BOLEH JADI YANG KITA BENCI ITU ADALAH KEBAIKAN
(Oleh: Supendi, S.Sy.)
KHUTBAH PERTAMA
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ
Alloh berfirman dalam QS. Al-Baqoroh ayat 216:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Boleh Jadi kalian membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagi kalian, dan boleh Jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagi kalian; Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 216)
Pada ayat ini memiliki banyak faidah berharga yang dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan kita… di antara faidah yang dapat kita ambil pada ayat ini:
Yang pertama: Ketika Alloh memerintahkan sesuatu dan sesuatu itu engkau tidak menyukainya, maka tanamkanlah keyakinan bahwa dalam perintah itu adah hikmah kebaikan yang pasti membawa kemaslahatan.
Syariat berjihad melawan musuh Islam misalnya, atau berjuang membela agama Islam… perintah ini banyak yang tidak menyukainya, karena konsekuensinya adalah perngorbanan waktu, tenaga, harta bahkan jiwa… dan itu secara tabiat tidak disukai…
Akan tetapi Alloh mengingatkan bahwa sesuatu yang kita benci itu, di baliknya ada kebaikan… baik berupa kemenangan, kejayaan, keamanan atau kesejahteraan…
Kemudian Yang Kedua: Di antara Faidah yang dapat kita ambil pada ayat ini… bahwa jika Allah melarang sesuatu dan sesuatu itu sangat engkau suka, maka tanamkanlah keyakinan bahwa dalam sesuatu yang terlarang itu terdapat banyak keburukan.
Perbuatan maksiat, perkara-perkara yang haram… seperti zina, minum khomer, korupsi, bertransaksi riba dan lain sebagainya… di balik itu semua ada petaka yang besar dan membinasakan… meskipun pelakunya menyukai dan menikmatinya…
Kerusakan hidup akan terjadi di segala bidang dan akan menimpa kepada pelakunya dan keluarga pelakunya, atau menimpa masyarakat dan umatnya, atau menimpa bumi, langit, lautan, hewan-hewan dan selainnya….
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا ظَهَرَتْ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي ، عَمَّهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ
“Apabila perbuatan maksiat dilakukan secara terang-terangan pada umatku, maka Alloh akan menimpakan adzab-Nya secara merata.”.” (HR. Ahmad 6:304)
Kemudian Yang Ketiga: ketika seseorang ditakdirkan dengan sesuatu yang menyakitkan, yang tidak disukai oleh dirinya, maka bersabarlah…. jangan larut dengan kesedihan, karena dengan takdir tersebutlah manusia mendapatkan kebaikan dari arah yang tidak ia ketahui.
Tentu kita masih ingat, ketika Ummu Musa merasakan beratnya saat memasukan nabi Musa selagi bayi ke dalam peti dan menghanyutkannya di sungai yang besar… ternyata itu adalah jalan dari takdir kebaikan yang Alloh tetapkan untuk Nabi Musa… dengan dihanyutkannya, justru menjadi sebab tidak dibunuhnya nabi Musa, di saat bayi-bayi lain yang laki-laki dibunuh oleh fir’aun… tidak sampai di situ, sang bayi pun di asuh di istana kerajaan fir’aun dengan penuh kasih sayang dan aman sentosa..
Demikian juga dengan ujian pahit yang dialami Nabi Yusuf , kesulitan yang berat dan bertubi-tubi, di mulai dari hasadnya saudara-saudaranya, dilempar ke dalam sumur, dijual sebagai budak, dituduh mau menzinahi istri seorang raja, dipenjara dan kesulitan-kesulitan lainnya… tapi di balik itu semua, Alloh telah menetapkan kebaikan baginya… pahala yang agung, kekuasaan yang besar, kekayaan bumi dan kerajaan yang bisa mengatur semaunya untuk memberikan jatah makanan kepada rakyatnya…
Saat Ummu Salamah radhiallohu anha bersedih karena ditinggal wafat sang suami yaitu Abu Salamah rodhiallohu anhu… namun di balik itu Alloh telah menetapkan kebaikan baginya… Alloh menggantinya dengan Rosululloh …
Kita juga pernah mendengar seseorang yang sedih, kecewa saat tertinggal pesawat karena tertidur atau kurangnya persyaratan… namun tidak lama dari situ, justru dia bersyukur dengan tertinggal pesawatnya tersebut… kenapa demikian? karena Alloh telah menetapkan kebaikan baginya… terdengar kabar bahwa pesawat tersebut jatuh dan semua penumpangnya tewas…
Kemudian Yang Keempat: Di antara Faidah yang dapat kita ambil pada ayat ini… bahwa seorang hamba hendaknya menyerahkan segala urusannya kepada Alloh yang maha mengetahui akibat segala perkara serta ridha dengan apa yang Ia pilihkan dan takdirkan untuknya.
Oleh karena itu hendaknya kita berprasangka baik kepada Alloh atas semua ayng ditetapkan-Nya..
Rosululloh bersabda dalam hadis qudsi:
قَالَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ؛ إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ
Allah Azza wa Jalla berfirman, “Aku itu sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Kalau ia bersangka baik kepadaku, maka untuknya kebaikan. Kalau ia bersangka buruk, maka untuknya keburukan.” (HR. Ahmad)
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda yang artinya:
“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman itu, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” [HR. Muslim].
Demikianlah di antara faidah yang dapat kita ambil dalam ayat yag mulia ini… semga Alloh memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat menerima apa yang ditakdirkan Alloh atas kita semua dengan penuh keridhoan.
أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ
Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh… tanamkanlah keyakinan dalam diri-diri kita bahwa yang terbaik itu adalah pilihan Allah. Dia-lah Allah yang telah menciptakan kita dan mengetahui apa yang terbaik untuk kita,
وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Allah-lah yang mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَ لِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَيَانَا صَغِيْرًا
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَ يَامُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ
اللهم انصر المجاهدين في كل مكان … وانصرهم, وثبت أقدامهم وسهل أمورهم
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami