RENUNGAN ATAS FIRMAN ALLAH TA’ALA
Oleh: Tim Redaksi HASMI
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلًاءً حَسَنًا
Kita sedang berhadapan dengan sebuah surah yang sangat badriyyah (yakni terkait dengan Perang Badar), yaitu Surah al-Anfal. Namun surah ini tidak hanya sekadar mengisahkan Badar, melainkan menjadikannya sebagai model untuk masa depan Islam dan masa depan hubungan antara orang-orang beriman dengan Rabb mereka secara umum.
Ayat mulia ini menjelaskan bahwa Allah ﷻ mampu menaruh kekuatan-Nya pada diri sebagian orang, sehingga kehendak-Nya terwujud melalui mereka. Dalam hal ini, orang-orang tersebut hanyalah sebab-sebab sementara sampai tujuan Allah tercapai. Maka tampaklah pada sebagian orang tanda-tanda yang luar biasa dan tidak biasa secara manusiawi. Orang lain kagum melihatnya, bahkan dirinya sendiri pun merasa heran, karena menyadari apa yang ia lakukan jauh melampaui kemampuan, potensi, bahkan bayangannya sendiri. Ada orang yang membuat rencana hidupnya dengan sederhana, namun setelah bertahun-tahun, ia mendapati hal-hal besar yang tidak pernah terlintas sedikit pun dalam mimpinya, dan itu semua terjadi atas kehendak Allah.
Allah ﷻ berfirman:
فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
[al-Anfal: 17]
Sebuah Model yang Bisa Berulang
Ayat ini mengembalikan kita kepada Perang Badar sebagai model bagi para pejuang kebenaran sepanjang zaman.
فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَـكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ
Secara logika manusia, mustahil sekitar 300 orang yang bahkan tidak siap tempur bisa mengalahkan 1000 pasukan Quraisy yang lengkap senjata dan perlengkapannya. Semua perhitungan mengatakan kemenangan berada di pihak mereka. Bahkan di barisan kaum Muslimin sendiri ada sebagian yang enggan menghadapi pertempuran, karena awalnya mereka keluar bukan untuk perang, melainkan untuk menghadang kafilah dagang Quraisy.
Namun tiba-tiba keadaan berubah. Abu Sufyan berhasil mengubah arah kafilah dan lolos, lalu Abu Jahl segera memimpin pasukan Quraisy untuk memaksa perang di medan yang bahkan tidak menguntungkan kaum Muslimin.
Tetapi di situlah terjadi sebuah peristiwa luar biasa: kaum Muslimin yang lemah itu justru mampu mengalahkan musuh, bahkan membunuh para pemimpin Quraisy dan menawan sebagian lainnya. Sebuah kemenangan besar yang mengejutkan mereka sendiri, mengejutkan Quraisy, dan menjadi berita menggetarkan seluruh jazirah Arab. Itu adalah tanda kebesaran Allah dalam pertarungan antara kekuatan iman dan kekuatan kufur.
Dan kemenangan itu bukanlah hanya untuk masa lalu. Itu adalah model yang bisa berulang di setiap zaman dan tempat. Maka, jika Allah menganugerahkan kepadamu kemampuan di luar kebiasaan, jangan pernah berkata: “Saya yang melakukannya, saya yang berhasil”, tanpa menyebut nama Allah. Ingatlah, itu semua hanya terjadi dengan pertolongan Allah.
Allah berfirman: فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَـكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ. Itu bukan hanya berlaku di Badar, tapi juga setelahnya: bukan kamu yang mengalahkan mereka, melainkan Allah. Karena mereka berusaha memadamkan cahaya kebenaran dan menyiksa orang-orang beriman, maka Allah tidak akan membiarkan mereka menang.
Namun ada syaratnya: kalian harus melawan, berani, memohon pertolongan Allah, dan bersabar. Jangan lari, jangan menyerah. Allah telah berfirman:
- وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [Ali ‘Imran: 123].
- وَلاَ تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لاَ يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا [an-Nisa’: 104].
- قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ [at-Taubah: 14].
Masa Depan Islam
Surah al-Anfal adalah surah badriyyah yang menjadikan Badar sebagai titik awal bagi masa depan Islam. Surah ini membentuk pola hubungan baru antara orang beriman dengan Rabb mereka, sekaligus menjadi surah dasar dalam membangun pribadi Muslim yang dipilih Allah untuk menyempurnakan agama dan nikmat-Nya bagi umat manusia.
Kaum Muslimin saat itu telah mengalami kekerasan luar biasa hanya karena memilih keyakinan yang benar. Justru karena penderitaan itu, sifat kemanusiaan dalam diri mereka semakin kokoh. Rasulullah ﷺ pun menanamkan nilai-nilai kemanusiaan itu dalam jiwa mereka. Beliau bersabda:
“Barangsiapa mengarahkan senjata besi kepada saudaranya, maka para malaikat akan melaknatnya hingga ia berhenti, meskipun ia adalah saudaranya seayah seibu.” [HR. Muslim].
Maka, seorang Muslim sejati adalah puncak penyempurnaan dari anak-anak Adam. Itulah sebabnya Islam adalah agama universal, cocok untuk seluruh manusia.
Firman Allah ﷻ:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا
[al-Maidah: 3]
adalah seruan terbuka bagi semua manusia. Sebab, seluruh ajaran yang pernah diturunkan sebelumnya telah berhimpun dalam kitab terakhir, yaitu al-Qur’an, yang Allah sebut sebagai kitab yang sempurna, tanpa ada kesempurnaan sebelumnya dan sesudahnya.
Rasulullah ﷺ juga tidak terpisah dari para nabi sebelumnya, justru beliau adalah kelanjutan dari mereka. Allah berfirman:
أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ
[al-An‘am: 90].
Karena beliau adalah penyempurna perjalanan agama Allah sejak Nabi Adam hingga akhirnya Allah meridhai Islam sebagai agama yang sempurna dengan turunnya al-Qur’an.
Tanpa al-Qur’an, agama itu masih belum sempurna. Tanpa beriman kepada al-Qur’an, iman seseorang juga tidak sempurna. Bahkan seorang Muslim pun tidak sempurna imannya jika tidak beriman pada kitab-kitab Allah sebelumnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan diriku dengan para nabi sebelumku adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah, ia memperindah dan menyempurnakannya, hanya saja ada satu bata yang belum terpasang di salah satu sudutnya. Lalu orang-orang mengelilinginya, mereka kagum dan berkata: ‘Andai saja bata ini diletakkan.’ Maka akulah bata itu, dan aku adalah penutup para nabi.” [HR. Bukhari-Muslim].
Maka, sebagaimana al-Qur’an adalah kitab yang terpilih, dan Rasulullah ﷺ adalah nabi yang terpilih, maka orang yang beriman kepada risalah ini, mengikuti ajarannya, dan berpegang pada syariatnya, adalah manusia pilihan Allah.
Dengan itu ia mencapai kesempurnaan kemanusiaan dalam akhlak, kebaikan, keadilan, ketakwaan, dan kebaikan universal. Islam adalah risalah yang Allah jadikan relevan untuk setiap manusia, di setiap zaman, di setiap tempat. Tidak ada satu pun manusia yang tidak bisa mengambil manfaat darinya, dan tidak ada yang lebih pantas baginya selain Islam.
Rembusan Allah ﷻ
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـكِنَّ اللَّهَ رَمَى
[al-Anfāl: 17]
“Bukan engkau yang melempar (wahai Muhammad), ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.”
Maksudnya: Bukan tanganmu, wahai Muhammad, yang melempar, melainkan tangan Allah yang melempar melalui tanganmu. Itu terjadi sebagai jawaban Allah ﷻ terhadap doa Rasul-Nya ﷺ ketika beliau merasa bersama para sahabat dalam kondisi sangat sempit, bahkan dalam bahaya besar yang bisa membinasakan mereka semua.
Peristiwa itu merupakan sesuatu yang melampaui kemampuan manusia, tetapi sepenuhnya sesuai dengan kekuasaan Allah ﷻ yang Maha Mampu atas segala sesuatu.
Secara logika manusia, segenggam debu tidak mungkin bisa menakut-nakuti sebuah pasukan besar dan menyebabkan mereka kalah di medan perang. Andaikan orang-orang musyrik mempertimbangkan hal itu, niscaya mereka tidak akan datang berperang sejak awal; sebab itu berarti seorang lelaki bisa mengalahkan mereka hanya dengan segenggam debu. Hal ini tidak pernah terlintas dalam pikiran siapa pun, termasuk Rasulullah ﷺ sendiri. Karena itu, beliau memohon jalan keluar dari kesulitan, lalu Allah menjawab doanya, membimbing beliau kepada sesuatu yang sederhana, mudah, dan ada di depan mata. Maka terjadilah lemparan Allah ﷻ melalui tangan Rasul-Nya ﷺ.
Diriwayatkan: Ketika pasukan Quraisy muncul, Rasulullah ﷺ berkata:
“Ini Quraisy telah datang dengan kesombongan dan kebanggaannya, mendustakan utusan-Mu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”
Lalu datanglah Jibril عليه السلام dan berkata:
“Ambillah segenggam tanah, lalu lemparkanlah kepada mereka.”
Ketika kedua pasukan bertemu, Rasulullah ﷺ berkata kepada Ali رضي الله عنه:
“Berikan aku segenggam kerikil dari lembah ini.”
Lalu beliau melemparkan tanah itu ke wajah mereka sambil berkata:
“Semoga wajah-wajah itu buruk!”
Maka tidak ada seorang musyrik pun yang tidak terkena tanah di matanya, sehingga mereka kacau dan akhirnya kalah.
Kemenangan itu terjadi bukan karena kekuatan kaum muslimin, melainkan karena pertolongan Allah ﷻ.
“Dan ketahuilah wahai Muhammad, engkau tidaklah melempar segenggam tanah ke mata mereka ketika engkau melemparnya, tetapi Allah-lah yang melempar. Maka apa yang terjadi melalui lemparan itu, bukan karena lemparanmu, tetapi karena lemparan Allah.”
Ayat ini juga tetap berlaku sepanjang zaman: siapa pun yang memohon pertolongan Allah dalam menghadapi sesuatu yang di luar kemampuannya, niscaya Allah akan menolongnya dan membantunya dengan sebab-sebab yang dikehendaki-Nya.
Allah ﷻ berfirman:
وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلاءً حَسَنًا
[al-Anfāl: 17]
“Dan agar Allah memberikan cobaan yang baik (kemenangan) kepada orang-orang beriman.”
Maksudnya: tujuan Allah menolong orang-orang beriman adalah untuk memberikan kemenangan yang indah. Allah ﷻ menutup ayat ini dengan firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Artinya: doa siapa pun yang meminta pertolongan kepada Allah akan didengar oleh-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari ilmu-Nya.
Allah Melemahkan Tipu Daya Orang Kafir
Allah ﷻ berfirman:
ذَلِكُمْ وَأَنَّ اللّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَ
[al-Anfāl: 18]
“Itulah (ketetapan Allah), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang kafir.”
Ayat ini adalah kabar gembira bahwa Allah ﷻ adalah Dzat yang melemahkan konspirasi orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman.
Sehebat apa pun kekuatan, kekuasaan, dan pengaruh orang kafir, Allah telah menjadikan pada dasarnya penuh kelemahan. Dan sekalipun orang beriman tampak lemah, Allah telah menjadikan di dalamnya kekuatan.
Maka kelemahan yang disertai iman justru menjadi kekuatan, dan kekuatan yang disertai kekufuran justru menjadi kelemahan.
﴿ذَلِكُمْ﴾, yakni kemenangan yang Allah berikan kepada kalian meskipun kalian lemah, dan kekalahan yang Allah timpakan kepada orang kafir meskipun mereka kuat—semua itu datang dari Allah.
Peristiwa ini adalah contoh nyata yang mereka saksikan di medan Badar, dan hal itu bisa berulang kapan saja terhadap siapa pun, baik mukmin maupun kafir, terutama jika orang kafir berusaha menindas atau mengalahkan orang beriman.
Allah Menjadikan Itu Sebagai Kabar Gembira
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلاَّ بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلاَّ مِنْ عِندِ اللّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
[al-Anfāl: 10]
“Dan Allah tidak menjadikannya (pertolongan itu) melainkan sebagai kabar gembira, dan agar hati kalian merasa tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Allah ﷻ menjadikan turunnya bantuan sebagai bushra (kabar gembira) bagi kaum muslimin. Kabar gembira ini meningkatkan semangat dan keyakinan mereka, serta membuat mereka lebih percaya diri menatap masa depan Islam.
Kata ﴿بُشْرَى﴾ sendiri dipilih dengan sangat tepat. Bushra biasanya digunakan untuk kabar menyenangkan tentang sesuatu yang sudah terjadi tanpa sepengetahuanmu, lalu ada orang yang datang menyampaikan kabar gembira itu kepadamu.
Dengan demikian, bushra adalah kabar tentang sesuatu yang bernilai dan menggembirakan, yang menandai sebuah peristiwa penting yang mengubah jalan hidup seseorang.
Perhatikan pula keindahan susunan ayat:
وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلاَّ بُشْرَى
Jika dihilangkan kata وَمَا dan إِلاَّ, maka kalimat hanya berbunyi: “Allah menjadikannya sebagai kabar gembira.” Kalimat itu terdengar datar dan terbatas. Tetapi dengan gaya bahasa Qur’an, kalimat menjadi lebih kokoh, lebih hidup, dan penuh makna: “Allah tidak menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira.”
Tujuan dari kabar gembira itu adalah:
وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ
“agar hati kalian menjadi tenteram.”
Karena manusia merasa tenang ketika diberi kabar gembira tentang sesuatu yang ia harapkan.
Lalu Allah ﷻ menegaskan:
وَمَا النَّصْرُ إِلاَّ مِنْ عِندِ اللَّهِ
“Dan kemenangan itu tidak lain hanyalah dari sisi Allah.”
Ini adalah kaidah umum, berlaku sepanjang zaman, baik di level individu maupun kelompok. Siapa pun yang layak mendapatkan kemenangan—dengan persiapan, kesungguhan, dan pengambilan sebab-sebab yang benar—akan ditolong Allah, walaupun ia kafir. Sebaliknya, orang beriman yang lalai, berpecah-belah, sombong, atau enggan mengambil sebab-sebab kemenangan, bisa saja dikalahkan dan mengalami kehancuran besar.
Maka, firman Allah ini adalah peringatan agar kaum muslimin selalu siap, bersatu, dan mengambil sebab-sebab kemenangan, agar pantas mendapat pertolongan Allah.
Allah menutup ayat ini dengan:
إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Mahabenar Allah yang Mahaagung, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami