MEWASPADAI MEDIA KAFIR
Oleh: Habibulah, Lc.
Media seharusnya menyajikan fakta atau gambaran peristiwa tanpa upaya menginterpretasi dan tanpa opini. Namun kenyataan di lapangan, media tak selalu menyajikan berita sesuai dengan faktanya bahkan berani berbohong 100%, berbeda 180 derajat dengan fakta yang terjadi. Majalah TIMES adalah contoh media kelas dunia yang sering melanggar prinsip pemberitaan berimbang dan banyak lagi jaringan berita kabel maupun satelit milik barat berperan dalam membohongi masyarakat internasional dan khususnya umat Islam dalam mengulir berita tentang Islam. Karena kuatnya pengaruh media dalam menggiring opini mengharuskan Umat Islam harus memiliki sensitifitas dan kehati-hatian dalam mencermati setiap pemberitaan yang ada. Kepiawaian memilah berita demi berita serta mengklarifikasi setiap otentisitas pemberitaan merupakan cara yang baik dalam mencermati kebenarannya, sebagaimana Alloh ﷻ memerintahkan kita untuk senantiasa ber-tabayyun atas informasi dan berita yang datang. Dalam sejarah Islam tertoreh kejelian para sahabat dalam menangkap berita sehingga mereka tidak mudah tergoyahkan dan terprovokasi karenanya. Seperti dalam perang Badar dimana kaum Muslimin tidak melemah ketika orang-orang kafir memberitakan bahwa pasukan Quraisy dalam jumlah yang besar akan menyerang mereka sebagaimana firman Alloh ﷻ, “Yaitu orang orang (yang menta’ati Alloh dan Rosul) yang kepada mereka ada orang yang mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Alloh sebagai penolong kami dan Alloh adalah sebaik-baik pelindung.” (QS. Ali Imron 173). Walaupun sempat sebuah informasi dusta (haditsul ifki) yang digagas oleh orang-orang munafik sempat menjadi polemik di tengah para sahabat. Bahkan sebagian mereka terpengaruh ikut dalam penyebaran isu tersebut sehingga menimbulkan prahara yang mendera rumah tangga kekasih Alloh yang mulia, Rosululloh ﷺ, sampai akhirnya Alloh ﷻ menurunkan ayat tentang bersihnya Aisyah رضي الله عنها dari tuduhan kotor tersebut. Alloh ﷻ berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita tersebut buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagimu. Setiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan mereka yang mengambil bagian terbesar dalam penyebaran berita bohong tersebut baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mereka tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”. (QS. an-Nur: 12) Kerap kali kita mendengar pemberitaan pemberitaan yang tendensius jika itu berkaitan dengan Islam dan umat Islam yang diblow up habis-habisan, bahkan menjadi headline utama beberapa media. Bahkan tidak sedikit yang merugikan serta mendiskriditkan umat Islam serta dipaksakan agar menjadi opini masyarakat umum. Bukan hal baru jika Islam kerap kali distigmakan dengan radikalisme, terorisme, fundamentalisme serta isme-isme negatif lainnya. Tentu penyematan image negatif tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran media-media barat kafir, yang dalam hal ini dijadikan komoditas yang laku untuk dijual yang punya nilai tambah dalam hal pemberitaan, tanpa peduli kode etik, kejujuran dan etika. Fitnah menjadi dagangan baru bagi insan media. Bagi mereka kejujuran tak lebih penting dibanding berita kontroversial untuk menaikkan rating media. Tanpa mau tahu dampak yang mungkin terjadi dari fitnah yang menjadi headline berita mereka. Menurut Efendi Ghozali pakar komunikasi UI mengatakan ada lima kebohongan media. Amerika sebagian besar dikontrol oleh perusahaan-perusahaan besar yang demi keuntungan ekonomi mereka menjadi pendukung pemerintah. FOX NEWS dan CNN jaringan satelit yang bertayang 24 jam nonstop menjangkau seluruh pelosok dunia melakukan cuci otak tanpa henti. Kecenderungan demikian nampaknya diamini pula oleh media-media di Indonesia dengan melakukan hal yang sama. Kantor berita AP, AFP, REUTERS, CBS dan BBC yang sangat pro Zionis kerap jadi rujukan berita media nasional. Pantas saja jika musuh-musuh Islam menjadikan media sebagai sarana menguasai dunia tanpa dibatasi geografi dan teritorial dengan strategi pembentukan opini tadi. Sumber : Materi Majalah INTISARI HASMI Vol. 0008 Rubrik Merekalah Musuh
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami