Manaqiban Syaikh Abdul Qadir Jaelani

18 Sep 2014Redaksi Budaya Munkar

Siapakah dari kaum muslimin saat ini yang tidak mengenal sosok ulama besar Syaikh Abdul Qodir Jaelani?

Nama yang sudah mashur dan dikenal oleh para santri di pondok-pondok pesantren, bahkan dari kalangan masyarakat awampun sosok dan nama Syaikh Abdul Qodir Jailani sudah tidak asing lagi di telinga mereka.

Kemasyhuran nama beliau ini disebabkan karena keutamaan dan jasa-jasa beliau terhadap umat dalam menyebarkan dan membela aqidah ahlus sunnah wal jama’ah (hal ini bisa di-lihat dalam kitabnya yang terkenal “Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq”, bahkan beliau pun telah membantah dengan tegas terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah).

Makanya tidaklah mengherankan jika nama Syaikh Abdul Qodir Jailani disanjung dan dicintai oleh kaum muslimin, sampai saat sekarang ini. Beliau adalah seorang alim yang beraqidah ahlus sunnah mengikuti jalan sa-lafush shalih, lahir di Baghdad pada tahun 470 H, tepatnya di kota Jailan, karenanya di akhir nama beliau ditambahkan kata al Jailani. Alloh telah memberikan keberkahan dan karomah kepadanya karena keimanan dan ketakwaan-nya. Hanya saja sebagian dari kaum muslimin yang ghuluw (berlebih-lebih) dalam meng-agungkan Syaikh Abdul Qodir Jailani telah membuat kedustaan-kedustaan atas nama be-liau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran dan keya-kinan-keyakinan yang menyelisihi ajaran Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dan para sahabatnya.

Sebagaimana kedustaan-kedustaan atas nama Syaikh Abdul Qodir Jailani ini telah ter-sebar di Indonesia yang dikemas dalam suatu acara atau budaya ritual yang dikenal dengan nama “manaqiban”.

“Manaqiban” adalah pembacaan autobio-grafi (riwayat hidup) Syaikh Abdul Qodir Jailani untuk mengenang beliau dan mengambil hikmah dari kisah-kisah ritual yang beliau alami dimasa hidupnya.

Kegiatan ini sudah menjadi acara tradisi yang dianggap oleh mereka sebagai bentuk jalinan kecintaan untuk terus-menerus menyambung tali silaturahmi dengan Syaikh Abdul Qadir al Jailani yang dikenal dikalangan mereka dengan “shulthonul auliya” (Rajanya para wali).

Banyak sekali kisah-kisah palsu tentang karomah-karomah Syaikh Abdul Qodir Jailani dalam manaqiban yang sering mereka baca, diantaranya adalah, kisah Syaikh Abdul Qodir Jailani menghidupkan ayam yang telah mati, merebut ruh yang telah dicabut oleh malakul maut di atas langit dan dikembalikan ke jasad-nya semula, berdialog dengan kambing, dan lain-lain. Semua kisah-kisah dusta tersebut mereka konsumsi mentah-mentah dan diyakini kebenarannya, lebih dari itu mereka memiliki anggapan bahwa “Syaikh Abdul Qodir Jailani derajatnya berada di atas Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), sebagaimana halnya (menurut mereka) bahwa Khidir yang menjadi wali Alloh  memiliki ke-dudukan, wawasan dan ilmu yang lebih tinggi dari pada Musa yang menjadi Rasul Alloh .

Sungguh argumen yang sangat keliru, ka-rena bertentangan dengan dalil-dalil syar’i yang menyatakan bahwa Muhammad  ada-lah pemimpin para nabi dan rasul, manusia yang paling mulya di sisi Alloh dari seluruh manusia dan makhluk lainnya.

Ada juga sebagian mereka yang menjadi-kan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wa-silah (perantara) dalam berdo’a kepada Alloh, mereka beranggapan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Alloh , kecuali dengan perantaraan Syaikh Abdul Qodir Jai-lani. Perbuatan ini merupakan salah satu dari yang membatalkan keislaman seorang muslim menurut kesepakatan para ulama (ijma’), berdasarkan firman Alloh di dalam al-Qquran,

Ingatlah, hanya kepunyaan Alloh-lah aga-ma yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Alloh akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Alloh tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. az-Zumar:3)

Berikut adalah kutipan dari ucapan seorang mursyid (pembimbing) di acara manaqiban suryalaya Tasikmalaya,

“Meskipun di dalam manaqiban terdapat bermacam-macam karomah Syaikh Abdul Qo-dir Jailani yang berada di luar kebiasaan manusia, kita harus percaya, jangan ragu-ragu, karena itulah karomah. Di dalam al-Qur’an pun terdapat bermacam-macam keluar biasaan dari seorang manusia yang telah dimuliakan oleh Alloh bisa kita baca seperti dalam kisah Ashabul Kahfi, kisah Siti Maryam dan lain-lain. Mereka bukanlah Rosul yang diberikan mu’jizat tapi hanya seorang yang telah dimulia-kan oleh Alloh dengan karomahnya. Syaikh ‘Abdul Qodir Jailani mengatakan, “Barang siapa yang ingin berhubungan denganku, ingin aku sampaikan kepada Alloh permohonanmu, maka ucapkanlah: Bismillaahi, ‘alaa niyyati sayyidi syekh ‘abdul Qodir Jailani”.” (Suatu pendustaan yang mengatas namakan syaikh Abdul Qodir Jailani).

Sama halnya dengan orang yang langsung meminta (berdo’a) kepada Syaikh Abdul Qodir Jailani untuk dihilangkan kesempitan dan dipenuhi segala kebutuhannya. Inipun bentuk penzholiman kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), karena doa ada-lah ibadah sedangkan ibadah itu tidak boleh diperuntukkan kecuali hanya untuk Alloh . Maka ketika meminta (berdoa) kepada selain Alloh berarti itu adalah syririk dan penzho-liman yang paling agung. Alloh berfirman, “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyom-bongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60).

Selain itu, mereka pun senang memajang gambar syaikh Abdul Qodir Jailani di setiap tempat penting/utama, karena mereka meyakini “ada keberkahan dari gambar tersebut”. Benarkah gambar yang mereka pajang itu, asli gambar Syaikh Abdul Qodir Jailani ataukah rekaan? (Itupun masih tanda Tanya)

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) telah bersikap tegas dalam masalah ini, sebagaimana diriwiyatkan dari Aisyah raḍyAllāhu 'anha (may Allāh be pleased with her), ia berkata Rosululloh  masuk me-nuju saya dan saya menutup bilik dengan tirai tipis bergambar (dalam riwayat lain: menggan-tungkan tirai tipis bergambar kuda bersayap), maka ketika beliau melihatnya, beliau  me-robeknya dan dengan wajah merah padam, beliau bersabda, “Hai Aisyah, manusia yang paling keras disiksa di Hari Kiamat adalah me-reka yang meniru ciptaan Alloh.” Kata Aisyah: “Maka kami memotong-motongnya lalu men-jadikannya satu atau dua bantal.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Dalam riwayat yang lain dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda: “Malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar.” (HR. Bukhori & Muslim, dengan lafadz Muslim).

Wal hasil, mereka lebih senang merutin-kan membaca “manaqiban” (kisah-kisah dusta) dari pada membaca al-Quran (kalam Alloh) yang mulia, Setan secara perlahan-lahan telah menggiring mereka untuk meninggalkan al- Quran dan sunnah serta menjadikan “manaqiban” sebagai pijakan hidup dan aqidah mereka.  Sungguh realita yang sangat menyedih-kan sekali,

Nas alulloha alhidayata wattaufiq.

(Red-HASMI)