MUSIBAH DI ATAS MUSIBAH
Oleh: Ganjar Wijaya
Di penghujung tahun 2025 ini kita semua dikejutkan dengan berita yang menorehkan luka yang cukup mendalam, dimana 3 provinsi bagian pesisir negeri tercinta ini, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Dan Aceh mengalami bencana banjir dan longsor yang sangat dahsyat luar biasa.
Kedahsyatan bencana ini membuat sebagian lokasi terdampak bencana mengalami kerusakan yang sangat parah, bahkan memakan korban jiwa yang mencapai 1000 lebih banyaknya. La haula wa laa quwwata illa billah.
Inilah bencana yang membuat siapapun, selama dia seorang manusia yang memiliki hati Nurani, entah darimana asalnya, maupun apa agamanya akan merasakan rasa pilu melihat pemandangan yang tragis tersebut. Bahkan viral, ada seorang reporter sebuah stasius tv internasional yang biasanya bagi seorang reporter dituntut untuk mampu menahan emosi ketika menyampaikan berita, namun ia tak kuasa menahan air mata saat meliput kondisi pasca bencana di sana.
Kondisinya memang sedemikian mengkhawatirkannya. Musibah yang tiada sesiapapun menginginkannya. Dan banyak yang menganalisa, termasuk para pakar lingkungan yang menjelaskan, bahwa sebab terbesar dari terjadinya musibah ini adalah dikarenakan terjadinya deforestasi besar-besaran. Ribuan kilometer dibabat, lalu diganti pohon sawit yang sangat boros menyerap air, dan mengeringkan tanah di sekitarnya. Sehingga Ketika hujan besar melanda, banjir bandang pun besar kemungkinan terjadi, dan memang sudah terjadi.
Namun, di Tengah luka yang menganga, justru datang komentar dari sebuah akun media sosial, dimana akun tersebut mengidentifikasikan dirinya sebagai pengikut yang berpegang kepada sunnah Rosul namun dengan lugu nya mengatakan:
“Kalau banjir bandang itu karena hutan gundul / pohon ditebangi, kenapa timur Tengah padang pasir tandus tidak pernah banjir bandang? Sedangkan di Indonesia masih banyak pepohonan hamper 80%”.
Mengomentari komentar jahil seperti ini sepertinya tidak perlu dilakukan karena hanya menghabiskan energi. Tetapi realitanya, banyak yang mendukung komentar tersebut. Meski komentar jahil tersebut dibumbui dengan dalil bahwa azab berasal dari kemasiatan, namun tampaknya, komentar tersebut tidak benar-benar diniatkan untuk memberi nasihat, melainkan karena berdasar kebencian semata atas suatu kaum yang di luar kelompok atau golongannya.
Padahal, memahami perbedaan antara keadaan negara Indonesia, terutama yang terkena musibah tersebut dengan negeri Timur Tengah sangatlah mudah, tidak memerlukan ilmu penelitian yang mendalam. Tetapi karena kebencian mendahului realita, akhirnya keluar komentar jahil tersebut yang sejatinya tidak layak bagi yang mengaku pengikut al Qur’an dan as Sunnah.
Inilah sejatinya MUSIBAH DI ATAS MUSIBAH. Di saat musibah yang memilukan hati begitu dahsyat terasa, namun kalimat yang dilontarkan saudaranya sesama muslim, yang seharusnya memberikan motivasi dan bantuan yang besar, justru menambah luka yang lebih dalam lagi.
Tidak salah juga sebenarnya mengatakan bahwa bencana bisa disebabkan kemaksiatan, karena toh memang itu sesuai dengan apa yang kita sebagai muslim yakini. Tetapi berkomentar tanpa memahami realita kondisi suatu negeri adalah kejahilan yang nyata, juga menyampaikan vonis azab di saat kondisi kaum Muslimin yang tertimpa musibah masih dalam kesulitan tentu merupakan cara dakwah yang serampangan lagi hanya menimbulkan musibah keganduhan lagi menambah luka mendalam yang kelak tentu akan dimintai pertanggungjawaban. Wal’iyadzubillah.
Sudah selayaknya bagi setiap muslim untuk berhati-hati dalam berkomentar atau menjaga lisan dan tulisan dalam setiap peristiwa yang terjadi. Terkadang, niat baik saja tidak cukup, harus dibarengi dengan memahami situasi dan kondisi, sehingga apa yang kita komentara dapat bermanfaat dan tentu saja, juga dapat dipertanggungjawaban di hadapan Alloh Ta’ala kelak.
Sumber : Materi Majalah INTISARI HASMI Vol. 0008 Rubrik Komentar Islami
HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami