KONSEP-KONSEP DALAM AQIDAH (BAGIAN-4)
Oleh: Tim Redaksi HASMI
Keempat: Konsep-konsep tentang Tauhid Rububiyah
Konsep 1: Makna “Robb” (رب)
Makna bahasa:
Kata Robb dalam bahasa Arab berarti: pemilik yang menguasai segala sesuatu, penguasa, pengatur, pendidik, pemelihara, dan penjamin kesejahteraan.
Kata ini tidak digunakan sendirian tanpa tambahan kecuali hanya untuk Alloh Ta’ala. Sebagaimana firman Alloh ﷻ:
وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ ۖ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ ۚ بَل لَهُم مَّوْعِدٌ لَّن يَجِدُوا مِن دُونِهِ مَوْئِلًا
(QS. Al-Fath: 2)
Artinya:
“Dan Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Seandainya Dia menghukum mereka karena apa yang mereka perbuat, niscaya Dia akan mempercepat azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada janji (azab) yang tidak akan mereka temukan tempat berlindung selain-Nya.”
Jika kata “Robb” digunakan untuk selain Alloh, maka harus disertai tambahan yang menunjukkan miliknya, misalnya: Robb ad-Dar (Tuan rumah), Robb ad-Dhabah (Pemilik hewan ternak), yaitu pemilik yang mengatur dan menguasainya.
Referensi: al-Nihayah karya Ibn al-Athir (2/179), al-Mufradat karya al-Raghib al-Asfahani, dan Muqayis al-Lughah karya Ibn Faris.
Makna dalam Al-Qur’an:
Kebanyakan penggunaan kata “Robb” dalam Al-Qur’an ditujukan bagi Alloh Ta’ala, sebagian besar disertai dengan tambahan yang menjelaskan kekuasaan-Nya. Contoh:
- وَرَبُّكَ الْغَفُورُ (Al-Fath: 2) – Tuhanmu Maha Pengampun
- وَرَبُّكُمْ أَهْلَكَ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ (Maryam: 65) – Tuhanmu menguasai apa yang ada di langit dan di bumi
- وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ (Asy-Syu’ara: 26) – Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Makna tauhid rububiyah:
Sifat “Robb” bagi Alloh mencakup semua makna bahasa tersebut. Rububiyah Alloh terhadap alam semesta meliputi:
- Tashrif (pengaturan): Dia mengatur segala sesuatu dalam alam.
- Tadbir (penataan): Dia menata alam semesta dan memperbaikinya.
- Nafadz amr (menjalankan perintah): Segala sesuatu di alam terjadi dengan kehendak dan izin-Nya.
Alloh Ta’ala selalu hadir dalam setiap saat dalam mengurus alam: Dia menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, menurunkan dan meninggikan, memberi dan menahan, memuliakan dan merendahkan.
Segala sesuatu berada dalam pengaturan-Nya, dan seluruh alam tunduk pada kehendak serta kekuasaan-Nya.
Referensi: al-Sawa’iq al-Mursalah karya Ibn Qayyim al-Jauziyah (4/1223).
Konsep 2: Larangan menyebut “Robb” untuk selain Alloh
Nabi ﷺ melarang seorang hamba menyebut tuannya dengan sebutan Robb. Beliau bersabda:
لا يقل أحدكم: أطعم ربك، وارض ربك، وليقل: سيدي، ومولاي. ولا يقل أحدكم: عبدي، أمتك، وليقل: فتاي، وفتاتي، وغلَامي
(HR. Bukhari No. 2552)
Artinya:
“Jangan seorang pun di antara kalian berkata: ‘Berikan makan Tuhanku’ atau ‘Ridoi Tuhanku.’ Hendaklah ia berkata: ‘Tuan saya’ atau ‘Pemilik saya.’ Dan jangan seorang pun berkata: ‘Hamba-ku,’ tetapi hendaklah ia berkata: ‘Pelayan saya,’ ‘Gadis saya,’ atau ‘Pemuda saya.'”
Alasan larangan:
Sebab hakikat rububiyah hanya milik Alloh Ta’ala. Alloh adalah pemilik yang menguasai dan mengatur segala sesuatu, dan hakikat ini tidak ada pada makhluk selain-Nya.
Kecuali untuk benda atau hewan:
Tidaklah makruh menggunakan kata “Robb” untuk pemilik makhluk selain Alloh, seperti:
- Robb ad-Dar (Pemilik rumah)
- Robb al-Faras (Pemilik kuda)
- Robb ath-Thawb (Pemilik pakaian)
Hal ini diperbolehkan karena sifat kepemilikan dan pengaturan itu ada pada mereka secara terbatas, bukan hakikat rububiyah mutlak yang hanya bagi Alloh.
Konsep 3: Nama “Ar-Robb” termasuk salah satu pujian terbesar yang Alloh memuji diri-Nya dengannya
Nama “Ar-Robb” termasuk salah satu pujian yang agung yang Alloh U memuji diri-Nya dengannya. Alloh U memuji diri-Nya dengan nama ini dalam banyak ayat, di antaranya:
- Al-Fatihah: 2
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Alloh, Tuhan seluruh alam.”
- Maryam: 65
فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Maha Suci Alloh, Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari apa yang mereka sifatkan.”
- Al-An‘am: 164
قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ
“Katakanlah: ‘Apakah aku mencari Tuhan selain Alloh, padahal Dia adalah Tuhan segala sesuatu?’”
- An-Naml: 26
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permintaanmu.’”
Dan masih banyak ayat lain yang menyebut nama “Ar-Robb” bagi Alloh U. Semua ayat ini berada dalam konteks memuji dan mengagungkan Alloh.
41 – Konsep 4: Nama “Ar-Robb” termasuk nama yang paling sering digunakan untuk berdoa kepada Alloh
Karena Ar-Robb adalah Yang memelihara seluruh makhluk-Nya dengan pengaturan dan berbagai nikmat, serta secara khusus membimbing hamba-hamba pilihan-Nya dengan memperbaiki hati, jiwa, dan akhlak mereka, maka nama ini paling sering dipakai oleh para nabi, hamba soleh, dan wali Alloh U dalam doa mereka. Mereka banyak memulai doa mereka dengan nama agung ini, antara lain:
1. Adam dan istrinya:
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan.”
(Al-A‘raf: 23)
2. Nuh :
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا
“Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan siapa saja yang masuk ke rumahku dalam keadaan beriman.”
(Nuh: 28)
3. Musa :
رَبَّنَا افْعَلْ بِنا حَسَنًا
“Ya Tuhan kami, perbuatlah kebaikan bagi kami.”
(Al-A‘raf: 151)
4. Yusuf :
رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِن تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ
“Ya Tuhanku, Engkau telah menganugerahkan kepadaku kerajaan dan mengajarkanku penafsiran mimpi.”
(Yusuf: 33)
Selain itu, para nabi dan hamba soleh lain juga banyak menggunakan nama Ar-Robb dalam doa mereka, misalnya:
5. Zakharia :
رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu.”
(Ali ‘Imran: 38)
6. Sulaiman :
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku orang yang menegakkan salat.”
(Shad: 35)
7. Hamba soleh lainnya:
رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
“Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan rahmatilah kami.”
(Ali ‘Imran: 193)
Rosululloh ﷺ juga sering berdoa dan memuji Alloh dengan nama Ar-Robb, di antaranya:
- Dalam doa istighfar:
ألا أدلك على سيد الاستغفار؟ الله أنت ربي لا إله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك…
“Tahukah kamu doa istighfar terbaik? Katakan: Alloh, Engkau Tuhanku, tidak ada tuhan selain Engkau, Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu…”
(HR. Bukhari: 6306)
- Saat mengakhiri tidur:
اللهم رب السماوات ورب الأرض ورب العرش العظيم، ربنا ورب كل شيء
“Ya Alloh, Tuhan langit, Tuhan bumi, dan Tuhan Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu.”
(HR. Muslim: 2713)
- Dalam salat malam:
اللهم رب جبريل وميكائيل وإسرافيل
“Ya Alloh, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil.”
(HR. Muslim: 770)
- Saat menghadapi kesulitan:
لا إله إلا الله العظيم الحليم، لا إله إلا الله رب العرش العظيم، لا إله إلا الله رب السماوات والأرض ورب العرش الكريم
“Tiada tuhan selain Alloh Yang Maha Agung dan Penyantun, tiada tuhan selain Alloh Tuhan Arsy yang agung, tiada tuhan selain Alloh Tuhan langit dan bumi serta Tuhan Arsy yang mulia.”
(HR. Bukhari: 6345)
Semua ini menunjukkan bahwa nama Ar-Robb mengandung makna yang sangat agung, sehingga sangat dianjurkan untuk berdoa kepada Alloh dengan nama ini.
Konsep 5: Perjanjian (Mitsaq) yang Alloh ambil dari Bani Adam adalah Tauhid
Perjanjian yang Alloh ambil dari Bani Adam adalah apa yang Dia tanamkan dalam fitrah mereka, yaitu pengakuan bahwa Alloh adalah Tuhan mereka, Pencipta mereka, dan Penguasa mereka. Hal ini sebagaimana firman Alloh:
اَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيَاطِينَ وَأَنْ تَعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
(Al-A‘rāf: 172)
Terjemahannya:
“Bukankah Aku telah mengambil perjanjian dari kalian, wahai Bani Adam, agar kalian tidak menyembah setan dan agar kalian hanya menyembah-Ku? Ini adalah jalan yang lurus.”
Ayat ini bukan bermakna bahwa Alloh membangkitkan manusia dari tulang rusuk Adam dan menanyakan perjanjian kepada mereka—sebagaimana ada sebagian yang mengatakan—karena hikmah Alloh tidak membutuhkan suatu hal yang tidak diketahui manusia, dan kenyataan menunjukkan bahwa tidak seorang pun mengingat perjanjian itu saat lahir. Oleh karena itu, yang dimaksud adalah apa yang Alloh tanamkan dalam fitrah mereka sejak lahir: tauhid.
Rosululloh ﷺ bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
(HR. Bukhari no. 1359 dan Muslim no. 2658)
Artinya:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian orangtuanya menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Penjelasan ini sejalan dengan tafsir Al-Sa‘di terhadap ayat tersebut, bahwa perjanjian yang dimaksud adalah penanaman tauhid dalam fitrah manusia sejak lahir.
Konsep 6: Syirik dalam Rububiyyah
Sebagian besar orang musyrik mengakui Rububiyyah Alloh ﷺ dan tidak menolaknya. Alloh berfirman:
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكذِبَ أَنَّا جَمِيعًا نَجْمَعُهُمْ لِيَوْمٍ مَّلْهُودٍ
(Al-‘Ankabūt: 61)
Dengan pengakuan mereka akan Rububiyyah Alloh—bahwa Alloh adalah Pencipta dan Pengatur alam semesta—mereka justru jatuh dalam syirik dalam masalah Uluhiyyah, yaitu menyembah selain Alloh.
Namun, sebagian musyrik melakukan syirik dalam Rububiyyah sekaligus dalam Uluhiyyah. Contohnya:
- Orang Nasrani, karena mereka meyakini bahwa Isa ﷺ mengampuni dosa, menyelamatkan manusia, dan turut mengatur rezeki serta urusan hamba bersama Alloh.
- Orang Majusi, yang mengaitkan kejadian baik kepada cahaya dan kejadian buruk kepada kegelapan.
- Para penyembah bintang dan benda langit, seperti kaum Sabian, yang percaya bahwa benda-benda langit mengatur urusan dunia.
- Sebagian kaum Sufi ekstrem, yang mengklaim bahwa para wali atau roh mereka setelah wafat dapat mengatur urusan dunia dan memenuhi kebutuhan manusia, serta membuat sistem hierarki kosmik yang rumit, seperti adanya al-Ghawth (Pemimpin Agung), dua menteri, empat ‘Awtaad’, dan tujuh ‘Abdal’ di masing-masing benua. Klaim-klaim ini sama sekali tidak ada dalilnya dari Alloh dan termasuk syirik terbesar dalam Rububiyyah, yang bahkan tidak dilakukan oleh musyrik terdahulu. Ini termasuk dosa besar yang menghalangi pengampunan dan menyebabkan kekal di neraka.
- Syirik dalam Rububiyyah juga terjadi ketika seseorang menetapkan hukum selain yang diturunkan Alloh, karena hak menetapkan hukum adalah khusus milik Robb. Alloh berfirman:
وَلاَ تَحْكُمُوا إِلاَّ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ
(Al-Kahf: 26)
Artinya:
“Dan janganlah kalian menetapkan hukum kecuali dengan apa yang Alloh turunkan.”
Konsep 7: Buah-buah Tauhid Rububiyah
Iman kepada tauhid rububiyah memiliki banyak buah dan manfaat yang agung. Di antara yang terpenting:
- Mengetahui tujuan manusia diciptakan
Iman kepada tauhid rububiyah menolong manusia memahami tujuan penciptaannya serta apa yang bermanfaat dan membahayakan dirinya, karena Alloh sebagai Robb semesta alam tidak mungkin membiarkan hamba-Nya dalam kebingungan tanpa petunjuk, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.
Dalil:
﴿فَأَمَّا مَن أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِي بِهْ
﴾ [Al-Mu’minun: 115]
“Adapun orang yang diberikan kitabnya (catatan amal) di tangan kanannya, dia akan berkata: ‘Bacalah kitabku.’”
Ayat ini menegaskan bahwa Alloh memberi petunjuk dan pengetahuan yang bermanfaat bagi hamba-Nya.
- Mewujudkan tauhid Asma’ wa Sifat
Mengimani rububiyah Alloh menuntun kepada pengakuan terhadap Asma’ wa Sifat-Nya. Karena Robb adalah pasti: hidup, Maha Menegakkan, Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berkehendak, dan sebagainya pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang agung.
- Ridoi terhadap hukum dan syariat Alloh
Mengakui rububiyah Alloh berarti ridoi terhadap pembagian yang Alloh tetapkan bagi hamba-Nya dan apa yang Dia takdirkan, sehingga secara otomatis juga ridoi terhadap syariat dan perintah-Nya, serta meninggalkan apa yang dilarang.
- Mencintai Alloh, bersyukur, dan menghormati-Nya
Manusia secara fitrah mencintai yang memberi kebaikan dan rizki kepada mereka. Hal ini menumbuhkan cinta kepada Alloh, mencintai apa yang Alloh cintai dan membenci apa yang Dia benci, berlomba-lomba dalam mencari ridoi-Nya, menghormati, memuliakan, bersyukur, dan memuji-Nya.
- Bertawakkal kepada Alloh dalam segala urusan
Barangsiapa yakin bahwa Alloh adalah Maha Pemberi rizki dan Maha Mengatur, serta mampu atas segala sesuatu, hatinya akan dipenuhi tawakkal kepada-Nya dalam semua urusan.
- Berserah diri dan memohon pertolongan Alloh saat menghadapi kesulitan
Barangsiapa memahami bahwa hanya Alloh yang mengatur urusan, memberi manfaat dan bahaya, serta melapangkan kesulitan dan memenuhi kebutuhan, maka ia akan senantiasa berdoa dan berserah diri hanya kepada-Nya.
45 – Konsep 8: Menunjukkan Tauhid Uluhiyah dari Tauhid Rububiyah
Salah satu konsekuensi terbesar dari tauhid rububiyah adalah sebagai dalil bagi tauhid uluhiyah. Robb yang menciptakan langit, bumi, dan seluruh isinya, yang berkuasa sepenuhnya atas pengaturan dan pengelolaan makhluk, adalah satu-satunya yang berhak disembah dan tidak boleh disekutukan dengan yang lain.
Alloh menegaskan hal ini dalam beberapa ayat, di antaranya:
- QS. An-Naml: 59-60
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Apakah orang-orang kafir tidak memperhatikan bahwa langit dan bumi itu dahulu menyatu, lalu Kami pisahkan keduanya, dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup? Maka mengapa mereka tidak beriman?”
- QS. Al-A’raf: 191-192
Ayat ini menegaskan bahwa hanya Alloh yang berhak disembah setelah mengakui rububiyah-Nya, dan menegaskan penolakan terhadap syirik.
Contoh lain ayat yang menunjukkan tauhid uluhiyah dari rububiyah terdapat dalam:
- QS. Al-Baqarah: 21-22
- QS. An-Nahl: 17
- QS. Al-Mu’minun: 88-90
- QS. Az-Zumar: 38
Semua ayat ini menunjukkan bahwa pengakuan terhadap rububiyah Alloh menjadi dasar untuk mengesakan-Nya dalam ibadah, menolak segala bentuk syirik, dan menegaskan bahwa hanya Dia yang layak disembah.
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami