Jual Beli Sistem Lelang

26 Mar 2014Redaksi Fiqih dan Muamalah

Seorang Muslim dengan Muslim yang lainnya adalah saudara. Sebagian mereka dengan sebagian yang lain laksana bangunan yang saling menguatkan. Segala sesuatu yang menghantarkan kepada terciptanya hubungan harmonis antar sesama individu Muslim, pasti Islam mengajarkannya. Sebaliknya, segala perbuatan yang mengarah kepada permusuhan, kebenciaan, dan perlawanan, pasti Islam melarangnya.

Seorang Muslim tidak boleh menawar sesuatu barang yang sedang ditawar oleh saudaranya hingga saudaranya telah meninggalkan transaksi jual beli tersebut. Seperti dua pihak yang melakukan transaksi jual beli lalu sepakat pada suatu harga tertentu, lalu datang pembeli lain yang menawar barang dengan harga yang lebih mahal, maka si penjual lebih cenderung menjual kepada orang itu. Perbuatan semacam ini termasuk bentuk kedzoliman. Akibat buruk dari perbuatan ini akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka.

Jika kedua orang itu saling tawar menawar lalu terlihat bahwa keduanya tidak bisa menyepakati harga, tidak diharamkan bagi pembeli lain untuk menawar barang yang ada pada penjual. Namun, kalau belum kelihatan apakah mereka telah memiliki kesepakatan harga atau tidak, penawaran dari pihak pembeli lain untuk sementara ditahan.

Dari Abu Hurairoh  bahwa Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda:

“Janganlah seorang Muslim menawar (barang) yang sedang ditawar oleh saudaranya.” (HR. Muslim) 

Pelelangan

Dari larangan terhadap penawaran barang yang masih dalam penawaran orang lain, dikeculikan sejenis jual beli yang disebut pelelangan. Pelelangan itu boleh berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum Muslimin. Pelelangan adalah penawaran barang di tengah keramaian. Lalu para pembeli saling menawar dengan harga tertinggi, sampai kepada batas harga tertinggi yang di tawarkan, lalu terjadilah transaksi, dan si pembeli bisa mengambil barang yang dijual.

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bolehnya jual beli yang disebut pelelangan itu, yaitu: Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him),  “Bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Anshor yang datang menemui Nabi  dan ia meminta sesuatu kepada Beliau. Beliau bertanya kepadanya, ‘Apakah di rumahmu tidak ada sesuatu?’ lelaki itu menjawab, ‘Ada. Dua potong kain, yang satu dikenakan dan yang lain untuk alas duduk, serta cangkir untuk meminum air.’ Beliau berkata, ‘Kalau begitu, bawalah kedua barang itu kepadaku.’ Lelaki itu datang membawanya. Rosululloh  bertanya, ‘Siapa yang mau membeli barang ini?’ Salah seorang sahabat beliau menjawab, ‘Saya mau membelinya dengan satu dirham.’ Beliau bertanya lagi,’ Ada yang mau membelinya dengan harga lebih dari satu dirham?’ Beliau menawarkannya hingga dua atau tiga kali.

Tiba-tiba salah seorang sahabat beliau yang lain berkata,’ Aku mau membelinya dengan harga dua dirham.’ Maka beliau memberikan kedua benda itu kepadanya. Beliau mengambil uang dua dirham itu dan memberikannya kepada lelaki dari Anshor tersebut. Beliau berkata, ‘Gunakanlah yang satu dirham untuk membeli makanan dan berikan kepada keluargamu. Lalu gunakan yang satu dirham lagi untuk membeli kapak, lalu bawa kapak itu ke hadapanku.’

Lelaki itu pun pergi dan kembali lagi dengan membawa sebilah kapak. Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) menggunakan kapak itu untuk membelah kayu dengan tangan beliau sendiri, lalu beiau berakata,’ pergi dan carilah kayu bakar, lalu juallah. Jangan perlihatkan dirimu selama lima belas hari.’ Lelaki itupun pergi mencari kayu bakar dan menjualnya. Ia pulang dengan membawa hasil sepuluh dirham. Uang itu ia gunakan sebagian untuk membeli pakaian dan sebagian lain untuk membeli makanan.’

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda,

“Ini lebih baik bagimu daripada kebiasaanmu meminta-minta itu yang akan menjadi bercak hitam di wajahmu pada Hari Kiamat nanti. Meminta-minta itu tidak pantas kecuali bagi tiga orang, yaitu orang yang terlilit kemiskinan, orang yang terlilit hutang, dan orang yang menanggung diyat.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i)

Dengan demikian, pelelangan yang dilakukan oleh siapapun juga diperbolehkan dalam hukum Islam. Tentunya, barang yang dilelang termasuk komoditi yang tidak dilarang untuk diperjual belikan, seperti mobil,motor, HP dan lain-lain. Wallohu a’lam.

(Red-HASMI)