Indahnya Bertetangga Dalam Islam

8 Aug 2014Redaksi Pernik Muslimah

Manusia merupakan makhluk sosial. Mereka sangat membutuhkan interaksi antara sesama. Mereka tinggal dalam satu lingkungan dan daerah tertentu membentuk suatu masyarakat. Sedangkan Islam datang dengan membawa beberapa petunjuk sempurna untuk umat manusia, agar kehidupan mereka berjalan dengan baik dan adil sentosa. Islam menggambarkan kepada umat manusia tentang arti penting tetangga, sehingga memerintahkan untuk selalu memuliakan tetangga. Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris” (HR. Bukhori)

Pembaca yang budiman…, pada kesempatan ini, kita akan membahas adab-adab Islami mengenai aturan bertetangga. Di antaranya sebagai berikut:

  1. Berbuat baik kepada tetangga.

Adab pertama yang hendaknya kita berikan kepada tetangga kita adalah menanam benih-benih kebaikan, baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Hal ini diperintahkan langsung oleh Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) kepada Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dan umatnya, sebagaimana dalam firman Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He):

“Sembahlah Alloh dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa [4]: 36)

Dalam ayat ini, kita dapati bahwa salah satu orang yang berhak mendapatkan kebaikan dari kita adalah tetangga, baik tetangga kita yang dekat atau jauh, muslim atau kafir, kawan atau musuh, kerabat atau orang lain, orang sholih atau  fasik, semuanya harus mendapatkan kebaikan dari kita. Hal itu merupakan bagian dari ibadah kita di sisi Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He).

Tidak menutup kemungkinan, kebaikan kita kepada tetangga akan memberikan manfaat besar kepadanya. Seperti tetangga kafir menjadi muslim karena itu, atau fasik menjadi sholih, atau musuh menjadi kawan, jahat menjadi baik. Semuanya atas idzin Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Tetapi hal yang pasti, orang yang melakukan hal itu adalah sebaik-baik tetangga di sisi Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), sebagaimana sabda Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him):

خَيْرُ اْلأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ، وَخَيْرُ الْـجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِـجَارِهِ

“Sahabat yang paling baik di sisi Alloh adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya”(HR. At-Tirmidzi)

  1. Menjaga hak-haknya.

Adab selanjutnya dalam bertetangga adalah menjaga hak tetangga. Sebelum menuntut hak kita kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), maka kita harus memenuhi hak tetangga, seperti yang dijelaskan oleh Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Di antara hak tetangga adalah sabda Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him):

لَيْسَ الْـمُؤْمِنُ الَّذيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ

“Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan”.   

(HR. Baihaqi)

إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوْفٍ

“Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik”.          (HR. Muslim)

Kalaupun tetangga kita tidak memenuhi hak sebagai tetangga, kita tetap dituntut memberi hak tetangga, karena hal itu merupakan kewajiban dari Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He).

  1. Tidak mendzoliminya.

Setiap orang yang beriman dilarang berbuat dzolim kepada orang lain. Larangan berbuat dzolim kepada tetangganya dikaitkan oleh Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) dengan iman kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dan Hari Akhir, tentu hal ini menunjukkan betapa besarnya masalah itu.

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِيْ  جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya”(HR. Bukhori)

Di hadits yang lain,

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Alloh, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rosululloh?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘”

(HR. Bukhori, Muslim)

Selain itu, orang yang mendzolimi tetangganya diancam oleh Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) tidak masuk surga, sebagaimana dalam hadits,

Tidak akan masuk Jannah orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”

(HR. Muslim)

Semoga adab-adab ini bermanfaat di akhirat dan menjauhkan kita dari panasnya api neraka, sebagaimana dalam hadits di atas. Wallohu ta’ala a’lam…..

(Red-HASMI)