mengangkat pemimpin kecuali orang yang memiliki enam sifat… dan dalam Islam ditambah sifat ‘iffah.”

  • Luqmān al-Hakīm: “Hakikat wara‘ adalah ‘iffah.”

  • Saat kaum muslimin menaklukkan al-Qadisiyyah dan membawa harta rampasan kepada ‘Umar bin al-Khattāb, beliau berkata: “Sungguh suatu kaum yang menyerahkan ini adalah orang-orang yang amanah.” Mereka menjawab: “Engkau menjaga kehormatan, maka mereka pun menjaga kehormatan. Kalau engkau tergelincir wahai Amirul Mukminin, niscaya umatmu pun akan tergelincir.”

  • Ibn ‘Umar: “Kami, kaum Quraisy, memandang kesabaran dan kedermawanan sebagai kemuliaan, sedangkan kehormatan diri (‘iffah) dan mengelola harta dengan baik adalah bagian dari muru’ah (keluhuran budi).”

  • Muhammad bin al-Hanafiyyah: “Kesempurnaan ada pada tiga hal: kehormatan dalam agama, sabar menghadapi musibah, dan bijaksana dalam mengatur kehidupan.”

  • al-Hasan bin ‘Ali: “Wahai anak Adam, jagalah dirimu dari hal-hal yang Allah haramkan, niscaya engkau menjadi hamba-Nya. Ridhalah dengan bagian yang Allah tetapkan, niscaya engkau menjadi orang yang kaya.”

  • ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz: “Ada lima sifat yang bila seorang qadhi (hakim) tidak memilikinya maka ia tercela: cerdas, penyabar, menjaga kehormatan, tegas, dan berilmu serta selalu bertanya tentang ilmu.”

  • ‘Abdullāh bin Zayd al-Jarmi: “Siapakah orang yang lebih besar pahalanya daripada seorang yang menafkahi keluarganya yang kecil sehingga mereka hidup terhormat, atau Allah memberi manfaat kepada mereka dan mencukupkan mereka dengannya?”

  • Sufyān ats-Tsaurī: “Hal pertama yang kami mulai di hari kami adalah menjaga pandangan.”

Peribahasa Arab

  • Mereka berkata tentang suatu kaum: “Mereka orang-orang yang menjaga kehormatan meskipun miskin.” Maksudnya, saat miskin, mereka tidak menampakkan permintaan yang memalukan.

  • Mereka juga berkata: “Syukur adalah perhiasan orang kaya, dan kehormatan diri adalah perhiasan orang miskin.”

  • Mereka berkata: “Hak Allah itu tetap wajib, baik dalam kaya maupun miskin. Dalam kaya: kasih sayang dan syukur; dalam miskin: kehormatan diri dan sabar.”

  • Mereka berkata: “Kehormatan diri adalah tanda akal yang sempurna dan jiwa yang suci.”

  • Mereka berkata: “Perhiasan orang miskin adalah kehormatan diri, dan perhiasan orang kaya adalah pujian (syukur).”

  • Mereka berkata: “Orang yang mulia jiwanya adalah yang mampu menahan diri dari syahwat.”

Adapun para penyair, mereka banyak menyebutkan ‘iffah, memujinya, serta menyanjung orang-orang yang menjaganya. Di antaranya:

Antarah bin Syaddad berkata:

Wahai putri Malik, tanyalah kuda-kuda perang,
jika engkau belum tahu jawabannya.
Mereka akan mengabarkan, siapa yang hadir di palagan,
akulah yang terjun ke kancah pertempuran,
namun menjaga diri dari rakus saat rampasan datang.

Dan ia juga berkata:

Aku tundukkan pandanganku saat tetanggaku tampak,
hingga ia kembali ke rumah tempat ia berlindung.
Aku seorang yang lembut tabiatnya, mulia perangainya,
tak kuikuti nafsu keras kepala yang mengajak pada dosa.

Tharfah bin al-‘Abd berkata:

Sungguh aku menjaga kehormatan dari senda gurau dengan tetanggaku,
dan aku membenci bila ia digunjing orang.

Saat suaminya pergi, tak pernah aku mendekat dengan maksud buruk,
bahkan anjing-anjingnya tak pernah jinak padaku.
Aku tak pernah mencari-cari rahasia yang ia simpan,
dan tak pula ingin tahu kain apa yang ia kenakan.

As-Samaw’al berkata:

Jika seseorang tidak menodai kehormatannya dengan kehinaan,
maka setiap pakaian yang ia kenakan akan tampak indah.
Jika ia tak mau menanggung beban kehinaan diri,
maka tiada jalan menuju pujian nan luhur.
Engkau cela kami karena sedikit jumlah kami,
maka kujawab: sesungguhnya yang mulia itu memang sedikit.

Jamil berkata:

Perpisahan di pagi hari itu bagai aroma kasturi,
dua kekasih berpisah tanpa noda curiga.
Mereka tak pernah mendekati yang hina,
dan tak pernah meremehkan larangan yang mungkar.

Al-‘Abbās bin al-Ahnaf berkata:

Izinkanlah seorang yang rindu mengunjungi kalian,
pada kalianlah terhimpun keindahan pendengaran dan penglihatan.
Ia tak menyimpan niat buruk meski lama duduk bersama,
hatinya suci, meski pandangan kadang khianat.

Abu al-‘Ala’ al-Ma‘arri berkata:

Demi kemuliaan, apa yang harus kulakukan?
Menjaga diri, keberanian, keteguhan, dan kedermawanan.

Al-Buhturi berkata:

Kujaga diriku dari hal yang menodai jiwaku,
dan kutinggikan diriku dari pemberian orang hina.

Abu Firas al-Hamdani berkata:

Diam-mu disebut lemah, padahal itulah kehormatan.
Sesungguhnya ‘iffah seorang pemuda,
adalah saat ia mampu namun menahan diri dari syahwatnya.

Dan ia juga berkata:

Jika aku tergoda oleh cinta atau puisi,
maka ‘iffah dan takwa adalah sandaran-ku.
Manusia paling mulia ialah pecinta sejati,
dan cinta termulia ialah yang suci dari noda.

Seorang penyair berkata:

Ia berkata: “Waktu ada di tangan kita, tinggalkanlah niatmu.”
Namun cinta di sisiku bagaikan jalinan kesucian.
Ia mengusap kepalaku dengan telapak tangan yang lembut,
seandainya ia menyentuh kubur, yang mati pun akan bangkit.
Surga dunia itu takkan kubangkang hingga ia murka,
meski kulihat apel di sana telah ranum merekah.
Hingga kupersembahkan padanya segala isi hatiku,
jiwa dan nurani pun berbunga bahagia.

Seorang penyair berkata:

Sungguh Allah Maha Tahu, aku seorang lelaki,
menyeret jubah kesucian yang indah.
Betapa sering waktu menutup matanya,
dan aku meraih pertemuan cinta nan murni.
Ada yang berkata: “Pengawasmu lalai darimu.”
Namun kujawab: “Aku takut pada Allah Sang Maha Mengawasi.”

Al-Mutanabbi berkata:

Kezaliman adalah tabiat jiwa manusia,
maka bila kau temui seorang yang menjaga ‘iffah,
itulah karena alasan yang membuatnya tak menzalimi.

Seorang penyair berkata:

Bukanlah pemberani ia yang melindungi buruannya,
saat perang berkobar dan api pertempuran menyala.
Namun sejati keberanian ialah menundukkan pandangan,
menahan nafsu dari yang haram—itulah ksatria sejati.

Bisharah al-Khuri berkata:

Di taman cinta, di padang ghazal,
di sanalah asmara jadi laksana iman.
Dua jiwa berpelukan penuh rindu,
namun tubuh keduanya tetap dijaga suci.

Sebagai penutup, ‘Abd al-Rahman al-‘Ashmawi berkata:

Pengkhianat mati bersama kebenciannya,
sedang seorang muslim naik derajat dengan kesuciannya.

Dan dikatakan pula tentang kesucian wanita Arab:
Mereka ibarat permata di dalam rumah,
bila keluar ke jalan, laksana tenda yang tertutup.
Putih lembut, tak pernah berpikir pada dosa,
bagai kijang-kijang Mekah—perburuannya haram.

________________________________________

Catatan Sumber:

[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1469).
[2] Diriwayatkan oleh Ahmad (11091) dengan lafaz darinya, juga oleh Ibnu Hibban (3399), dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim (2721).
[4] Diriwayatkan oleh Ahmad (6652) dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib (1718).
[5] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihayn (7465), namun sanadnya dipermasalahkan.
[6] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (1655), an-Nasa’i (3218), dan Ibnu Majah (2518), serta dinilai sahih oleh al-Albani.
[7] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (1642) dan Ahmad (9492), namun sanadnya dipermasalahkan.
[8] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1427).
[9] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (2422) dan al-Bazzar (9421), serta dinilai hasan oleh al-Albani.

Check Also

ITTIBA’ PENGAWAL KEMURNIAN (Oleh: Supendi, S.Sy.)

ITTIBA’ PENGAWAL KEMURNIAN Oleh: Supendi, S.Sy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot
situs slot