JA’FAR BIN ABI THALIB رضي الله عنه (Oleh: Abdul Ghofar Ismail)

JA’FAR BIN ABI THALIB رضي الله عنه

Oleh: Abdul Ghofar Ismail

Ja’far bin Abi Thalib رضي الله عنه adalah sepupu sekaligus sahabat Rosululloh ﷺ yang nyaris sama persis dengan Beliau, baik wujud tubuh, tingkah laku, maupun budi pekertinya. Dia termasuk dalam golongan orang-orang yang pertama masuk Islam.

Ja’far bin Abi Thalib رضي الله عنه ikut serta dalam hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Selama di sana, Ja’far bin Abi Thalib tampil menjadi juru bicara yang lancar dan sopan. Menjadi wakil kaum muslimin untuk menghadap kepada Raja Najasyi, penguasa Habasyah, sehingga kaum muslimin pun mendapat perlindungan dan kebebasan untuk tinggal di negeri tersebut.

Ketika kembali ke Madinah, Ja’far mendengar berita bahwa banyak sahabatnya yang gugur sebagai syuhada di perang Badar, Uhud dan Khandak. Ia pun merindukan kesempatan dan peluang untuk berjuang dan syahid di jalan Alloh ﷻ.

Tibalah saatnya perang Muktah, yaitu perang antara kaum muslimin dengan tentara romawi. Dalam perang ini ja’far bin Abi Thalib رضي الله عنه termasuk dari tiga komandan pasukan yang ditunjuk Rosululloh ﷺ. Ja’far memandang peperangan ini sebagai peluang yang sangat baik dan satu-satunya kesempatan seumur hidup untuk merebut salah satu di antara dua kemungkinan; membuktikan kejayaan besar bagi agama Alloh ﷻ dalam jihadnya atau ia akan beruntung menemui syahid di jalan Alloh ﷻ.

Tentara Romawi yang berjumlah 200.000 pasukan beserta persenjataan yang tak tertandingi tidak membuat Ja’far menjadi gentar, tetapi justru membangkitkan semangat juang yang tinggi pada dirinya, karena sadar akan kemuliaan seorang mu’min yang sejati serta rindu akan kesyahidah dan kampung surga yang penuh kenikmatan abadi.

Sewaktu panji pasukan Islam hampir terlepas dari tangan Zaid bin Haritsah رضي الله عنه, dengan cepatnya disambut oleh Ja’far dan ia terus menyerbu ke tengah-tengah barisan musuh dan mengayunkan pedangnya ke segala arah dan mengenai musuhnya. Tentara Romawi terus mengepungnya dan mereka menebas tangan kanannya hingga putus, tetapi sebelum panji jatuh ke tanah, cepat disambarnya dengan tangan kirinya. Lalu mereka menebas tangan kirinya, tetapi Ja’far menggigit panji itu dengan kedua pangkal lengannya yang ada. Ia bertahan dan memikul tanggung jawab untuk tidak membiarkan panji Rosululloh ﷺ jatuh menyentuh tanah selagi ia masih hidup. Di saat jasadnya telah kaku tetapi panji masih tertancap di antara kedua lengan dan dadanya, datanglah Abdullah bin Rawahah رضي الله عنه membela barisan musuh dan merebut panji darinya.

Demikianlah Ja’far mempertaruhkan nyawa dalam menempuh suatu kematian agung yang tiada taranya. Begitulah caranya ia menghadap Alloh ﷻ, berselimut darah kepahlawanan. Di tubuhnya terdapat lebih dari 90 luka bekas sayatan pedang dan lemparan tombak. Dan ketika dikabarkan tentang keadaan dirinya, Rosululloh ﷺ berujar sambil mengusap air mata: “Aku telah melihat Ja’far bin Abu Thalib di surga memiliki dua sayap berbulu putih berlumur darah!!”

Demikianlah perjalanan sang pahlawan pengusung kebangkitan sejati, membuka jalan menuju kemuliaan Islam. Semoga kita semua dapat meneladani perjuangannya.

Sumber : Materi Majalah INTISARI HASMI Vol. 0006 Rubrik Pahlawan-Pahlawan Islam Jihadi

Check Also

‘IFFAH (MENJAGA KEHORMATAN) DALAM KHAZANAH SASTRA ARAB (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

‘IFFAH (MENJAGA KEHORMATAN) DALAM KHAZANAH SASTRA ARAB Oleh: Tim Redaksi HASMI Banyak dari para bijak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot
situs slot