DAKWAH MANIFESTASI ITTIBA’
Oleh: Yanuar Arianto
Mekkah bergejolak. Dada-dada para pembesar Quraisy sesak. Betapa tidak?! Dakwah Rosululloh ﷺ sama sekali tidak bergoyah, meski sejunguk hukuman. Justru semakin kukuh, kokoh, mengakar dan terus tumbuh. Segala macam bentuk kekerasan telah dicoba diterapkan namun hasilnya buntu. Haluan harus dirubah, perlu ada tawaran yang wah, yaitu mengiming gemerlap dunia yang mewah. Lalu muncullah kalimat itu melalui lisan kafir Quraisy:
“Jika dengan dakwahmu ini semua, engkau menginginkan kekayaan, kami akan mengumpulkan seluruh kekayaan kami hingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami. Jika dengan dakwahmu ini semua, engkau menginginkan kehormatan, maka kami akan menjadikan engkau sebagai pemimpin kami. Jika engkau menginginkan menjadi raja (presiden), kami mengangkatmu sebagai raja (presiden) kami. Jika apa yang engkau alami adalah karena faktor jin yang tidak mampu engkau usir, kami akan mengeluarkan seluruh kekayaan kami sebagai biaya untuk mencari dokter hingga engkau sembuh darinya.” (Siroh Nabawiyah, Ibnu Hisyam)
Kalimat lugas muncul dari lisan Rosululloh ﷺ:
“Demi Allah, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan dakwahku, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, aku bersumpah tidak akan meninggalkan dakwahku…” (Siroh Nabawiyah, Ibnu Hisyam)
Jawaban yang Rosululloh ﷺ sampaikan kepada sang paman begitu jelas terang benderang akan arti dakwah bagi kehidupan. Dakwah adalah jalan. Benar-benar tak tergantikan. Dakwah tidak bisa ditukar dengan kekayaan, kehormatan, jabatan apalagi sekedar logika-logika politik narsis tentang kemaslahatan.
Di waktu yang lain, setelah merasakan berbagai siksaan dan penderitaan yang dilancarkan kaum Quraisy, Rosululloh ﷺ berangkat ke Thoif berharap agar mereka dapat menerima ajaran yang dibawanya dari Allah. Tak dinyana, bangsa Arab yang terkenal memuliakan tamu, tiba-tiba beringas terhadap pelaku dakwah. Para pembesar Thaif tidak sekedar menolak, bahkan mengejek dan menghina. Rakyat jelatanya tak jauh beda, mengusir Rosululloh ﷺ, lalu anak-anak dan para budak Thaif melempari Rosul ﷺ dengan batu, hingga berdarah-darah.
Rosul ﷺ kemudian meninggalkan Thaif dan mencari tempat yang aman. Di lokasi itu, Rosul ﷺ berdoa: “Ya Allah, Aku mengadukan kepadamu lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai yang Maha Pengasih, Engkaulah Tuhan orang-orang yang merasa lemah, dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau serahkan diriku, kepada musuh yang akan menguasaiku atau kepada keluargaku Engkau serahkan? Itu tidak berarti asal tetap dalam ridho-Mu. Azabmu lebih berat bagiku. Aku berlindung kepada-Mu dengan nur wajah-Mu, yang menyinari segala kegelapan, dan yang memperbaiki urusan dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu atasku atau turunnya azab-Mu atasku. Kepada Engkaulah kuadukan, hingga Engkau ridho. Tiada daya dan upaya melainkan dengan-Mu.”
Demikian sedihnya doa Nabi ﷺ dan diijabah kepada Allah. Kemudian Alloh mengutus Jibril untuk menyampaikan bahwa Alloh menerima doanya. “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Alloh telah mendengar apa yang dikatakan bani Tsaqif serta jawaban mereka atas ajakanmu. Bersamaku ini adalah malaikat penjaga bukit yang diutus Alloh untukmu. Maka perintahkan apa saja yang engkau kehendaki. Seandainya engkau ingin dia menghimpitkan bukit Abu Qubais dan bukit Ahmar kepada mereka, niscaya dia akan melakukannya”.
Malaikat itu pun datang dan memberi salam kepada Rosululloh ﷺ seraya berkata, “Apapun yang engkau perintahkan, akan kulaksanakan, kalau engkau mau, saya akan benturkan kedua gunung di samping kota ini, sehingga siapapun yang tinggal di antara keduanya akan mati terhimpit. Jika tidak, apa pun hukuman yang engkau perintahkan, saya siap melaksanakannya segera.”
Lelah yang luar biasa dan sakit dari luka akibat lemparan batu masih beliau rasakan. Namun Rosul ﷺ menolak tawaran Malaikat penjaga bukit. Dengan sifat kasihnya beliau berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Alloh, mudah-mudahan keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Alloh dan beribadah hanya kepada-Nya”.
Di riwayat lain beliau malah mendo’a kan, “Allohummahdi qaumii fainnahum laa ya’lamuun” (Ya Alloh berilah hidayah kepada kaumku ini, karena mereka masih juga belum faham tentang arti Islam).
Rosululloh ﷺ telah membuat blueprint untuk kita semua dalam menghadapi perlakuan orang-orang yang zholim. Bukan dengan logika bom untuk meledakkan sebagian umat ini. Rosululloh ﷺ saja yang ditawari lebih dari sekedar bom untuk membinasakan musuh da’wah yang telah menoreh luka hingga berdarah-darah. Namun beliau menolak, dan berharap dakwah bisa tetap masuk meski menunggu generasi berikutnya.
Pandangan beliau senantiasa tertuju pada masa depan da’wah. Yang menjadi standar beliau adalah kemanfaatan untuk dini ini. Melihat kemanfaatannya untuk dakwah ke depan dan didasarkan atas rasa kasih sayang yang sangat besar kepada umat, beliau berharap dari kota Thoif akan lahir suatu generasi rabbani, generasi yang akan membela dien-Nya.
Tegas sekali Rosululloh ﷺ dalam mempertahankan kaidah jalan dakwah ini. Maka apa yang dilakukan oleh Rosululloh ﷺ ini kemudian memberikan pengaruh yang cukup lekat di hati dan sanubari para sahabat. Semangat dakwah telah merasuki relung hati terdalam para sahabat.
Ketika baju perang disandangkan dan dua pasukan telah saling berhadapan, naluri dakwah mereka membuat mereka masih saja menawarkan tiga opsi: masuk Islam, membayar jizyah atau perang.
Hidayah ada dengan mengikuti jalan Rosululloh ﷺ. Alloh ﷻ telah menegaskan:
“Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu semua, yaitu Alloh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kalian kepada Alloh dan Rosul-Nya’, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Alloh dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al A’rof: 158)
Ayat ini berisi perintah mengikuti jejak Rosululloh dalam segala hal. Sebagai konsekuensi iman kita kepada Rosululloh, dalam menerima Islam yang diterangkan dalam al-Qur’an dan sunnah secara utuh. Mengikuti Rosululloh ﷺ dalam masalah tauhid dan iman serta implementasinya dalam da’wah. Ketegasan dalam kebenaran, hak dan batil, halal dan haram, tapi lembut dalam tutur kata dan sikap.
Bekal kita bukanlah tongkat Musa ﷺ yang mampu menyibak Laut Merah, atau kapak Ibrahim ﷺ yang mampu melumatkan berhala men-batu. Rosululloh ﷺ membekali kita dengan Al-Qur’an yang dengan itu kita berdakwah. Jangan pernah dilupa, dakwah pernah membuat musuh yang menyerang esok harinya, tiba-tiba datang menjadi pembela. Dakwah pernah membuat Laut Merah mengizinkan pejuang dakwah berjalan di atasnya.
Dakwah pernah membuat seekor singa Afrika tidak jadi memakan mulut malu tunduk pada juru dakwah. Sungguh, dakwah adalah sebuah keajaiban tanpa batas. Dakwah membuat segalanya menjadi mungkin. Satu-satunya hal yang mustahil pada dakwah adalah kata “tak mungkin”. Dakwah adalah perhiasan yang men-juntai di dada kaum optimis. Tentunya mereka adalah manusia seperti yang lain dengan segala keterbatasannya, namun mereka memiliki Alloh yang mampu menerbitkan matahari dari tempat tenggelamnya.
Dakwah bukan sekedar meluangkan sedikit waktu, menyisakan sejumput kesempatan atau pun kerja sampingan. Dakwah adalah segalanya. Segala waktu, segala kesempatan, segala kerja harus dikerahkan untuk dakwah. Apabila kita mengaku cinta pada Rosululloh, mengaku sebagai pengikut Rosululloh, mengaku beriman pada Rosululloh, dakwah adalah medan pembuktian.
Sumber : Materi Majalah INTISARI HASMI Vol. 0008 Rubrik Panji Dakwah
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami