ITTIBA’ PENGAWAL KEMURNIAN (Oleh: Supendi, S.Sy.)

ITTIBA’ PENGAWAL KEMURNIAN

Oleh: Supendi, S.Sy.

Saudaraku kaum Muslimin…

Di antara tuntutan syahadat kedua, yaitu: “Muhammad Rosululloh” adalah bahwa kita tidak boleh mendahulukan perkataan siapa pun di atas perkataan Rosululloh ﷺ. Imam Ibnu Abil ‘Izz berkata: “Tidak ada seorang hamba pun yang selamat dari adzab Alloh kecuali dengan dua tauhid, yaitu: tauhid al-mursil (Laa ilaha illalloh) tauhid mutaba’ah ar-Rosul (Muhammad Rosululloh). Konsekuensi tauhid mutaba’ah adalah: Tidak berhukum kepada selain Nabi Muhammad ﷺ dan tidak ridho sama sekali dengan hukum selainnya, serta tidak pula melaksanakan perintahnya dan membenarkan kabarnya menunggu kesepakatan perkataan siapa pun dari kalangan Syaikh (guru), imam, madzhab atau kelompoknya.” (Syarah Aqidah Thahawiyah).

Ber-ittiba’ adalah bukti nyata kecintaan kepada Alloh ﷻ, dan perealisasian ittiba’ akan melahirkan kecintaan dan keampunan dari Alloh ﷻ, sebagaimana firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh maka ber-ittiba’-lah kepadaku (ikutilah aku), niscaya Alloh mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian.’” (QS. Ali Imran [3]: 31).

Ayat-ayat dan hadits-hadits di atas sangat gamblang sekali memerintahkan agar ber-ittiba’, bukan ber-ibtida’ (berbid’ah, yaitu mengikuti selain syariat/hukum Rosul ﷺ). Surat al-Fatihah yang menjadi syarat sahnya shalat yang dibaca setiap hari minimal 17 kali mengandung penjelasan hakikat ber-ittiba’, sebab di dalamnya terdapat permintaan untuk diberi petunjuk jalan yang lurus (sirotol mustaqim), jelas sekali shirotolmustaqim adalah al-Islam, petunjuk Rosululloh ﷺ, sebagaimana firman-Nya:

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus (sirotol mustaqim), maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepada kalian agar kalian bertaqwa.” (QS. al-An’am [6]: 153).

Dengan ber-ittiba’ berarti seseorang sedang melakukan pengawalan terhadap Islam yang murni dari noda kesyirikan, bid’ah dan noda-noda lainnya yang dapat merusak kemurnian Islam. Tidak akan mungkin kemurnian Islam akan tetap terjaga jika umatnya tidak lagi konsisten kepada ittiba’. Karena Islam tegak di atas pengikutan kepada wahyu Alloh yang tersirat di dalam al-Qur’an dan al-Hadits yang sohih.

Syirik Dalam Ketaatan

Ketika ketaatan kepada Nabi ﷺ tidak boleh mendua, maka taat kepada yang lain adalah merupakan kesyirikan kepada Alloh, sebab taat kepada Rosul ﷺ adalah taat kepada Alloh:

“Barangsiapa yang taat kepada Rosul, maka sesungguhnya ia telah taat kepada Alloh.” (QS. an-Nisa’ [4]: 80)

“Mereka menjadikan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Alloh.” (QS. At-Taubah [9]: 31).

‘Adi bin Hatim rodhiyallohu’anhu ketika mendengar ayat tersebut, ia berkata, “Ya Rosululloh ﷺ, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka (rahib-rahib). Maka Rosululloh ﷺ menjawab, “Bukankah ketika mereka menghalalkan apa-apa yang diharamkan Alloh, kalian pun ikut menghalalkannya. Dan ketika mereka mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Alloh, kalian pun ikut mengharamkannya?”. Ia menjawab, “Benar”. Nabi ﷺ bersabda, “Itu berarti peribadatan kepada mereka (selain Alloh)”.

Syirik dalam ittiba’ terjadi ketika seseorang taat kepada selain Rosululloh ﷺ. Mereka lebih memilih taat kepada ulama, kiyai dan lainnya sebagainya, sekalipun pendapatnya bertentangan dengan Rosululloh ﷺ.

Tauhid yang menjadi pilar Islam yang utama, tidak akan pernah bisa berfungsi, jika tidak dikawal dengan ittiba’, bahkan akan berbalik menjadi syirik yang dapat menghancurkan sendi-sendi Islam. Jatuhnya bani Adam ke lembah kesyirikan setelah sepuluh abad lamanya mereka hidup dengan tauhid adalah karena mereka meninggalkan ittiba’.

Al-Ibtida’ adalah pokok pangkal kesesatan manusia.

Peribadatan, jika tidak dikawal dengan ittiba’ dipastikan akan terjatuh kepada ibtida’ (berbid’ah) yang sangat tercela. Dengan ber-ibtida’ berarti telah mengubah Islam yang di-turunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ yang tidak pernah diizinkan Alloh ﷻ.

Alloh ﷻ berfirman:

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh?…” (QS. asy-Syuro [42]: 21)

Rosululloh ﷺ berkata:
Rosululloh ﷺ telah bersabda:

“Berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah Khulafurrosyidin yang mendapatkan petunjuk Alloh sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian dengan sekuat-kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Saudaraku kaum Muslimin…

Jadilah pengawal-pengawal kemurnian Islam, dengan cara ber-ittiba’ kepada Rosululloh ﷺ, yaitu mengikuti petunjuk yang murni yang diajarkan kepada para sahabatnya yang kemudian diwariskan kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Sumber : Materi Majalah INTISARI HASMI Vol. 0008 Rubrik Manhaj Kemurnian

Check Also

‘IFFAH (MENJAGA KEHORMATAN) DALAM KHAZANAH SASTRA ARAB (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

‘IFFAH (MENJAGA KEHORMATAN) DALAM KHAZANAH SASTRA ARAB Oleh: Tim Redaksi HASMI Banyak dari para bijak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot
situs slot