KUMPUL KEBO DALAM TIMBANGAN (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

KUMPUL KEBO DALAM TIMBANGAN

Oleh: Tim Redaksi HASMI

Kerugian besar jika suatu sistem dibangun tanpa menjaga hak-hak individu yang memilihnya, dan tanpa menghormati martabat mereka. Lebih besar lagi kerugiannya bila akibat buruk sistem itu menimpa keturunan yang lahir darinya—anak-anak yang sama sekali tidak pernah dimintai pendapat, dan tidak pernah diberi kesempatan memilih.

Jiwa Manusia Adalah Ciptaan Allah

Kesadaran Islam dalam diri seorang Muslim tidak akan benar dan tidak akan matang sebelum ia menimbang segala hal dalam hidupnya—baik yang kecil maupun besar—dengan timbangan Islam. Itulah ukuran kebenaran yang memberi perhatian penuh pada jiwa manusia dan menangani urusannya dengan cara yang paling tepat, sebab Allah adalah Penciptanya, yang paling tahu rahasia jiwa itu, paling tahu apa yang baik untuknya, dan paling tahu apa yang harus dijauhi karena berbahaya baginya. Allah berfirman:

﴾وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ﭫ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا﴿

“Demi jiwa dan (Dzat) yang menyempurnakannya, lalu mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 7–8)

Kumpul Kebo Menurut Barat

Peradaban Barat melahirkan istilah Kumpul Kebo (kumpul kebo), yaitu bentuk hubungan baru antara laki-laki dan perempuan di luar prinsip-prinsip pernikahan resmi yang mensyaratkan adanya akad nikah yang sah. Fenomena ini tidak menemukan hambatan di Barat, sebab keluarga tidak memiliki kendali apa pun atas anak-anak mudanya. Tugas keluarga di sana hanya sebatas membesarkan anak hingga dewasa. Setelah itu, berlaku prinsip kemandirian dan kebebasan tanpa peran nilai spiritual sama sekali.

Kumpul Kebo Dan Kepastian Konfrontasi

Adalah sebuah kekeliruan dan bahaya besar bila kita mengira bahwa istilah-istilah asing ini akan tetap asing, hanya hidup di masyarakat asalnya, hanya menimbulkan dampak buruk di sana, dan tidak akan menular. Hingga pada suatu hari, kita tersadar bahwa fenomena ini sudah ada di tengah-tengah kita dan dijalani oleh anak-anak kita. Rasa sadar yang datang terlambat itu memaksa kita menghadapi masalah ini di wilayah kita sendiri, padahal seharusnya lebih baik bila sudah dihadapi sejak fenomena itu masih ada di daerah asal kemunculannya.

Menghadapi Fenomena Kumpul Kebo

Jalan untuk menghadapi fenomena ini harus diawali dengan menimbangnya di atas timbangan Islam—yang tidak mungkin salah. Kita perlu menelitinya, mencari tahu sebab-sebabnya, dan memperlihatkan tandingan yang ditawarkan Islam. Setelah itu barulah masuk ke tahap diskusi dengan para pengusung ide ini maupun dengan mereka yang tergoda dan merasa bahwa ide itu pantas dijalankan.

Pernikahan dalam Islam

Tidak ada sistem yang lebih baik dalam mengatur hubungan laki-laki dan perempuan selain pernikahan dalam Islam. Ia adalah sistem paling sempurna dalam menjaga hak dan kewajiban kedua belah pihak. Islam tidak hanya melihat akad nikah sebagai pagar untuk melindungi hak-hak pasangan, atau sebatas saluran untuk memuaskan hasrat fisik semata, melainkan mengangkat hubungan itu ke tingkat yang lebih tinggi: pada makna mauaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang).

Allah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

(QS. Ar-Rūm: 21)

Kesenangan fisik hanyalah nikmat singkat. Yang dibutuhkan manusia adalah makna yang lebih dalam, yang dapat menjaga kesucian, melestarikan keturunan, dan memastikan anak-anak lahir serta tumbuh dengan hak-hak yang terjaga, sehat jasmani dan rohani, sehingga bisa menjadi anggota masyarakat yang baik.

Perbandingan antara Kumpul Kebo dan pernikahan dalam Islam

Sungguh merugikan jika suatu sistem tidak mampu menjaga hak-hak individu yang memilihnya, dan lebih parah lagi bila menzalimi keturunan yang lahir darinya tanpa pernah dimintai persetujuan.

Sebaliknya, betapa indah bila manusia berlindung pada sistem sosial Ilahi, yakni pernikahan, yang menjaga martabat manusia, melindungi pasangan, dan menjamin hak-hak anak. Bahkan, para pemikir bijak yang merenungi akibat jangka panjang pun dapat melihat bagaimana sistem pernikahan terus-menerus memberi manfaat, melestarikan keturunan, dan menata kehidupan generasi demi generasi.

Kebenarannya jelas: perkataan manusia—yang penuh hawa nafsu—tidak akan pernah bisa menggantikan firman Allah—yang bebas dari hawa nafsu.

Allah berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

(QS. Al-Mā’idah: 50)

Pendekatan Riset Dalam Tradisi Barat

Artikel yang membandingkan berbagai ide hanyalah opini penulisnya. Namun bila diperkuat dengan penelitian ilmiah, ia mulai dianggap sebagai kebenaran akademis. Tapi bagaimana bila riset yang membuktikan keburukan Kumpul Kebo justru lahir dari masyarakat yang menganutnya? Menolak temuan semacam itu sama saja mengkhianati amanah ilmiah.

Beberapa penelitian menunjukkan:

  • Hubungan kumpul kebo (cohabitation) kurang stabil dibanding pernikahan, tidak berorientasi jangka panjang, dan lebih rendah tingkat kebahagiaan serta komitmennya.[1]
  • Penelitian di Universitas Virginia dengan pemindaian otak menemukan bahwa pasangan yang menikah memiliki tingkat ketenangan dan rasa aman lebih tinggi dibanding pasangan yang hanya kumpul kebo, meski menganggap diri mereka “seperti menikah”.[2]

Kumpul Kebo dan Alasan Ekonomi

Sebagian pendukung Kumpul Kebo beralasan bahwa biaya pernikahan terlalu mahal—baik karena faktor ekonomi maupun karena budaya sosial berupa mahar yang berlebihan. Benar, fenomena itu ada. Namun yang rusak bukanlah sistem pernikahan, melainkan praktik manusia yang menyimpang dari ajaran Islam.

Nabi ﷺ bersabda:

  • “Jika datang kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.”[3]
  • “Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.”[4]
  • Kepada seorang laki-laki beliau bersabda: “Nikahkanlah walau hanya dengan mahar berupa cincin dari besi.”[5]

Umar bin Khattab r.a. juga berkata:

“Jauhilah berlebihan dalam mahar. Jika kemuliaan itu baik di sisi Allah atau terhormat di sisi manusia, tentu Rasulullah lebih layak melakukannya. Padahal beliau tidak pernah menikahkan putrinya atau menikah dengan mahar lebih dari 12 uqiyah (setara 480 dirham). Sesungguhnya sikap berlebihan itu dapat menimbulkan permusuhan dalam rumah tangga.”[6]

Agar Barat Tidak Menguasai Anak-Anak Kita

Pada akhirnya, kesalahan terbesar kita adalah membiarkan anak-anak kita dikuasai orang lain. Dunia digital membuat mereka lebih cepat mengetahui hal-hal baru daripada kita. Mereka membaca hari ini apa yang baru kita ketahui besok. Karena kita lalai membekali mereka dengan pemahaman yang benar, ruang kosong itu diisi oleh pemikiran Barat, sebagian bahkan dengan niat merusak.

Kita abai ketika mereka paling membutuhkan bimbingan, lalu mereka mencari jalan sendiri. Akhirnya, mereka menimbang urusan hidup dengan pandangan Barat, bukan dengan nilai-nilai kita.

Kesimpulan

Seruan untuk melegalkan Kumpul Kebo adalah pengkhianatan terhadap agama dan fitrah, penipuan terhadap kebenaran, dan penghancuran identitas. Islam telah menata hubungan laki-laki dan perempuan dengan sistem mulia yang bernama pernikahan. Segala bentuk hubungan di luar itu disebut zina, dan diharamkan dalam Islam serta seluruh agama samawi.

Menyamarkan zina dengan nama Kumpul Kebo, atau menamai penyimpangan seksual sebagai “orientasi”, hanyalah upaya menipu. Hakikatnya tetap: hubungan itu haram, tercela, dan merusak martabat manusia.

Allah berfirman:

{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا} (QS. Al-Isrā’: 32).

Maka, membuka ruang diskusi untuk menerima Kumpul Kebo di hadapan publik bukanlah kebebasan, tetapi pelecehan terhadap agama, budaya, dan moral masyarakat. Itu hanyalah kebebasan untuk melepaskan diri dari fitrah dan ajaran agama.

Menormalisasi praktik-praktik menyimpang ini berarti menghancurkan benteng moral generasi muda. Padahal mereka adalah fondasi masyarakat. Jika benteng itu runtuh, maka lahirlah generasi yang berani meremehkan batasan Allah dan melanggar kehormatan yang telah dijaga syariat.

________________________________________

Catatan Sumber:

[1] Situs Live Science menyebutkan bahwa para peneliti dari Universitas Virginia, pernikahan, kohabitasi, dan kesehatan mental, serta Institut Australia untuk Studi Keluarga.

[2] Artikel di surat kabar Al-Khaleej Uni Emirat Arab, “Otak Membedakan antara Pernikahan dan Kohabitasi”, tanggal 1 Maret 2014, berdasarkan sebuah penelitian Amerika.

[3] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1085) dan dinilai hasan oleh al-Albani.

[4] Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 4072) dan dinilai sahih oleh al-Albani.

[5] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5029).

[6] Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra 7/382.

Check Also

‘IFFAH (MENJAGA KEHORMATAN) DALAM KHAZANAH SASTRA ARAB (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

‘IFFAH (MENJAGA KEHORMATAN) DALAM KHAZANAH SASTRA ARAB Oleh: Tim Redaksi HASMI Banyak dari para bijak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot
situs slot