KEBANGKITAN SEJATI, ITTIBA’ KEPADA NABI ﷺ
Oleh: Dr. Muhammad Sarbini, M.H.I.
Alloh ﷻ berfirman: “Turunlah kalian berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang kepada kalian petunjuk-Ku, siapapun yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha [20]: 123)
Ayat ini menggambarkan pesan Alloh ﷻ di gerbang surga kepada Adam ﷻ dan Hawa yang berarti juga untuk seluruh keturun-Nya, yaitu manusia. Pesan yang berisi untuk meniti dan mengikuti hanya satu jalan, yaitu hidayah-Nya. Hidayah-Nya menurut para ahli tafsir adalah kitab-kitab dan rosul-rosul-Nya. (at-Tahrir wa at-Tanwir: 16/330)
Ittiba’ (kesetiaan mengikuti) Rosululloh ﷺ merupakan sumber berbagai kemuliaan dan kebangkitan sejati di dunia dan di akhirat.
Hidayah Alloh ﷻ akan didapat dengan ittiba’ kepada Rosululloh ﷺ. (QS. al-Maidah [5]: 15-16)
Kesuksesan diraih dengan mengimani Rosululloh ﷺ, mendukung, bersikap loyal dan ber-ittiba’ kepadanya. (QS. al-A’raf [7]: 157)
Keteguhan meniti kebenaran hanya tercapai dengan ber-ittiba’ kepada Rosululloh ﷺ. (QS. Ali Imran [3]: 173-174)
Begitu pula kemenangan dan kebangkitan peran sebagai khalifah di muka bumi naya terbukti dengan ber-ittiba’ kepada Rosululloh ﷺ. (QS. al-An’am [6]: 89)
Ini di dunia, lalu di akhirat?
Di akhirat, mereka yang berittiba’, akan berada di dalam barisan orang-orang yang loyal kepada para Nabi dan Rosul Alloh ﷻ. (QS. Ali Imran [3]: 68)
Derajat yang mereka capai di akhirat kelak akan mengucur pula untuk anak cucu keturunan mereka yang beriman bersama mereka. (QS. ath-Thur [52]: 21)
Semua rasa takut dan duka tak mungkin lagi terjangkit di jiwa-jiwa mereka. Semua penuh ketentraman, kedamaian, kemuliaan dan kebahagiaan tiada tara. (QS. al-Baqarah [2]: 38)
Tak ada satu keselamatan dan kehormatan tanpa pengikutan yang setia kepada Rosululloh ﷺ. Semua fenomena kehormatan tanpa kesetiaan mengikuti Rosululloh ﷺ akan musnah, sekalipun dibangun dalam waktu yang relatif lama.
Bahkan, sejarah telah membuktikan bahwa kemuliaan dan kejayaan yang sudah dibangun dan digenggam pun ternyata gugur dan hancur, saat ittiba’ mulai luluh lantak dan dipendam dalam kubur.
Dr. Ahmad Shollabi dalam sebuah bukunya yang berjudul “Ad-Daulatu ’Utsmaniyyah; ’Awamiluh Nuhudh wa Asbabus Suquth” (Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah) menguraikan salah satu sebab utama runtuhnya khilafah penjaga kejayaan dan kemuliaan Islam.
“Sunnah Rosululloh ﷺ di masa itu menjadi suatu hal yang sangat aneh, setelah diterpa topan badai bid’ah dengan demikian besar. Manusia bahkan berubah pandangan dengan beranggapan, bahwa bid’ah-bid’ah yang ada itu adalah inti dari agama. Mereka tidak ingin meninggalkannya, namun pada saat yang sama mereka telah melalaikan hukum-hukum Islam. Mereka berjuang demi bid’ah-bid’ah itu, bersumpah setia untuknya. Mereka melihat bahwa yang mereka lakukan adalah sebagai pengabdian terhadap agama dan kaum Muslimin”.
Sayangnya keimanan tentang hal ini memudar bahkan hampir membeku mati di tengah-tengah umat Islam. Apa yang bisa diharapkan jika gerakan Islam membangun persatuan di atas pemretelan ajaran-ajaran sunnah Rosululloh ﷺ? Cita-cita penegakan khilafah telah menghancurkan para pengusungnya lupa tentang kemurnian ajaran-ajaran yang telah disepakati oleh para sahabat Rosululloh ﷺ?
Lihatlah realita di sekeliling umat saat ini, ketika ittiba’ (kesetiaan mengikuti) Rosululloh ﷺ kosong dalam jiwa dan realita mereka. Bumi pun mengingkari mereka, dunia merendahkan mereka dan mereka terlempar di belakang kafilah kehidupan bangsa.
Ingatlah pesan seorang sahabat Nabi ﷺ yang diberi gelar turjumanul Qur’an, Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه:
“Alloh ﷻ menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan berittiba’ dengan seluruh kandungannya, pasti tidak akan sesat di dunia dan tak akan celaka di akhirat.” (Jami’ al-Bayan: 16/235)
Sumber : Materi Majalah INTISARI HASMI Vol. 0008 Rubrik Editorial
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami