Konsekuensi Sebuah Cinta

30 Apr 2014Redaksi Rehat Sejenak

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman : “Katakanlah (Muhammad), jika kalian benar-benar mencintai Alloh , ikutilah aku, niscaya Alloh  mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Alloh  Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron[3] : 31)

Saudaraku kaum Muslimin…

Ayat di atas  memberikan penjelasan sekaligus penegasan bahwa yang wajib bagi kita sebagai seorang muslim untuk mengikuti Rosululloh Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) atau yang dikenal degan nama ittiba’. Ittiba’ adalah suatu hal yang sangat urgen bagi seluruh umat Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), karena ittiba’ kepada beliau ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) merupakan bukti kecintaan seorang hamba kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dan ittiba’ juga merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kecintaan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Tidak ada jalan lain untuk mendapatkan cinta dan ridho dari Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) selain mengikuti jalan yang di ajarkan oleh Rasul-Nya Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).

Saudaraku, lalu seberapa jauh kita mengenal ittiba ?

Itulah sebuah tanda tanya besar,yang harus diperhatikan bagi umat pada zaman sekarang ini. Banyak umat islam yang mengaku mencintai Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dan RasulNya Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him),tapi mereka tidak menjalankan apa yang di perintahkan oleh Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dan Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).

Arti dari ittiba’ adalah pengikutan. Ittiba’ yang di maksud dalam pembahasan ini  adalah  pengikutan kepada Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dalam memahami Islam dan menerapkannya dalam kehidupan.

Islam mempunyai dua pondasi yang paling utama, yaitu tauhid dan ittiba’. Kedua hal ini merupakan pondasi dasar yang sangat penting dalam Islam. Seseorang  tidak disebut muslim atau orang yang beriman tanpa adanya pemahaman tauhid yang benar dalam dirinya. Selanjutnya seseorang tidak mungkin dapat menjaga kemurnian Islam kecuali dengan tetap konsisten melaksanakan ittiba dalam kehidupannya.

Ittiba’ kepada Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) sangat urgen sekali bagi seorang muslim. Bagaimana tidak, karena  barangsiapa yang meninggalkan ittiba’ secara keseluruhan dan menganggap ada jalan lain menuju Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)  tanpa melalui syari’at atau ajaran yang di bawa Rosul-Nya Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), berarti dia  telah keluar dari Islam.

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda: “Demi jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, tidak ada seorang yahudi atau nasrani pun yang telah mendengar kenabianku, kemudian dia tidak beriman kepadaku, kecuali dia akan menjadi ahli neraka.” (HR. Muslim)

Kemudian masalah penting lainnya, barangsiapa yang meninggalkan sebagian dasar ittiba’ bararti masuk kedalam lingkaran bid’ah yang di benci Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) . Bahkan ada perbuatan bid’ah yang  mengeluarkan seseorang  pelakunya dari Islam. Naudzu billah min dzalik…

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman : “Barangsiapa mentaati Rosulullah , maka sesungguhnya dia telah mentaati Alloh .” (QS. an-Nisa [4]: 80)

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) telah mengabarkan kepada kita bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali hanya satu yang selamat. Adapun yang selamat  adalah mereka yang mengikuti jejak beliau  dan jejak para sahabat-nya atau yang lebih dikenal dengan sebutan ahlussunnah wal jamaah.

Realita pada zaman sekarang ini, banyak orang  atau organisasi  yang mengaku dirinya Ahlus Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA)  tapi kurang memperhatikan manhaj(metode dalam beragama) yang di usung oleh para sahabat dan ulama salafus shalih. Bahkan ada dari kalangan masyarakat kita tidak mengambil manhaj yang di tempuh para sahabat Rosululloh . Kebanyakan kesalahan mereka disebabkan menuruti hawa nafsu dan kejahilan mereka serta syubhat yang mereka hadapi.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman: “Dan barang siapa yang menentang Rosul (Muhammad ) setelah jelas kebenaran baginya ,dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah di lakukannya itu dan akan kami masukan dia kedalam neraka jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa [4]: 115)

Maksud dari orang-orang Mukmin dalam ayat di atas adalah para sahabat Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dan orang-orang yang senantiasa mengikuti manhaj dan ajaran  para sahabat Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).

Kenapa kita harus mengikuti manhaj para sahabat Rosululloh ??

Tidak lain karena para sahabat Rosululloh  ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) telah mendapat sertifikat  kebenaran dan pujian langsung dari Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dan Rasul-Nya ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Demikian juga ketika mereka telah bersepakat (berijma) dalam suatu masalah, maka ijma’ mereka adalah hukum yang wajib di ikuti.

Karena jalan keselamatan hanyalah satu, maka wajib bagi kita untuk memperdalam dan mengenal manhaj yang di bawa oleh para sahabat Rosululah  dan para ulama salafus sholih yg berpegang teguh pada kebenaran. Semakin kita mengetahui ajaran yang benar yang bersumber dari sahabat Rosululloh  ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dan ulama salafus sholih yang amanah, maka semakin besar tingkat ittiba’ kita kepada Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).

Perlu di ingat, ada dua syarat agar semua amal ibadah yang kita lakukan bisa di terima di sisi Alloh , yaitu niat yang ikhlas hanya kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dan ittiba kepada Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).

Saudaraku mari kita renungkan,,.

Semua orang yang beribadah pasti ingin amalnya di terima di sisi Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), namun terkadang kita tidak memperhatikan masalah ittiba’, yang merupakan syarat di terimanya dari semua bentuk amal peribadatan kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He).

Saudaraku, keikhlasan kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dan kesungguhan serta banyaknya bilangan dalam sebuah ibadah tidak cukup menjadi tolak ukur  diterimanya sebuah amal ibadah tersebut. Karena amal ibadah harus mengandung keikhlasan dan ittiba’.

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa kita sebagai seorang yang mengaku mencintai Alloh  dan Rosul-Nya  maka harus ada konsekuensi  penting dalam jiwa seorang muslim di antaranya:

  1. Melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangannya (Rosul), Alloh berfirman: “Katakanlah (Muhammad ), taatilah Alloh dan rasul, jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Alloh  tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali Imron[3]: 32)
  2. Membenarkan kabar berita atau risalah yang dibawa Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).  Alloh berfirman: “Dan orang yang membawa kebenaran(Muhammad  )dan orang yang membenarkannya,mereka itulah orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zumar[39]:33)
  3. Berhukum kepada hukum  tidak boleh mendahulukan ucapan atau hukum serta pendapat selainnya. Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman: “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Alloh  dan rasulNya  telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan yang lain bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Alloh  dan rasul-Nya , maka sungguh dia telah tersesat, dengan kesesatan yang  nyata”. (QS. al-Ahzab[33]: 36)
  1. Tidak beribadah kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) kecuali berdasarkan syariatnya  yaitu dengan berpegang teguh kepada sunnah dan ajarannya, serta meninggalkan bid’ah dan larangannya. Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda: “Barangsiapa mengerjakan suatu amal perbuatan(ibadah) yang tidak pernah ada perintah (ajaran)nya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim)
  1. Kita wajib mencintai nabi Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), hal ini merupakan pokok keimanan seseorang. Karena seseorang tidak akan menjadi mukmin yang sempurna imannya kecuali dengan mencintainya .

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, tidaklah seseorang diantara kalian beriman (dengan sempurna) hingga dia lebih mencintaiku dari pada cintanya kepada anaknya, orang tuanya dan kepada seluruh manusia sekalipun.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Semoga sholawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), keluarganya  dan para sahabatnya serta orang-orang yang senantiasa mengikuti petunjuk dan sunnah-sunnahnya  hingga hari kiamat nanti.

Wallohu a’lam.