KONSEP-KONSEP DALAM AQIDAH / BAGIAN-2(Oleh: Tim Redaksi HASMI)

KONSEP-KONSEP DALAM AQIDAH (BAGIAN-2)

Oleh: Tim Redaksi HASMI

Kedua: Konsep-Konsep Umum tentang Iman kepada Alloh Ta‘ala

Konsep 1: Makna Iman kepada Alloh Ta‘ala

Iman kepada Alloh Ta‘ala mencakup empat hal:

  1. Iman kepada keberadaan Alloh Ta‘ala.
  2. Iman kepada rububiyah Alloh Ta‘ala (bahwa Dialah satu-satunya Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta).
  3. Iman kepada uluhiyah Alloh Ta‘ala (bahwa hanya Dia yang berhak disembah tanpa sekutu).
  4. Iman kepada al-Asmā’ al-Ḥusnā dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi.

Seluruh hal ini terangkum dalam ucapan kita:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ

“Tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Alloh.”

Konsep 2: Kewajiban Pertama atas Mukallaf

Iman kepada Alloh Ta‘ala dengan makna di atas merupakan kewajiban pertama atas seorang mukallaf menurut Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Hal ini sesuai dengan fitrah yang telah Alloh tanamkan pada diri manusia.

Meskipun iman kepada Alloh itu fitri, sebagian ahli kalam –seperti Mu‘tazilah, Jahmiyyah, dan sebagian Asy‘ariyyah– berpendapat bahwa kewajiban pertama atas seorang mukallaf adalah melakukan nadzar (penelitian) dan istidlāl (pembuktian rasional). Sebagian mereka bahkan beranggapan bahwa kewajiban pertama adalah ragu (syak) agar seseorang terdorong untuk melakukan penelitian. Ada pula yang mengatakan bahwa tujuan iman hanyalah sampai pada pengetahuan tentang terjadinya alam (ḥudūts al-‘ālam) dan keberadaan Sang Pencipta.

Semua pendapat ini batil, karena ma‘rifatullah (mengenal Alloh) dan iman kepada-Nya telah tertanam dalam fitrah manusia, dan yang wajib adalah mewujudkan iman tersebut dalam realitas, tanpa harus disyaratkan dengan istidlāl. Sebab, banyak dari kalangan awam yang tidak memahami metode istidlāl filosofis, namun mereka tetap beriman kepada Alloh dengan fitrah yang lurus.

Alloh Ta‘ala berfirman:

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

“(Itulah) fitrah Alloh yang telah Dia ciptakan manusia di atasnya. Tidak ada perubahan pada ciptaan Alloh.” (QS. ar-Rūm [30]: 30)

Rosululloh ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali ia lahir di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhārī no. 1358, Muslim no. 2658)

Konsep 3: Iman kepada Keberadaan Alloh Ta‘ala

Mayoritas besar manusia sejak dahulu mengakui adanya Tuhan bagi alam semesta. Namun, banyak di antara mereka yang terjatuh dalam kesyirikan, dengan menjadikan tuhan lebih dari satu, lalu menyekutukan Alloh dengan sesembahan lain yang batil.

Adapun tauhid kepada Alloh Ta‘ala hanya diajarkan dan ditegakkan oleh para nabi, rasul, serta pengikut setia mereka.

Sedangkan orang yang benar-benar menolak adanya Tuhan sama sekali hanyalah sedikit sepanjang sejarah. Jumlah mereka baru banyak di era modern ini, dan dikenal dengan sebutan atheis –kebanyakan berasal dari kalangan komunis pengikut Karl Marx.

Selain itu ada pula kelompok yang tidak menolak, tetapi juga tidak menetapkan keberadaan Tuhan. Mereka berkata: “Saya tidak tahu apakah Tuhan ada atau tidak.” Mereka disebut agnostik (dari kata: “lā adrī” = saya tidak tahu). Menurut mereka, sekalipun Tuhan ada, keberadaan-Nya tidak ada hubungannya dengan kehidupan manusia.

Iman kepada keberadaan Alloh dan pengesaan-Nya dapat diketahui melalui tiga jalan utama:

  1. Dalil ‘Aqli (Akal)

Siapa pun yang memperhatikan keteraturan alam semesta dengan segala sistem yang sangat rapi, ia akan sadar bahwa tidak mungkin semua ini terjadi secara kebetulan. Kesempurnaan ciptaan menunjukkan adanya Sang Pencipta, yang mengatur alam semesta. Dialah satu-satunya Robb dan Ilah yang berhak disembah.

Alloh Ta‘ala berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 190)

  1. Dalil Naqli (Wahyu)

Al-Qur’an yang agung, dengan berbagai mukjizatnya dalam bidang bahasa, ilmu pengetahuan, hukum, serta berita-berita ghaib, menunjukkan dengan pasti bahwa ia berasal dari Alloh. Kitab ini penuh dengan ajakan untuk beriman kepada Alloh dan mentauhidkan-Nya.

Alloh Ta‘ala berfirman:

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِۦ وَٱدْعُوا۟ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَـٰدِقِينَ • فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟ وَلَن تَفْعَلُوا۟ فَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَـٰفِرِينَ

“Jika kalian ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Alloh, jika kalian orang-orang yang benar. Tetapi jika kalian tidak mampu membuatnya –dan pasti kalian tidak akan mampu– maka takutlah kalian akan neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah [2]: 23-24)

  1. Dalil Hissi (Indrawi)

Yaitu berbagai mukjizat yang Alloh berikan kepada para nabi-Nya yang berada di luar kemampuan manusia. Misalnya, doa para nabi dan wali Alloh yang langsung dikabulkan seketika.

Sebagaimana ketika Rosululloh ﷺ berdoa meminta hujan, lalu Alloh menurunkan hujan seketika itu juga.

Alloh berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. al-Baqarah [2]: 186)

Konsep 4: Tauhid Alloh Ta‘ala terbagi dari dua sisi

Tauhid Alloh Ta‘ala dapat dilihat dari dua sisi:

  • Sisi pertama: mengesakan Alloh Ta‘ala dalam perbuatan dan sifat-Nya. Perbuatan Alloh ﷻ tidak ada seorang pun dari makhluk yang menyekutui-Nya. Ini disebut Tauhid Rububiyah. Begitu pula sifat-sifat-Nya tidak menyerupai sifat makhluk sedikit pun. Ini disebut Tauhid Asma’ wa Shifat.
    Maka sisi ini mencakup dua jenis tauhid: Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma’ wa Shifat. Ia juga dikenal dengan nama Tauhid Ilmi I‘tiqadi, atau Tauhid Ilmi Nazhari, atau Tauhid al-Ma‘rifah wa al-Itsbat.
  • Sisi kedua: mengesakan Alloh dengan perbuatan hamba; yakni mengesakan tujuan, maksud, dan ibadah mereka hanya kepada Alloh ﷻ Sisi ini mencakup Tauhid Uluhiyah, dan juga disebut dengan Tauhid al-Qashd wa ath-Thalab, atau Tauhid ‘Amali.

Konsep 5: Pembagian Tauhid

Berdasarkan konsep di atas, para ulama membagi tauhid ke dalam tiga bagian utama:

  1. Tauhid Rububiyah – mengesakan Alloh ﷻ dalam perbuatan-Nya.
  2. Tauhid Uluhiyah – mengesakan Alloh ﷻ dalam perbuatan hamba (ibadah hanya kepada-Nya).
  3. Tauhid Asma’ wa Shifat – menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Alloh ﷻ sebagaimana layak bagi-Nya tanpa tahrif (mengubah), ta‘thil (meniadakan), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).

Konsep 6: Dakwah kepada Tauhid

Dakwah kepada tauhid adalah dakwah untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan, perbudakan, dan ketundukan kepada selain Alloh, menuju ibadah hanya kepada Alloh semata, dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada-Nya, serta berlepas diri dari segala yang disembah selain-Nya.

Sehingga mereka tidak mengarahkan ibadahnya kepada selain Alloh, dan tidak pula hanya beribadah secara lisan dan ritual saja tanpa mengarahkan hati kepada-Nya ﷻ, serta menerima syariat-Nya dengan penuh ketundukan. Tetapi yang dimaksud adalah mereka mengesakan Alloh dengan lisan, dengan ibadah ritual, dengan hati, dan dengan ketaatan total terhadap hukum-hukum-Nya.

Hal ini sesuai dengan firman Alloh Ta‘ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُواْ ٱلطَّاغُوتَ

Artinya: “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Alloh saja, dan jauhilah thaghut (segala yang disembah selain Alloh)’.” (QS. An-Nahl: 36)

Konsep 7: Dalam Tauhid ada Kebebasan Sejati

Dalam tauhid terdapat kebebasan dari selain Alloh. Tidak ada seorang manusia pun yang benar-benar merdeka apabila ia masih tunduk kepada selain Alloh, baik dalam dirinya, dalam perjalanan hidupnya, ataupun dalam nilai-nilai, hukum, dan aturan yang mengatur kehidupannya.

Tidak akan ada kebebasan sejati jika di dalam hati manusia masih ada ketundukan, keterikatan, ketergantungan, atau penghambaan kepada selain Alloh. Oleh sebab itu, tauhid adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan hakiki manusia di dunia ini.

Tauhid menolak segala bentuk syirik dan meniadakan banyaknya sesembahan. Tauhid juga menghancurkan ketaatan buta kepada adat, tradisi, atau hukum-hukum yang bertentangan dengan apa yang Alloh turunkan.

Mafhum 8: Dalam Tauhid Terjadi Perubahan dari Kekacauan Menuju Keteraturan

Iman kepada Alloh dan mentauhidkan-Nya adalah titik perubahan dalam kehidupan manusia dari perbudakan kepada berbagai kekuatan, benda, dan pertimbangan duniawi menuju perbudakan hanya kepada Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Esa.

Perbudakan ini mengangkat jiwa manusia di atas segala sesuatu dan segala pertimbangan duniawi, lalu memindahkannya dari kekacauan, kebingungan, dan keterpecahan menuju keteraturan, kesatuan tujuan, serta keteguhan arah hidup. Sebab tanpa tauhid, manusia tidak akan mengenal tujuan hidup yang lurus dan konsisten, tidak akan memiliki titik pusat yang menjadi poros kehidupannya, tempat ia berkumpul dalam kesungguhan dan kesetaraan—sebagaimana seluruh wujud dan makhluk alam semesta tunduk serta teratur dengan berserah diri kepada kehendak Alloh Yang Maha Perkasa, sesuai dengan hukum dan sunnah-Nya yang pasti berlaku.

Alloh Ta‘ala berfirman:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Sekiranya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Alloh, niscaya rusaklah keduanya. Maka Mahasuci Alloh, Tuhan Pemilik ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.” (Qs. Al-Anbiya [21]: 22)

Kalimat «لا إله إلا الله» adalah manhaj (sistem) hidup yang menyeluruh, mencakup aspek keyakinan, aspek ibadah, dan aspek perilaku praktis dalam kehidupan seorang hamba. Hati tidak akan tenang dan tenteram kecuali dengan tauhid, sebab ia menyadari bahwa tidak ada yang layak dicintai karena dirinya sendiri kecuali Alloh, dan tidak ada tujuan yang layak dikehendaki karena dirinya sendiri kecuali Alloh.

Adapun segala sesuatu yang dicintai dan dikehendaki selain Alloh, maka ia haruslah mengikuti cinta dan kehendak Alloh. Maka pada hakikatnya, semua perkara kembali kepada Alloh Ta‘ala.

Sebagaimana firman-Nya:

وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنتَهَىٰ

“Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan segala sesuatu.”(QS. An-Najm [53]: 42)

Maka tiada tujuan akhir yang lebih tinggi setelah Alloh; tidak ada sesuatu pun yang dicari sebagai puncak tujuan kecuali Dia semata.

Mafhum 9: Kalimat «لا إله إلا الله» dan Maknanya

Kalimat «لا إله إلا الله» adalah manhaj hidup yang sempurna. Ia mencakup aspek keyakinan, aspek ibadah, dan aspek perilaku praktis dalam kehidupan seorang hamba.

Ia merupakan kalimat yang paling agung yang diturunkan dari sisi Alloh, sebab di dalamnya terkandung seluruh agama yang dibawa oleh para rasul yang datang dari Alloh Ta‘ala.

Ia adalah hakikat terbesar yang dengannya manusia terbagi menjadi mukmin dan kafir, baik dan buruk. Ia adalah kesaksian atas keesaan Alloh serta penafian terhadap segala bentuk kesyirikan.

Sebagaimana firman Alloh Ta‘ala:

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَ ۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُل لَّا أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ

“Katakanlah: ‘Siapakah yang lebih besar persaksiannya?’ Katakanlah: ‘Alloh. Dia menjadi saksi antara aku dan kalian. Dan diwahyukan kepadaku Al-Qur’an ini agar aku memberi peringatan kepadamu dengannya dan juga kepada orang yang sampai (kepadanya). Apakah benar-benar kalian bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Alloh?’ Katakanlah: ‘Aku tidak bersaksi.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya Dia hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.’”
(QS. Al-An`am [6]: 19)

Konsep 10: Jalan-jalan yang Mengantarkan kepada Ilmu bahwa: “Lā ilāha illā Allāh”

Alloh Ta‘ālā berfirman:

 فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Artinya: “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh.” (QS. Muhammad: 19)

Mengetahui makna kalimat yang agung ini — lā ilāha illā Alloh — memiliki jalan dan sarana yang banyak. Di antara yang paling penting adalah:

  1. Merenungi nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya yang menunjukkan kesempurnaan dan keagungan-Nya. Hal itu akan membuahkan penghambaan yang baik serta ibadah yang ikhlas kepada Alloh, Dzat yang memiliki segala pujian, kemuliaan, keagungan, dan keindahan.
  2. Mengetahui rubūbiyah Alloh dan bahwa Dia satu-satunya yang mencipta dan mengatur. Kesadaran ini menumbuhkan keyakinan bahwa hanya Dia yang berhak disembah.
  3. Meyakini bahwa Alloh adalah pemberi segala nikmat baik nikmat agama maupun nikmat dunia, yang tampak maupun yang tersembunyi. Hal itu membuahkan keterikatan hati kepada-Nya dan menumbuhkan kecintaan yang tulus kepada-Nya.
  4. Mengetahui sifat-sifat berhala dan tandingan selain Alloh, bahwa semuanya itu serba kurang dari segala sisi, fakir pada hakikatnya, tidak memiliki manfaat maupun mudarat bagi dirinya ataupun bagi penyembahnya, tidak memiliki kekuasaan untuk mematikan, menghidupkan, atau membangkitkan kembali. Kesadaran ini menumbuhkan keyakinan akan kebenaran kalimat lā ilāha illā Allāh serta kebatilan segala sesuatu selainnya.
  5. Senantiasa merenungi Kitab Alloh (Al-Qur’an), karena di dalamnya terdapat dalil-dalil yang sempurna yang menegaskan keesaan Alloh dan keharusan mengesakan-Nya dalam ibadah.
  6. Merenungi petunjuk para rasul dan nabi yang semuanya menyerukan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Alloh dengan ikhlas.
  7. Merenungi ayat-ayat Alloh yang terlihat pada diri manusia dan di alam semesta, karena semuanya itu menunjukkan tauhid dengan sejelas-jelasnya, bersaksi atas keesaan Sang Pencipta dan keindahan ciptaan-Nya di alam raya.

Maka, setiap jalan dari jalan-jalan ini dapat mengantarkan seseorang kepada ilmu dan keyakinan bahwa: “Lā ilāha illā Allāh.” Bagaimana pula jika seluruh jalan ini berkumpul dan saling menguatkan? Tentu pada saat itulah iman akan berakar kuat di dalam hati seorang hamba, dan ia benar-benar memahami makna kalimat tauhid ini.

Konsep 11: Kemurnian, Ketelitian, dan Kebersihan Tauhid

Tauhid adalah perkara yang paling murni, paling halus, dan paling bersih. Karena itu, sedikit saja sesuatu yang mengotorinya akan memberi bekas padanya dan menghilangkan keindahannya. Akan tetapi, ada di antara manusia yang tauhidnya besar dan agung, sehingga berbagai hal yang bisa mengusiknya—baik berupa kata-kata, pandangan sekilas, atau syahwat yang tersembunyi—larut di dalamnya, sebagaimana air yang sangat banyak tidak dapat tercemari oleh sedikit kotoran.

Maka orang yang memiliki tauhid lemah terkadang terpedaya ketika melihat orang yang bertauhid kuat tidak terpengaruh oleh gangguan kecil itu. Padahal, bila gangguan yang sama menimpa dirinya, ia akan mendapati tauhidnya rusak dan tergores dengan pengaruh yang sangat besar.

Orang yang memiliki tauhid murni akan segera sadar terhadap apa pun yang menodai tauhidnya—meski sangat kecil—lalu ia segera mengobatinya dan kembali darinya. Itulah keadaan para sahabat dan generasi salafus shalih setelah mereka. Tentang mereka pernah dikatakan:

«إن القوم قلَّت ذنوبهم فعرفوا من أين أُتوا»

“Sesungguhnya kaum itu (para sahabat) sedikit dosanya, maka mereka mengetahui dari arah mana mereka terkena (kesalahan).”

Contoh paling jelas adalah Umar bin Khattab rodiyallohu ‘anhu. Ia pernah menentang Perjanjian Hudaibiyah dan berulang kali mendebat Nabi ﷺ dalam masalah itu. Tetapi tidak lama kemudian ia menyesal dengan penyesalan yang sangat mendalam. Sejak saat itu ia banyak bersedekah, berpuasa, salat, dan memerdekakan budak sebagai bentuk kekhawatiran dan penebusan atas tindakannya itu.

Sementara orang yang imannya lemah dan tauhidnya rapuh, ia tidak sampai pada kesadaran seperti ini, sehingga tidak segera kembali dari perbuatan yang mencederai tauhidnya.

Begitu pula, orang yang memiliki tauhid yang kuat dan amal kebaikan yang banyak, sering kali Alloh maafkan kekeliruan kecilnya; sesuatu yang mungkin tidak dimaafkan bagi orang yang tauhidnya lemah dan amalnya sedikit.

Maka hendaknya setiap orang menjaga tauhidnya dari segala hal yang bisa mengotorinya, hingga ia meraih buah terbesar dari tauhid: selamat dari neraka dan memperoleh surga.

Konsep 12: Barangsiapa Mengutamakan Dunia, Rusaklah Niatnya dan Menyelisihi Tuntutan Tauhid

Sungguh sangat disayangkan bahwa ada sebagian orang yang mewarisi ilmu para salaf dan meyakini akidah mereka secara teoritis. Namun, ketika hatinya lebih condong kepada dunia dan ia lebih mengutamakan perhiasan serta gemerlapnya, hal itu justru mengeluarkannya dari warisan itu dan menyeretnya kepada kesesatan dalam pemikiran serta penyimpangan dalam perilaku—baik ia menyadarinya atau tidak.

Ketika ia mengkritik para penganut akidah bid‘ah atas kebid‘ahan mereka, ternyata setan menjerumuskannya dalam bentuk bid‘ah lain: berupa loyalitas kepada ahli kebatilan, meremehkan kebatilan mereka, hingga ia menjadi tangga dan pijakan bagi para penguasa zalim dan ahli hawa nafsu untuk meninggikan diri mereka.

Setiap orang yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat dari kalangan ahli ilmu, pasti akan tergelincir pada ucapan yang tidak benar tentang Alloh dalam fatwa dan hukum-hukumnya. Sebab hukum Alloh Ta‘ala sering kali datang bertentangan dengan keinginan manusia, terutama para pemimpin dan pembesar yang tujuan mereka tidak tercapai kecuali dengan menolak kebenaran dan menyingkirkannya. Maka cinta dunia akan menjerumuskan siapa saja yang terfitnah dengannya—meski ia seorang alim—untuk menolak kebenaran, menutupinya, atau mendistorsi maknanya demi menyenangkan para penguasa dan pemilik hawa nafsu, serta karena takut kehilangan bagian dunia yang ia cintai.

Alloh Ta‘ala berfirman tentang Bani Israil:

فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا۟ ٱلۡكِتَـٰبَ يَأۡخُذُونَ عَرَضَ هَـٰذَا ٱلۡأَدۡنَىٰ وَيَقُولُونَ سَيُغۡفَرُ لَنَا وَإِن يَأۡتِهِمۡ عَرَضٞ مِّثۡلُهُۥ يَأۡخُذُوهُۚ أَلَمۡ يُؤۡخَذۡ عَلَيۡهِم مِّيثَـٰقُ ٱلۡكِتَـٰبِ أَلَّا يَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّ وَدَرَسُوا۟ مَا فِيهِۗ وَٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ

Terjemahannya:

“Kemudian datanglah setelah mereka generasi yang mewarisi Kitab (Taurat). Mereka mengambil keuntungan dunia yang rendah ini, seraya berkata: ‘Kami pasti akan diampuni.’ Dan apabila datang kepada mereka keuntungan serupa itu, mereka pun mengambilnya lagi. Bukankah sudah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab agar mereka tidak mengatakan terhadap Alloh kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang ada di dalamnya? Dan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?” (QS. Al-A‘rāf: 169)

Ibnul Qayyim rahimahullāh menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan bagaimana cinta dunia dapat menyeret ahli ilmu untuk menjual agamanya, menutupi kebenaran, dan mengatakan sesuatu atas nama Alloh tanpa ilmu, demi memperoleh kepentingan duniawi. (Lihat: al-Fawā’id, hlm. 100–101).

Konsep ke-13: Syarat-Syarat untuk Dapat Mengambil Manfaat dari Kalimat Tauhid «لا إله إلا الله»

Kalimat tauhid «لا إله إلا الله» adalah syarat pertama dan sebab utama untuk masuk surga. Rosululloh ﷺ bersabda:

147 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ النَّضْرِ بْنِ أَبِى النَّضْرِ قَالَ حَدَّثَنِى أَبُو النَّضْرِ هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ الأَشْجَعِىُّ عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى مَسِيرٍ – قَالَ – فَنَفِدَتْ أَزْوَادُ الْقَوْمِ قَالَ حَتَّى هَمَّ بِنَحْرِ بَعْضِ حَمَائِلِهِمْ – قَالَ – فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ جَمَعْتَ مَا بَقِىَ مِنْ أَزْوَادِ الْقَوْمِ فَدَعَوْتَ اللَّهَ عَلَيْهَا. قَالَ فَفَعَلَ – قَالَ – فَجَاءَ ذُو الْبُرِّ بِبُرِّهِ وَذُو التَّمْرِ بِتَمْرِهِ – قَالَ وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَذُو النَّوَاةِ بِنَوَاهُ – قُلْتُ وَمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ بِالنَّوَى قَالَ كَانُوا يَمُصُّونَهُ وَيَشْرَبُونَ عَلَيْهِ الْمَاءَ. قَالَ فَدَعَا عَلَيْهَا – قَالَ – حَتَّى مَلأَ الْقَوْمُ أَزْوِدَتَهُمْ – قَالَ – فَقَالَ عِنْدَ ذَلِكَ « أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ ». رواه مسلم

«أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، لا يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرُ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلا دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Alloh, dan aku adalah utusan Alloh. Tidaklah seorang hamba menemui Alloh dengan keduanya tanpa ada keraguan padanya, melainkan ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim, no. 27).

Namun, kalimat ini tidak akan bermanfaat tanpa dipenuhi syarat-syaratnya. Dikisahkan, ada yang bertanya kepada Wahb bin Munabbih:

“Bukankah kunci surga adalah «لا إله إلا الله»?”

Beliau menjawab: “Benar, tetapi tidak ada kunci kecuali memiliki gigi-gigi. Maka siapa yang datang ke pintu dengan gigi-giginya, pintu itu akan terbuka baginya. Tetapi siapa yang tidak datang dengannya, maka tidak akan terbuka baginya.”

Gigi-gigi kunci itu adalah syarat-syarat dari kalimat tauhid ini, yaitu:

  1. Ilmu (mengetahui makna «لا إله إلا الله»), lawan dari kebodohan.

Alloh Ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Alloh.” (QS. Muhammad: 19).

Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Barangsiapa meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Alloh, maka ia masuk surga.” (HR. Muslim, no. 26).

  1. Yakin, lawan dari keraguan.

Alloh berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Ḥujurāt: 15).

Rosululloh ﷺ bersabda kepada Abu Hurairah ra.:

156 – حَدَّثَنِى زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ الْحَنَفِىُّ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ حَدَّثَنِى أَبُو كَثِيرٍ قَالَ حَدَّثَنِى أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ كُنَّا قُعُودًا حَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَعَنَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فِى نَفَرٍ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِنَا فَأَبْطَأَ عَلَيْنَا وَخَشِينَا أَنْ يُقْتَطَعَ دُونَنَا وَفَزِعْنَا فَقُمْنَا فَكُنْتُ أَوَّلَ مَنْ فَزِعَ فَخَرَجْتُ أَبْتَغِى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى أَتَيْتُ حَائِطًا لِلأَنْصَارِ لِبَنِى النَّجَّارِ فَدُرْتُ بِهِ هَلْ أَجِدُ لَهُ بَابًا فَلَمْ أَجِدْ فَإِذَا رَبِيعٌ يَدْخُلُ فِى جَوْفِ حَائِطٍ مِنْ بِئْرٍ خَارِجَةٍ – وَالرَّبِيعُ الْجَدْوَلُ – فَاحْتَفَزْتُ كَمَا يَحْتَفِزُ الثَّعْلَبُ فَدَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « أَبُو هُرَيْرَةَ ». فَقُلْتُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « مَا شَأْنُكَ ». قُلْتُ كُنْتَ بَيْنَ أَظْهُرِنَا فَقُمْتَ فَأَبْطَأْتَ عَلَيْنَا فَخَشِينَا أَنْ تُقْتَطَعَ دُونَنَا فَفَزِعْنَا فَكُنْتُ أَوَّلَ مَنْ فَزِعَ فَأَتَيْتُ هَذَا الْحَائِطَ فَاحْتَفَزْتُ كَمَا يَحْتَفِزُ الثَّعْلَبُ وَهَؤُلاَءِ النَّاسُ وَرَائِى فَقَالَ « يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ». وَأَعْطَانِى نَعْلَيْهِ قَالَ « اذْهَبْ بِنَعْلَىَّ هَاتَيْنِ فَمَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ » فَكَانَ أَوَّلَ مَنْ لَقِيتُ عُمَرُ فَقَالَ مَا هَاتَانِ النَّعْلاَنِ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ. فَقُلْتُ هَاتَانِ نَعْلاَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعَثَنِى بِهِمَا مَنْ لَقِيتُ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ بَشَّرْتُهُ بِالْجَنَّةِ. فَضَرَبَ عُمَرُ بِيَدِهِ بَيْنَ ثَدْيَىَّ فَخَرَرْتُ لاِسْتِى فَقَالَ ارْجِعْ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ فَرَجَعْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَجْهَشْتُ بُكَاءً وَرَكِبَنِى عُمَرُ فَإِذَا هُوَ عَلَى أَثَرِى فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا لَكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ». قُلْتُ لَقِيتُ عُمَرَ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِى بَعَثْتَنِى بِهِ فَضَرَبَ بَيْنَ ثَدْيَىَّ ضَرْبَةً خَرَرْتُ لاِسْتِى قَالَ ارْجِعْ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَا عُمَرُ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا فَعَلْتَ ». قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى أَبَعَثْتَ أَبَا هُرَيْرَةَ بِنَعْلَيْكَ مَنْ لَقِىَ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ بَشَّرَهُ بِالْجَنَّةِ. قَالَ « نَعَمْ ». قَالَ فَلاَ تَفْعَلْ فَإِنِّى أَخْشَى أَنْ يَتَّكِلَ النَّاسُ عَلَيْهَا فَخَلِّهِمْ يَعْمَلُونَ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَخَلِّهِمْ ». رواه مسلم

«مَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ»

“Barangsiapa yang engkau temui di balik tembok ini, bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh dengan penuh keyakinan dalam hatinya, maka sampaikanlah kabar gembira surga untuknya.” (HR. Muslim, no. 31).

Sedangkan orang yang ragu adalah ciri orang munafik. Alloh berfirman:

إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ

“Sesungguhnya yang meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan hari akhir, dan hati mereka penuh keraguan; maka mereka senantiasa bimbang dalam keraguannya itu.” (QS. At-Tawbah: 45).

  1. Penerimaan (qabul), lawan dari penolakan dan kesombongan.

Orang kafir menolak kalimat ini dan berkata:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Ṣād: 5).

Mereka pun menyombongkan diri dari menerimanya. Alloh berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya dahulu mereka apabila dikatakan kepada mereka: ‘Tiada tuhan yang berhak disembah selain Alloh,’ mereka menyombongkan diri.” (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 35).

  1. Tunduk dan patuh (inqiyād), lawan dari menolak.

Islam adalah tunduk sepenuhnya kepada Alloh dan perintah-Nya. Alloh berfirman:

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ

“Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 54).

Alloh juga berfirman:

وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ

“Barangsiapa menyerahkan dirinya kepada Alloh sedang ia berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqmān: 22).

Buhul tali yang kokoh itu adalah kalimat tauhid. Sempurnanya ketundukan adalah mendahulukan apa yang Alloh cintai meski bertentangan dengan hawa nafsu, dan membenci apa yang Alloh benci meski hawa nafsu condong kepadanya.

  1. Jujur (ṣidq), lawan dari dusta.

Orang yang benar dalam mengucapkan «لا إله إلا الله» adalah yang lisannya sesuai dengan hatinya. Sedangkan dusta adalah mengucapkannya hanya untuk menipu Alloh dan orang beriman, sebagaimana sifat orang munafik. Alloh berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ • يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ • فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

“Di antara manusia ada yang berkata: ‘Kami beriman kepada Alloh dan hari akhir,’ padahal mereka itu sebenarnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Alloh dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Alloh tambahkan penyakitnya.” (QS. Al-Baqarah: 8-10).

Rosululloh ﷺ bersabda:

128 – حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ قَالَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُعاذٌ رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحْلِ قَالَ يَا مُعَاذَ بْنَ (مُعَاذُ بْنَ ) جَبَلٍ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ قَالَ يَا مُعَاذُ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ ثَلَاثًا قَالَ مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا أُخْبِرُ بِهِ النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوا قَالَ إِذًا يَتَّكِلُوا (يَنْكُلُوا) وَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَثُّمًا رواه البخاري

«مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ، إِلا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ»

“Tidaklah seorang pun bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh dan aku adalah utusan Alloh dengan jujur dari hatinya, kecuali Alloh haramkan dia dari neraka.” (HR. Bukhari, no. 128; Muslim, no. 32).

  1. Ikhlas, lawan dari syirik dan riya.

Ikhlas adalah memurnikan niat hanya untuk Alloh semata, tidak ada tujuan lain selain mencari ridoi-Nya. Alloh berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Alloh dengan ikhlas menjalankan agama untuk-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لا إِلَهَ إِلا اللهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ»

“Sesungguhnya Alloh mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan «لا إله إلا الله» dengan mengharap wajah Alloh semata.” (HR. Bukhari, no. 425; Muslim, no. 33).

  1. Cinta (maḥabbah).

Yaitu mencintai kalimat ini, makna yang dikandungnya, orang-orang yang berpegang teguh padanya, serta membenci hal-hal yang bertentangan dengannya. Alloh berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman, sangat besar cintanya kepada Alloh.” (QS. Al-Baqarah: 165).

Konsep ke-14: Husnul Khātimah bagi Orang yang Menutup Ucapannya dengan Kalimat Tauhid

Rosululloh ﷺ bersabda:

3118 – حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمِسْمَعِىُّ حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنِى صَالِحُ بْنُ أَبِى عَرِيبٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ ». رواه أبو داود

قال الألباني : صحيح.

22127 – حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ صَالِحِ بْنِ أَبِي عَرِيبٍ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ، عَنْ مُعَاذٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ” (2) رواه احمد

(2) حديث صحيح، وهذا إسناد حسن، صالح بن أبي عريب روى عنه جمع، وذكره ابن حبان في “الثقات”.

وأخرجه أبو داود (3116) ، والبزار في “مسنده” (2626) ، والشاشي في “مسنده” (1372) و (1373) ، والطبراني في “الكبير” 20/ (221) ، وفي “الدعاء” (1471) ، والحاكم 1/351 و500-501 من طريق أبي عاصم الضحاك بن مخلد، بهذا الإسناد.

وانظر ما سلف برقم (21998) .

21998 – حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، حَدَّثَنَا يُونُسُ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ هِلَالٍ، عَنْ هِصَّانَ بْنِ الْكَاهِلِ، قَالَ: دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ الْجَامِعَ بِالْبَصْرَةِ، فَجَلَسْتُ إِلَى شَيْخٍ، أَبْيَضِ الرَّأْسِ وَاللِّحْيَةِ، فَقَالَ: حَدَّثَنِي مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ” مَا مِنْ نَفْسٍ تَمُوتُ وَهِيَ تَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، يَرْجِعُ ذَاكَ إِلَى قَلْبٍ مُوقِنٍ، إِلَّا غَفَرَ اللهُ لَهَا ” قُلْتُ لَهُ: أَنْتَ سَمِعْتَهُ مِنْ مُعَاذٍ؟ فَكَأَنَّ الْقَوْمَ عَنَّفُونِي، قَالَ: لَا تُعَنِّفُوهُ، وَلَا تُؤَنِّبُوهُ، دَعُوهُ، نَعَمْ أَنَا سَمِعْتُ ذَاكَ مِنْ مُعَاذٍ، يُذَبِّرُهُ (1) عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ إِسْمَاعِيلُ، مَرَّةً: يَأْثُرُهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: قُلْتُ لِبَعْضِهِمْ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: هَذَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَمُرَةَ، (2)

(2) حديث صحيح، وهذا إسناد حسن، هصان بن الكاهل، ويقال: ابن الكاهن بالنون، روى عنه اثنان، وذكره ابن حبان في “الثقات”، وقال الذهبي في “الكاشف”: ثقة. وقد توبع. إسماعيل: هو ابن عُلية، ويونس: هو ابن عبيد.

وأخرجه الطبراني في “الكبير” 20/ (72) ، وفي “الدعاء” (1467) عن عبد الله بن أحمد بن حنبل، عن أبيه، بهذا الإسناد.

وأخرجه البزار في “مسنده” (2621) ، والنسائي في “عمل اليوم والليلة” (1136) ، وابن خزيمة في “التوحيد” 2/792-793، والمزي في ترجمة هصان ابن الكاهن من “تهذيب الكمال” 20/291 من طريق إسماعيل بن علية، به. =

= وأخرجه الحميدي (370) ، وابن ماجه (3796) ، والطبراني في “الكبير” 20/ (72) ، وفي “الدعاء” (1467) من طرق عن يونس بن عبيد، به.

وأخرجه البزار (2623) من طريق سهل بن أسلم العدوي، والشاشي في “مسنده” (1336) و (1337) ، والطبراني في “الكبير” 20/ (71) ، وفي “الدعاء” (1466) من طريق أيوب بن أبي تميمة السختياني، كلاهما عن حميد بن هلال، به.

وأخرجه الحاكم 3/247 من طريق موسى بن جبير، عن أبي أمامة بن سهل بن حُنيف، عن نفر، عن معاذ. وذكر فيه قصة أخرى.

وانظر الأحاديث الثلاثة التالية.

وسيأتي من طريق أنس بن مالك بالأرقام (22003) و (22009) و (22083) و (22091) .

وسيأتي من طريق كثير بن مرة (22034) و (22127) .

وسيأتي من طريق جابر بن عبد الله عمن شهد معاذاً حين حضرته الوفاة برقم (22060) .

وسيأتي بنحوه من طريق شهر بن حوشب (22102) .

وانظر ما سلف برقم (21991) .

وفي الباب عن عبد الله بن عمرو سلف برقم (6586) .

وعن أبي هريرة سلف برقم (9466) . وانظر تتمة الشواهد عندهما.

«مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيَا لا إِلَهَ إِلا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Barangsiapa yang akhir perkataannya di dunia ini adalah «لا إله إلا الله», maka ia masuk surga.” (HR. Abu Dawud, no. 3116; al-Ḥākim, 1/351, 500. Dishahihkan olehnya dan disepakati oleh adz-Dzahabi).

Rahasia dari hal ini – wallohu a‘lam – adalah bahwa kesaksian «لا إله إلا الله» di saat sakaratul maut memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menghapus dosa-dosa dan menghapuskan kesalahan. Sebab ia adalah persaksian seorang hamba yang penuh keyakinan, memahami maknanya, ketika syahwat telah sirna, jiwa yang tadinya memberontak menjadi lembut, hati yang dulu berpaling kini kembali, dan rasa rakus pada dunia telah keluar darinya.

Ia menyerahkan diri kepada Robb dan Penciptanya dalam keadaan paling hina, penuh harap akan ampunan-Nya. Maka kalimat tauhid itu menjadi penutup amalnya yang ikhlas karena Alloh, menyucikan dirinya dari dosa-dosa, dan memasukkannya ke hadapan Alloh dalam keadaan lahirnya sesuai dengan batinnya, rahasianya sesuai dengan yang tampak. (Ibnul Qayyim, al-Fawāid, hlm. 55).

Konsep ke-15: Makna Nama Alloh (الواحد) dan (الأحد) serta Perbedaan Keduanya

Di antara nama-nama Alloh al-Ḥusnā adalah al-Wāḥid (ٱلْوَاحِدُ) dan al-Aḥad (ٱلْأَحَدُ). Keduanya disebutkan dalam al-Qur’an dan sunnah. Nama al-Wāḥid disebutkan dalam al-Qur’an lebih dari dua puluh kali, di antaranya firman Alloh Ta‘ālā:

قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Katakanlah: Alloh adalah Pencipta segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. ar-Ra‘d [13]: 16)

Adapun nama al-Aḥad hanya disebutkan dalam satu tempat, yaitu dalam firman Alloh Ta‘ālā:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah: Dialah Alloh Yang Maha Esa.” (QS. al-Ikhlāṣ [112]: 1)

Kedua nama agung ini menunjukkan keesaan Alloh Ta‘ālā, namun ada perbedaan di antara keduanya sebagai berikut:

  1. Dalam bentuk penafian (nfy):
    Nama al-Aḥad lebih umum daripada al-Wāḥid. Jika dikatakan: “Mā fī al-dār wāḥid (ما في الدار واحد)” — “Tidak ada satu pun di rumah,” maka bisa jadi maksudnya bahwa di sana ada lebih dari satu (yakni dua atau lebih). Tetapi jika dikatakan: “Mā fī al-dār aḥad (ما في الدار أحد)” — “Tidak ada seorang pun di rumah,” maka ini menafikan adanya seluruh jenis makhluk sama sekali.
  2. Dalam bentuk penetapan (itsbāt):
    Nama al-Aḥad tidak boleh disifati kepada selain Alloh. Tidak boleh dikatakan: “Rajulun aḥad (رجل أحد)” atau “Ṯawbun aḥad (ثوب أحد)”. Sementara kata wāḥid bisa digunakan untuk selain Alloh, misalnya: “Rajulun wāḥid (رجل واحد)” — “Seorang laki-laki,” atau “Ṯawbun wāḥid (ثوب واحد)” — “Sebuah kain.”

Kesimpulannya: Alloh al-Wāḥid al-Aḥad adalah Dzat yang Maha Tunggal dalam rubūbiyah dan ulūhiyah-Nya. Nama al-Aḥad secara khusus menegaskan penafian adanya sekutu atau serikat apa pun bagi Alloh.

Check Also

KITA MILIK ALLOH (Oleh: Supendi, S.Sy.)

KITA MILIK ALLOH (Oleh: Supendi, S.Sy.) KHUTBAH PERTAMA إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot
situs slot