PEREMPUAN DALAM PUSARAN HIJRAH DAN PENEGAKAN RISALAH (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

PEREMPUAN DALAM PUSARAN HIJRAH DAN PENEGAKAN RISALAH

Oleh: Tim Redaksi HASMI

Ketika wahyu pertama turun, perempuanlah yang pertama kali mengetahui risalah ini. Ia menjadi tempat tenang bagi suaminya, orang yang dipilih Allah untuk membawa risalah terakhir dan mengatur seluruh aspek kehidupan. Dialah yang menenangkan hati Nabi ﷺ dan memberi kabar gembira bahwa Allah pasti akan menolongnya dan tidak akan meninggalkannya. Bahkan, perempuan pertama juga tercatat sebagai syahidah pertama dalam Islam.

Kata “hijrah” secara bahasa berarti meninggalkan atau melepaskan sesuatu. Dalam makna syar’i, hijrah adalah meninggalkan apa yang dilarang Allah—seperti disebut dalam hadis Nabi—sehingga hijrah menjadi makna yang tidak terbatas oleh waktu dan tempat. Namun, yang dimaksud dengan hijrah Nabi adalah meninggalkan tanah kelahiran, berpisah dari kampung halaman, menuju tempat lain demi mencari ridha Allah, meskipun hati manusia sangat terikat dengan tanah air dan lingkungannya. Para sahabat meninggalkan harta dan rumah mereka di Mekkah. Meski penuh rintangan, hijrah adalah perintah Allah yang wajib ditaati, sekalipun harus menanggung kesulitan berat.

Hijrah: Titik Balik Sejarah

Hijrah menjadi peristiwa yang menentukan lahirnya negara Islam di Madinah. Di sana, masyarakat Islam berdiri di atas landasan persatuan, cinta, saling menolong, persaudaraan, kebebasan, kesetaraan, dan perlindungan hak. Hanya dalam waktu sepuluh tahun, sebagian besar Jazirah Arab bersatu dalam Islam. Tidak lama kemudian, Islam meluas dari India di timur hingga Samudera Atlantik di barat. Masyarakat hidup di bawah naungan syariat yang adil dan membangun peradaban gemilang yang berpengaruh berabad-abad dalam bidang hukum, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan sains alam.

Perempuan memainkan peran penting dalam peristiwa besar ini. Mereka yang pertama kali menyambut risalah, yang menemani suami mereka dalam suka dan duka, yang ikut berhijrah meskipun penuh bahaya. Ada yang rela meninggalkan keluarga dan kampung halaman, menempuh jalan sunyi tanpa bekal, menghadapi lapar, haus, dan ancaman maut—namun tetap ridha demi Allah. Mereka tidak mengeluh, tidak berkata: “Bagaimana aku meninggalkan orang tua, saudara, dan lingkungan yang aman demi masa depan yang tak pasti?” Justru mereka rela berkorban, menjual kenyamanan diri demi kebahagiaan suami dan demi menegakkan agama. Itulah buah dari iman yang mengakar di hati, akhlak yang mulia, dan tradisi Arab yang luhur berupa kesetiaan, muru’ah, serta semangat saling menolong.

Hijrah perempuan terus berlanjut hingga Allah menurunkan ayat:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan mukmin yang berhijrah, maka ujilah mereka…” (QS. Al-Mumtahanah: 10)

Ayat-ayat tentang hijrah turun sejak peristiwa itu terjadi hingga tahun 8 H, ketika Nabi ﷺ mengumumkan berhentinya kewajiban hijrah setelah Fathu Makkah, seraya bersabda:

“Tidak ada hijrah setelah penaklukan, yang ada hanyalah jihad dan niat. Jika kalian diminta berangkat (berperang), maka berangkatlah.” (HR. Bukhari, no. 3077)

Dengan demikian, perempuan menorehkan nama mereka dengan tinta emas dalam sejarah Islam. Berikut beberapa tokoh perempuan yang tercatat dalam peristiwa hijrah:

1. Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ – Perempuan pertama yang hijrah ke Habasyah

Ruqayyah r.a. berhijrah bersama suaminya, Utsman bin Affan r.a., ke Habasyah. Ia sangat merindukan Mekkah, namun tetap sabar. Setelah kembali ke Mekkah, ia ikut berhijrah ke Madinah bersama suaminya. Nabi ﷺ bersabda tentang keduanya:

“Semoga Allah menyertai mereka berdua. Sesungguhnya Utsman adalah orang pertama yang berhijrah bersama keluarganya setelah Nabi Luth a.s.” (Usud al-Ghabah, 6/115)

2. Laila binti Abi Hutsmah – Perempuan pertama yang hijrah ke Madinah

Ketika Nabi ﷺ memberi izin berhijrah ke Madinah, Laila binti Abi Hutsmah r.a. bersama suaminya, Amir bin Rabi’ah r.a., menjadi kelompok pertama yang hijrah. Ia dikenal sebagai zhai’nah (perempuan yang ikut bepergian dengan suami). Hijrahnya bukan sekadar pindah tempat, melainkan ikut membangun fondasi Islam di Madinah.

3. Ummu Kultsum binti Uqbah – Hijrah meski ditahan keluarganya

Ummu Kultsum r.a. masuk Islam di Mekkah dan ikut berbaiat kepada Nabi ﷺ. Namun keluarganya menahannya agar tidak berhijrah. Ia bersabar hingga Allah memberinya jalan keluar, lalu berhijrah ke Madinah meskipun penuh tantangan.

4. Nusaybah binti Ka‘b – Ummu ‘Ammarah

Ia termasuk yang pertama berbaiat dalam Bai‘at Aqabah Kedua, yang menjadi pintu hijrah. Nusaybah r.a. kelak dikenal sebagai pejuang tangguh dalam peperangan.

5. Asma’ binti ‘Amr – Ummu Mani‘

Ibu dari sahabat Mu‘adz bin Jabal r.a. Ia termasuk tokoh perempuan Anshar yang bijak, berakal, dan berani. Ia ikut serta dalam Bai‘at Aqabah Kedua dan turut berjuang dalam Perang Khaibar.

6. Asma’ binti ‘Umais

Istri Ja‘far bin Abi Thalib r.a., berhijrah ke Habasyah, hidup dalam keterasingan dan kesulitan jauh dari keluarga. Ia kemudian ikut hijrah kedua dari Habasyah ke Madinah.

7. Raqiqah binti Shaifi bin Hashim – Penyelamat Nabi ﷺ dari makar Quraisy

Seorang perempuan tua yang hampir berusia seratus tahun. Ia yang pertama membawa kabar kepada Nabi ﷺ tentang rencana Quraisy membunuh beliau di Darun Nadwah. Karena usianya, ia bisa lolos dari kecurigaan orang Quraisy. Berkat informasi ini, Nabi ﷺ selamat dan hijrah bisa terlaksana. Dengan itu, ia turut menjadi bagian dari peristiwa terbesar dalam sejarah Islam.

Dari peran-peran inilah kita melihat bahwa hijrah bukan hanya kisah kaum laki-laki, tetapi juga bukti pengorbanan, keberanian, dan iman para perempuan yang ikut menegakkan pondasi Islam sejak awal.

Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma

Dialah wanita pertama yang menjalankan peran penting dalam penyediaan logistik dan perbekalan saat hijrah. Pada hari hijrah, Asma’ r.a. memiliki peristiwa yang sangat berkesan. Ia membawa bekal makanan untuk Nabi ﷺ dan ayahnya ketika keduanya bersembunyi di Gua Tsur. Ia bahkan mendapat gangguan dari Abu Jahl yang menampar wajahnya hingga antingnya terlepas dari telinganya.

Asma’ mendapat julukan Dzat an-Nithaqayn (pemilik dua ikat pinggang), karena ia membelah ikat pinggangnya menjadi dua: satu untuk mengikat perbekalan makanan Nabi ﷺ dan Abu Bakar, dan satu lagi ia gunakan untuk dirinya. Nabi ﷺ kemudian bersabda kepadanya: “Allah akan menggantimu dengan dua ikat pinggang dari surga.” (Tarikh Dimasyq, Ibn ‘Asakir, 69/6). Dengan peristiwa itu, Asma’ mengabadikan namanya dalam sejarah dengan julukan mulia tersebut.

Ummu Salamah, Hind binti Abi Umayyah al-Mughirah radhiyallahu ‘anha

Ia termasuk wanita yang paling banyak mengalami penderitaan saat hijrah. Ia sempat dipisahkan dari suaminya, kemudian juga dari anaknya. Hingga akhirnya ia dilepaskan untuk hijrah seorang diri. Ibn Hisyam meriwayatkan dalam Sirah-nya:

“Ketika Abu Salamah bertekad untuk hijrah ke Madinah, ia menyiapkan unta untuk istrinya dan membawa serta anaknya, Salamah. Namun, orang-orang dari Bani Mughirah menghadangnya. Mereka berkata kepada Abu Salamah: ‘Engkau boleh pergi sendiri, tetapi istrimu tetap bersama kami.’ Lalu mereka merebut unta yang dikendarai Ummu Salamah dan menahannya. Abu Salamah pun berangkat sendirian ke Madinah. Ummu Salamah setiap hari keluar ke Abtah, duduk menangis merindukan keluarganya selama setahun lamanya. Hingga salah seorang dari kerabatnya merasa iba, lalu berbicara dengan keluarganya, hingga akhirnya mereka mengembalikan anaknya kepadanya dan membiarkannya pergi. Ia pun berangkat menuju Madinah hanya bersama anaknya, tanpa ditemani seorang pun dari makhluk Allah.”

Kisah ini menunjukkan betapa besar tekad seorang wanita dalam berhijrah demi agamanya, bahkan ketika harus melakukannya seorang diri di padang pasir luas hanya karena ingin bersama suaminya dan menjaga imannya.

‘Atikah binti Khalid al-Khuza‘iyyah, Ummu Ma‘bad radhiyallahu ‘anha

Dialah wanita pertama yang memberikan gambaran tentang Nabi ﷺ ketika beliau singgah di kemahnya saat hijrah. Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan pembantu Abu Bakar, ‘Amir bin Fuhairah, melewati kemah Ummu Ma‘bad. Mereka ingin membeli kurma darinya, tetapi ia tidak memiliki apa-apa saat itu. Nabi ﷺ melihat seekor kambing kurus di sudut kemah, lalu meminta izin untuk memerahnya. Setelah menyebut nama Allah, beliau mengusap kambing itu hingga mengeluarkan susu yang banyak. Nabi ﷺ meminumkannya kepada Ummu Ma‘bad hingga puas, kemudian kepada para sahabatnya, dan beliau sendiri minum terakhir. Susu itu pun masih tersisa untuk ditinggalkan di rumah Ummu Ma‘bad.

Ketika suaminya datang, ia terkejut melihat susu. Ummu Ma‘bad pun menceritakan bahwa ada seorang lelaki mulia yang singgah dan memerah kambingnya. Ia lalu menggambarkan sosok Nabi ﷺ dengan sangat detail. Mendengar itu, Abu Ma‘bad berkata: “Demi Allah, itu pasti sosok yang terkenal di Mekah, Muhammad. Andai aku menemukannya, aku akan mengikutinya.”

Barakah, Ummu Ayman radhiyallahu ‘anha

Pengasuh Nabi ﷺ sejak kecil ini juga berhijrah seorang diri dari Mekah ke Madinah. Ia berjalan kaki menempuh perjalanan panjang melewati padang pasir tandus. Saat kehausan dan bekalnya habis, Allah memuliakannya dengan sebuah karamah: sebuah timba turun dari langit, dan ia meminum air darinya. Ia terus melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di Madinah dengan selamat.

Laila binti al-Khatim radhiyallahu ‘anha

Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, kaum Anshar berbondong-bondong membaiat beliau. Laila binti al-Khatim adalah wanita pertama yang membaiat Rasulullah ﷺ setelah hijrah.

Fatimah binti Qais al-Fihriyyah radhiyallahu ‘anha

Ia termasuk wanita pertama yang hijrah. Memiliki kecerdasan, kecantikan, dan keteguhan akal. Ia meriwayatkan sejumlah hadis Nabi ﷺ. Rumahnya pernah dijadikan tempat berkumpul para sahabat dalam musyawarah setelah wafatnya Umar bin Khattab r.a.

Ummu Ayyub al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha

Istri dari Abu Ayyub al-Anshari, yang rumahnya dipilih Nabi ﷺ untuk tinggal pertama kali di Madinah. Ketika kaum Anshar berebut ingin menjamu beliau, Nabi ﷺ bersabda: “Biarkan unta ini berjalan, karena ia diperintah (oleh Allah).” Hingga akhirnya unta itu berhenti di depan rumah Abu Ayyub. Ummu Ayyub sebagai pemilik rumah berperan besar dalam menyambut tamu agung ini dengan penuh keramahan, menunjukkan betapa rumah muslimah Anshar benar-benar menjadi tempat yang penuh penghormatan bagi Nabi ﷺ.

Penutup

Inilah sekilas kisah sebagian sahabiyah yang memiliki peran agung dalam peristiwa hijrah Nabi ﷺ dari Mekah ke Madinah. Kisah-kisah ini menunjukkan betapa besar kontribusi wanita muslimah dalam menolong agama Allah dan mendukung dakwah Nabi-Nya.

Check Also

KUMPUL KEBO DALAM TIMBANGAN (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

KUMPUL KEBO DALAM TIMBANGAN Oleh: Tim Redaksi HASMI Kerugian besar jika suatu sistem dibangun tanpa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot
situs slot