BAGAIMANA BANGSA-BANGSA JATUH CINTA PADA BAHASA ARAB?
Oleh: Tim Redaksi HASMI
Bahasa Arab telah memberi pengaruh yang kuat dan jauh jangkauannya terhadap bahasa-bahasa lain yang hidup pada masa turunnya Al-Qur’an. Pengaruh itu ada kalanya berupa penghidupan dan keberlangsungan, seperti yang terjadi pada bahasa Turki, Persia, dan Swahili; atau berupa pemusnahan dan penggantian total, seperti yang terjadi pada bahasa Qibti, Suryani, dan Ibrani.
Bahasa Arab pernah mengalami masa kejayaan di mana ia menjadi bahasa peradaban, sementara bahasa-bahasa lain—terutama bahasa Eropa—berada pada kondisi yang sangat terbelakang. Pada masa itu, bahasa Arab menjadi sumber kekayaan ilmiah, kosa kata, dan peradaban mereka. Singkatnya, bahasa Arab adalah bahasa peradaban utama dunia.
Mengenai masa itu, Pierre Guiraud dalam bukunya Les Mots Etrangers berkata: “Sejak paruh pertama abad ke-7 M, para khalifah Arab telah meluaskan kekuasaan mereka ke Mesir, Suriah, dan Persia. Pada abad ke-8, Dinasti Umayyah memperluas pengaruhnya ke timur hingga India, dan ke barat hingga Maghrib dan Spanyol. Orang Arab juga menetap di Seychelles hingga abad ke-11. Maka, Islam tidak hanya menjadi kekuatan politik dan militer terbesar di Abad Pertengahan, tetapi juga menjadi sumber kebudayaan.
Pengaruh Islam pada masa Harun al-Rasyid (abad ke-2 H/8 M) menjadikannya pusat kejayaan sastra, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Nama-nama terbesar dalam bidang sastra, filsafat, dan sains berasal dari orang Arab Muslim, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, Umar Khayyam, dan Al-Battani. Dalam bidang kimia ada Khalid bin Yazid, Jabir bin Hayyan, dan Ar-Razi. Bangsa Arab menjadi asal mula ilmu modern, khususnya dalam bidang kedokteran, kimia, matematika, dan astronomi. Mereka juga menjadi penghubung ilmu dengan Timur, melalui Persia dan Romawi, serta pembawa ilmu pelayaran dan perdagangan ke Barat. Selain itu, budaya mereka juga menyumbangkan banyak hal dalam seni militer, arsitektur, tekstil, dan lain-lain. Semua pengaruh itu jelas terlihat dari banyaknya kosa kata pinjaman dalam bahasa-bahasa kita.”
Orientalis Jerman Sigrid Hunke juga mengakui hal ini dalam bukunya Allahs Sonne über dem Abendland (terjemahan: Matahari Allah Menyinari Barat), bahwa pengaruh bahasa Arab telah sampai ke bahasa Jerman. Ia bahkan menyusun lampiran khusus yang berisi lebih dari 250 kata yang diyakininya berasal dari bahasa Arab.
Bahasa Inggris pun tidak lepas dari pengaruh Arab. Dalam bahasa ini terdapat banyak kosa kata yang berasal dari bahasa Arab, sebagaimana dijelaskan oleh Dozy dalam bukunya Daftar kata-kata Inggris, Spanyol, dan Portugis yang berasal dari Arab.
Pengaruh Arab dalam bahasa-bahasa Timur
Adapun kosa kata Arab dalam bahasa-bahasa Timur (seperti Persia, Turki, Urdu, Melayu, dan Senegal) sangat banyak hingga sulit dihitung. Bahasa Arab bertemu dengan bahasa Persia, Suryani, Qibti, dan Berber dalam kondisi yang menguntungkan, sebab Arab adalah bahasa Al-Qur’an, memiliki struktur yang kokoh, dan kaya akan kosa kata.
Bahasa Arab membawa misi Islam, sehingga memperkaya dirinya dengan banyak istilah baru untuk mengekspresikan konsep, pemikiran, aturan, dan norma perilaku yang dibawa Islam. Ia pun menjadi bahasa agama, budaya, peradaban, sekaligus pemerintahan.
Bahasa Arab menembus bahasa-bahasa lain, memperkenalkan huruf tulisannya, banyak kosa kata, serta pengaruh dalam bunyi, huruf, makna, dan struktur kalimat. Pertemuan Arab dengan bahasa-bahasa lain menyebabkan sebagian bahasa punah dan digantikan Arab (seperti di Irak, Syam, dan Mesir), sebagian lainnya terdesak (seperti Berber), dan ada yang menyempit wilayahnya (seperti Persia).
Bahkan, bahasa Turki, Persia, Melayu, dan Urdu pernah semuanya ditulis dengan huruf Arab. Bahasa Arab juga memiliki pengaruh besar dalam dialek Somalia dan Zanzibar, karena hubungan antara Afrika Timur dan Jazirah Arab sudah terjalin sejak zaman kuno.
Tentang hal ini, Sulaiman al-Bustani mengatakan bahwa bahasa Arab adalah bahasa hidup yang paling panjang usianya dan paling tua keberadaannya. Hal itu berkat Al-Qur’an. Sebab, Iliad, Odyssey, dan karya-karya Homer lainnya, meski agung, tidak mampu mengokohkan bahasa Yunani bahkan di negerinya sendiri, dan tidak sanggup melawan arus perubahan zaman. Begitu juga kitab Mahabharata dalam bahasa Sanskerta, kitab Tao Te Ching dalam bahasa Cina, karya Konfusius, Taurat, maupun Injil—semuanya tidak mampu bagi bahasa-bahasa itu sebagaimana Al-Qur’an bagi bahasa Arab.
Tanpa Al-Qur’an, niscaya orang Arab hari ini hanya memakai dialek-dialek lokal mereka untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan, dan bangsa Arab akan terpecah menjadi komunitas-komunitas dengan bahasa yang berbeda, seperti halnya Jerman, Prancis, Spanyol, Portugis, dan Italia.
Bahasa Arab telah memberi pengaruh yang kuat dan luas terhadap bahasa-bahasa lain. Ada yang diberi kehidupan seperti Turki, Persia, dan Swahili; ada yang dimusnahkan seperti Qibti, Suryani, dan Ibrani; ada juga yang dimasuki ratusan kosa kata Arab seperti Inggris, Prancis, dan Spanyol. Dalam sebuah penelitian, orientalis Profesor Ebyan menyatakan: “Jumlah kosa kata bahasa Armenia adalah 20.000 kata, di antaranya terdapat 1.500 kata Arab yang digunakan dalam bahasa tersebut.”
Cinta pada bahasa Al-Qur’an
Bahasa-bahasa kaum Muslim (Persia, Turki, Urdu, dan lainnya) sangat sarat dengan kosa kata Arab. Karena itu, Dr. Husain Mujib al-Misri berkata:
“Dalam banyak teks dari bahasa-bahasa tersebut, hampir tidak ada kecuali kata penghubung atau kata kerja yang asli; selebihnya adalah pinjaman dari bahasa Arab.”
Hal ini karena bangsa-bangsa itu, setelah penaklukan Islam, memandang bahasa Arab dengan penuh penghormatan dan pengagungan. Mereka melihatnya sebagai bahasa mulia yang dipilih untuk turunnya Al-Qur’an, bahasa yang memiliki kekuatan, vitalitas, dan daya hidup yang tidak dimiliki bahasa lain. Maka mereka pun jatuh cinta kepadanya, mencurahkan kreativitas mereka dengannya, bahkan lebih memilihnya dibanding bahasa asli mereka.
Sesungguhnya, bahasa—bahasa apa pun—akan selalu dipengaruhi oleh peradaban bangsa yang memilikinya, oleh adat dan tradisi yang diwariskan, keyakinan, budaya, bahkan kondisi geografisnya. Setiap perkembangan dalam aspek-aspek itu pasti akan berpengaruh terhadap bahasa. Oleh karena itu, bahasa adalah catatan sejarah yang paling jujur tentang perjalanan suatu bangsa. Dari perkembangan suatu bahasa, kita dapat menelusuri tahapan sejarah yang dilalui pemiliknya.
Karena itu, suatu bahasa pasti akan menyerap kata-kata baru melalui penciptaan istilah, pengembangan, maupun pinjaman. Hal ini pula yang terjadi pada bahasa Persia, Turki, Urdu, Hausa, Swahili, dan Bengali.
Lebih jauh lagi, sifat khas suatu bangsa pun tampak dalam gaya bahasanya. Hal ini mengingatkan kita pada perbedaan cara berpikir bangsa-bangsa. Misalnya, bangsa Semit seperti Arab dikenal dalam bahasa mereka sebagai bangsa yang mendeskripsikan apa yang terlihat di hadapan mata secara langsung dan apa adanya, tanpa banyak tambahan imajinasi—kecuali jika mereka sedang bersyair. Adapun bangsa Arya seperti Persia, mereka lebih gemar menggunakan perumpamaan dan imajinasi dalam puisi maupun percakapan mereka.
Setengah dari Bahasa Persia Berasal dari Arab!
Bahasa Persia telah menyerap banyak sekali kosakata Arab. Seorang peneliti pernah menghitung jumlah kata Arab dalam beberapa teks warisan Persia. Ia mengatakan: “Dalam halaman pertama kitab Tārīkh al-Bayhaqī, penulis menggunakan 105 kata Arab dari total 256 kata Persia!”
Dr. Muhammad Nur Abdul Mun‘im berpendapat bahwa pengarang kitab Qābūs Nāmah menuliskan 18 kata Arab dari 120 kata Persia. Bahkan, ada pula yang menghitung 42 kata Arab dalam satu teks, yaitu salah satu pidato Shah Iran, dari total 120 kata Persia.
Dr. Mujīb al-Miṣrī menegaskan bahwa banyaknya kosakata Arab dalam bahasa Persia merupakan fenomena yang jelas, baik dalam teks lama maupun teks modern. Jumlah kata-kata ini memang bervariasi. Sebagian kosakata digunakan dengan makna baru yang tidak ada dalam bahasa Arab, sebagian lagi dipakai persis dengan makna Arabnya. Dan bisa ditelusuri bagaimana kosakata Arab itu terus bertambah dalam bahasa Persia sepanjang abad.
Ia memberikan contoh: pada awal Dinasti Samanid (261–389 H), jumlah kata Arab dalam bahasa Persia masih terbatas, hanya sekitar 5–10 kata dari setiap 100 kata Persia. Namun, pada paruh kedua abad ke-5 H jumlahnya sudah mencapai 50%. Pada abad ke-6, ke-7, dan ke-8 H jumlah kata Arab semakin meningkat hingga mencapai 80%.
Orang Persia sangat menyukai bahasa Arab, sehingga mereka memasukkan kosakata dan ungkapannya ke dalam bahasa mereka agar bahasa Persia bisa berkembang, maju, dan menjadi bahasa dunia, sebagaimana bahasa Arab yang merupakan bahasa agama, sastra, pemikiran, dan cara hidup.
Dalam bahasa Persia, kata biasanya tersusun dari beberapa suku kata. Suku kata ini membentuk gambaran yang mencerminkan cara berpikir dan peradaban mereka.
Dr. Husain al-Miṣrī –yang dijuluki Dekan Sastra Islam– memberi contoh kata-kata yang dipinjam Persia dari Arab lalu dimodifikasi maknanya. Misalnya kata inqilāb (انقلاب). Dalam bahasa Persia berarti “revolusi,” yaitu pemberontakan terhadap penguasa, upaya menjatuhkannya, dan mengganti sistem pemerintahan. Sementara dalam bahasa Arab, maknanya lebih bersifat fisik, yaitu gerakan berbalik, jatuh dari atas, atau berubah dari satu keadaan ke keadaan sebaliknya.
Dikatakan pula bahwa orang Persia cenderung berbicara dengan majas, imajinasi, dan suka melukiskan sesuatu. Itu tampak terus-menerus, bahkan dalam percakapan sehari-hari.
Ada juga kosakata Persia yang berasal dari Arab, tetapi diberi makna baru yang tidak dikenal orang Arab. Misalnya ungkapan dhū ḥayātayn (ذو حياتين). Orang Arab tidak paham maksudnya. Tetapi orang Persia memakainya untuk menyebut hewan amfibi, seperti buaya atau katak.
Perpaduan Arab dan Turki
Adapun kata-kata Arab yang masuk ke bahasa Turki, sebagian besar melalui bahasa Persia yang lebih dulu terpengaruh Arab. Jadi, bahasa Turki pun bercampur dengan bahasa Arab, sebagaimana halnya Persia. Namun, kosakata Arab yang berhubungan dengan agama tetap dipakai sesuai maknanya dalam bahasa Arab, baik dalam bahasa Persia, Turki, maupun Urdu.
Misalnya, orang Turki menggunakan kata ‘ilāj (علاج) untuk “obat.” Mereka menghubungkannya dengan kata penyakit (dā’), meskipun bukan dengan arti “berobat” sebagaimana dalam bahasa Arab.
Ada juga kata mudh-hish (مدهش). Dalam bahasa Arab artinya “menakjubkan,” tapi orang Turki mengartikannya sebagai “menakutkan.” Hal ini karena mereka mengambil kata Persia dahshat (دهشت), yang asalnya dari bahasa Arab, lalu mereka modifikasi menjadi bentuk Turki dahshatli dengan menambahkan akhiran -li sebagai tanda sifat.
Contoh lain, kata qīmat (قیمت) dalam bahasa Arab berarti “harga.” Orang Turki mengubahnya menjadi qīmatli, yang berarti “teman yang berharga” atau “sahabat karib.” Sementara kata nafīs (نفيس) dalam bahasa Arab berarti “berharga,” mereka gunakan dengan arti “lezat.”
Jadi, bangsa Turki memang mengubah makna kosakata Arab dengan gaya khas mereka. Namun, sebagian sarjana Turki menganggap perubahan makna ini sebagai problem linguistik. Ada sekumpulan kata Arab yang dalam bahasa Turki artinya sangat berbeda, bahkan ada yang tidak pernah dikenal orang Arab. Misalnya:
- iḥsās (إحساس): dalam bahasa Arab berarti “perasaan,” sementara di Turki berarti “curiga.”
- Kata istimzāj (استمزاج) dan mudarrir (مدرر): dipakai dalam bahasa Turki dengan bentuk baru, padahal tidak dikenal dalam kamus Arab.
Namun perlu dicatat, teks-teks Turki yang penuh kosakata Arab biasanya hanya terdapat dalam karya sastra kalangan elit, bukan bahasa sehari-hari rakyat jelata.
Pengaruh Arab dalam Bahasa Urdu
Bahasa Urdu juga terpengaruh oleh bahasa Arab, lalu oleh bahasa Persia. Urdu berkembang di India Islam sejak abad ke-4 H, setelah bangsa Persia masuk ke sana. Sebagai bahasa umat Islam di India, Urdu dengan sendirinya menyerap banyak kosakata Arab dari bahasa Persia.
Kaum Muslim India kemudian berusaha menerjemahkan makna Al-Qur’an ke dalam bahasa Urdu. Inilah titik perkembangan besar yang memperkaya bahasa Urdu dengan banyak kosakata Arab.
Kesimpulan
Bangsa Arab membawa Islam ke seluruh dunia, dan bersamanya mereka membawa bahasa Al-Qur’an. Banyak bangsa di Asia Barat dan Afrika Utara meninggalkan bahasa asli mereka dan memilih bahasa Arab, karena kecintaan mereka kepada Islam. Artinya, cinta mereka kepada Islam membuat mereka “menjadi Arab”: mereka meninggalkan agama lama menuju Islam, meninggalkan bahasa lama menuju bahasa Arab.
Bahkan, para ulama non-Arab yang masuk Islam turut berkontribusi besar dalam menjelaskan tata bahasa Arab dan mengembangkan ilmu sastra Arab. Dari mereka lahir tokoh-tokoh besar dalam bidang nahwu, sharaf, dan balaghah (ma‘ānī, bayān, badī‘). Hingga kini, seluruh umat Islam masih bergantung pada karya-karya mereka yang mengisi dunia ilmu dan terus dipelajari lintas generasi.
📌 Contoh Kosakata Arab dalam Bahasa Persia
| Kata Arab | Arti dalam Arab | Arti dalam Persia |
| انقلاب (inqilāb) | perubahan, berbalik, jatuh | revolusi, pemberontakan terhadap penguasa |
| ذو حياتين (dhū ḥayātayn) | tidak dipakai (tidak bermakna jelas) | hewan amfibi (buaya, katak, dll.) |
| مدرسة (madrasa) | sekolah | sama, tapi lebih khusus: sekolah agama |
| حكومة (ḥukūmah) | pemerintahan | pemerintahan, otoritas politik |
| حقيقة (ḥaqīqah) | kebenaran | realitas, fakta ilmiah |
📌 Contoh Kosakata Arab dalam Bahasa Turki
| Kata Arab | Arti dalam Arab | Arti dalam Turki |
| علاج (‘ilāj) | pengobatan, terapi | obat |
| مدهش (mudh-hish) | menakjubkan, mengagumkan | menakutkan (dari dehşetli) |
| قيمة (qīmah) | harga, nilai | kıymetli = berharga, sahabat karib |
| نفيس (nafīs) | bernilai tinggi, mahal | lezat (makanan) |
| إحساس (iḥsās) | perasaan | curiga |
📌 Contoh Kosakata Arab dalam Bahasa Urdu
| Kata Arab | Arti dalam Arab | Arti dalam Urdu |
| كتاب (kitāb) | buku | buku (umum, sama maknanya) |
| صلاة (ṣalāh) | shalat | shalat, dipakai khusus untuk ibadah |
| دنيا (dunyā) | dunia, kehidupan sekarang | dunia, kehidupan fana |
| علم (‘ilm) | ilmu, pengetahuan | ilmu, juga dipakai untuk pendidikan formal |
| مدرسة (madrasa) | sekolah | sekolah agama tradisional |
👉 Dari tabel ini tampak bahwa:
- Persia banyak memberi makna baru imajinatif pada kata Arab (contoh: انقلاب).
- Turki lebih sering mengubah nuansa makna (contoh: مدهش jadi “menakutkan”).
- Urdu paling banyak mempertahankan makna asli Arab, terutama karena kedekatannya dengan agama Islam dan Al-Qur’an.
________________________________________
Catatan Sumber:
- Sinar Matahari Allah Terbit di Barat, karya Sigrid Hunke, Penerbit al-Mi‘rāj, 2023.
- Pengaruh Kamus Arab terhadap Bahasa-Bahasa Bangsa Islam, karya Dr. Husain Mujib al-Mishri.
- Bahasa Persia, karya Dr. Muhammad Nur ‘Abd al-Mun‘im.
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami