KEAGUNGAN HIDUP BERJAMAAH

6 Sep 2016Redaksi Headline

KEAGUNGAN HIDUP BERJAMAAH

Pada beberapa firman-Nya, Alloh ta’ala memerintahkan umat Islam untuk hidup berjama’ah dan Dia melarang kaum Muslimin berpecah belah dan bergolong-golongan yang mengakibatkan banyak perselisihan juga pertikaian diantara mereka. Keharusan berjama’ah dalam Islam dilandasi beberapa dalil berikut,

  1. Alloh Subhanahu wata’ala Mewajibkan Untuk Berjama’ah

Alloh Ta’ala berfirman, “Bersatulah dengan tali Alloh dengan berjama’ah (bersatu padu) dan janganlah berpecah-belah” (Q.S. Al-Imron (3):103). Kalimat “Jami’an” pada ayat ini artinya berjama’ah (bersatu-padu/bersama-sama), karena,

  • Sesuai dengan makna yang telah diberikan oleh para ahli tafsir, di antaranya Abdulloh bin Mas’ud, ia menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah “Al-Jama’ah” (Tafsir Al-Qurthubi III/159, Tafsir Jami’ul Bayan IV/21)
  • Adanya qorinah lafziah, yaitu Wala tafarroqu setelah kalimat Jami’an Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang dimaksudkan adalah, “Alloh memerintahkan mereka dengan berjama’ah dan melarang mereka berfirqoh-firqoh.” (Tafsir Ibnu Katsir I/189)
  • Az Zaujjaj berkata: “Kalimat Jami’an adalah dibaca nashob sebagai Haal (Tafsir Zadul Masir I/433). Maka artinya secara berjama’ah dalam berpegang teguh pada tali Alloh. (Tafsir Abi Su’ud II/66)
  • Kalimat Jami’an dalam Al-Qur’an yang harus diartikan “berjama’ah (bersama-sama/bersatu padu), diantaranya dalam surat: Al-Imron ayat 103, An-Nisa’ ayat 71, An Nur ayat 61 dan Al Hasyr ayat 14.
  1. Alloh Subhanahu wata’ala Ridho Kepada Al-Jama’ah

Rosululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh itu ridho kepada kamu pada tiga perkara dan benci kepada tiga perkara. Adapun (3 perkara) yang menjadikan Alloh ridho kepada kamu adalah:

  • Hendaklah kamu memperibadati-Nya dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun,
  • Hendaklah kamu berpegang teguh dengan tali Alloh seraya berjama’ah dan janganlah kamu berfirqoh-firqoh,
  • Dan hendaklah kamu senantiasa menasihati kepada seseorang yang Alloh telah menyerahkan kepemimpinan kepadanya dalam urusanmu.

Dan Alloh membenci kepadamu 3 perkara;

  • Dikata mengatakan (mengatakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya alias gosip)
  • Menghambur-hamburkan harta benda
  • Banyak bertanya (yang tidak berfaidah).”
    (H.R. Ahmad dan  Muslim)
  1. Al Jama’ah Adalah Ahli Surga

Rosululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kamu untuk berbuat baik kepada para sahabatku, kemudian kepada generasi yang setelah mereka dan kemudian pada generasi yang setelahnya, kemudian setelah itu akan tersebar kebohongan sehingga seseorang akan bersumpah sedangkan dia tidak diminta untuk bersumpah dan akan memberikan kesaksian sedangkan ia tidak diminta kesaksiannya. Ingatlah tidaklah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita (yang bukan muhrimnya), kecuali yang ketiganya itu setan, maka wajib atas kamu berjama’ah dan jauhilah berfirqoh-firqoh karena sesungguhnya setan itu berserta orang yang sendirian dan dia akan menjauh dari dua orang. Barangsiapa yang menginginkan bangunan di surga, maka hendaklah menetapi Al-Jama’ah dan barangsiapa yang kebaikannya menjadikan ia gembira dan kejelekkannya menjadikan ia sedih maka itulah tanda orang yang beriman.”
(HR.At-Tirmidzi dan Ahmad)

  1. Al-Jama’ah Adalah Kekasih Alloh Subhanahu wata’ala dan Musuhnya Setan

Rosululloh Shollollohu’alaihi Wasallam bersabda: “Sepeninggalku akan ada huru-hara yang terjadi terus-menerus. Jika di antara kalian melihat orang yang memecah belah Al-Jama’ah atau menginginkan perpecahan dalam urusan umatku bagaimana pun bentuknya, maka perangilah ia. Karena tangan Alloh itu berada pada Al- Jama’ah. Karena setan itu berlari bersama orang yang hendak memecah belah Al-Jama’ah.”
(HR. An-Nasa’i (Sunan an-Nasa’i Hadits no. 3954. As-Suyuthi dalam Al Jami’ Ash Shoghir 4672, dishohihkan Al-Albani dalam Al Jami’ Ash Shohih 3621).

  1. Al Jama’ah adalah golongan yang selamat.

Rosululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ingatlah sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari ahli kitab itu berpecah belah menjadi 72 golongan dan sesungguhnya umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan, yang 72 golongan di dalam neraka sedang yang 1 di dalam surga, yaitu Al-Jama’ah dan sesungguhnya akan ada dari ummatku beberapa kaum yang dijangkiti oleh hawa nafsu sebagaimana menjalarnya penyakit anjing gila dengan orang yang dijangkitinya, tidak tinggal satu urat dan sendi ruas tulangnya, melainkan dijangkitinya.”
(H.R. Abu Dawud dan Ahmad)

  1. Al-Jama’ah Merupakan Penyelamat Dari Kematian Jahiliyah

Rosululloh Shollollohu’alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai dari pemimpinnya, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang keluar dari Al-Jama’ah sejengkal saja lalu mati, ia mati sebagai bangkai Jahiliah.”
(H.R. Bukhori dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan tentang makna “matinya dalam keadaan mati jahiliyah” ialah: “Matinya seperti Ahli Jahiliyah, yaitu di atas kesesatan. Dan dia tidak memiliki imam yang ditaati karena mereka tidak mengenalnya. Dan bukan maksudnya dia mati kafir, tapi matinya sebagai orang yang berbuat maksiat.” (Fathul Bari XIII/7)

  1. Al-Jama’ah Merupakan Sumber Rahmat dan Penyelamat dari Adzab

Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan kalau Alloh menghendaki niscaya Alloh menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zholim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong.”
(Q.S. Asy-Syu’aro (26):8).

Dan firman yang lain,
“Jika Tuhan kalian menghendaki tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu (keputusan-Nya) telah diputuskan. Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.”
(Q.S. Hud (11):118-119)

Rosululloh shollollohu alaihi wasalam bersabda: “Al-Jama’ah itu adalah rahmat dan perpecahan (perselisihan) adalah adzab.” (HR. Ahmad)

  1. Al-Jama’ah Merupakan Perisai Untuk Memelihara Keislaman Seseorang

Rosululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal darah seorang Muslim kecuali karena tiga hal; orang yang telah menikah yang berzina, qishoh (pembunuhan), dan orang yang meninggalkan agamanya, yaitu orang yang memisahkan diri dari Jama’ah.”
(HR.Muslim, Ahmad, Ibnu Majah dan Ad-Darimi)

Rosululloh shollollohu alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa memisahkan diri dari Al-Jama’ah walaupun sejengkal, maka berarti dia telah melepaskan ikatan Islam dari pundaknya.” (HR. Abu Dawud)

  1. Al-Jama’ah Merupakan Pelindung dari Ajakan ke Jahannam

Hudzaifah rodhiallohu anhu meriwayatkan bahwa orang-orang ketika itu bertanya kepada Rosululloh Shollollohu alaihi wa salam tentang kebaikan sedangkan aku (Hudzaifah) bertanya tentang keburukan karena takut keburukan itu akan kutemui. Maka aku bertanya : “Wahai Rosululloh sesungguhnya kami dulu dalam kejahiliyyahan dan kejelekan, kemudian Alloh menunjukkan kami dengan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan? Jawab Rosululloh, “Ya.” Aku kembali bertanya, “Dan apakah setelah kejelekan itu ada lagi kebaikan?” Rosululloh menjawab, “Ya, tetapi terdapat kabut di dalamnya.” Aku bertanya, “Apakah kabut itu?” Rosululloh menjawab, “Kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku, engkau mengetahui (kebaikan mereka) dan mengingkari (kejelekan mereka).” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu ada lagi kejelekan?” Rosululloh menjawab, “Ya, yaitu para penyeru yang mengajak ke neraka jahannam. Barangsiapa yang memenuhi seruan mereka, mereka akan diceburkan ke neraka jahannam.”

Aku berkata, “tunjukkan sifat mereka pada kami.” Rosululloh bersabda, “Mereka berkulit sama seperti kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Apa yang engkau perintahkan pada kami jika itu kami temui?” Rosululloh menjawab,”Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan imam mereka”. Aku bertanya: “ Jika tidak ada bagi mereka Jama’ah dan Imam?” Beliau bersabda : “Jauhilah semua kelompok (firqoh) tersebut sekalipun kalian harus menggigit akar pohon sehingga ajal menjemput kalian sementara kalian tetap dalam keadaan seperti itu.”
(H.R. Bukhori dan Muslim)

Wallohu A’lam bis Showwab.