KONSEP-KONSEP DALAM AQIDAH / BAGIAN-9 (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

KONSEP-KONSEP DALAM AQIDAH (BAGIAN-9)

Oleh: Tim Redaksi HASMI

 

Konsep 21: Nama-nama Alloh: «Al-‘Aliy» (Yang Maha Tinggi), «Al-A‘la» (Yang Paling Tinggi), «Al-Muta‘al» (Yang Mahatinggi) dan Dampak Iman Kepada-Nya

Nama-nama Alloh yang mulia ini disebutkan dalam banyak ayat di Kitabullah. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اللَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
[Al-Baqarah: 255]

“Alloh, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri.”

Dan Alloh Ta’ala berfirman:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
[Al-A‘la: 1]

“Bersucilah nama Tuhanmu Yang Paling Tinggi.”

Dan Alloh Ta’ala juga berfirman:

يَسْبِحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
[Ar-Ra‘d: 9]

“Segala yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

Nama Alloh «Al-‘Aliy» (Yang Maha Tinggi) dan «Al-Muta‘al» (Yang Mahatinggi) sering dikaitkan dengan nama-Nya «Al-Kabir» (Yang Maha Besar), sebagaimana dalam ayat-ayat lain dan firman Alloh:

اللَّهُ الَّذِي لَهُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْكَبِيرُ
[Ghafir: 12]

“Alloh-lah yang memiliki kedudukan paling tinggi di langit dan di bumi, dan Dia Maha Besar.”

Hal ini karena nama-nama tersebut, seperti nama «Al-Kabir», menunjukkan keagungan dan ketinggian Alloh Ta’ala atas segala sesuatu.

Makna Nama-nama

  1. Al-‘Aliy dan Al-A‘la:

    Adalah Yang Tinggi yang tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya. Dia-lah yang mengatasi seluruh makhluk dengan kekuasaan-Nya. Tidak ada tingkatan yang di atas-Nya, tidak ada sifat makhluk yang melekat pada-Nya, dan tidak bisa dibayangkan dengan akal manusia.

  2. Al-Muta‘al:

    Adalah Yang Mahatinggi, Maha Suci dari segala fitnah orang-orang yang berdusta, dan Maha Terpelihara dari keraguan orang-orang yang bingung.

Bentuk Ketinggian Alloh

Alloh Ta’ala memiliki semua jenis ketinggian, antara lain:

1. Ketinggian Dzat dengan Istiwa’ di atas Arsy

Alloh beristawa di atas Arsy sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, sebagaimana Dia berfirman:

الرَّبُّ تَعَالَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
[Thaha: 5]

“Tuhan Yang Maha Tinggi bersemayam di atas Arsy, dan Arsy-Nya mengelilingi seluruh makhluk.”

2. Ketinggian dalam Kekuasaan dan Kewibawaan

Alloh Maha Mengalahkan dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya:

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ
[Al-An‘am: 18]

“Dan Dia-lah Yang Maha Mengalahkan di atas hamba-hamba-Nya.”

3. Ketinggian dalam Martabat dan Kedudukan

Alloh memiliki martabat dan kedudukan yang tinggi, sebagaimana firman-Nya:

وَهُوَ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي صِفَاتِهِ
[Ar-Rum: 27]

“Dan Dia-lah contoh tertinggi dalam sifat-sifat-Nya, sempurna tanpa kekurangan dan tanpa tercampur dengan kebatilan.”

Dampak Iman kepada Nama-Nama Ini

Iman kepada nama-nama Alloh «Al-‘Aliy», «Al-A‘la», dan «Al-Muta‘al» menumbuhkan kesadaran:

  • Bahwa Alloh Maha Tinggi dan tidak terjangkau oleh makhluk.

  • Menghasilkan rasa hormat, takwa, dan ketundukan total kepada-Nya.

  • Membebaskan hati dari kesombongan atau kepicikan duniawi, karena Alloh-lah Yang Mahatinggi dalam segala aspek.

Konsep 22: Pemutarbalikan Makna ‘Al-Uluw’ dan ‘Istiwā’ oleh Al-Asy’ariyyah

Mungkin Al-Asy’ariyyah membenarkan bahwa Alloh memiliki tinggi (uluww) terakhir dalam arti tinggi kekuasaan, penguasaan, dan kedudukan. Namun, mereka menolak tingginya Alloh dalam hakikat-Nya (uluww al-dhāt) dan istiwā’ di atas ‘Arsy; padahal hal ini telah disebut secara jelas dalam banyak ayat dan hadis. Misalnya, ayat-ayat sebelumnya dan yang lainnya.

Mereka berdalil bahwa penolakan ini termasuk ranah “akal” (maqāliyyāt) bukan “nash” (sam’īyyāt). Menurut mereka, akal memutuskan bahwa mustahil bagi Alloh memiliki arah atau tempat, karena menetapkan arah atau tempat adalah sifat benda, sedangkan Alloh terbebas dari sifat kebendaan.

Karena kerancuan akal semacam ini, Al-Asy’ariyyah menafsirkan kata istiwā’ yang terdapat di enam ayat Al-Qur’an sebagai “menguasai” (al-istilā’), bukan makna hakiki. Ini adalah pemutarbalikan teks, bukan penafsiran; dan justru mengarah pada kesalahan lain, seakan Alloh harus berjuang melawan ciptaan-Nya untuk kemudian menang dan menguasainya. Alloh Maha Suci dari perkataan seperti itu. Alloh berfirman:

وَاسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
[Āli ‘Imrān: 55]

Artinya: “Dan Dia bersemayam di atas ‘Arsy”. Ayat ini menjadi dalil bahwa Alloh tinggi di langit dan terpisah dari ciptaan-Nya, berada di atas ‘Arsy-Nya.

Menariknya, mereka tetap membenarkan penglihatan Alloh pada Hari Kiamat, dan dalih mereka hanyalah akal, bukan nash. Namun, mereka tetap menolak uluww (tinggi) Alloh, padahal akal membenarkan bahwa entitas yang tidak memiliki tubuh dapat melihat segala sesuatu tanpa arah dan tanpa berhadapan.

Perkataan mereka ini bahkan menimbulkan sindiran dari kelompok Mu’tazilah, yang mengatakan:

“Barang siapa menetapkan penglihatan Alloh tetapi menolak arah, ia telah mempermalukan akalnya sendiri.”
(Lihat Bayān Talbīs al-Jahmiyyah, hlm. 88)

Selain ayat di atas, ada dalil nash dari hadis sahih yang menunjukkan tingginya Alloh:

“Robb kami turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: ‘Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Kuberikan; siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Kuperkenankan; siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Kuperkenankan.’” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)

Ini adalah turunnya Alloh yang hakiki, yang sesuai dengan kemuliaan Alloh, dan diyakini oleh Ahlus Sunnah tanpa tahrīf (memutarbalikkan), ta‘wīl (menafsirkan secara akal semata), atau tashbīh (menyerupakan Alloh dengan makhluk).

Konsep 23: Dampak Iman kepada ‘Uluww (Ketinggian) Alloh Ta’ala

Iman kepada ketinggian Alloh Ta’ala dalam tiga bentuknya—ketinggian dzat-Nya, ketinggian kekuasaan-Nya, dan ketinggian kedudukan serta kemuliaan-Nya—memberikan banyak dampak positif bagi seorang hamba. Beberapa yang paling penting adalah:

  1. Rendah hati dan tunduk kepada Alloh Ta’ala, serta mengagungkan dan mencintai-Nya. Sikap ini merupakan inti dari ibadah sejati.

  2. Tawadhu’ (merendahkan diri) kepada Alloh karena Dia Maha Benar dan Maha Suci. Iman kepada ketinggian Alloh menuntun dan meneguhkan sikap ini.

  3. Hati-hati terhadap kesombongan dan penindasan di bumi. Setiap keangkuhan, penindasan, dan kesewenang-wenangan terhadap makhluk lain akan dikalahkan oleh kekuasaan Alloh yang Mahatinggi.

  4. Melepaskan rasa takut terhadap makhluk lemah, karena tidak peduli seberapa kuat atau tinggi kedudukannya, semua berada di bawah kekuasaan dan ketinggian Alloh.

  5. Menyucikan Alloh dari segala kekurangan dalam dzat, sifat, dan perbuatan-Nya, serta menetapkan kesempurnaan bagi-Nya dan memuji-Nya atas itu semua.

Konsep 24: Kedekatan dan Pertolongan Alloh Ta’ala

Kedekatan Alloh Ta’ala dan pertolongan-Nya kepada hamba dibagi menjadi dua jenis: umum dan khusus.

  1. Kedekatan dan pertolongan umum

Ini berupa ilmu dan kekuasaan Alloh atas seluruh makhluk. Dalilnya antara lain:

  • Surah Qaf [50]:16

“وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ”

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia, dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.”

  • Surah Al-Mujadilah [58]:7

“أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ”

“Tidakkah kamu melihat bahwa Alloh mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi?”

  • Surah An-Nisa [4]:108

“وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا تَعْمَلُونَ”

“Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ilmu dan pengawasan Alloh adalah bentuk utama dari kedekatan dan pertolongan umum-Nya.

  1. Kedekatan dan pertolongan khusus

Ini khusus bagi hamba-hamba yang bertakwa, berupa penerimaan ibadah, pengabulan doa, pertolongan, dan penguatan.

Dalilnya antara lain:

  • Surah Hud [11]:61

“وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ”

“Dan tidaklah Kami mengutus sebelum engkau kecuali laki-laki yang Kami wahyukan kepada mereka.”

  • Surah Al-Baqarah [2]:186

“وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ”

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”

Selain itu, pertolongan khusus Alloh juga berupa pembinaan, penguatan, dan pertolongan dalam ketaatan, seperti dalam:

  • Surah Al-Baqarah [2]:153

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ”

“Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.”

  • Surah An-Nahl [16]:128

“وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ”

“Dan Alloh beserta orang-orang yang sabar.”

Dengan demikian, kedekatan Alloh bukan hanya dalam ilmu dan kekuasaan-Nya, tetapi juga melalui pengabulan doa, pertolongan, dan penguatan hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Check Also

LAYANAN AMBULANCE HASMI (Oleh: Tim Redaksi HASMI)

LAPORAN AMBULANCE GRATIS HASMI PEDULI BULAN APRIL 2026 Oleh: Tim Redaksi HASMI Alhamdulillah, tim Ambulance …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot
situs slot