DAN QURAISY PUN BERGUNCANG
Oleh: Yusuf Supriadi, S.Pd.I., Lc., M.A.
Tiga tahun lamanya Rosululloh ﷺ berda’wah memperkenalkan Islam kepada orang per orang dengan sembunyi-sembunyi. Sedikit demi sedikit mulai banyak yang menerimanya. Mereka yang mula-mula masuk Islam ini dikenal dalam sejarah Islam dengan istilah As Sabiqunal Awwalun. Mereka terdiri dari berbagai golongan masyarakat, mulai dari kalangan bangsawan, budak, wanita dan juga pemuda.
Sementara itu orang-orang musyrik Quraisy belum begitu peduli dengan keadaan ini. Kemudian turunlah wahyu Alloh ﷻ yang berbunyi:
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. asy-Syu’ara: 214)
Dengan ayat ini Beliau ﷺ mulai menjalankan da’wah Islam secara terang-terangan.
Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما mengisahkan: “Ketika Alloh ﷻ turunkan QS. Asy-Syu’ara: 214, Rosululloh ﷺ pergi menuju bukit Ash Shafa kemudian berteriak lantang membangunkan penduduk Makkah sehingga mereka berkumpul di sekitar Beliau. Ada yang datang sendiri dan ada yang mengutus wakilnya. Rosululloh pun berkata, ‘Wahai Bani Abdil Muththolib..! wahai Bani Fihr..! bagaimana pendapat kalian kalau saya beritakan bahwa ada sekelompok pasukan berkuda di balik bukit ini yang siap untuk menyerang kalian. Apakah kalian akan mempercayaiku?’
Mereka menjawab, ‘Ya… (Kami percaya)’
Kata Beliau lagi, ‘Ketahuilah sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan buat kalian sebelum datang adzab yang sangat pedih.’
Tiba-tiba Abu Lahab menukas, ‘Celakalah kau selamanya. Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?’
Alloh ﷻ pun segera menurunkan ayatNya: ‘Celakalah kedua tangan Abu Lahab!’ (QS. Al-Lahab).
Sedangkan dalam riwayat lain diceritakan pula oleh Abu Hurairah dalam Shahih Muslim, yaitu ketika turun ayat tersebut Rosululloh ﷺ berda’wah menyeru mereka secara keseluruhan, kemudian Beliau sebut mereka satu persatu yang tidak lain masih dari kalangan kerabat. Seru Beliau, ‘Wahai masyarakat Quraisy…! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Ka’ab..! selamatkan jiwa kalian dari api neraka! Wahai Bani Hasyim..! Selamatkan diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Abdil Muththolib..! Selamatkan diri kalian dari api neraka! Wahai Fathimah binti Muhammad..! selamatkan dirimu dari api neraka! Karena sesungguhnya aku demi Alloh tidak berkuasa sedikit pun membela kalian dari Alloh kecuali sekadar kalian itu ada kekerabatan! Dan aku akan berusaha menyambungnya.’
Seruan lantang yang dipekikkan oleh Rosululloh ﷺ tersebut semakin terasa gaungnya di seluruh penjuru Mekkah. Puncaknya adalah saat turun firman Alloh ﷻ: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. al-Hijr: 94).
Setelah menerima ayat ini, kemudian Rosululloh ﷺ melakukannya da’wah kepada Islam secara terang-terangan (dakwah jahriyyah) di tempat-tempat berkumpulnya kaum musyrikin dan di club-club mereka. Beliau membacakan Kitaabulloh kepada mereka dan menyampaikan ajakan yang selanjutnya para qori Rosul terdahulu menyerukan mereka: ‘wahai kaumku..! Sembahlah Alloh, kalian tidak memiliki Tuhan selainNya’. Beliau juga mulai menampakkan cara beribadahnya kepada Alloh ﷻ di depan mata kepala mereka sendiri, Beliau melakukan shalat di halaman ka’bah pada siang hari secara terang-terangan dan dihadapan khalayak ramai.
Da’wah yang Beliau lakukan tersebut semakin mendapatkan sambutan sehingga banyak orang yang masuk ke dalam Islam satu persatu. Namun kemudian antara mereka (yang sudah memeluk Islam) dan keluarga mereka yang belum memeluk Islam terjadi gap; saling membenci, menjauhi dan berkeras kepala. Terlebih ketika Rosululloh ﷺ mulai mencela berhala-berhala mereka yang tidak dapat memberikan manfaat ataupun mudhorot, melihat kondisi ini kaum Quraisy mulai merasa gerah, mereka pun tanpa ragu bersepakat untuk memusuhi dan melawan beliau dengan berbagai upaya dan tipu daya, baik dalam bentuk cemoohan, sampai kepada pemboikotan dan penganiayaan. (Siroh Nabawiyah, Sofiurrahman al-Mubarakfuri. Hal. 99–100)
Faidah Siroh
Da’wah hendaknya dimulai dari kalangan keluarga dan kerabat dekat sebagaimana yang dilakukan Rosululloh ﷺ, dan penjelasan ini bisa kita lihat pula dalam surah at-Tahrim ayat: 6.
- Seorang da’i hendaknya terus berupaya tampil penuh percaya diri dan kokoh untuk menyerukan kebenaran di hadapan manusia.
- Mengingatkan manusia kepada dahsyatnya adzab di neraka adalah upaya yang sangat efektif dalam berda’wah.
Dalam kisah ini pun terdapat kemu’jizatan al-Qur’an, tepatnya di surah Al-Lahab. Di ayat itu Abu Lahab telah divonis sebagai ahli neraka, dan tidak mungkin Rosululloh ﷺ memvonis seperti itu kecuali setelah diberitahu oleh Alloh Dzat yang Maha mengetahui hal ghoib, bahwa kelak Abu Lahab akan masuk Neraka.
Orang-orang kafir Quraisy sangat memahami arti dan konsekuensi dari kalimat Laa ilaaha illAlloh yang diemban oleh Rosululloh ﷺ. Jika mereka menerima kalimat itu, berarti mereka harus meninggalkan semua berhala yang mereka sembah. Sehingga mereka berusaha dengan mati-matian tampil untuk menentang dakwah Islam.
Namun yang sangat disayangkan, saat ini betapa banyak orang yang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, akan tetapi mereka masih melakukan berbagai kesyirikan.. Semuanya tiada arti. Na’udzubillah min dzalik
Sumber : Materi Majalah INTISARI HASMI Vol. 0007 Rubrik Siroh
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami