Merdeka yang Sebenarnya

18 Mar 2014Redaksi Manhaj

Merdeka yang Sebenarnya

Setiap manusia pasti menginginkan sebuah kemerdekan alias kebebasan, tak terkecuali bagi kaum Muslimin. Karena hidup merdeka adalah suatu kenikmatan yang besar. Dengan hidup merdeka banyak hal yang bisa dikerjakan. Sebaliknya, jika hidup terjajah, maka seseorang akan terkungkung dan tidak ada yang bisa diperbuat. Jika fisik seseorang terikat dengan belenggu, terlebih lagi jika yang terbelenggu adalah jiwanya, karena jiwalah yang menjadi inti dari sebuah kemerdekaan.

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda:

 أَلاَ وَ إِنَّ فِيْ الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal darah, apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Itulah gambaran hati.” (HR. al-Bukhori dan Musllim)

Tidak mungkin seseorang mendapat apa yang ia inginkan berupa kemerdekaan atau kebebasan dalam kehidupan ini, kecuali ia mencari kemerdekaan tersebut di dalam agama Islam yang mulia. Dalam Islam kemerdekaan yang didamba benar-benar akan  direngkuh. Bukan hanya bagi manusia tapi tumbuh-tumbuhan dan binatang melata pun akan merasakan kemerdekaan yang hakiki. Karena Islam membawa kedamaian dan ketentraman bagi semua.

Hanya dengan Islam seseorang akan mendapatkan kemerdekaan hakiki. Berikut di antara bentuk-bentuk kemerdekaan tersebut adalah:

1. Merdeka dari Cengkraman Kesyirikan

Syirik adalah belenggu terkuat hingga membuat manusia menjadi orang yang dungu, hina dan bodoh. Syirik adalah penjajah dzolim yang siap mencengkram kehidupan manusia. Kehidupannya akan selalu dirundung ketakutan dan kegelisahan yang membuat mereka bersusah payah dan mengarungi kehidupan ini.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Sesungguhnya syirik itu benar-benar merupakan kedzoliman yang besar.” (QS. Lukman [31]: 13)

Dengan Islam yang murni seseorang akan merasakan hidup merdeka dari belenggu penyembahan sesama makhluk menuju penyembahan kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) semata, dan dapat memberikan ketenangan jiwa dan kedamaian hati bagi seseorang, sehingga membuat lapang dada dan tenang hatinya.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Alloh membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya?.” (QS. az-Zumar [39]: 29)

Ibnu Katsir raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) berkata dalam tafsirnya, ‘Tidaklah sama antara seorang musyrik yang menyembah kepada Alloh, dengan seorang Mukmin yang murni hanya beribadah kepada Alloh semata.”

2. Merdeka dari Jeratan Iblis

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. al-A’rof [7]: 16-17)

Iblis akan senantiasa menjegal, menjajah, dan mengintervensi manusia dari berbagai arah. Tujuannya untuk membuat manusia ragu akan negeri akhirat dan condong kepada kehidupan dunia sehingga agama menjadi samar baginya dan yang ada hanyalah amalan-amalan buruk yang dilakukan manusia. Ini adalah penjajahan besar-besaran yang dilakukan makhluk terkutuk tersebut.

Dengan Islam yang memurnikan tauhid, maka Iblis pun tak berdaya menguasai manusia.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb-nya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS. an Nahl [16]: 99-100)

Terlebih lagi dalam Islam terdapat satu bulan yaitu bulan Romadhon, dimana Iblis dibelenggu sehingga tidak bisa berbuat banyak untuk menyesatkan manusia.

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda:

“Apabila Telah datang Romadhon dibuka pintu-pintu langit, di tutupnya pintu-pintu neraka dan dibelenggunya setan-setan.”  (HR. al-Bukhori dan Muslim)

3. Merdeka dari Cengkraman Musuh

Penaklukkan kota Makkah adalah penaklukkan terbesar bagi kaum Muslimin yang dengannya Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) memuliakan agama, Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), dan para tentara-Nya raḍyAllāhu 'anhum (may Allāh be pleased with them). Sekian lama 360 Berhala bercokol di sekeliling Ka’bah, tumbang seketika melalui anak panah yang Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) lesatkan. Tanpa adanya perlawanan, kaum Quraisy musyrikin yang bengis pun menyerah tak berdaya.

Benarlah firman Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He):

“Dan Katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. al-Isro [17]: 81)

Ini adalah bukti bahwa dengan Islam yang murni, kaum Muslimin akan mendapatkan kemerdekaannya.

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. an-Nur: 55)

(Red-HASMI/Ustadz Supendi)