HANYA SATU YANG DI ATAS KEMURNIAN

15 Mar 2017Redaksi Artikel Ilmiyah

PERPECAHAN SUATU KENISCAYAAN
Alloh subhanahu wata’ala telah mengutus Rosululloh sholallohu ‘alaihiwasallam kepada kita sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Tidak ada satu kebaikan pun kecuali telah beliau jelaskan dan tunjukkan kepada kita dan tidak ada satu keburukanpun kecuali telah beliau peringatkan kepada kita.

Di antara keburukan yang beliau peringatkan kepada kita adalah buruknya perpecahan yang dapat mengganggu keutuhan dan persatuan  ummat. Bahkan perpecahan tersebut akan menghantarkan ke dalam api neraka jahannam. Beliau juga menjelaskan satu kelompok yang masih memegang kemurnian Islam sehingga selamat dari bencana perpecahan tersebut.

Rosululloh sholallohu ‘alaihiwasallam bersabda:

(( وَإِنَّ بَنِىْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً. قَالُوا: مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلىَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي ))

“Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 kelompok keagamaan, dan umatku akan berpecah-belah menjadi 73 kelompok keagamaan. Seluruhnya berada di api neraka, kecuali satu kelompok. Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Siapakah satu kelompok itu wahai Rosululloh?’, maka beliau menjawab: ‘Mereka yang mengikuti jejakku dan jejak para sahabatku. (HR. Tirmidzi, Hakim dan al Lalika’i)

Realita perpecahan ini benar-benar telah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi hingga hari kiamat nanti, ini adalah suatu berita kenabian yang tidak dapat didustakan. Walaupun perpecahan telah menjadi  suatu keniscayaan, tetapi bukan berarti kita diperbolehkan untuk berpecah.

Sejak dini Alloh subhanahu wata’ala telah memperingatkan kita untuk tidak terjatuh pada perpecahan tersebut. Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala:
“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai berai…”
(QS. Ali Imron: 103)

NAMA AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
Timbulnya nama Ahlussunnah wal jama’ah di saat sebagian ummat beliau banyak mencemari dan mengotori kemurnian Islam, dengan membuat syariat-syariat baru yang tidak pernah diizinkan oleh Alloh subhanahu wata’ala. Nama ini untuk membedakan antara kemurnian dan penyimpangan. Ahlussunnah wal jama’ah adalah Islam itu sendiri, Islam yang murni, yang dibawa Rosululloh sholallohu ‘alaiwasallam. Bukan madzhab baru!

Nama Ahlussunnah waljama’ah itu sendiri diambil dari hadits di atas yaitu;   مَا أَنَا عَلَيْه (jejakku- Rosul) hal ini berarti Ahlussunnah dan وَ أَصْحَابِيْ (dan jejak shahabat) hal ini berarti wal Jama’ah.

Dan nama ini sudah ada sejak zaman salafussholeh  yaitu pada saat banyaknya penyimpangan dari ajaran Islam yang murni. Kemudian nama tersebut digunakan secara resmi oleh mereka.
Sebagaimana tafsir (QS. Ali Imron : 106 ):
“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kalian kafir sesudah kalian beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiran kalian itu”.

Ibnu Abbas  menafsirkan ayat tersebut “Ketika memutih wajah-wajah Ahlussunnah, dan menghitam wajah-wajah ahlul bid’ah.

Nama Ahlussunnah wal Jama’ah adalah nama yang kita gunakan ketika berhadapan dengan golongan-golongan sesat yang belum keluar dari Islam dan bukan dipakai untuk menghadapi orang kafir, adapun ketika berhadapan dengan orang kafir kita tetap menggunakan nama Islam. Nama ini tidak dipakai pada zaman Rosululloh sholallohu ‘alaiwasallam, Abu Bakar rodhiyallohu ‘anhu, dan ‘Umar rodhiyallohu ‘anhu bukan karena nama ini tidak boleh digunakan, tetapi karena di masa mereka tidak didapatkan golongan-golongan pembelot. Yang terjadi di masa mereka adalah banyaknya kemurtadan atau keluar dari Islam di beberapa wilayah dari Jazirah ‘Arab, sehingga mereka tidak dinamakan “muslim” lagi.

Melestarikan nama manhaj ini merupakan bagian dari pengawalan terhadap kemurnian, sebab nama Ahlussunnah wal Jama’ah bagian dari kemurnian itu sendiri bahkan nama tersebut sebagai lambang kemurnian Islam.

BAGAIMANA SELAIN MEREKA?
Kelompok-kelompok sesat yang ada dalam hadits di atas diancam masuk neraka. Kelompok sesat yang kesesatannya belum sampai pada kekufuran, mereka tidak kekal di neraka, sedangkan kelompok sesat yang kesesatannya sampai pada kekufuran, para ulama salaf tidak menganggap mereka bagian dari 72 golongan yang disebutkan pada hadits tersebut, sebab dalam hadits tersebut terdapat ucapan ‘Ummatku’ sehingga yang dimaksud adalah ummat Ijabah yaitu ummat yang menerima seruan dakwah Rosululloh sholallohu ‘alaiwasallam akan tetapi pada prinsip tertentu mereka menyimpang.

Ancaman ini adalah secara umum bahwa 72 golongan itu harus memasuki neraka terlebih dahulu sebelum memasuki surga (selama mereka belum kufur). Tetapi hal ini tidak menyangkal adanya orang-orang dari golongan-golongan tersebut yang terampuni, tanpa harus memasuki neraka terlebih dahulu, yang demikian itu karena kapasitas kesesatan dan sebab-sebab kesesatan mereka bermacam-macam dan berbeda-beda.

Ahlussunnah wal jama’ah bukanlah organisasi, atau bukan yang lainnya. Akan tetapi siapa saja, dari golongan mana saja, yang berjalan di atas jalan Nabi sholallohu ‘alaiwasallam dan para sahabatnya, maka dia adalah Ahlussunnah wal jama’ah.

Para pembaca yang budiman, hidup di dunia ini hanya satu kali dan dengan waktu yang singkat sekali. Kesalahan memilih jalan dalam hidup ini dapat menyebabkan akibat yang fatal sekali. Oleh karena itu hendaknya kita harus bersungguh-sungguh dan berhati-hati dalam memilih jalan hidup yang akan kita tempuh.