Wahyu Syaithan Sumber Kesesatan

28 Apr 2014Redaksi Opini Islami

Suatu hari ‘Ikrimah  menginformasikan kepada Ibnu ‘Umar  bahwa al-Mukhtar ibnu Abu ‘Ubaid mengaku mendapatkan wahyu. Saat mendengar khabar itu, Ibnu ‘Umar raḍyAllāhu 'anhum (may Allāh be pleased with them) dengan tegas mengatakan: “Dia benar” (??). Lalu beliau  membaca dua ayat Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) di dalam QS. al-An’am (6): 121 & 112.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Alloh ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kalian; dan jika kalian menuruti mereka, sesungguhnya kalian tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (QS. al-An’am [6]: 121)

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak menger-jakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. al An’am [6]: 112)

(HR. Ibnu Abi Hatim).

Begitulah sumber-sumber alternatif Syaithoni dibuat untuk menandingi kebenaran yang di-wahyukan oleh Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Karena keselamatan hidup manusia dan kebangkitan sejatinya adalah dengan mengikuti (secara paripurna) sumber-sumber Ilahiyah (ke-Tuhan-an), yaitu Kitabulloh dan hadits-hadits Rosul-Nya ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) yang benar berasal darinya. Sedangkan berpegang murni kepada wahyu Ilahi itu berarti kegagalan Iblis dalam mewujudkan sumpah se-rapahnya mengancam kesesatan umat manusia.

Upaya membuat sumber-sumber kesesatan yang dilakukan Iblis dengan para loyalmannya di kalangan bangsa jin dan manusia terus bergulir. Begitulah banyak yang mengaku nabi palsu mendapatkan wahyu dan memiliki kitab, ya.. wahyu syaithan yang menjadi kitabnya. Ahmadiyah dengan “tadzkiroh”-nya, Socrates, Plato dan Aristoteles dengan karya-karya filsafatnya seperti “etika, republik, apologi, phaedo, dan krito” atau 52 pasal risalah filsafat: Rosail Ikhwan as-Shafa., Syiah dengan al-Kafi dan Man La Yadhuruhul Faqih nya atau ontologi Islam (di Indonesia), kaum sufi sesat Ibnu Arabi (bukan Ibnul Arabi ulama Makkiyyah) dengan Fushush al-Hikam dan Futuhat al-Makkiyyahnya, para ahli hikmah palsu dan toreqot dengan berbagai buku panduannya, dan lain-lainnya.

Akhirnya sejarah pun mencatat banyak kaum yang mengaku Muslim mendewakan dan mengkultuskan sumber-sumber akal rasionalitasnya, wawasan filsafatnya, renungan hasil meditasinya, mimpi bertemu para nabi dan wali, dongeng-dongeng goib orang-orang yang dianggap soleh atau wali, mema’sumkan para ahlul bait Nabi, langgam-langgam dan karya sastra para pendahulu atau nenek moyangnya.

Ingatlah oleh kita, bahwa syaihan-syaithan manusia penerima wahyu dari syaithan-syaithan jin ini jauh lebih mengerikan dan berbahaya dalam menyelewengkan kita dari sirotulmustaqim.

Imam at-Thobari meriwayatkan dari Abu Dzar  bahwa Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) berkata kepadanya: “Hai Abu Dzar! Apakah Engkau meminta perlindungan kepada Alloh dari keburukan syaithan manusia dan jin?” Abu Dzar bertanya: “Ya Rosululloh! Apakah syeithan ada yang dari manusia?” Beliau  menjawab: نعم هم شر من شياطين الجن“Ya.. Mereka jauh lebih buruk dari syaithan dari bangsa Jin”. (Lihat Tafsir at-Thobari tentang Tafsir QS. 20:112)

Banyak kaum Muslimin yang tertipu dengan mensejajarkan kitab-kitab palsu itu setingkat wahyu al-Qur’an dan sunnah Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), sebagai sumber ilmu, nilai, etika bahkan hukum. Yang lebih mengerikan adalah menjadikan sumber-sumber syaithoni itu pengganti dari wahyu Ilahi yang hakiki. Na’udzu billah min syayathinil insi wal jin.

 (Red-HASMI)