Kapankah Anak Kita Mulai Shoum??

23 Mar 2017Redaksi Fiqih dan Muamalah

Dituturkan dari ar-Rubayyi binti Mu’awwidz: ia berkata tentang shoum ‘Asyura.”… kami selalu bershoum pada hari tersebut dan menyuruh anak-anak kami untuk bershoum pada hari tersebut. Kami pun membuat mainan dari kulit untuk mereka. Jika ada yang menangis minta makanan, kami pun memberikannya sehingga datang waktu berbuka shoum” (HR. Bukhari).

Banyak diantara orang tua bertanya-tanya usia berapakah bagi seorang anak diwajibkan untuk bershoum?
Diantara para ulama berkata,”(Hukum-nya shoum bagi anak kecil) tidak wajib, tetapi agar anak kecil ini terlatih untuk bershoum sebelum dewasa.”

Kemudian apa korelasi kewajiban untuk memerintahkan anak dalam sholat pada usia tujuh tahun dan memukul mereka pada usia sepuluh tahun ?? Dituturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash; ia berkata bahwa Rosululloh sholallohu ‘alaihiwasallam bersabda, ”suruhlah anak-anakmu melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (kalau mereka tidak mau melaksanakan shalat) ketika mereka sudah berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka” (HR. Abu Daud).

Tentang pertanyaan tadi Dr. Abdul Karim Zaidan berkata, ”sangat jelas bahwa menyuruh  anak-anak kecil (lelaki ataupun perempuan) bershoum kalau mereka sanggup adalah sesuatu yang sangat bagus dan orang tua harus menyuruh mereka seperti mereka disuruh melaksanakan shalat ketika mereka sudah berumur tujuh tahun. Namun dalam hal memukul mereka saat tidak bershoum ketika mereka sudah berusia sepuluh tahun, sangat berbeda ketika mereka tidak melaksanakan shalat dalam usia yang sama. Hal itu tidak dapat disamakan, karena shoum dan shalat sangat berbeda. Bagi mereka bershoum lebih berat dibandingkan shalat. Jika pukulan itu dimaksudkan sebagai sanksi bagi mereka, sebenarnya anak-anak kecil itu tidak berhak menerima sanksi seberat itu, karena sanksi seperti itu hanya diperuntukan bagi orang yang meninggallkan suatu kewajiban atau melakukan sesuatu yang haram. Sementara mereka tidak melakukan hal tersebut, karena bershoum hukumnya belum wajib bagi mereka.

Jika maksudnya untuk mendidik, maka yang diterapkan bukan sanksi. Karena dalam bab shoum sebenarnya tidak ada unsur pendidikan bagi anak-anak, lantaran hal tersebut sangat sulit bagi mereka. Seharusnya orang tua hanya menyuruh, menganjurkan, mengajak saja, dan bukan memukul, karena memukul adalah hukuman pada bab shalat. Kita harus menempatkan perkara itu sesuai dengan bagiannya dan jangan kita langsung memukul mereka yang tidak bershoum. Dalam satu hadits, Rosululloh sholallohu ‘alaihiwasallam bersabda, “pena itu diangkat (tidak menulis) dalam tiga perkara: dari orang yang tertidur sampai ia bangun; dari anak kecil sampai ia dewasa; dan dari orang gila sampai ia sadar.” (HR. Imam Tirmidzi).

Maksud dari ”pena diangkat” adalah tercegah dari beban atau mereka tidak dibebani. Akan tetapi, islam sebagai agama yang memelihara watak dan tabiat manusia mengajarkan untuk membiasakan anak-anak sejak kecil dengan hal-hal yang bernilai ibadah dan perbuatan taat (baik), supaya mereka terbiasa  mempraktikan dan terlatih dengan nilai-nilai tersebut. Dalam hadits tentang sholat, Rosululloh sholallohu ‘alaihiwasallam bersabda, “suruhlah anak-anak kalian melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (kalau mereka tidak mau melaksanakannya) jika mereka sudah berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud).

Shoum merupakan ibadah dan kewajiban seperti halnya shalat. Seharusnya, anak-anak dilatih bershoum. Sejak usia berapa? Tidak harus berusia tujuh tahun, karena shoum lebih berat dibanding shalat, namun semuanya berpulang kepada kemampuan si anak. Ketika orangtua melihat bahwa kemampuan anaknya sudah mampu berpusa walaupun untuk beberapa hari saja dalam satu bulan, ia harus melatihnya bershoum. Melatih bershoum tahun demi tahun, dalam satu tahun ia hanya dapat bershoum tiga hari, di tahun berikutnya bershoum seminggu, tahun berikutnya dua minggu, dan tahun berikutnya sebulan penuh. Ketika ia sudah baligh dan dewasa, yaitu saat ia dibebani kewajiban-kewajiban, ia tidak merasa kesulitan lagi untuk melaksanakannya karena sudah terlatih dan sering melakukannya. Itulah sistem pendidikan islam yang mengajari anak-anak sejak kecil dengan etika-etika dan perintah-perintah islam supaya terbiasa melakukannya. –Red