MUNAFIK PARA PELECEH SAHABAT رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
Oleh: Dr. Rahendra Maya, S.Th.I., M.Pd.I.
Dalam suatu pertemuan (majlis) saat perang Tabuk, seorang munafik dengan sangat fasih, lantang dan tanpa tedeng aling-aling namun membuktikan kepalsuan imannya selama ini, berkata tentang para sahabat ﷺ dengan ucapan kotor dan lisan gegabahnya:
“Kami tidak pernah menjumpai orang-orang seperti para qori kami ini (maksudnya para sahabat); (1) perutnya berbalut kerakusan; (2) lisannya berlumur kedustaan; dan (3) tatkala bertemu musuh malah berselimut ketakutan.”
Mendengar nada penghinaan dan ucapan pelecehan tersebut, sontak seorang sahabat mulia menjawab, “Kamulah yang berdusta, karena kamu adalah munafik. Saya benar-benar akan melaporkan ucapanmu tersebut kepada Rosululloh.”
Ketika dilaporkan, dengan tergopoh, si munafik tersebut sontak meminta maaf kepada Rosululloh ﷺ yang sedang menaiki onta seraya berucap,
“Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”
Mendengar kepalsuan pengakuan dan kedustaan alasan, Rosululloh ﷺ segera menjawab, “Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kalian selalu berolok-olok?” (Atsar shahih diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu abi Hatim, Abi asy-Syaikh dan lainnya. Tercantum pula dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Jarir dan as-Suyuthi)
A. Realitas dari Petunjuk Ilahi
Selain bercermin dari atsar shahih tersebut, kegemaran orang-orang munafik yang hobi mengolok-olok, menghina dan melecehkan Alloh ﷻ, Rosul-Nya ﷺ para sahabat, dan agama Islam, telah banyak diwarnai dan diingatkan Alloh ﷻ dalam al-Qur’an, hingga banyak ulama mengategorikan kegemaran munafik tersebut sebagai karakter pribadi (khasha’ish dzatiyyah) mereka yang selalu melekat.
Alloh ﷻ berfirman: “Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kalian sebagaimana orang-orang itu (sahabat) telah beriman.’ Mereka menjawab: ‘Akan berimankah Kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?’.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. at-Baqarah [2]: 13–14)
“Dan sungguh Alloh telah menurunkan kekuatan kepada kalian di dalam al-Qur’an bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Alloh diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kalian duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kalian berbuat demikian), tentulah kalian serupa dengan mereka. Sesungguhnya Alloh akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. an-Nisa’ [4]: 140)
“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekan kalian (terhadap Alloh dan Rosul-Nya).”
Sesungguhnya Alloh akan menyatakan apa yang kalian takuti itu. Dan jika kalian tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kalian selalu berolok-olok?” Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kalian (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. at-Taubah [9]: 79)
“(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Alloh akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih.” (QS. at-Taubah [9]: 64–66)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya yang semisal.
B. Tipologi Pelecehan
Sifat melecehkan, termasuk terhadap para sahabat ﷺ dan juga kepada seluruh kaum Muslimin hingga akhir zaman, tidak hanya telah menjadi karakter pribadi (khashaa’ish dzatiyyah) saja, namun juga memiliki banyak ragam dan tipologi bentuk pelecehan. Berdasarkan penelusuran terhadap ayat-ayat al-Qur’an, tipologi pelecehan tersebut ditengarai memiliki beberapa bentuk dan ragam, yaitu:
- Mendambakan mudharat dan kesengsaraan menimpa kaum Muslimin, dan bila tidak, munafik akan menampakkan penyesalan mendalam (tamannii adh-dharar wa al-masyaqqah li al-Mu’miniin wa at-tahas-sur idza lam yajidu sabilan li at-tasyyaffi).
- Membenci kaum Muslimin (karaahah al-Mu’miniin).
- Berduka manakala melihat kaum Muslimin beroleh kebajikan, seperti kemenangan, dan bersuka cita ketika kaum Muslimin ditimpa keburukan (al-huzn li ma yushibu al-Muslimiin min al-khair wa al-farah li ma yasu’uhum). (Point lihat: QS. Ali ‘Imran [3]: 118–200)
- Melecehkan, ber-makar ria dan selalu menginvestigasi kelemahan kaum Mukminin (takhdziil al-Mu’miniin wa al-kaid lahum wa at-tarabbush bihim). (Lihat: QS. Ali ‘Imran [3]: 173)
- Memecah belah kaum Mukminin, selalu memata-matai dan menyebarkan citra negatif kepada mereka (at-tafriiq baina al-Mu’miniin wa at-tajassus ‘alaihim, nasyru al-isyaa’at wa al-araa’ijif). (Lihat: QS. al-Ahzab [33]: 13; al-Anfal [8]: 49; Ali ‘Imran [3]: 173; at-Taubah [9]: 107–108)
- Menestapakan kaum Mukminin, gemar menuduh mereka dan selalu melempar isu negatif tanpa bukti (idzaa’ al-Mu’miniin wa ilshaq at-tuham bihim wa qadzfuhum bi laa daliil). (Lihat: QS. an-Nur [24]: 11–19; al-Ahzab [33]: 57)
Demikianlah kegemaran dan hobi buruk kaum munafikin terhadap para sahabat ﷺ dan kaum Muslimin. Karenanya, waspada dan berhati-hatilah wahai kaum Muslimin. Deteksi dan siaga dari “musuh dalam selimut” yang ibarat “api dalam sekam”, yang gemar “menggantung dalam lipatan” dan “menjejal awan seiring”. Mereka sangat berbahaya…!!!
Sumber : Materi Majalah INTISARI HASMI Vol. 0007 Rubrik Munafiqun Sepanjang Zaman
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami